Chapter 09
"Benar. Aku kira juga demikian kemungkinannya," gumam Ki Ogel.
"Kalau begitu aku baru mengerti. Banyak carangka dan dongdang (alat pengangkut barang hasil bumi) bertebaran di pekarangan Rama untuk kepentingan seba. Ya, kan?" kata Ginggi.
Ki Ogel dan Ki Banen mengangguk.
"Sekarang masa panen di ladang dan huma. Seba ke Pakuan juga dilakukan setahun sekali saat panen tiba. Barang-barang itu memang tengah dihimpun untuk kemudian menjadi iring-iringan seba ke ibukota," kata Ki Ogel.
"Tentu jauh dan amat jauh sekali. Kalau kami harus langsung mengirimkannya ke sana, barangkali akan mati kelelahan. Kami hanya mengirim seba sampai ke sebuah tempat selepas Sumedanglarang saja. Dari sana ada yang melanjutkan lagi, sesudah semua desa yang masih setia kepada Pakuan sama-sama mengumpulkan seba," kata Ki Banen.
Menurut kedua orang ini, jauh sebelum Kerajaan Talaga berpihak ke Cirebon, seba tahunan untuk Pakuan dihimpun di Talaga. Artinya, yang mengirim seba ke Pakuan dibebankan kepada kerajaan kecil yang ada di bawah Pajajaran. "Sekarang sesudah ada perpecahan, bisa saja kerajaan menghentikan seba ke Pakuan, akan tetapi satu dua desa di bawah kerajaan tersebut masih setia mengirimkannya secara pribadi, atau bergabung dengan daerah lain yang masih sama-sama punya rasa setia," kata Ki Ogel lagi.
"Salah satunya adalah desa kami inilah," kata Ki Banen menyela.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar kentongan dipukul berirama. Kata Ki Ogel, mereka adalah dua tugur atau ronda yang tengah bertugas berkeliling. Ginggi belum bertemu dengan dua tugur ini, sebab mereka baru hadir di saat Ginggi sudah tidur. Sewaktu pemuda ini terhenyak dibangunkan Ki Kuwu Suntara, dua tugur itu tengah keliling kampung. Sekarang suara irama kentongan lebih jelas terdengar, tanda kedua orang tugur datang mendekat. Dan ketika irama tabuhan itu kian keras, remang-remang di arah sana nampak dua orang mendekat. Tiba di pekarangan gardu, wajah-wajah mereka nampak jelas kelihatan. Itu sesudah keduanya membuka kain sarung yang sejak tadi dikerudungkan ke wajah dan kepala mereka untuk menahan serangan angin malam. Cahaya bulan yang sudah mulai bergeser ke barat disertai goyangan cahaya api obor di tangan seorang tugur menyebabkan Ginggi bisa mengenali wajah keduanya satu per satu.
Dua-duanya ternyata masih amat muda. Mungkin usia mereka hanya berbeda satu atau dua tahun di atas usia Ginggi. Yang membawa kentongan kulitnya agak kehitaman, giginya tonggos, menjorok ke depan. Ada kumis tipis berbulu jarang dan di dagunya berjuntai rambut jarang menyerupai jenggot. Si pembawa cahaya obor nampak sedikit lebih tampan, kendati ada kesan angkuh lantaran bibirnya selalu nampak mencibir bagaikan orang mencemooh.
Ketika melihat Ginggi duduk mendekap lutut, si pembawa kentongan berkata, "Bagaimana, apa sudah diperiksa dengan baik anak pendatang itu, Ki Ogel?" tanyanya. Mereka kini hanya berjarak satu sikut saja dengan Ginggi yang masih memeluk lutut karena dinginnya malam.
"Aku yang melapor kepada Ki Kuwu akan kehadiran orang asing ini," kata pemuda tampan pembawa obor tanpa menyebutkan namanya. "Bagaimana menurut perkiraan Ki Kuwu, orang jahatkah dia itu?" Si Tampan menunjuk wajah Ginggi dengan obor, sehingga Ginggi mendongakkan kepalanya ke belakang karena ujung obor beserta cahaya apinya hanya tinggal sejengkal ke wajahnya.
"Tidak mencurigai anak ini sejauh itu sebab Ki Ogel mengabarkan sewajarnya berdasarkan penglihatan dan penilaiannya," kata Ki Banen.
"Apa yang Ki Ogel katakan kepada Ki Kuwu?" tanya Si Angkuh lagi.
"Aku katakan bahwa anak muda ini, kecuali lugu dan sedikit bodoh, tidak membahayakan kita semua. Dia datang entah dari mana. Kemalaman di sini dan punya tujuan mengembara, atau bekerja apa saja kalau bisa," kata Ki Ogel. Melirik ke arah Ginggi yang masih kalem-kalem saja memeluk lututnya.
"Tidak jahat tapi bodoh, ya! Huh!" dengus Si Tampan angkuh.
"Ya. Tapi Ki Kuwu sudah mengizinkan anak muda ini ikut kerja di sini," kata Ki Ogel.
"Pekerjaan apa yang bisa diberikan kepada orang macam dia?" giliran pemuda hitam bergigi tonggos yang bicara.
"Tentu bukan jenis pekerjaan yang memeras jalan pikiran," kata Ki Ogel.
Ki Banen hanya tertawa masam mendengar obrolan ini. Sebaliknya Ginggi acuh tak acuh saja. Secuil pun dia tak menyimak obrolan mereka. Mengapa harus menyimaknya, pikirnya. Toh mereka pun, terutama kedua pemuda tugur itu, dalam memperbincangkan dirinya tidak sedikit pun memandang padanya. Apalagi langsung mengajaknya. Ginggi terpaksa mepet ke sudut ketika kedua pemuda itu akan ikut duduk di bale-bale. Ginggi memang mesti mengalah pergi, sebab dia hanya ikut numpang saja dan jangan sampai kehadirannya mengganggu kenyamanan para petugas jaga saat beristirahat melepas lelah.
Keempat orang tugur duduk bersila saling berhadapan di tengah bale-bale, saling bertutur sapa dan mengobrol. Kedengarannya mereka tengah membicarakan suatu persiapan.
"Jadi, tiga hari sesudah pesta panen, kita baru beranjak pergi mengirim seba, Madi?" tanya Ki Ogel.
"Betul, Ki. Sayang, pesta panen hanya dilakukan satu malam saja?" gumam pemuda tonggos yang ternyata namanya Madi.
"Dulu, dulu sekali, pesta panen dilakukan seminggu berturut-turut. Semua jenis kesenian ditampilkan mulai rengkong hingga dogdog lojor, mulai seni dalang hingga tembang-carita Aki Pantun. Bahkan sanggup mengundang rombongan renggong gunung dari tatar Galuh. Para anak gadis yang molek-molek, bukan saja keluar dari rumah-rumah seputar kampung kita, tapi juga datang dari luar kampung. Mereka datang berombongan, bersama kakak laki-laki mereka, atau pun bersama kedua orangtuanya. Mereka menghadiri pasar malam dan saling menukarkan barang berdasarkan keperluannya masing-masing. Yang sudah memiliki uang logam dari Negri Campa, Cina, Keling, Parasi, atau dari Pasai dan Siem, mereka pergunakan untuk ditukar dengan barang keperluan lebih berharga lagi," tutur Ki Ogel mengenang masa lampau yang penuh kebesaran.
"Sekarang bagaimana?" tanya Si Tonggos.
"Sekarang, tidak semarak seperti dulu. Pesta panen tahun lalu hanya dilakukan dua hari saja. Tahun ini malah satu hari. Tak ada pasar malam, kecuali menggelar pantun, mencoba mengenang masa lalu. Tahun lalu banyak saudagar dari wilayah Kandagalante menawarkan kain tipis buatan Campa. Tapi benda berharga seperti itu hanya bisa ditukar dengan uang logam asing, sebab tak mampu bila harus diseimbangkan dengan sepuluh kati kapas atau sepuluh dongdang padi. Penduduk sudah tak punya kekayaan lebih," kata Ki Ogel lagi.
"Aneh, padahal ladang tak berkurang dan huma pun selebar lautan. Mengapa penduduk tak sanggup memiliki kekayaan berlebih, Ki?" pemuda tampan yang nampak angkuh di mata Ginggi mulai membuka suara.
"Itulah karena berubahnya zaman, anak muda?" kata Ki Banen yang mulai bersuara pula.
"Perubahan apa yang menyebabkan orang tak punya kekayaan berlebih, Ki?" tanya lagi si tampan angkuh.
"Kalau aku yang berbicara nanti terpeleset lidah. Mendingan tidak menjadi salah pengertian yang mendengar. Bila tidak, hanya akan membahayakan diri sendiri. Sebaiknya kau pelajari sendiri Seta, simak sendiri dan saksikan sendiri. Apa yang kau nilai sendiri, itulah kebenaran, paling tidak bagi keyakinanmu secara pribadi, Seta," kata Ki Banen. Ginggi baru tahu kalau Si Tampan angkuh ini Seta namanya.
Suasana terasa hening ketika kokok ayam mulai berbunyi. Hampir semua orang secara bersahutan menguap panjang. Ki Ogel merebahkan dirinya di bale-bale berbantalkan kedua belah tangannya, begitu pula Ki Banen, kendati hanya tidur ayam dengan jidat menempel di atas lutut. Madi masih membunyikan kentongan tapi makin lama makin pelan dan lambat, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Ginggi bahkan sejak dari tadi tidur meringkuk di sudut.
Pagi-pagi sekali Ginggi sudah dibangunkan oleh Ki Ogel. Orang tua ini mengatakan padanya agar bila ingin mandi bisa pergi menuju pancuran. "Pancuran umum terletak di luar lawang kori (pintu gerbang desa). Tapi bertepatan dengan cahaya merah jingga di ufuk timur, pintu lawang kori sudah dibuka petugas," kata Ki Ogel. Antara sadar dan tidak karena kantuk masih juga menyerangnya, Ginggi mencoba mengucek-ngucek kedua belah matanya. Dia pun segera menggoyang-goyangkan kepalanya mencoba mengusir rasa kantuknya itu.
Ginggi memang harus bangun pagi untuk membuat langkah perjalanan selanjutnya. Mana yang lebih penting, melanjutkan perjalanan atau mencoba mencari pekerjaan di desa ini. Nampaknya memang ada tawaran kerja di sini. Tapi tawaran kerja apa, dia tak tahu. "Biar nanti kuputuskan seusai mandi saja," gumamnya sendirian. Di gardu tinggal dia sendirian sebab Ki Ogel entah sudah pergi kemana, begitu pun Ki Banen. Perkara kedua pemuda bernama Madi dan Seta yang tak dia senangi, Ginggi tak perlu mengingatnya. Tak kutemui lagi pun tak mengapa, pikirnya.
Ginggi menjinjing buntalan kainnya menuju lawang kori untuk keluar kampung, sebab menurut Ki Ogel, pancuran tempat mandi ada di luar benteng kampung. Pintu lawang kori sudah terbuka lebar namun tak ada penjaga di sana. Sebagai tanda, pada siang hari penduduk tak merisaukan akan adanya gangguan yang tak diharapkan. Ginggi melangkah ke luar kampung. Beberapa ratus langkah mengikuti jalan utama, dia sudah menemukan jalan setapak ke kiri, menurun dan membelok. Ginggi mengikuti arah ini, sebab sayup-sayup dia mendengar suara air pancuran. Benar saja, di sana ada pancuran. Airnya bening keluar dari sebuah mata air di bukit terjal. Mengucur turun melalui sela-sela batu cadas dan kemudian ditampung saluran bambu. Air pancuran itu jatuh terus-menerus membentuk sungai kecil berbatu. Banyak hamparan batu kecil rata mengkilap, mungkin selalu digunakan orang mencuci kain. Karena di situ masih sunyi, maka dengan leluasa Ginggi menanggalkan seluruh pakaiannya. Baju kampret warna nilanya dibuka, begitu pun celana sontognya.