Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 05

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 05

Apa yang akan terjadi besok tak ada yang tahu pasti. "Jangan samakan dengan saudara seperguruan saya lainnya yang hingga kini tak pernah pulang, Aki," kata Ginggi.

Hanya dijawab dengan senyuman tipis gurunya.

Karena Ki Darma tetap memaksa, akhirnya Ginggi berjingkat menuju kamar rumah panggungnya.

Namun, kegairahan melihat dunia luar serasa tersendat oleh hal-hal mendadak seperti ini.

Ya, perintah gurunya terasa mendadak dan seperti ada sesuatu yang dipaksakan.

Keganjilan ini semakin jelas ketika di kamarnya sudah tergolek pula sebuah buntalan kain.

Ternyata benar, gurunya sudah mempersiapkan segalanya sejak dini.

"Aki, benarkah saya harus pergi secepat ini?" "Ya?" "Subuh hari?" "Ya, supaya engkau tidak kemalaman di Hutan Bukit." "Apa?" "Tidakkah sebaiknya kita berkelana berdua?" "Hahaha!" Ki Darma tertawa keras.

"Kau beritahu, kapan saya harus kembali?" "Nanti bila benar harapanku sudah terkabul.

Tapi aku pun sebenarnya tak peduli kapan kau akan kembali.

Kau harus tahu, perjuanganmu amatlah berat.

Membela rakyat bukanlah pekerjaan enteng." "Ki Guru, saya akan berusaha melaksanakan tugasmmu dengan baik sebab saya ingin segera kembali ke sini," kata Ginggi yang hanya disambut oleh gelak tawa gurunya.

Namun Ginggi tak tersinggung gurunya hanya tertawa saja.

Yang dia sedihkan adalah mengapa perpisahan dengan gurunya harus secepat ini.

Ginggi memang rasakan, selama bersama gurunya tak ada perhatian berlebih.

Tak ada kesejahteraan, baik makanan maupun pakaian.

Kalau Ki Darma berburu mencari makanan di hutan, hasilnya terkadang dimakan sendiri.

Kalau ada sisa, Ginggi makan sisanya. Kalau tak ada, Ginggi cari sendiri, sekalian membawa hasil lebih untuk persediaan gurunya.

Namun demikian, Ginggi tidak pernah tersiksa dengan ini.

Perbuatan gurunya yang seenaknya bahkan ia pakai alasan agar dirinya pun bisa merdeka pula seperti gurunya.

Di antaranya, bisa menolak perintah gurunya.

Inilah pertautan batin yang erat antara dirinya dengan gurunya, yaitu sama-sama memberikan kebebasan.

Tapi kini ada perasaan tak enak mendera dirinya.

Kini pemuda ini merasa khawatir, khawatir tak bisa bertemu lagi dengan gurunya.

Ginggi juga merasa khawatir, khawatir akan kesendirian Ki Darma.

Puncak Gunung Cakrabuana ini begitu sunyi dan begitu sepi.

Tidakkah Ki Darma kelak akan merasa kesunyian sebab telah kehilangan dirinya? Kalau Ginggi sudah pergi turun gunung, tentu Ki Darma sudah tak bisa marah-marah lagi seperti biasa.

Bila dirinya sudah pergi, Ki Darma pasti sudah tak punya lagi teman untuk bersilang pendapat.

Dan kalau dirinya sudah mengembara, pasti Ki Darma sudah tak bisa memaksakan pendapatnya lagi.

Ya, kepada siapa Ki Darma akan berhubungan untuk melepaskan segala macam unek-unek di hatinya? "Aki, izinkan saya untuk berkumpul denganmu, dalam satu dua hari ini saja?" pinta Ginggi mengiba.

"Kau harus berangkat sekarang juga, Ginggi!" "Tidakkah Aki menginginkan saya berburu kelinci dulu, berburu menjangan dulu, atau sekadar berburu burung walik saja dulu? Kita kan perlu makan bersama untuk sekadar mengucapkan selamat berpisah?" "Tidak." "Aki?" "Tidak.

Besok subuh kau harus pergi.

Sekarang cepatlah tidur!" bentak Ki Darma.

Wajah Ginggi meredup.

Maka dengan serta-merta dia pun segera beranjak ke biliknya.

Begitu hingga subuh tiba.

Ketika kokok ayam pertama berbunyi dari hutan kejauhan, Ki Darma sudah mengetuk-ngetuk daun pintu.

"Bangun!

Bangun!" teriak Ki Darma.

Ginggi yang semalaman tak bisa tidur sebenarnya hanya tinggal membuka pintu saja.

Dia pun sudah siap dengan buntalan di punggungnya.

"Ya, bagus.

Sekarang cepatlah pergi!" Ginggi masih terpaku.

"Ini sebuah perintah, anak muda.

Sesuatu yang jarang aku lakukan.

Namun kali ini, perintah harus kau taati," kata Ki Darma tegas.

"Baik, Ki Guru." "Dan jangan sekali-kali kau berani menengok lagi ke belakang." "Baik, Ki Guru." "Kendati ada sesuatu yang aneh sekali pun." "Baik, Ki Guru!" Ginggi turun gunung dengan perasaan terganggu.

Kepergiannya yang tergesa ini dianggapnya sebagai sesuatu misteri.

Ada rahasia apakah sehingga Ki Darma harus melakukan hal seperti ini? Memang benar, kadang-kadang gurunya ini suka memaksakan kehendak, tapi yang ini terasa ganjil.

Dan ini misterius bagi pikiran Ginggi.

Apalagi Ki Darma mengucapkan satu kalimat yang aneh, yaitu Ginggi harus berjanji untuk tidak mau menengok ke belakang walau ada sesuatu yang aneh.

Akan ada kejadian apakah sebenarnya? "Kau ikuti Sungai Citajur atau Sungai Cilanjung agar kau tak kehilangan arah.

Tapi hati-hati, jangan masuk ke kiri arah Lemahsugih atau Bantarujeg.

Kau harus menyusur arah kanan menuju Kampung Cae atau Sukanyiru saja.

Bila kau sudah lepas kaki Gunung Cakrabuana untuk memulai Sumedanglarang, tapi lewatlah ke Kandangwesi," kata Ki Darma tadi malam.

"Tapi hati-hati, di Kampung Cae kau jangan berani mengobral riwayat.

Siapa dirimu, dengan siapa, dan di mana kau tinggal, itu sesuatu yang harus kau tutupi," kata Ki Darma lagi.

Ki Darma bahkan tadi malam memberinya petuah agar Ginggi mau merahasiakan kepandaiannya.

"Jauhi perkelahian.

Kalau ada yang menantangmu, kau hindari.

Bila dia mengejarmu, kau lari.

Hanya saja bila sudah menghindar kau kepepet, maka lawanlah asal jangan mencederai lawan," kata Ki Darma.

Memasuki hutan Bukit Banyukerti, sinar matahari hanya tampak dari sela-sela dedaunan saja, padahal sinar matahari itu tepat di atas ubun-ubun.

Maka ucapan Ki Darma benar belaka sebab bila Ginggi tidak meninggalkan puncak pada subuh hari, maka dia akan memasuki hutan ini pada senja hari.

Padahal sesudah melewati perbukitan ini, dia pun masih harus melewati satu wilayah perbukitan lagi, Pasir Jami Datar namanya.

Kata Ki Darma waktu kemarin, kedua perbukitan ini jarang dijamah manusia.

Penduduk di kaki bukit jarang yang berani naik ke sini, apalagi di saat senja hari.

Ginggi mempercayainya sebab dia pun tahu kalau di daerah ini masih didapat berbagai binatang buas seperti ular dan macan tutul.

Namun banyaknya binatang buas pun sebenarnya merupakan tanda bahwa di daerah ini banyak binatang buruan, termasuk yang biasa dimakan manusia.

Di Bukit Banyukerti banyak didapat pohon kuray, puspa, rasamala, dan juga kareumbi.

Bila tiba saatnya kareumbi berbuah, maka akan banyak burung walik di sana.

Bulu burung ini indah kehijau-hijauan namun dagingnya pun cukup gurih untuk dibakar.

Hari-hari ini kareumbi tengah berbuah ranum.

Dan Ginggi amat menyesal, mengapa Ki Darma memaksa dirinya untuk pergi.

Padahal bila tak begitu, hari-hari ini dia bersama gurunya bisa pesta besar memakan burung walik bakar.

"Burung walik kesenangan Ki Guru.

Dia pasti tahu hari-hari ini kareumbi tengah berbuah.

Tapi kenapa Ki Guru malah mengusirku?" keluh Ginggi dalam hatinya.

Dan di saat hatinya tengah berkeluh-kesah inilah dia mendadak menghentikan langkahnya.

Telinga Ginggi melalui ilmu Hiliwir Sumping, yaitu semacam ilmu untuk mendengarkan suara halus, telah mendeteksi desiran-desiran mencurigakan.

"Ada belasan orang berlari cepat dan menggunakan ilmu Napak Sancang?" desis mulutnya perlahan.

Napas Sancang adalah semacam ilmu meringankan tubuh.

Orang yang pandai menggunakan ilmu ini bisa berlari di atas hamparan rumput tanpa telapak kaki menginjak tanah, bahkan bisa berlari dengan cepat di atas permukaan air.

Kata Ki Darma, orang-orang pandai di Pajajaran suka menggunakan ilmu ini di saat penting.

Namun orang-orang dari manakah di tengah hari seperti ini berduyun-duyun menuju puncak? Untuk tidak berpapasan dengan mereka, Ginggi segera meloncat ke atas dahan sebuah pohon.

Maka tak berapa lama kemudian, belasan orang terlihat berlari kencang menuju ke atas bukit.

Tampang mereka gagah-gagah.

Pakaian yang mereka kenakan pun bagus-bagus dan seperti berseragam pula.

Mereka mengenakan baju warna biru tua tangan panjang yang dilapis pula dengan baju rompi terbuat dari beludru hitam.

Tiap sisi baju rompi ini dikelim benang perak.

Celana yang mereka kenakan pun sama, yaitu celana sontog dari jenis beludru dan sama diberi benang warna perak pada sisi-sisinya.

Mereka pun sama menggunakan ikat kepala dari kain batik jenis hihinggulan, corak batik khas Pajajaran.

"Nampaknya mereka orang-orang kota.

Mungkin datang dari kalangan istana.

Tapi siapakah mereka?" Ginggi hanya sanggup bertanya dalam hatinya saja.

Memang ada keinginan untuk membuntuti mereka.

Namun pemuda itu teringat akan ucapan gurunya agar tak menggubris apa pun yang sekiranya dianggap aneh menurut pandangannya.

"Mereka nampaknya akan menuju Puncak Gunung Cakrabuana.

Apakah mereka bermaksud mengunjungi Ki Guru?" pikirnya lagi.

Kembali rasa penasaran menggoda dirinya.

Namun kembali dia pun menahan godaan ini karena teringat akan pesan gurunya.

Dusun Cae Menjelang senja hari, pemuda itu sudah sampai di ujung batas desa.

Kata Ki Darma, bila akan masuk ke sebuah desa, tidak boleh kemalaman sebab lawang kori akan segera ditutup.

Lawang kori adalah semacam pintu gerbang.

Zaman dulu, biasanya sebuah kampung akan dikungkungi pagar tinggi dan memiliki sebuah gerbang terbuat dari kayu jati gelondongan.

Gerbang ini berfungsi untuk melindungi dari binatang buas atau para perampok.

Bila ada yang memaksa masuk, akan ditanya petugas tugur, yaitu peronda malam.

Kalau tak salah perkiraan, inilah Desa Cae seperti apa yang dikatakan Ki Darma.

Ginggi menduga demikian sebab dusun ini terletak di kaki Gunung Cakrabuana.

Lebih meyakinkan lagi, desa ini terletak di persimpangan jalan roda pedati.

Desa Cae yang terletak di sebelah barat gunung, jadi persimpangan jalan.

Ke arah barat akan mengarah Kerajaan Sumedanglarang, bila sedikit mengarah ke timur laut akan mengarah ke Kandagalante Limbangan (Kandagalante adalah pejabat setingkat wedana untuk ukuran masa kini).

Sebelum memasuki wilayah desa, jalan ke arah itu hanya kecil saja.

Bahkan kian jauh dari desa, jalan kecil hanya berupa lorong saja, apalagi bila berada di daerah lereng bukit.

Namun sepemakan sirih lamanya, bila berjalan cepat, Ginggi akan sudah menemukan jalan selebar satu depa (kurang lebih 1,698 meter) yang kian menuju lawang kori akan semakin lebar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment