Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 07

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 07

"Atau kau tinggal di sini saja untuk beberapa lama, mengingat desa ini belakangan tengah butuh tenaga muda," tutur Ki Banen.

Ginggi menatap keduanya.

"Betul kami butuh tenaga tugur," kata Ki Banen.

"Apa itu?"

"Aneh, anak muda ini sepertinya tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Sepertinya apa yang ada di dunia selalu dia tanyakan," kata Ki Ogel masih mengunyah penganan.

"Kau pasti orang gunung atau dusun terpencil yang jauh dari keramaian, anak muda?" kata Ki Banen.

"Coba katakan, dari mana, sih kamu sebenarnya?" Ki Ogel kembali penasaran.

"Aku akan jadi tugur kalau kalian anggap aku mampu melakukannya?" kata Ginggi mengalihkan pertanyaan dengan jawaban lain.

"Biarlah, Ogel, kalau anak ini bertahan dengan keinginannya..." tutur pula Rama Dongdo memaklumi sikap Ginggi.

"Ya, sungguh aku mau jadi tugur!" kata Ginggi lagi.

"Katamu kau tidak tahu tugur itu apa?" potong Ki Ogel mulai merasa sebal kembali.

"Ya, tugur itu, apa, sih?" Ginggi menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.

"Tugur itu peronda malam, penjaga keamanan kampung."

"Apakah kampung ini tidak aman?"

"Dikatakan aman, sih aman. Tapi, dikatakan tidak, juga tidak. Ya, begitulah?" jawab Ki Ogel.

"Apakah ke kampung ini kadang-kadang ada perampok atau pembunuh?" Ginggi menatap ke arah Rama Dongdo.

Yang ditatap menghela napas panjang.

"Orang jahat bertebaran di mana-mana, tidak pula mesti menempel di tubuh pembunuh atau perampok. Tapi yang namanya orang jahat pasti meresahkan?" Malah Ki Banen yang menjawab.

"Ya, bisa juga begitu," sambung Ki Ogel.

"Sudahlah, tidak baik menyuguhi tamu dengan hal-hal seperti itu," potong Rama Dongdo dan menepiskan tangannya ke samping.

"Banen, sebaiknya siapkan saja tempat bermalam untuk pemuda ini. Dan kau jangan risau, setiap malam tugur selalu menjaga kampung."

"Mari, anak muda, kau kuantar ke bale gede," kata Ki Banen sesudah Ginggi selesai makan-makan.

"Bale gede?"

"Bale gede itu tempat musyawarah seisi kampung. Namun bila ada orang yang singgah karena kemalaman, mereka tidur di sana," kata Ki Ogel berjingkat.

Ginggi sebenarnya masih ingin bersila di tepas (beranda) ini. Tetapi karena Rama Dongdo pun sudah memberi tanda, maka pemuda ini akhirnya turun dari bale-bale untuk mengikuti Ki Ogel dan Ki Banen yang sudah berangkat duluan. Untuk terakhir kalinya mata Ginggi menyapu pintu ruangan tengah, kalau-kalau gadis mungil itu masih sempat bisa dilihatnya lagi. Namun tidak ada sesuatu pun di ruangan tengah itu, sebab pelita di tempat itu sudah lama dipadamkan.

"Apakah aku harus tidur di bale gede, Ki?" tanya Ginggi sambil meneliti perkampungan.

"Ya, bale gede atau paseban adalah tempat kami berkumpul merundingkan sesuatu. Tapi kalau malam bisa juga digunakan oleh pengembara untuk menumpang tidur," kata Ki Ogel sambil terus melangkah di depan bersama Ki Banen.

"Aku tidak bisa tidur sore-sore. Kalau kalian tidak keberatan, aku memilih tinggal di gardu saja. Biar ikut tugur atau meronda dengan yang lain. Bagaimana?"

Ki Ogel dan Ki Banen saling pandang.

"Bagaimana kami percaya padamu? Bisa-bisa kau malah melakukan pencurian!" kata Ki Ogel.

"Mana bisa aku mencuri, padahal aku sendiri diawasi tugur," kata Ginggi menatap mereka.

Ki Ogel tersenyum geli memikirkan jalan pikirannya tadi.

"Kalau kamu mau menemani tugur, baiklah. Begitukah, Ki Banen?"

"Terserah bagaimana baiknya, Ki Ogel," kata Ki Banen yang tampak kurang gemar berbicara ini.

"Nah, kalau begitu, perkenalkan aku kepada yang menjadi tugur malam ini," kata Ginggi.

"Yang akan menjadi tugur malam ini, ya kami sendiri. Mungkin dibantu oleh dua orang lagi," kata Ki Ogel.

Ketiga orang itu kemudian menuju gardu. Yang disebut gardu ini sebuah bangunan mirip rumah tapi dengan ukuran amat kecil, mungkin lebar dua depa dan panjang tiga depa saja. Tidak memiliki dinding tertutup. Dan yang menandakan bahwa ini tempat menjaga keamanan, karena di sampingnya terdapat kentongan, juga ada beberapa alat lainnya. Mereka bertiga langsung duduk di bale-bale yang terdapat di gardu tersebut. Sambil duduk, Ginggi meneliti beberapa alat yang disimpan di sudut bangunan kecil ini. Ada tumbak (tombak), yaitu semacam tongkat kayu tetapi ujungnya diberi logam yang amat runcing. Benda ini jelas fungsinya untuk menusuk. Ada cikrak, yaitu semacam brankar untuk mengangkut orang pingsan atau celaka. Ada cangkalak, seikat tambang terbuat dari bahan bambu. Mungkin fungsinya untuk mengikat tahanan.

"Dan yang ini apa namanya, Ki?" tanya Ginggi meneliti sebuah alat lain. Sama seperti tombak, hanya ujungnya yang terbuat dari logam itu melengkung seperti bulan sabit atau tanduk kerbau.

"Itu namanya cagak. Fungsinya untuk menangkap orang yang dicurigai. Supaya dia tidak melarikan diri dalam pengejaran, orang itu kita pepet ke dinding dengan cagak. Pasti tidak akan lepas lagi sebab badannya terkurung lengkungan cagak ini," kata Ki Ogel. "Kita hanya tinggal mengikat kaki dan tangannya saja dengan cangkalak ini," lanjutnya seraya memperlihatkan tambang bambu itu.

Ginggi mengangguk-angguk.

"Seringkah para tugur menangkap penjahat, Ki?"

"Tidak dikatakan sering. Sebab pada umumnya penjahat selalu menghindari bentrokan dengan tugur. Kalau kita lengah, mereka masuk. Tapi bila kita siaga, mereka tidak ada," kata Ki Ogel.

Ki Banen hanya batuk-batuk kecil saja sambil mengorek-ngorek kuping dengan jari kelingkingnya.

"Tapi, ya begitulah, seperti apa yang dikatakan Rama tadi, yang namanya penjahat bukan terbatas pada pencuri dan penyamun saja. Yang datang ke kampung ini dengan niat mengacaukan, memang tidak sedikit," kata Ki Ogel setengah mengeluh.

"Heran."

"Kalau bukan pencuri atau penyamun, untuk apa mereka berbuat kejahatan mengacau desa?" gumam Ginggi seperti bicara pada dirinya sendiri.

Ki Ogel ikut menghela napas.

"Sekarang ini zaman kacau, anak muda. Musimnya orang berambisi untuk memperoleh kesenangan, musimnya orang menganggap dirinya benar dan menuding orang lain salah serta musimnya keserakahan dan kemunafikan merajai kehidupan. Ada orang yang merasa mempunyai kebenaran dan hal itu dipaksakan kepada orang lain agar menjadi kebenaran umum. Ada orang yang merasa mempunyai wibawa dan kewibawaan itu dipaksakan kepada orang lain agar kebesaran tercipta pada dirinya. Dan yang menjadi korban kesemuanya ini adalah masyarakat. Banyak perintah, banyak pendapat, dan mereka tidak tahu, apa yang harus dilakukan sebenarnya. Yang berani melakukan pilihan, akan mempunyai risiko sebab menciptakan pertentangan satu sama lain," kata Ki Banen dengan wajah kusam.

Ginggi menatap wajah Ki Banen. Orang tua ini tidak gemar bicara. Tetapi satu kali bersuara menimbulkan renungan yang dalam baginya.

"Apa yang sedang kalian hadapi sebenarnya, sepertinya hidup ini benar-benar sesak dan sempit bagi kalian, Ki?" tanya Ginggi sambil membereskan rambutnya yang tergerai ke pundak karena tanpa ikat kepala.

"Aneh sekali. Kau memang orang aneh, anak muda. Mengaku pengembara tetapi tidak tahu keadaan dunia," jawab Ki Ogel.

"Sekarang ini zaman pertentangan pendapat. Sesudah kehadiran agama baru, banyak orang bersilang pendapat mempertentangkan kebenaran hakiki. Ada orang bertahan dengan kebenaran lama, ada orang berjuang melebarkan sayap kebenaran baru. Akibatnya, orang yang tidak tahu apa-apa menjadi terpecah-pecah dan ada juga yang sampai berkelahi. Permusuhan terjadi antara anak dan ayah, dan saudara kandung menjadi renggang. Itu semua konsekuensi dari kehadiran agama baru, anak muda," tutur Ki Ogel.

"Aku tidak tahu apa itu agama. Tetapi kalau ada orang yang mempertentangkan kebenaran, kedengarannya lucu. Mengapa pula tadi Ki katakan ada kebenaran baru yang dipertentangkan dengan kebenaran lama, seolah-olah kebenaran itu dapat berubah-ubah mengikuti pergantian masa. Kalau ada orang bertindak tidak adil kepada yang lain, apakah akan dinilai berbeda pada masa yang berbeda? Apakah orang-orang masa lalu, hari ini, dan masa yang akan datang akan menilai berlainan terhadap orang yang suka bohong, berkhianat, dan kepada orang yang gemar menganiaya?" kata Ginggi menatap saling bergantian kepada kedua orang tua itu.

Giliran Ki Ogel dan Ki Banen yang menatap pemuda itu dengan penuh rasa heran.

"Omonganmu barusan hanya akan keluar dari mulut orang yang mengenal agama. Akan tetapi, mengapa kau tadi bilang tidak kenal agama, anak muda?" tanya Ki Banen mengerutkan dahi.

Dibalas oleh pemuda itu dengan sama-sama mengerutkan dahi.

"Walau tidak rajin benar, tetapi Ki Dar—maksudku, orang tuaku—kerap mengatakan hal ini kepadaku. Tapi tidak satu kali pun dia mengatakan bahwa itu agama," gumam Ginggi merenung.

"Orang mengenal tata nilai dan aturan hidup, dan apalagi melaksanakannya, itulah orang beragama, anak muda!" kata Ki Ogel.

"Adakah orang tuamu mengatakan tentang agama yang dianutnya?" lanjut Ki Ogel lagi.

Pemuda itu termenung sejenak, lalu, "Setahuku, dia tidak bilang apa-apa. Kalaupun dia sering memberikan petuah, apakah itu bagian dari agama, aku tidak diberi tahu," katanya.

"Entah siapa orang tuamu. Tetapi sikapnya aneh. Dan kesemuanya melahirkan perangai aneh padamu, anak muda. Kau datang ke kampung ini tanpa basa-basi sopan santun. Dan lantas kami percaya serta memaklumimu setelah kau bilang tidak kenal agama. Tetapi sekarang, kau bicara panjang lebar penuh filsafat. Aneh, benar-benar aneh!" kata Ki Banen.

"Sudah berapa kali kalian bilang soal sopan santun. Aku tidak tahu, sopan santun itu apa, Ki?" tanya Ginggi, disambut gelak tawa kedua orang tua yang duduk bersila di hadapannya.

"Nah, sekarang kalian tertawa. Padahal tadi sore kalian berang padaku karena urusan sopan santun itu!" omel Ginggi menampilkan mimik jengkel.

Melihat kejengkelan pemuda ini, Ki Ogel tertawa, juga Ki Banen dengan tawa tipisnya.

"Benar-benar kau orang aneh, anak muda," kata Ki Ogel. "Walaupun baru sedikit-sedikit, engkau tahu akan sikap hidup yang benar, anak muda," kata Ki Banen dengan suara rendah.

"Tetapi, memang kau benar-benar tidak mengenal agama."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment