Chapter 06
Ginggi meneliti dari kejauhan. Lawang kori sudah tertutup sebab senja telah jatuh.
Ketika ia menghampiri halaman depan gerbang, terlihat dua orang penjaga berpakaian serba hitam segera mencegatnya.
Kedua penjaga itu masing-masing melilitkan kain sarung poleng di pinggang dan di kepala. Mereka menggunakan cotom, semacam topi anyaman bambu bercaping lengkung.
"Jika Ki Silah seorang pedagang, pasti berbaju kampret, celana gombor, dan memakai ikat kepala batik jenis pupunjungan," ujar salah satu penjaga. "Jika engkau seorang petani, pasti mengenakan dudukuy toroktok, topi anyaman bambu bercaping lebar, dan memakai sontog, celana sebatas lutut. Namun Ki Silah pun bukan seorang peladang dan bukan pula pengambil kayu. Kau pun tampaknya bukan orang sini," lanjutnya, bertanya bertele-tele.
"Aku bukan petani, bukan pula peladang," jawab Ginggi tanpa basa-basi, sehingga membuat penjaga satunya, bertubuh gempal, mengerutkan dahinya.
Nada suara Ginggi berlogat asing dan terdengar ketus di telinga mereka.
"Engkau dari mana?" tanya Si Gempal dengan nada ketus pula.
Ginggi tak berkata sebab pertanyaan ini, menurut gurunya, tidak boleh dijawab.
"Kau tak mau jawab?"
"Tidak mau!"
"Kau orang jahat?"
"Kenapa lantaran tak mau jawab disebut penjahat?" tanya Ginggi menyipitkan matanya.
"Orang yang tidak mau mengatakan siapa dia sebenarnya, pasti menyembunyikan sesuatu. Apa lagi yang tengah disembunyikan kalau bukan kejahatan?" Si Tubuh Gempal berkacak pinggang dengan tangan kanannya seolah menunjuk pada sebatang golok yang terselip di pinggang.
"Aku bukan orang jahat. Tapi kalau tak percaya, terserah. Tak ada orang yang senang memaksakan kehendak, termasuk aku," jawab Ginggi tetap ketus, namun bergerak seperti akan memasuki gerbang lawang kori.
"Hai, jangan masuk sembarangan! Ki Ogel, cepat kunci gerbang!" kata si jangkung kurus.
Si Gempal, yang disebut Ki Ogel, cepat mendorong rapat pintu gerbang, namun Ginggi menahan ujung gerbang.
"Kau orang jahat!" hardik Ki Ogel.
"Membiarkan orang tinggal di luar gerbang untuk diganggu binatang buas, itulah yang jahat!" jawab Ginggi tetap ketus.
Ki Ogel marah. Ia dengan cepat mencabut golok dari sarungnya. Kendati hari sudah senja, kilatan mata golok nampak jelas berkilau, pertanda golok itu amat tajam.
Ginggi tak takut oleh kilatan golok. Namun kata gurunya, jangan mencoba berkelahi sembarangan. Daripada berkelahi tanpa sebab jelas, lebih baik lari. Maka, ingat pesan gurunya, Ginggi bersiap-siap memasuki gerbang.
Namun kedua penjaga gerbang rupanya sudah dapat menduganya. Maka Ginggi dikepung kiri dan kanan. Kedua orang itu membelakangi jalan, tubuh mereka seolah menutupi gerbang kampung. Ki Ogel siap dengan goloknya, sementara temannya hanya memasang kuda-kuda.
Namun sebelum keributan terjadi, dari arah belakang gerbang terdengar suara, menyuruh agar keributan dihentikan.
"Di saat matahari sudah tenggelam, di saat parawiku tengah memuja Hyang, mengapa kalian malah membuat onar?" kata seorang lelaki tua berumur kira-kira 70 tahunan. Pakaiannya kain katun kasar warna putih, begitu pun tutup kepalanya.
"Rama, ada orang asing mau memasuki kampung!" kata Si Jangkung dengan suara halus dan hormat.
"Orang asing singgah di kampung kita sudah biasa, mengapa mesti diributkan, Ki Banen?"
"Dia mungkin orang jahat!" Maka Ki Ogel yang menjawabnya.
"Yang namanya mungkin artinya belum tentu. Maka sebelum kejahatannya terbukti, kita jangan coba menindaknya. Jangan menilai orang dengan rasa curiga, sebab hanya akan menjatuhkan martabat kita saja," tutur lelaki tua penyabar itu.
"Namun Rama, anak muda ini tak dapat menjaga lidah dengan baik, tutur bahasanya ketus, jauh dari kesopanan," tutur Ki Ogel penasaran.
Kini giliran orang tua itu menatap wajah Ginggi. Ginggi memalingkan muka, tak sanggup balik menatap lama.
"Nah, coba Rama, betapa tidak sopannya anak muda ini?" kata Ki Ogel.
"Orang muda, engkau nampak aneh, tak seperti orang Pajajaran pada umumnya. Tapi sepanjang tidak menggangu ketentraman kampung, tidak apa-apa. Begitu pun bila kau tak mau mengatakan siapa dirimu. Namun satu hal saja tentu aku boleh tahu, untuk apa kau kunjungi dusun kami?" tanya lelaki tua penyabar ini.
Suaranya menyejukkan, sehingga secara spontan hati pemuda itu pun segan juga.
"Cuaca semakin kelam. Mari, singgah ke gubukku saja?" ajak lelaki tua berbaju putih-putih itu.
"Rama?" Ki Ogel masih bercuriga.
"Tidak apa-apa," kata lelaki yang dipanggil Rama.
"Kalau ingin diterima dengan baik, kau jangan macam-macam, anak muda!" kata Ki Ogel, masih tetap mengumbar ancaman.
Maka, setelah lawang kori ditutup rapat-rapat, mereka beriringan masuk kampung. Rama di depan dan Ginggi di belakangnya, sementara Ki Ogel dan Ki Banen seolah mengawal Ginggi paling belakang.
Ginggi meneliti. Kampung ini tidak begitu besar. Barangkali penghuninya tidak lebih dari 50 rumah saja. Bangunan rumah rata-rata dibuat dari dinding bambu, beratap daun nipah. Ada rumah besar menggunakan jenis panggung, sementara yang lainnya berlantai tanah saja.
Lelaki penyabar itu membawanya ke sebuah rumah paling besar di kampung itu. Sebelum masuk rumah, Ginggi sempat menoleh ke belakang.
"Siapakah orang tua yang baik ini?" tanyanya.
"Beliau adalah Rama Dongdo," ujar Ki Banen yang pendiam.
"Rama itu sebutan apa?"
"Orang yang dituakan di sini, kami juluki Rama."
"Oh?"
"Ki Kuwu Suntara juga harus mentaati apa ucapan Rama Dongdo."
"Makanya kau mesti hormat kepada Rama Dongdo sebab semua orang pun begitu," kata Ki Ogel.
Rumah besar terpisah ini menghadap ke sebuah pekarangan luas. Tapi yang membuat Ginggi heran, di pekarangan banyak barang diletakkan di beberapa wadah seperti carangka dan dongdang, entah apa isinya.
"Itulah hasil bumi dari sini untuk dikirim ke Pakuan," tutur Ki Banen, seperti menduga pertanyaan Ginggi.
"Seba?"
"Seba adalah pajak tahunan yang dikumpulkan semua rakyat Pajajaran. Barang-barang hasil bumi ini akan dikirim bertepatan dengan upacara Kuwerabakti di dayo (ibukota) nanti," kata Ki Banen lagi.
"Makanya kami curiga sama orang asing karena keamanan barang-barang ini," potong Ki Ogel.
Ginggi tidak sempat meneliti lebih jauh sebab ia dipersilakan duduk di bale-bale.
"Nyai, cepat bawakan air putih satu kendi lengkap dengan lumur nya (tempat minum dari buluh bambu). Lebih baik lagi bila masih ada rebus kacang atau jagung," kata Rama Dongdo, entah berbicara kepada siapa.
Sementara menunggu penganan datang, Rama Dongdo menarik sebuah baki kecil di mana di atasnya tersimpan tempat sirih. Ia menawari makan sirih, namun Ginggi menolaknya.
Kemudian Rama Dongdo sendirian menyusun daun sirih. Ia memilih yang hijau tua namun masih nampak segar dan bersih. Di atas lembaran daun sirih diletakkannya beberapa jenis rempah-rempah. Ada pinang sekerat, kapolaga dua butir, daun saga sejumput, dan gambir seujung kuku yang dicampurnya dengan sedikit kapur. Sirih yang sudah berisi rempah dilipatnya dan kemudian dikunyahnya. Pelan dan tenang, sepertinya menikmatinya.
"Aku seorang pengembara dan memasuki kampung ini hanya karena kemalaman saja," tutur Ginggi tanpa diminta.
Rama Dongdo mengangguk-angguk, menatap sejenak, dan kemudian mengangguk-angguk lagi. Tapi Ginggi bisa menilai, sebenarnya orang tua ini masih menginginkan keterangan lebih rinci lagi. Misalnya, dari mana dia datang dan hendak ke mana dia pergi. Namun Rama Dongdo mengulum penasaran dengan kesabaran, tidak seperti kedua penjaga tadi.
Namun sebelum Ginggi berkata lagi, dari ruangan dalam muncul seorang gadis dengan baki di kedua tangannya. Ki Ogel segera berdiri dan membantu gadis itu mengambil alih bawaannya.
Ginggi selama ini hanya tinggal di gunung berdua bersama gurunya. Namun demikian, paling sedikit setahun sekali suka turun gunung untuk menukarkan hasil hutan dengan berbagai keperluan sehari-hari. Di Sukanyiru, sebuah dusun kecil lereng gunung, Ginggi pernah melihat makhluk bernama perempuan. Namun bila dibandingkan dengan perempuan di Sukanyiru, gadis yang ada di hadapannya kini nampak lain. Ia lebih muda, lebih elok, dan lebih bersih kulitnya. Perempuan ini begitu indah.
Perempuan muda ini duduk bersimpuh di samping Rama Dongdo untuk menurunkan berbagai penganan. Dengan jari-jarinya yang lentik dan putih, secara lemah-gemulai mengangkat piring terbuat dari tanah liat dan menaruhnya di atas tikar pandan. Ginggi seperti tidak bosan melihat gerakan tangan perempuan itu. Dan begitu semua penganan selesai ditaruh, selesai pula gerakan gemulai itu, membuat Ginggi kecewa hatinya.
Lebih kecewa lagi manakala gadis itu berjingkat meninggalkan beranda. Dan Ginggi tidak sempat berlama-lama menatap paras gadis itu sehingga hanya selintas saja melihat wajah putih bulat telur dengan sepasang pipi agak kemerahan karena jengah ditatap pemuda asing. Namun sebelum tubuh langsing padat itu benar-benar berlalu, ada sekilat kerling yang tajam menyapu mata Ginggi, membuat pemuda itu terkesiap.
Ginggi terpana. Kalau saja tidak terdengar suara batuk Rama Dongdo memperingatkan, barangkali Ginggi hanya terbengong-bengong menatap ke arah di mana gadis itu berlalu.
"Ayo anak muda, nikmatilah semua yang ada di sini," tutur Rama Dongdo, membuat Ginggi serasa disindir. Dan kendati wajahnya masih terasa panas karena malu, Ginggi akhirnya mengambil tempat minum dan mengisinya dengan air kendi. Ketika diminum, terasa kesegaran melingkupi tubuhnya. Ia sadar, sejak pagi mulutnya tidak kemasukan makanan atau minuman. Maka, ketika di hadapannya tergelar berbagai penganan, Ginggi pun tidak membiarkannya berlama-lama. Makanan yang tergelar itu ia sikat tanpa basa-basi.
Melihat ini, Ki Ogel dan Ki Banen terkekeh dibuatnya, tapi sambil ikut pula mencicipi penganan.
"Asalkan engkau tidak membuat onar, engkau boleh melepas lelah di sini, anak muda," tutur Ki Ogel, mulai memberi tempat di hati Ginggi.