Chapter 04
Di lereng Gunung Cakrabuana yang berhutan lebat, terdapat berbagai macam binatang seperti kelinci dan menjangan, serta meong congkok, macan tutul, dan harimau.
Ketika seorang pemuda hendak menangkap seekor menjangan, ia dihantui perasaan tidak enak. Menjangan itu tidak bersalah, mengapa harus dibunuh? Menjangan adalah binatang lugu yang tidak merugikan makhluk lain, bahkan tidak mampu membunuh binatang sekecil apa pun. Lalu, mengapa sekarang harus dibunuh?
"Tidak selamanya membunuh disebut jahat," ujar gurunya suatu ketika. "Harimau membunuh bukan kejahatan sebab ia perlu makan. Ia pun tidak serakah, jika laparnya sudah hilang ia tidak membunuh lagi," tutur gurunya lagi. "Lagipula, harimau bukanlah binatang usil. Kalau ia tidak diganggu, ia tidak akan mengganggu. Setiap akan bertemu manusia, harimau selalu menghindar, kecuali jika kepentingannya terganggu dan dirinya merasa dalam bahaya. Berburu menjangan bukan kejahatan sebab kita butuh makan. Karena di hutan ada menjangan dan dagingnya menyehatkan untuk dimakan, maka menjangan diburu," lanjut Ki Darma.
Ginggi mengintip seekor menjangan muda. Jika ia manusia, mungkin seusia dirinya, atau barangkali belum pantas dilepas sendiri oleh induknya. Namun Ginggi tidak tahu mengapa menjangan itu berkeliaran sendiri, karena dengan begitu akan ada ancaman terhadap nyawanya. Semula Ginggi akan menimpuk kepala menjangan muda itu dengan batu, namun karena rasa kasihan, niat itu diurungkannya. "Dia akan kutangkap hidup-hidup saja dengan menggunakan ilmu Salimpet Haseup," pikir Ginggi. Ini adalah ilmu untuk menyelinap di tengah belukar tanpa menimbulkan suara.
Namun sebelum ia bertindak, terdengar suara gesekan halus dari arah sana. Hanya karena pemuda itu pandai menggunakan ilmu Hiliwir Sumping, semacam ilmu untuk mendengar suara dari jarak jauh, maka suara gesekan itu terdengar jelas. Hati Ginggi berdebar. "Harimau?" bisiknya perlahan. Dan benar saja, tubuh besar berbulu kuning dengan corak garis-garis hitam menerjang ke arah tubuh menjangan bagaikan kilat.
Ginggi harus beradu cepat, sebab bila terlambat sedikit saja, tubuh menjangan muda itu akan menjadi santapan koyakan kuku dan taring-taring tajam. Ginggi menotolkan ujung jari kakinya, kemudian tubuhnya melesat mengarah tubuh si raja hutan. Harimau itu perhatiannya tercurah pada buruannya, sehingga saat terjangan kaki Ginggi menyerang, ia tidak bisa menghindar. Dukk! Terdengar suara geraman keras membelah dada. Harimau itu pasti kesakitan. Namun Ginggi sadar, jika serangan kakinya tidak dikurangi hingga dua pertiga, binatang besar itu pasti akan terluka parah dan barangkali tewas. Tapi Ginggi tidak mau membunuh binatang itu.
Hanya saja, akibat rasa kasihan itu, sebagai imbalannya ada serbuan ganas dari si raja hutan. Sang harimau kini meninggalkan buruannya dan segera mengalihkan serangannya pada pemuda itu. Seketika tubuh sebesar kerbau itu melesat terbang mengarah tubuh Ginggi. Pemuda itu menghindar ke bawah perut harimau. Seandainya ingin menamatkan riwayat binatang itu, Ginggi hanya perlu menusuknya dengan ujung jari ke arah perut harimau, dan binatang itu niscaya akan tersobek perutnya. Namun Ginggi tidak melakukan hal itu. Yang ia lakukan hanyalah merapatkan tubuhnya di atas tanah, dan perut binatang buas itu bergelisir di punggung pemuda itu.
Untuk kedua kalinya harimau menerjang keras dengan cakarnya yang tajam. Kembali Ginggi mengelak mundur. Namun tak disangka, binatang itu menotolkan sebelah kakinya ke atas tanah sehingga tubuhnya bisa "terbang" kembali menghampiri pemuda itu. Ginggi tidak menyangka akan hal ini. Hanya saja, secara tiba-tiba jari beruncing dari kaki depan harimau bergerak cepat hendak mengoyak. Auuuppp!!! Tubuh Ginggi melompat ke belakang. Cakar itu hanya berjarak seujung kuku dari pipi pemuda itu.
Ketika Ginggi masih melompat, harimau kembali menerjang dengan cakarnya. Kali ini Ginggi tidak tinggal diam. Ketika kaki depan hendak menampar kepalanya, secepat kilat tangan Ginggi mendahului menampar. Plak! Tubuh sang harimau terlontar beberapa depa ke belakang dan jatuh bergulingan. Seketika harimau itu duduk terpana melihat Ginggi dengan tatapan mata yang tajam. Kemudian terdengar suara geraman tajam memekakkan telinga.
Ginggi telah mempersiapkan kuda-kudanya untuk menunggu serangan susulan dari binatang itu. Namun setelah ditunggu agak lama, ternyata harimau berbalik arah dan melarikan diri dengan kaki agak pincang. Tinggallah Ginggi berdiri mematung. Menjangan telah pergi, demikian pula sang harimau. Apakah ini sebuah kesuksesan atau keteledoran, Ginggi tidak bisa memastikannya. Hanya saja, ketika kembali pulang dan melaporkan kejadian ini kepada gurunya, Ki Darma hanya tersenyum simpul.
"Saya ternyata tidak berhasil menangkap menjangan, Ki Guru," tutur Ginggi. "Yang tidak pernah berhasil adalah melawan kelemahan batinmu, anak muda?" jawab gurunya. Dan Ginggi diam tidak menjawab. Terkadang ada kebiasaan orang yang susah dihilangkan. Tapi Ginggi tidak pernah tahu, apakah yang ada pada dirinya ini kebiasaan buruk atau bukan.
Masa terus berjalan, tak terasa satu tahun telah lewat dari peristiwa itu. Namun selama itu, Ginggi tetap dilatih ilmu kewiraan oleh gurunya. Semakin hari semakin keras dan semakin banyak berlatih taktik-taktik ganas. Hingga tiba pada suatu saat Ki Darma memanggilnya. "Sudah tiba saatnya engkau melaksanakan tugas," kata Ki Darma sambil bersila di hamparan lumut tebal di bawah pohon carik angin.
Berdebar jantung anak muda itu. Tugas apakah? Gurunya pernah bilang kalau latihan kewiraan bagian dari tugas. Apakah tugas sebenarnya adalah kali ini? "Tugas apakah, Aki?" tanyanya. "Kau harus turun gunung!" "Turun gunung?" "Sudah saatnya kau bergaul dengan orang banyak. Kau lihat, kau alami, dan kau rasakan. Maka sesudah semuanya kau pelajari, kau pasti akan tergerak untuk menjalankan tugas yang aku maksud," kata Ki Darma, suaranya datar tanpa menatap wajah muridnya.
Namun Ginggi masih duduk di hadapan gurunya dengan tatapan tajam. "Satu atau dua tahun silam sudah aku utarakan perihal ini. Bahwa hari-hari kelabu tengah menggayuti langit Pajajaran, rakyat diguncang penderitaan karena kebijakan rajanya yang keliru. Rakyat mengeluh karena kewajiban seba yang tinggi?" "Apakah seba itu?" "Seba adalah semacam pajak tahunan. Setiap tahun pemerintah mengutip pajak dari rakyatnya. Namun setiap tahun pula, pajak selalu naik tinggi, sementara kehidupan rakyat tidak beranjak naik," jawab Ki Darma menghela napas panjang.
Ginggi masih tetap menatap tajam. "Kendati Negeri Pajajaran masih tetap subur, namun kesejahteraan ternyata bukan untuk rakyat, melainkan untuk pemuas nafsu pejabat semata," tutur Ki Darma lagi. Ginggi mengerutkan dahinya. "Berkelana, carilah saudara-saudaramu," kata Ki Darma lagi, sehingga mencengangkan Ginggi. "Apakah saya punya saudara?" "Bukan pertalian darah. Mereka adalah saudara seperguruan," kata Ki Darma pula, sambil melanjutkan penjelasannya.
Dulu, lebih dari sepuluh tahun silam, sebelum dirinya menemukan seorang anak terlantar di kubangan lumpur Kampung Caringin, Ki Darma pernah punya empat orang murid. "Pertama, aku punya murid dua orang, Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta. Mulanya aku latih mereka ilmu kewiraan dengan harapan mereka kelak bisa mengabdi kepada negara. Namun belakangan, manakala kulihat negara dalam keadaan bobrok, maka kucegah mereka. Mereka hanya kusuruh mempertahankan negeri tanpa mereka harus ikut campur urusan kenegaraan. Dengan dua orang muridku, aku berpisah ketika perang melawan Kerajaan Cirebon berkecamuk," tutur Ki Darma panjang lebar.
Ginggi mengangguk-angguk. "Dari Pakuan aku mengembara ke mana-mana. Sampai akhirnya tiba di Wilayah Karatuan Talaga. Di sini aku punya murid dua saudara kembar, Ki Rangga Guna dan Ki Rangga Wisesa. Seperti yang kini aku perintahkan kepadamu, maka kepada keempat muridku pun aku perintahkan hal yang sama, yaitu berdirilah di pihak rakyat yang lagi menderita. Kini belasan tahun berlalu, aku tidak tahu kabar berita dari mereka. Kalau hidup, pasti terdengar beritanya, dan kalau mati, pasti terlihat kuburnya. Kau carilah mereka dan kau gabunglah dengan mereka kalau selama itu mereka tetap menaati perintahku. Tapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya, kau harus menentang mereka."
Ginggi mengangguk-angguk kembali, bahkan kini anggukannya tampak bersemangat sekali. Mengapa tidak, sebab sebenarnya Ginggi sudah merasa bosan belasan tahun berada di Puncak Cakrabuana dan jarang bertemu manusia lainnya. Saat-saat tertentu Ki Darma suka menyuruhnya turun ke kampung di kaki gunung, namun Ki Darma melarang Ginggi banyak berhubungan dengan penduduk. Sekarang Ki Darma malah menyuruhnya turun gunung dan bergabung dengan khalayak ramai. Sudah barang tentu ini amat menggembirakan hatinya.
"Kau tentu akan banyak menerima tantangan hidup, bahkan derita. Tapi tak apa. Untuk membantu sesama, maka penderitaan adalah mulia," kata Ki Darma. "Kapan saya harus mulai turun gunung, Aki?" tanya Ginggi tidak sabar. "Esok subuh sebelum pagi benar-benar lewat!" "Esok subuh?" Ginggi terkejut. "Mengapa begitu mendadak?" "Tidak mendadak, sebab telah aku perhitungkan jauh hari." "Tapi saya harus diberitahu jauh sebelumnya juga, Aki!" Ki Darma hanya terkekeh saja.
"Ayo masuk kamarmu. Kau siapkan apa yang mesti kau bawa." Ki Darma berdiri duluan dan berjalan menuju rumah gubuknya. Namun karena Ginggi masih terdiam, Ki Darma pun berbalik lagi. "Apakah engkau tidak mau melihat kediamanmu untuk penghabisan kalinya?" tanya Ki Darma. "Sepertinya saya tidak boleh kembali ke sini, Aki?" "Hidup penuh misteri."