Chapter 02
"Minumlah, Ki, airnya masih bersisa?" Ginggi menyodorkan kukuk.
Tapi gurunya melengos marah.
Namun, ketika Ginggi hendak menegak lagi, Ki Darma segera merebutnya.
"Sini!" Ki Darma mencoba menenteng kukuk ke mulutnya.
Namun, baru beberapa saat, air di dalam kukuk sudah kering.
Digoyang-goyang beberapa kali, air tak mau keluar.
"Biar aku ambilkan di tempayan?" Ginggi mencoba bergegas.
"Tak perlu."
"Kalau begitu, apa yang mesti aku kerjakan untuk Aki?" Ginggi berusaha menghibur.
"Bertugas kembali!"
"Wah, aku mesti latihan lagi." Ki Darma mengangguk.
Dia segera duduk di bale-bale.
Tegak, mematung.
Ginggi berdiri juga tegak mematung.
Hanya sepasang tangannya bersilang di dada.
Diterpa angin malam, rambutnya riap-riapan.
"Aku capek sekali, Ki," katanya dingin.
"Tidak akan secapek rakyat Pajajaran menyimak tindakan rajanya," gumam Ki Darma.
Ginggi akhirnya menghela napas.
Dia pun ikut duduk bersila, berhadap-hadapan dengan gurunya.
"Setiap Aki menugasiku latihan, selalu saja bicara perihal Raja Pajajaran. Apa yang sebetulnya tengah terjadi dengannya, Ki?" Ginggi menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangannya.
Berbarengan dengan embusan angin malam, Ki Darma pun menghela napas panjang.
"Coba kau nyalakan pelita di tengah ruangan," gumam Ki Darma dengan nada datar.
Ginggi berjingkat untuk menyalakan pelita yang minyaknya diambil dari gajih kelelawar serta sumbunya dari serat nanas hutan.
Terlihat percikan api manakala sepasang batu sekepalan tangan saling dibenturkan.
Percikan api itu ditampung oleh rambut-rambut pohon enau.
Remang-remang saja api pelita itu, namun cukup untuk menerangi ruangan tengah gubuk.
Kedua orang itu kembali duduk bersila saling berhadapan.
"Usiamu sudah dewasa. Sejak kau kupungut di jalanan wilayah Caringin belasan tahun silam, waktu sudah terpaut sepuluh tahun lamanya. Itu cukup pantas untuk mengukir sejarah hidupmu," tutur Ki Darma.
Ginggi mengerutkan dahi. "Bagian dari latihankah penuturan ini? Kerap kali Aki selalu mengatakan hal ini. Apakah benar-benar terjadi? Yang aku ingin percayai, bahwa Aki ini adalah orang tuaku sendiri," tutur Ginggi.
"Dasar anak gendeng. Tapi itu juga bagus. Hanya percaya kepada sesuatu yang sudah terbukti kebenarannya memang wajar," tutur Ki Darma tersenyum.
Ginggi masih tetap bersila.
"Nanti kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya bila kelak kau datangi jalan berlumpur di wilayah Caringin. Carilah sebuah tempat di mana dulu pernah terjadi pertempuran kecil tapi sempat memakan korban jiwa," kata Ki Darma kemudian.
Ada kerutan di dahi, menandakan Ginggi tertegun mendengar berita ini.
Melihat roman wajah Ginggi, Ki Darma terkekeh-kekeh.
Ginggi menatap gurunya. "Tapi kalau aku hanya seorang anak kecil yang ditemukan di kubangan lumpur dan Aki tak tahu siapa kedua orang tuaku, lantas bagaimana mungkin Aki tahu namaku. Siapa sih yang memberiku nama Ginggi?" tanya pemuda itu kemudian.
"Aku yang memberimu nama."
"Aku pernah berbincang dengan penduduk di kaki gunung. Katanya, Ginggi artinya jin atau iblis, ya, sebangsa duruwiksa pembuat kejahatan. Mengapa sih, Aki tega memberiku nama jelek seperti itu?"
"Hahaha! Betul sekali, Ginggi adalah siluman yang akrab dengan berbagai kejahatan!"
"Senangkah aku berbuat jahat?"
"Kau tanyakan sendiri pada dirimu. Sebab, pada dasarnya, manusia itu hidup dibekali berbagai pilihan. Apakah kau memilih yang baik atau sebaliknya, bergantung pada pilihanmu itu. Aku pilih Ginggi sebab dunia ini tengah dipenuhi duruwiksa jahat. Manusia jadi pemakan manusia lainnya. Ginggi lahir di saat iri dan dengki, aniaya serta fitnah merajalela di bumi Pajajaran. Nama Ginggi akan selalu mengingatkanmu kelak, apakah akan sekalian kau ikut pula terperosok ke dalamnya ataukah akan menjadi pemberantasnya," kata Ki Darma panjang lebar.
"Duruwiksa? Begitu kelamkah bumi Pajajaran sehingga disenangi kaum duruwiksa?" gumam Ginggi.
Ki Darma hanya tersenyum kecut.
"Hidup memang bagaikan berputarnya roda pedati. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Pajajaran sekarang sedang berada pada titik paling bawah. Sejak Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja tidak lagi memerintah Pajajaran, hampir tak ada kebanggaan yang kita miliki lagi. Ginggi, hanya Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja yang kebesarannya bisa disejajarkan dengan eyang buyutnya, Prabu Wangi yang gugur di Bubat. Hanya Sri Baduga yang bisa memimpin negara dengan penuh kebijaksanaan. Selama 39 tahun memimpin negeri, beliau telah sanggup menyejahterakan rakyat, juga menyejahterakan negeri-negeri lain. Beliau sanggup memantapkan kehidupan keagamaan padahal di tanah negeri ini tengah berlangsung pergeseran kepercayaan. Hanya beliau yang telah sanggup membangun angkatan perang padahal tak pernah berlangsung peperangan. Kendati hubungan dengan Cirebon telah retak, namun dengan mereka tak pernah berlangsung pertempuran. Prabu Sri Baduga Maharaja adalah raja dari semua raja, harum namanya sehingga beliau pun dijuluki Prabu Siliwangi," kata Ki Darma, matanya menerawang ke kejauhan.
"Menurunkan keelokan Kerajaan Pajajaran sesudah Sri Baduga tak berkuasa lagi?" tanya Ginggi penasaran.
"Tidak benar-benar tergelincir. Tapi penggantinya tak mampu menyejajarkan diri dengan pendahulunya."
"Siapakah penggantinya, Aki?"
"Dialah Surawisesa, putra Sri Baduga Maharaja."
"Bagaimana cara dia memerintah?"
"Sebenarnya dia baik, hanya sayang ambisinya tak tertahan. Dia penuh ambisi, selalu mempertahankan kehormatan dengan jalan kekerasan. Kau bayangkan, Ginggi, selama 14 tahun memerintah, dia memimpin peperangan sebanyak 15 kali. Pertikaian dengan Demak, Banten, dan Cirebon tak terelakkan. Peperangan pun berlangsung."
"Unggulkah Pajajaran?" Ditanya seperti ini, Ki Darma tampak mengeluh. Tapi keluhnya tertahan di kerongkongan.
Menyakitkan.
"Permusuhan dengan Banten, Demak, dan Cirebon membuat kesedihan buat semua orang Pajajaran. Pelabuhan penting tempat perniagaan orang Pajajaran lepas sesudah Banten memisahkan diri. Pajajaran kehilangan Pelabuhan Pontang dan Cibanten. Setahun kemudian, Pelabuhan Sunda Kalapa pun jatuh direbut. Semua wilayah pesisir utara bahkan dikuasai Cirebon, sehingga mulai saat itu, Pajajaran tak lagi menguasai lautan. Sunda bukan negara lautan lagi. Rakyat mencari penghidupan jauh di pedalaman dan hanya menjadi pehuma dan peladang," tutur Ki Darma.
"Apakah kemudian Pajajaran menjadi hancur?"
"Tidak benar-benar hancur. Sebab, meski sudah ada kelompok pengkhianat di tubuh Pajajaran, namun masih lebih banyak lagi para ksatria Pajajaran yang berani bertahan demi keutuhan negeri. Sang Surawisesa yang putus asa digantikan oleh putranya, yaitu Prabu Ratu Dewata."
"Bagaimana dengan yang lain?" Ki Darma terkekeh masam.
"Entahlah. Aku sendiri bingung menyimak kehidupan ini. Usiaku 15 tahun ketika Sang Prabu Sri Baduga Maharaja diwastu (dilantik) di atas batu keramat Sriman Sriwacana Palangka Raja. Aku pun menyaksikan sendiri berbagai perubahan di bumi Pajajaran, sejalan dengan berbagai macam perubahan kebijaksanaan dari para pemimpinnya. Surawisesa pandai berperang, digdaya, dan penuh semangat. Namun, di bawah kepemimpinannya rakyat menderita karena perang amat berkepanjangan. Lima belas kali peperangan mengakibatkan banyak anak kehilangan ayah, istri kehilangan suami, dan pehuma melepaskan pekerjaannya. Dan penggantinya, Sang Ratu Dewata, malah kebalikannya. Dia tak menyukai bentuk-bentuk kewiraan. Hanya agama dan filsafat saja yang diurusnya. Dia senang tapa brata dan membesarkan kehidupan keagamaan. Sarana agama berdiri di mana-mana dan diperhatikan. Dia membutakan diri terhadap kehidupan lahiriah termasuk kehidupan bernegara. Karena kehidupan negara tak tersentuh, maka rakyat jadi terlantar. Pergeseran kehidupan karena hadirnya agama baru bernama Islam jadi sumber malapetaka di Pajajaran. Dalam upaya menahan kehadiran agama baru, Sang Prabu malah memperkuat agama Karuhun (nenek moyang). Dan kebijakan ini malah menimbulkan berbagai pertikaian. Negara-negara kecil yang semula ada di bawah payung Pajajaran semakin banyak yang melepaskan diri dan bergabung dengan Banten atau Cirebon sebab mereka tertarik kepada agama baru. Bahkan lebih parah dari itu, negara-negara kecil itu berani menyerbu Pajajaran pula. Maka pada zaman Sang Prabu Dewatalah pusat-pusat keagamaan seperti di Sumedanglarang, Jayagiri, atau Ciranjang diserbu mereka. Sang Prabu yang katanya punya cita-cita mempertahankan agama lama yang dianutnya, dalam kenyataannya sama sekali tidak sanggup mengobarkan perlawanan. Hanya para perwira tua yang sanggup bertahan."
"Tak ada pemimpin baru yang sempurna?" Ditanya seperti ini, wajah Ki Darma makin muram.
"Dari semua keadaan dan peristiwa, maka pada hari-hari belakangan inilah Pajajaran semakin muram," kata Ki Darma masih menunduk.
"Apakah semakin menyedihkan?"
"Benar-benar amat menyedihkan, Ginggi."
"Apakah bumi Pajajaran semakin porak-poranda oleh musuh? Apakah semakin banyak anak kehilangan ayah dan kemudian banyak istri kehilangan suami?" Ginggi semakin penasaran mencecar dengan banyak pertanyaan.
Dua orang guru dan murid ini masih tetap mengobrol saling berhadapan.
"Tidak ada serbuan musuh. Tidak juga ada orang kehilangan pekerjaan. Bahkan hari ini, di saat rakyat dipimpin oleh Sang Prabu Ratu Sakti, rakyat begitu giat bekerja," kata Ki Darma.
"Giat bekerja?"
"Betul. Kaum peladang seperti tak punya waktu pulang ke rumah sebab waktu dihabiskan di ladang. Begitu pun pehuma hampir-hampir lupa kalau dirinya punya rumah sebab seluruh waktunya dihabiskan di huma. Kemudian nelayan lebih memilih mati di tepi sungai ketimbang pulang tanpa membawa hasil," kata Ki Darma lagi dengan nada berat dan sumbang.
"Kalau begitu, itulah masa-masa kemakmuran bagi Pajajaran," potong Ginggi memperlihatkan wajah ceria.
Brak!
Ki Darma malah menggebrak permukaan bale-bale sehingga kulit buah kukuk terlontar ke udara. Sebelum kulit kukuk itu jatuh ke bale-bale, Ginggi segera menangkapnya selagi benda itu berada di udara.