Chapter 46 (Tamat)
Angin pedang mereka bertiga bersiutan sampai tiga tombak lebih di sekeliling mereka hingga daun-daun pohon bergerak-gerak bagaikan tertiup angin. Tubuh ketiganya telah lenyap dari pandangan mata. Maka dapat dibayangkan betapa sengit dan mati-matian pertempuran ini. Diam-diam Ang Gwat Niang-niang terkejut melihat ilmu pedang yang luar biasa dari kedua anak muda itu. Ia mengakui bahwa jika ia tidak memiliki pengalaman luas dan kalau ia tidak sudah meyakinkan Ngo-lian Kiamsut sampai semasak-masaknya, tentu ia tidak akan kuat menahan kedua pedang Naga ini. Sebaliknya, Han Liong dan Pauw Lian merasa gembira sekali karena mereka diberi kesempatan untuk bermain pedang bersama lagi, maka diam-diam mereka berterima kasih kepada Khouw Sin Ek.
Kali ini, mereka lebih merasa betapa cocok kedua ilmu pedang mereka digabungkan untuk menggempur Ngo-lian Kiamsut yang mempunyai banyak tipu kejam dan licin sekali itu. Sementara itu, keadaan Khouw Sin Ek dan Lo Thong Sianjin ternyata seimbang. Lo Thong Sianjin lihai karena ilmu toloknya, sedangkan Khouw Sin Ek terkenal karena ilmu tendangannya yang berbahaya. Maka keduanya berlaku hati-hati sekali dan sedikit pun tidak mau mengalah. Diam-diam mereka juga saling mengagumi. Pekik kesakitan semakin sering dan semakin banyak terdengar, tanda bahwa yang mendapat luka dalam pertempuran itu semakin banyak. Kui Lan telah rebah dengan luka berat di pundaknya terkena tusukan golok Bie Kong Hosiang, sedangkan banyak pahlawan menderita luka-luka berat.
Di pihak tuan rumah, beberapa orang juga mendapat luka dan sudah diangkat ke dalam untuk diobati. Hong Ing tidak ikut bertempur karena diam-diam Un Kiong telah memesan padanya agar jangan ikut bertempur, dan bahkan surat-surat penting yang dapat dirampasnya di istana putih dulu, kini ia berikan kepada gadis itu untuk disimpan. Juga Han Liong berpesan kepadanya agar jangan ikut bertempur karena musuh terdiri dari orang-orang sangat lihai. Meskipun merasa girang melihat perhatian mereka, terutama melihat Un Kiong mengkhawatirkan keselamatannya, namun diam-diam Hong Ing mendongkol karena merasa dipandang rendah. Tetapi ia merasa terhibur setelah mendapat kepercayaan dari Un Kiong untuk menyimpan dan menjaga surat-surat penting itu, merasa bahwa tugas menjaga surat-surat itu bahkan lebih penting daripada ikut bertempur melawan musuh.
Maka ia berdiam di tempat aman sambil menonton pertempuran hebat itu. Akan tetapi, lambat-laun ia merasa khawatir dan ngeri juga melihat betapa pihaknya terdesak dan banyak korban yang telah jatuh. Pikirannya bekerja cepat dan ia segera masuk ke dalam kamarnya. Di situ ia membuka gulungan kertas-kertas penting itu dan setelah cepat mencari, ia mendapatkan surat rencana pemberontakan Co Thaikam. Surat ini ia bawa lari keluar dan matanya mencari-cari Tan Cianbu. Akhirnya ia mendapatkan Kapten Tan itu sedang bertempur mati-matian, dikeroyok dua oleh Bie Cauw Giok murid Pauw Kim Kong dan Bhok Kian Eng murid Liok-te Sin-mo. Permainan golok Tan Cianbu cukup lihai dan tenaganya yang besar membuat dua orang pengeroyoknya tidak dapat mendesaknya. Hong Ing mendekati mereka dan dengan suara keras ia berkata,
"Bie Toako dan Bhok Toako, silakan berhenti sebentar! Aku ada urusan penting, biar aku yang menghadapi Tan Cianbu ini!" Meskipun terheran mendengar permintaan Hong Ing, kedua jago muda itu melompat mundur dan membiarkan Hong Ing menghadapi Tan Cianbu. Kapten itu mengenali wajah Hong Ing sebagai gadis yang memasuki tamannya dulu, bersama dengan Un Kiong. Maka ia menahan goloknya dan membentak.
"Kau mau apa?"
"Tan Lo-Enghiong, jangan marah dan terburu nafsu. Saya datang bukan untuk bertempur, tetapi hendak memberitahukan sesuatu yang penting sekali. Dulu Saudara Un Kiong berhasil mencuri surat-surat penting dari istana putih dan tahukah Lo-Enghiong apa yang didapatnya? Ini silakan Lo-Enghiong baca sendiri!" Dengan heran Tan Cianbu menyambut surat itu dan membacanya cepat. Mukanya menjadi pucat dan ia hampir tidak percaya kepada matanya sendiri. Ia membaca lagi dan tiba-tiba ia berteriak keras.
"Semua pahlawan tahan senjata!" Berulang ia berteriak demikian hingga semua kawan-kawannya segera melompat mundur dan menahan serangan mereka. Juga pihak kaki tangan Co Thaikam dengan sendirinya mundur hingga sebentar saja semua orang yang sedang bertempur menghentikan perkelahian. Tidak hanya pihak penyerbu, pihak tuan rumah juga merasa heran. Bahkan ketiga tokoh Ngo-lian-pai juga menghentikan serangan masing-masing. Dengan surat di tangan dan langkah mantap serta sikap mengancam, Tan Cianbu menghampiri ketiga tokoh Ngo-lian-pai.
"Cuwi silakan baca ini dan lihat betapa jahat dan palsunya orang-orang yang cuwi bela!" Lo Thong mengambil surat itu dan setelah membacanya ia memberikan surat itu kepada Ang Gwat Niang-niang dengan wajah merah padam. Pertapa wanita itu membaca dengan tenang, tetapi setelah membaca surat itu ia berpaling kepada ketiga muridnya dengan mata berapi.
"Biauw Niang, apa artinya ini? Kalian hendak memberontak dan membantu perbuatan terkutuk? Jadi kau sudah menipu gurumu sendiri untuk memusuhi para hohan ini?" Suara ini merdu dan nyaring, tetapi di dalamnya mengandung kebengisan hebat hingga Biauw Niang menjadi gemetar ketakutan.
"Subo... teecu tidak berani berbuat begitu. Yang membawa rencana dan berhubungan langsung dengan Co Taijin adalah Kek Kong Susiok!" Ang Gwat Niang-niang memandang Kek Kong Tojin dengan mata mengandung pertanyaan dan tuntutan. Tetapi yang dipandang hanya tertawa lalu berkata,
"Suci, apakah Suci takut menghadapi penjahat-penjahat ini? Kalau takut dan tidak mau membantu, silakan Suci dan Suheng pulang kembali ke gunung saja, biarlah aku yang menghadapinya sendiri!"
"Kek Kong, kau tersesat!" Lo Thong Sianjin membentak.
"Biauw Niang, kalian bertiga membuat malu gurumu. Mulai saat ini kalian bukanlah murid Ngo-lian-pai lagi!"
"Cuwi, maafkan pin-ni yang tertipu," kata Ang Gwat Niang-niang sambil menjura kepada pihak tuan rumah, kemudian ia tersenyum kepada Han Liong dan Pauw Lian.
"Kalian Pek Liong dan Ouw Liong sungguh gagah. Giok Ciu dan Sin Wan beruntung sekali bisa mendapat murid seperti kalian. Kalau bertemu kedua guru kalian, sampaikan salamku kepada mereka!" Kemudian sekali berkelebat, Ang Gwat Niang-niang lenyap dari pandangan, hanya masih terdengar suaranya memanggil,
"Ayo, Suheng!"
Lo Thong tertawa sambil menjura kepada Khouw Sin Ek dan berkata dengan suara tidak puas.
"Aku telah berkenalan dengan kepalan dewa, tetapi sayang belum kenyang kita mengadu kepalan, terpaksa harus berakhir sampai di sini. Khouw Lojin, kalau ada kesempatan jangan lupakan aku untuk mencoba dan melanjutkan pertempuran ini."
"Ha, ha, Lo Thong Toyu, kau serakah sekali. Baiklah! Lain kali kalau ada kegembiraan pasti aku mengunjungi gunungmu." Lo Thong menjura lagi lalu melompat pergi menyusul sumoinya. Sementara itu, karena tidak dapat menahan marahnya lagi, Tan Cianbu berteriak memerintahkan kawan-kawannya,
"Serbu pemberontak dan pengkhianat-pengkhianat ini!" Goloknya terayun membacok Kek Kong Tojin yang menangkisnya dengan toyanya. Un Kiong melompat mendekati ayahnya.
"Ayah, biarkanlah aku menghajar imam yang jahat ini!" Tan Cianbu maklum bahwa anaknya mempunyai kepandaian yang lebih tinggi darinya, maka ia tertawa dan berkata,
"Hati-hati, Un Kiong!" Lalu ia memimpin kawan-kawannya berbalik menghantam Kek Kong Tojin dan kawan-kawannya. Sebaliknya, pihak Han Liong dan kawan-kawannya menjadi bingung karena musuh telah saling gempur sesamanya. Tetapi tiba-tiba Han Liong berkata,
"Telah diputuskan untuk membasmi para durjana dulu. Nah, mereka inilah kaki tangan durjana. Ayo bantu Tan Cianbu!" Lie Bun Tek segera terjun lagi dalam pertempuran, membantu Un Kiong, sedangkan Han Liong dan Pauw Lian menyerang ketiga siluman wanita dengan sengit. Juga Hong Ing tidak mau tinggal diam. Ia memutar siang-kiamnya dan maju melabrak musuh. Tetapi beberapa orang dari pihak tuan rumah yang tidak mau ikut campur urusan orang lain tinggal diam saja menjadi penonton. Keadaan kedua pihak tidak seimbang maka sebentar saja korban yang berjatuhan di pihak Kek Kong Tojin memenuhi tempat itu. Pek-liong Pokiam dan Ouw-liong Pokiam mengamuk dengan hebatnya dan di mana pun pedang berwarna hitam dan putih berkelebat, maka pasti ada korban jatuh tanpa dapat menjerit lagi.
Ketika Han Liong dan Pauw Lian sedang mengamuk hebat dan merasa gembira melihat hasilnya, tiba-tiba ada angin bertiup keras dan Han Liong dan Pauw Lian merasa ada tenaga raksasa yang menahan pedang mereka. Mereka terkejut sekali, tetapi tidak dapat menahan tarikan itu sehingga dalam sekejap mata kedua pokiam itu terlepas dari tangan dan terbang entah ke mana. Selagi mereka masih terheran-heran, dari atas melayang sehelai kertas putih. Han Liong segera memungutnya dan bersama Pauw Lian membacanya. Alangkah terkejut mereka dan tiba-tiba saja mereka merasakan seluruh wajah panas karena malu. Han Liong dan Pauw Lian memandang sekeliling. Juga mereka yang sedang bertempur, semua berdiri terheran-heran dengan mulut ternganga karena semua senjata mereka tiba-tiba saja lenyap dari tangan mereka tanpa mereka ketahui siapa yang merampasnya. Hanya Khouw Sin Ek saja yang menjura ke arah barat dan berkata keras,
"Siansu dan Suthai, terima kasih atas bantuan kalian. Silakan singgah di tempat kami yang kotor!" Tiba-tiba dari jauh terdengar suara yang keras bergema,
"Khouw Toyu, ada kau orang tua, kami tidak perlu khawatir, semua pasti selesai. Maafkan kami mengganggu dan tidak dapat mampir. Selamat tinggal!" Khouw Sin Ek hanya menggeleng-geleng kepala dan menghela napas. Han Liong dan Pauw Lian berlutut dan menyebut,
"Suhu!"
Hanya Khouw Sin Ek saja yang dapat melihat gerakan Kam Hong Siansu dan Kui Giok Cu Suthai yang datang berdua dan merampas semua senjata dari mereka yang sedang bertempur. Bahkan Kam Hong Siansu telah meninggalkan sepucuk surat kepada Han Liong dan Pauw Lian. Melihat hal itu, Khouw Sin Ek menghampiri kedua anak muda itu dan bertanya,
"Surat apakah yang kalian terima? Pesan Siansu?" Sambil menundukkan kepala, Han Liong memberikan surat kepada Khouw Sin Ek yang membacanya:
Han Liong,
Sudah terlalu banyak darah mengalir. Hentikanlah pertempuran. Belum saatnya menggulingkan kekuasaan yang memerintah. Tiba saatnya akan runtuh sendiri. Pek Liong sudah bertemu Ouw Liong, maka kami meminta kembali. Sebagai gantinya, kau mendapatkan Pauw Lian dan dia mendapatkan kau. Kami memberi doa restu, jadilah kalian suami istri yang bahagia dan bijaksana. Terima kasih kepada Khouw Toyu yang telah sudi menjadi perantara!
Tertanda,
Kam Hong Siansu
Kui Giok Ciu Suthai.
Khouw Sin Ek tertawa geli tiada terhingga.
"Ah, sungguh pintar orang tua itu!" Kemudian ia berpaling kepada semua orang.
"Hai, cuwi yang terhormat. Kami sebagai tuan rumah di gunung ini mengharapkan agar cuwi jangan membuat kotor tempat ini dengan pertumpahan darah selanjutnya! Para Enghiong yang merasa tertipu oleh biang keladi pemberontakan dan sudah sadar, harap kembali ke tempat masing-masing dan mengubah kekeliruan masing-masing. Para pahlawan yang setia kepada negara, harap mengurus hal ini melalui saluran tertentu. Dan kau, Kek Kong, dengan ketiga muridmu, kalau ingin selamat hentikanlah kesesatanmu, karena kalau tidak, biarpun kali ini lolos dari bencana, pasti lain kali akan mengalami malapetaka!"
"Kau sombong, Khouw Lojin. Memang, aku akui bahwa kali ini kami kalah. Orangmu telah dapat merampas senjata kami. Tetapi lain kali tentu aku hendak membalas hormat kepadamu!" Kemudian saikong itu menggandeng tangan ketiga keponakan muridnya itu dan membawa mereka lari turun gunung. Semua orang bubar sambil membawa kawan-kawannya yang terluka dan terbinasa. Tetapi Khouw Sin Ek menahan Tan Cianbu yang memang telah dikenalnya dengan baik.
"Khouw Lo-Enghiong, sekarang aku mengerti mengapa Un Kiong berlaku demikian ketololan, tentu ini adalah ulahmu, orang tua, yang mengajarnya!" kata Tan Cianbu sambil tertawa. Khouw Sin Ek tertawa.
"Tetapi, bagaimana pendapatmu tentang putramu? Puaskah kau melihatnya?"
"Terima kasih atas didikanmu kepadanya, Khouw Lo-Enghiong," jawab Tan Cianbu.
"Tidak cukup dengan ucapan terima kasih saja, Cianbu. Sekarang aku hendak memajukan diri menjadi perantara untuk perjodohan Un Kiong."
"Perjodohan? Ia masih sangat muda!"
"Tidak terlalu muda untuk mendapat jodoh yang cocok dan baik."
"Siapakah Nona yang kau puji-puji itu?"
"Bukan lain ialah Nona Lie Hong Ing yang memberimu surat tanda pemberontakan tadi."
"O, dia...??" Memang semenjak bertemu di taman dan melihat kegagahan sikap gadis itu dan kecantikannya, Tan Cianbu sudah merasa suka, maka ia segera menyatakan persetujuannya hingga Khouw Sin Ek menjadi girang sekali. Han Liong segera ditemui dan ketika diminta pendapatnya, Han Liong hanya mengangguk sambil tersenyum girang.
"Memang mereka berdua itu jodoh masing-masing. Kalau bukan Saudara Un Kiong, siapa lagi yang sanggup menundukkan Hong Ing?" Ketika Hong Ing diberitahu oleh Pauw Lian yang mendapat tugas menyampaikan kepada gadis ini, Hong Ing menghujani tubuh Pauw Lian dengan cubitan sehingga Pauw Lian mengaduh-aduh dan lari. Hong Ing mengejarnya, tetapi Pauw Lian berteriak,
"Tan Kongcu... Tan Kongcu... tolong aku, Ing-moi nakal sekali...!" Terpaksa Hong Ing cepat-cepat bersembunyi di dalam kamar sendiri, takut kalau-kalau Un Kiong benar-benar muncul pada saat itu.
Sementara itu, perjodohan antara Han Liong dan Pauw Lian tidak menemui kesulitan. Kedua guru masing-masing sudah setuju, kedua orang yang bersangkutan juga setuju, sedangkan pada waktu itu, semua guru dan bibi Han Liong pun berada di situ pula dan mereka bahkan menerima warta ini dengan girang sekali. Adapun Pauw Lian, karena ia yatim piatu, maka cukup diwakili oleh Pauw Kim Kong yang menjadi keluarga satu-satunya. Demikianlah, sebulan kemudian, di Beng-san dilangsungkan perkawinan dua pasang mempelai, Tan Un Kiong dengan Lie Hong Ing, dan Si Han Liong dengan Pauw Lian. Ketika upacara dilangsungkan, tiada hentinya mereka berempat saling menggoda sehingga menambah keramaian dan kemesraan pesta itu.
Selanjutnya, Hong Ing tinggal dengan suaminya di rumah mertuanya yang telah meletakkan jabatan dan pulang ke kampung, sedangkan Han Liong dan istrinya tinggal di Kam Hong-san atas permintaan guru-guru dan bibinya. Meskipun kedua pokiam telah ditarik kembali oleh gurunya masing-masing, namun mereka berdua terus berlatih ilmu pedang Pek-Liong Kiamsut dan Ouw-Liong Kiamsut, bahkan mereka berusaha menggabungkan kedua ilmu pedang ini. Hidup mereka penuh kebahagiaan karena sebagai Bengcu, Han Liong dikenal oleh seluruh hohan di kalangan kangouw yang datang mengunjungi, juga mereka sering turun gunung untuk mengunjungi sahabat-sahabat mereka. Hong Ing pun hidup bahagia dengan suaminya yang sangat menyintainya, dan dari Un Kiong, Hong Ing mendapat bimbingan ilmu silat tinggi sehingga ia memperoleh kemajuan pesat sekali.
Seperti juga Han Liong suami istri, Un Kiong suami istri ini juga sering melakukan perjalanan mengunjungi sahabat-sahabat untuk meluaskan pengalaman dan di mana saja mereka tidak pernah lupa mengulurkan tangan dan menggunakan kepandaian mereka untuk membantu pihak lemah yang tertindas dan membasmi orang-orang jahat yang mengacaukan rakyat jelata. Sesuai dengan petunjuk Kam Hong Siansu, untuk sementara Han Liong dan kawan-kawannya menghentikan gerakan mereka sambil menanti suasana melihat keadaan pemerintah. Yo Leng In atau Yo Toanio, bibi Han Liong, ikut keponakannya tinggal di Kam Hong-san dan janda ini melewati sisa hidupnya dengan menumpang dan ikut merasakan kebahagiaan hidup Han Liong dan Pauw Lian.
Hampir sebulan sekali atau lebih sering lagi, kalau tidak Han Liong dan istrinya mengunjungi kampung Un Kiong yang tidak jauh dari Kam Hong-san, tentu Un Kiong dan Hong Ing yang naik ke Kam Hong-san untuk mengunjungi kakaknya yang tercinta itu, di mana pada tiap pertemuan mereka mengobrol dengan gembira ria.