Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 08

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 08

Sebab orang yang tahu agama akan tahu pula tradisi dalam menjaga nilai hidup. Orang yang mengenal dan menjunjung agama, di antaranya sanggup memperlihatkan perilaku baik. Berkata benar, mendengar benar, melihat benar, merengkuh orang yang lebih tua dengan tutur kata halus dan suara enak didengar," kata Ki Banen. "Lantas?" "Harus sanggup menjaga wibawa dan kehormatan baik diri sendiri maupun keluarga, juga wibawa serta kehormatan raja dan kerajaan," Ki Ogel yang melanjutkan omongan. "Nah, kalau sudah begitu, bereslah keadaan. Tetapi, mengapa kalian tadi membingungkan hidup yang tengah berlangsung hari ini?" Ginggi menyerang dengan pertanyaan baru. Ki Ogel dan Ki Banen menundukkan kepala dan menghela napas. "Itulah masalahnya, anak muda?" keluh Ki Banen. Kedua orang ini saling tatap dengan sorot lesu. Menundukkan kepala dan menghela napas lagi. Diam membisu. Suara binatang malam mulai terdengar. Ada suara cengkerik menggerit-gerit pilu, ada suara burung malam menghardik-hardik lesu dan di kejauhan sayup-sayup burung loklok dan bungaok kian menambah sepinya malam. Padahal bulan di langit benderang. Ginggi menghitung, ini hari kedua belas di perjalanan bulan keenam tahun Saka. Dan melihat bulan benderang, pemuda ini jadi ingat Ki Darma. Barangkali di puncak Cakrabuana Ki Darma masih sendirian. Kalau tak "diusir" pergi, seharusnya dia mengajak Ki Darma menikmati burung walik bakar yang diburu tadi pagi. "Sudah kukatakan sejak tadi, ini zamannya orang berebut pengaruh. Sekarang di bumi Jawa Kulon, Pajajaran tidak sendirian. Di sebelah barat ada Kerajaan Banten dan di timur Kerajaan Cirebon. Kedua negara baru itu mengatur sendi negara dengan dasar agama baru. Mereka tengah berjuang untuk memperkenalkan dan melebarkan pengaruhnya ke mana-mana. Jadi, termasuk pula ke wilayah Pajajaran," kata Ki Banen. Ki Ogel menambahkan, "Kini pengaruh agama baru semakin meluas. Kerajaan Talaga dan Kerajaan Sumedanglarang yang dulu benar-benar taat kepada Pajajaran karena di sana merupakan pusat-pusat agama lama, sudah lama terpengaruh keyakinan agama baru walau sebagian masih setia dengan agama lama. Namun akibatnya, timbul perpecahan. Ada Kandagalante (setingkat wedana di zaman kini) yang diam-diam mempertahankan keyakinan lama, ada juga yang terang-terangan masuk kepada keyakinan baru. Di dalam lingkungan kandalante sendiri sebetulnya sudah terpecah-pecah. Beberapa desa masih mau mempertahankan keyakinan lama, tapi beberapa di antaranya melepaskan begitu saja," kata Ki Ogel panjang lebar. Ruwet sekali keadaan, pikir Ginggi di saat mendengar penjelasan ini. "Kampung ini sendiri, masuk ke dalam keyakinan mana, Ki?" tanyanya. "Di sini pun sebenarnya sudah ada macam-macam gagasan. Tapi Rama Dongdo tidak bersifat memaksakan sesuatu. Beliau tetap patuh kepada amanat Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran puluhan tahun silam. Dulu Sang Prabu bersabda, tidak akan melarang ambarahayat mengambil satu keyakinan agama. Yang beliau larang bila sembarangan memilih sambil tak jelas apa yang dipilih. Tak apalah ambarahayat memilih agama yang bermanfaat bagi kesentausaan negara, asalkan jangan untuk berkhianat dan membodohi, bukan untuk memupuk kekayaan dan kesenangan pribadi. Tak apalah mengganti keyakinan dengan yang baru asalkan untuk menolong sesama yang membutuhkan dan membantu orang lain tanpa pamrih apa pun," kata Ki Banen. "Namun kebijaksanaan Kangjeng Prabu Suargi (yang sudah meninggal) tidak dimengerti benar oleh semua lapisan ambarahayat. Banyak orang bertahan karena agama lama atau berjuang karena agama baru hanya dipertalikan dengan kepentingan politik," kata Ki Ogel. "Aku tak mengerti, Ki!" kata Ginggi mulai menguap karena malam semakin menjelang. "Kalau kau pandai mengamati perjalanan waktu beserta isi kehidupan ini, kau akan tahu," kata Ki Banen turun dari bale-bale. Dia mendekati kentongan. Diambilnya alat pemukulnya yang diselipkan di sela-sela lubang kentongan dan segera dipukulkannya ke tubuh benda yang terbuat dari kayu nangka ini. Trongtrong-trong! Beraturan dan enak didengar. "Matamu kuyu dan tengkukmu kian melengkung. Lehermu pun tampak seperti leher kura-kura. Itu tanda kau mengantuk dan kecapaian. Ayo, tidurlah kau tak perlu cari-cari jasa ikut jaga!" kata Ki Ogel. Ginggi tersipu. Padahal tadinya janji mau ikut tugur atau meronda. Tapi, memang baru sekarang dia rasakan, betapa lelahnya sebetulnya dia. Sejak pagi hari menuruni bukit dan lembah serta keluar masuk hutan, tidak sebentar pun dia istirahat. Makan dendeng menjangan pun, bekal dari Ki Darma, dilakukannya sambil berjalan menyusuri hutan. Ginggi berbenah diri. Buntalan kainnya yang berisi satu dua stel pakaian sederhana dia gunakan sebagai bantal. Ginggi berbaring, telentang sebentar. Kelopak matanya dikatupkan. Tapi di kelopak matanya itu malah terbayang gadis mungil yang membawa baki dan menyodorkan penganan. Siapakah dia, pikir pemuda itu. Namun hatinya tak sempat berbincang-bincang lagi sebab matanya sudah pedih terkatup rapat. Pemuda itu terlena. Hanya saja, entah berapa lama ia tertidur. Sebab secara mendadak dia dikejutkan oleh sebuah pertanyaan yang diajukan cukup keras. "Siapa dia?" kata suara keras itu. "Dia pengembara kemalaman, Ki Kuwu. Numpang tidur!" Ki Ogel menjawab hormat. "Di saat suasana genting seperti ini kau jangan sembarangan menerima pendatang. Kenapa pula tidak dilaporkan padaku?" kata orang yang dipanggil Ki Kuwu. Diam sejenak. "Bangunkan dia!" kata Ki Kuwu lagi dengan nada jengkel. "Jang, bangun, Jang!" Ki Ogel menggerak-gerakkan tubuh Ginggi yang sebenarnya sudah sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Pemuda itu pura-pura menggeliat, menguap, dan menggosok-gosok kedua matanya. Lalu dia memutar wajahnya. "Hei, bangun orang asing!" kata Ki Kuwu. Ginggi menggosok kembali kedua belah matanya sebelum benar-benar menatap orang yang berdiri bertolak pinggang di sisi bale-bale. Ketika pemuda itu meneliti, ternyata yang disebut Ki Kuwu adalah seorang lelaki setengah baya berpakaian kampret hitam, bercelana komprang putih, dan ada kain sarung tersandang di bahunya. Dia memakai terompah kulit dan banyak hiasan cincin batu di hampir semua jari tangannya, kanan dan kiri. Ikat kepalanya juga hitam, sedikit totol-totol cokelat muda. Tapi yang lebih menarik perhatian pemuda itu, Ki Kuwu ini matanya mencorong tajam karena bola matanya tampak besar menonjol. Hidungnya juga besar agak pesek, dengan hiasan kumis tebal hitam melengkung seperti tanduk kerbau. "Beri hormat kepada Ki Kuwu Suntara, anak muda," kata Ki Banen setengah memperingatkan. Ginggi sudah punya pengalaman. Bila berlaku seenaknya, maka orang yang diajak bicara akan tersinggung. Maka untuk tidak membuat kemarahan orang, Ginggi mengikuti tata cara seperti apa yang mereka inginkan. Melihat Ki Ogel dan Ki Banen berdiri setengah membungkuk sambil sepasang tangan bersilang di bawah pusar, pemuda itu pun ikut berdiri dan berlaku seperti mereka. Membungkuk setengah menunduk dan kedua tangan bersilang di bawah pusar. "Siapa namamu, dari mana asalmu, dan apa keperluanmu datang ke sini?" Ki Kuwu Suntara mengajukan pertanyaan beruntun. "Aku kemalaman dan numpang tidur di sini. Aku pengembara, hendak mencari kerja. Tadinya minta kerja jadi tugur di sini, Ki Kuwu," kata Ginggi menjawab berpanjang-panjang padahal untuk menyembunyikan beberapa jawaban yang tak mungkin diucapkannya. "Hahaha!" Ki Kuwu tertawa ngakak sambil melinting ujung kumis kiri dan kanan. "Tugur bukan pekerjaan yang mesti diberi imbalan, sebab merupakan kewajiban dasa (pemenuhan pajak tenaga). Dasar anak dungu!" ejek Ki Kuwu Suntara. "Oh, aku baru tahu bahwa tugur itu suatu kewajiban," gumam Ginggi. "Nah, memang begitu. Tapi kalau kau hanya pengembara dan berniat mencari sesuap nasi, kau boleh memilih pekerjaan di kampung ini. Aku banyak membutuhkan tenaga muda sepertimu ini," kata Ki Kuwu sambil matanya meneliti bentuk tubuh Ginggi yang sembada (kekar) dan sedikit berotot keras. "Ogel, teliti latar belakang anak muda ini. Kalau memenuhi syarat, kau boleh ajak dia bekerja," kata Ki Kuwu Suntara sambil hendak berlalu. "Eh, mana tugur yang dua orang lagi?" katanya lagi meneliti isi gardu. "Sedang berkeliling, Ki Kuwu," kata Ki Ogel. "Bagus!" Dan Ki Kuwu berlalu dengan tangan berlenggang gagah. Di keremangan cahaya obor, sesekali tangan kanannya mengapit ujung kain sarung, sesekali tangannya digunakan memilin ujung kumisnya. "Itulah Ki Kuwu Suntara, anak muda?" Ki Banen berkata sedikit mengeluh. "Diakah pemimpin di desa ini?" tanya Ginggi. "Benar. Tapi terkadang sering berbeda pendapat dengan orang yang dituakan, yaitu Rama Dongdo," kata Ki Banen lagi. Ginggi menoleh, meminta penjelasan lebih jauh. "Ya, sudah aku katakan tadi, kemelut urusan kenegaraan juga jatuh mengalir mempengaruhi orang-orang di bawah," Ki Ogel yang menjawab. "Kemelut karena kehadiran agama baru, juga terasa di sini. Rama Dongdo tetap setia dengan agama lama. Tapi beliau tidak melarang rakyat di desa untuk memilih agama apa saja, termasuk yang baru. Sebaliknya Ki Kuwu Suntara meminta ketegasan kita, apakah mau ikut ke mana, sebab kalau ragu-ragu seperti Rama, diperkirakan rakyat pun jadi ragu-ragu dan akhirnya terjadi perpecahan." "Ki Kuwu sendiri memilih yang mana?" tanya Ginggi. "Kami juga tak jelas, dia memilih apa. Sekali waktu dia mengatakan, karena kita hidup di bawah Kerajaan Talaga yang sudah ikut ke Cirebon, sebaiknya desa ini pun ikut ke Ratu Talaga saja. Ki Kuwu mencerca Kangjeng Prabu Ratu Sakti yang dianggapnya sudah tak menjadi pemimpin negara yang baik karena menarik pajak tinggi dan suka bertindak keras terhadap rakyat. Anehnya kendati dia seperti memihak Cirebon, tapi tetap memerintahkan rakyat di desa ini untuk mengumpulkan barang-barang seba (pajak hasil bumi tahunan) yang akan dikirimkan ke Pakuan. Ini aneh. Dan kami hanya menduga, Ki Kuwu Suntara sebenarnya masih menyegani Pakuan dan tak berani menahan seba yang diminta Pakuan," kata Ki Banen.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment