Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 03

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 03

Sambil memeluk kulit kukuk di pangkuannya, Ginggi menatap gurunya dengan heran.

"Tidak makmurkah negeri Pajajaran di bawah kepemimpinan Sang Prabu Ratu Sakti?" tanya Ginggi kemudian.

"Pajajaran memang makmur," jawab Ki Darma. "Jadi mengapa aku harus marah?"

"Sebab, kemakmuran nyatanya tidak menghasilkan keadilan bagi rakyat. Rakyat tidak sejahtera karena seluruh kekayaan negara dibawa ke istana!" kata Ki Darma.

"Semua buah-buahan yang enak-enak ada di kebun istana Tajur Agung. Buah durian dibiarkan jatuh sendiri dan buah semangka dibiarkan membusuk di mana-mana. Petugas dapur istana setiap hari memarahi karena hampir setiap hari pula bulir-bulir padi dibiarkan membusuk. Itulah saking melimpahnya kekayaan di istana," tutur Ki Darma lagi.

"Hanya melimpah-ruah di seputar istana saja?" tanya Ginggi.

"Ya. Dan semua hanya untuk kepentingan orang-orang istana saja. Untuk kemakmuran para bangsawan, kerabat raja, dan kaum santana saja," sahut Ki Darma.

"Kaum santana?"

"Ya, kaum santana adalah kelompok pedagang kaya atau petugas negara, termasuk kalangan perwira kerajaan," Ki Darma menjelaskan.

"Jadi, rakyat sendiri dapat bagian apa?"

"Rakyat hanya mendapatkan kewajiban saja, dan sangat sedikit bagiannya yang bernama hak."

"Kok bisa-bisanya begitu, ya?" Ginggi berdecak, bukan decak kagum melainkan karena tak habis mengerti.

Ki Darma tampak menghela napas panjang.

"Prabu Ratu Sakti yang memimpin negeri hari-hari belakangan ini sebenarnya punya tujuan baik. Dia ingin mengembalikan Pajajaran ke zaman keemasan seperti dialami oleh Sri Baduga Maharaja, kakek buyutnya. Tapi untuk mengembalikan kejayaan negeri butuh daya dan tenaga. Harta kekayaan yang melimpah pun amat dibutuhkan. Hanya bedanya, bila dulu kekayaan negeri melimpah dihasilkan melalui perdagangan antarnegeri, kini kekayaan kas negara harus dihasilkan dari keringat rakyat sendiri. Kemampuan rakyat dipompa habis, pajak ditarik setinggi-tingginya."

"Pajak?"

"Seba adalah semacam pajak. Setiap penghasilan rakyat harus dipotong, diberikan kepada pemerintah. Pajak dasa dan calagara dilipatgandakan."

"Apakah itu?"

"Dasa adalah pajak tenaga perorangan dan calagara merupakan pajak tenaga secara gotong-royong. Seluruh hamba rakyat Pajajaran sejak dahulu memang dikenakan pajak-pajak seperti ini. Mereka diwajibkan mengerjakan huma dan ladang milik negara atau tanah-tanah milik para bangsawan. Bisa juga mereka dikenakan pajak negara untuk bertugas mencari ikan di muara dan di laut. Bedanya, dasa dan calagara yang dikerjakan di masa-masa silam selalu dilakukan dengan hati senang. Rakyat bekerja penuh pengabdian. Mengolah ladang dan huma sambil bersenandung, kendati keringat basah mengucur. Anak-anak pun riang-gembira ikut marak atau munday bersama orang tuanya."

"Apakah marak dan muday itu, Ki?"

"Keduanya sama-sama bekerja di muara sungai mencari ikan. Bila hasil ikan memenuhi buleng, yaitu tempat ikan dari anyaman bambu, maka mereka saling berebutan memanggulnya sambil riang-gembira. Ikan yang banyak itu semua diserahkan kepada wadha, yaitu petugas negara dalam urusan itu. Ya, rakyat senang mengabdi kepada negara. Itu terjadi di zaman Pajajaran diperintah oleh Sang Prabu Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi," kata Ki Darma, matanya menatap nanar ke taburan bintang.

Ginggi ikut merenung ketika Ki Darma seperti mengumbar lamunan.

"Itulah sebabnya aku selalu rewel kalau kau malas melakukan latihan," gumam Ki Darma kemudian.

Ginggi menatap tajam ke arah gurunya.

"Tugasku apa, Ki?" tanyanya kemudian.

Ki Darma kembali mengeluh pendek. Wajahnya muram semuram cahaya pelita.

"Terlalu besar dan amat mustahil bila kau seorang diri bisa mengubah keadaan. Namun, dengan punya niat suci ikut meringankan beban rakyat, hidupmu telah lebih baik ketimbang duduk berpangku tangan."

"Ya, apa tugasku?"

"Banyak cutak (camat) atau pemimpin kandagalante (wedana) di wilayah ini yang kerjanya memeras rakyat hanya karena mereka ingin dipuji atasannya. Mereka menyiksa dan memaksa, menghentak mencari jasa. Mereka tertawa bila wilayahnya dipuji sebagai penghasil seba paling baik, tetapi sama sekali tidak menggubris rakyat yang menjerit karena tercekik. Itulah tugasmu, Ginggi. Tidak akan seluruhnya bisa kau selesaikan, tapi cobalah sebab mencoba jauh lebih baik ketimbang diam sama sekali," kata Ki Darma lagi.

Ginggi terpekur mendengar uraian gurunya ini.

"Aku tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Aku pun bahkan tidak tahu dari mana harus memulai," kata Ginggi berdesah.

"Kau akan mengalami perjalanan amat panjang. Dan sebelum tiba pada perjalanan sesungguhnya, kau akan bersusah-susah di tempat ini dulu. Masih banyak yang harus kau sempurnakan di sini."

"Urusan kewiraan?"

"Benar, sebab di zaman seperti ini, hanya ilmu kewiraan yang bisa digunakan dalam mempertahankan hidup," tutur Ki Darma.

Seperti yang diisyaratkan oleh Ki Darma, Ginggi harus menjalani sesuatu yang menjadi persyaratan. Tidak siang tidak malam, setiap hari Ginggi harus memperdalam ilmu kewiraan. Tapi selama hidupnya, sebenarnya Ginggi belum pernah bertemu musuh. Namun, kian mendalami ilmu yang diberikan oleh Ki Darma, kian jelas pada dirinya betapa sebenarnya ilmu-ilmu itu hanya diperuntukkan dalam menghadapi musuh. Itu adalah ilmu perkelahian. Di beberapa bagian, jurus-jurus dan gerakan yang diberikan Ki Darma membuat hati Ginggi bergidik, sebab jurus-jurus itu disiapkan untuk membunuh lawan.

Pada suatu hari, Ginggi diawasi Ki Darma untuk memainkan satu dua jurus perkelahian. Di puncak Gunung Cakrabuana ini, suasana masih dipenuhi embun karena matahari belum memancarkan sinarnya. Namun, di tengah tanah lapang berumput hijau, Ginggi dan Ki Darma sudah berdiri tegak. Puncak Gunung Cakrabuana ini bila dilihat dari kakinya seperti kecil tak berarti. Namun, bila berdiri di puncak, tempat tertinggi dari gunung itu sebetulnya merupakan sebuah lapangan yang cukup luas. Kalaulah di sini diselenggarakan latihan perang-perangan, maka dua pasukan besar dengan masing-masing kekuatan seratus prajurit dan saling berhadapan masih mampu ditampung di lapangan puncak gunung ini.

Sekarang, di pagi hari yang sunyi ini, lapangan begitu luas hanya dipakai oleh dua orang saja. Malah yang melakukan gerakan berlatih hanya Ginggi seorang saja, sementara Ki Darma sendiri hanya bertindak sebagai pengamat belaka. Kalaupun ada "orang" ketiga, itu pun hanyalah bebegig saja, yaitu bentuk orang-orangan terbuat dari susunan jerami padi huma dan kepalanya terbuat dari buah kukuk.

Ginggi berdiri di atas tanah berumput dengan kuda-kuda yang amat aneh, yaitu berdiri hanya menggunakan satu kaki kanan saja. Agak doyong ke depan sementara lutut agak sedikit melipat dan ujung telapak kakinya berjinjit. Kedua tangannya bersilang di depan dada. Tangan kanan terkepal keras dan tangan kiri tampak meluruskan dua jari. Sepasang jari ini tepat membelah muka di bagian hidung.

Ginggi menahan napas, memusatkan pikiran, dan segera mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke kaki kanan. Manakala terdengar bentakan keras dari mulut Ki Darma, Ginggi pun segera meniru membentak keras. Suaranya melengking, tapi akan menyakitkan telinga bila kebetulan ada yang mendengarnya. Namun, belum juga usai suara bentakannya, Ginggi menjejak panggung dengan kerasnya. Kaki kanan yang tadi agak doyong serentak bergerak bagaikan per, dan badannya melontar ke depan. Secara kilat tubuh pemuda itu meluncur bagaikan anak panah hendak menancap di tubuh orang-orangan.

Dan manakala tubuh Ginggi tepat berada di atas orang-orangan, kedudukannya tampak terbalik, kepala di bawah kaki di atas. Ginggi melakukan gerakan salto. Namun, itulah gerakan serangan paling utuh. Tangan kanan yang tadi terkepal serentak dibuka lebar-lebar dan didorong ke depan mengarah wajah orang-orangan. Itu adalah gerakan serangan tamparan. Tapi tangan mengembang itu tidak dilanjutkan untuk melakukan tamparan, melainkan untuk menghalangi batas pandangan mata musuh.

Serangan sebenarnya yang akan dilakukan adalah melalui tangan kiri. Dua jari tangan yang tajam dan lurus secara ganas "menerobos" ubun-ubun orang-orangan itu. Crap! Buah kukuk tertembus jari. Secara cepat, jari tangan kiri segera ditarik, dan kini giliran tangan kanan ganti menyerang. Telapak tangan itu terbuka lebar dan "menepuk" jidat buah kukuk. Prak! "Kepala musuh" pecah berantakan.

Tubuh Ginggi jumpalitan beberapa kali untuk kemudian berdiri tegak tiga depa jauhnya. Namun, begitu kaki menjejak tanah, tubuh Ginggi menggigil seperti terserang demam.

"Ada apa?" Ki Darma kaget.

"Ganas! Ganas!" pekik Ginggi.

"Apanya yang ganas?"

"Serangan itu. Gerakan itu amat mematikan. Ganas dan tidak manusiawi!" kutuk Ginggi lagi.

Ki Darma menghela napas dibuatnya.

"Memang begitulah."

"Tapi mengapa Aki bilang orang Pajajaran terkenal berbudi halus. Kok sanggup menciptakan ilmu ganas untuk membunuh orang?"

Lagi-lagi Ki Darma menghela napas panjang.

"Yang penting bagaimana kita memperlakukannya. Ilmu bela diri di mana pun memang ganas karena dibuat untuk membunuh lawan. Ilmu bela diri Pajajaran selalu mencari urat kematian dari mulai ubun-ubun hingga ujung kaki. Namun, apakah mentang-mentang punya ilmu, maka setiap saat kita akan membunuhi orang? Kita pun punya pisau pangot tidak selalu digunakan untuk menorehi kayu. Ilmu kedigjayaan harus engkau miliki bukan untuk mencari-cari lawan, melainkan untuk menjauhi lawan. Kalau engkau diserang lawan, cepatlah berkelit. Kalau tak bisa berkelit, menghindarlah. Kalau tak bisa menghindar, larilah dengan cepat. Tapi kalau masih dikejar dan terpepet, lawanlah dia. Maka di sanalah ilmumu kau gunakan," tutur Ki Darma panjang-lebar.

Namun Ginggi masih tetap terpengaruh oleh hasil serangannya tadi.

"Itulah kelemahanmu, Ginggi. Suatu saat kelemahan ini akan membahayakan dirimu," kata Ki Darma.

Ginggi tercenung. Ucapan gurunya ini telah beberapa kali dikemukakan. Dan kebenaran kata-kata itu pernah terjadi. Suatu saat Ginggi ditugaskan berburu menjangan untuk persediaan makanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment