Chapter 10
Dan brus, begitu saja dia membiarkan seluruh badannya diguyur air pancuran yang dingin menusuk tulang sumsum.
Sampai pada suatu saat terdengar jeritan tertahan dari arah jalan setapak. Ginggi menoleh dan amat terkejut, sebab jeritan itu keluar dari mulut seorang gadis. Gadis itu menutup mulutnya, membalikkan badan dan berlindung. "Nanti dulu, aku masih telanjang bulat!" seru Ginggi mempercepat mandinya.
"Saya sembunyi di sini, tidak lihat engkau!" terdengar jawaban dari balik pohon.
"Tapi kau salah. Seharusnya tidak mandi di pancuran ini. Ini tempat mandi dan cuci kaum wanita!" seru suara di balik rimbunan pohon itu.
"Kau gadis yang tadi malam menyodorkan penganan di rumah Rama Dongdo, bukan?"
"Betul! Beliau kakekku!" jawab dari balik rimbun pohon lagi.
"Mengapa tak mengobrol denganku?"
"Ih, tak sopan benar, seorang gadis mengajak berbincang kepada orang yang baru dikenalnya!"
"Sekarang kan bisa?"
"Ih, cepatlah, ketahuan orang lain, kau nanti dimarahi!" kata suara di balik rimbunan pohon itu.
"Laki-laki tak boleh sembarangan dekat-dekat pancuran ini!" katanya pula masih sembunyi.
"Ini, aku sudah jauh dari pancuran!" kata Ginggi yang sudah berdiri di dekat gadis itu.
Gadis berkain dan berkebaya hitam dengan rambut terurai sebatas pinggul ini terkejut manakala membalikkan badan sudah melihat seorang pemuda berikat kepala dan berpakaian kampret dengan rapih.
"Kapan kau selesai mandi? Tak kudengar gerakanmu," katanya menatap wajah pemuda itu selintas, namun bisa meneliti hidung pemuda itu yang sedikit mancung, bola mata bundar, dan dagu sedikit terbelah dua.
Sebaliknya, Ginggi pun terpesona melihat lesung pipit di pipi kiri gadis itu. Hidungnya kecil mancung serta bibir tipis sedikit merah, dengan sudut-sudut mata yang tajam dan mata yang hitam legam. Ginggi pun terpesona melihat ke celah di bagian dada, ada kulit kuning langsat agak montok menonjol dan menantang selera kaum lelaki.
Gadis itu rupanya tahu apa yang diperhatikan pemuda itu, dan serta merta melindungi bagian yang jadi incaran mata penatapnya. Kini giliran Ginggi yang tersipu-sipu. Pipi dan telinganya terasa panas manakala dia menduga bahwa apa yang dia lakukan dengan matanya diketahui dan dirasakan gadis itu.
Plakk! Pemuda itu menempeleng pipinya sendiri dan membuat bengong gadis itu.
"Apa yang kau lakukan, Kang?" tanya gadis itu heran.
"Ada... ada nyamuk di pipiku!" kata pemuda itu gagap.
Sang gadis yang kini diketahui menjinjing cucian di sebuah ember kayu terkekeh lucu mendengarnya.
"Kok, urusan nyamuk saja ditertawakan?" kata Ginggi heran.
"Lucu, baru kali ini di kampungku banyak nyamuk pada pagi hari?" kata gadis itu terkekeh lagi. Tangannya yang putih lentik itu digunakannya menutup renyah tawanya.
Ginggi tersenyum. "Memang tak ada nyamuk, sih?" katanya menggaruk belakang kepala.
"Mari, aku bawakan jinjinganmu, nampaknya berat," kata pemuda itu menawarkan jasa.
"Sudah biasa aku bawa jinjingan macam begini saban pagi," kata gadis itu sebagai tanda menolak tawaran pemuda itu.
"Ini karena sekalian saja. Aku juga mau mencuci pakaian kotor!" kata Ginggi sedikit memaksa.
"Ih, sudah aku katakan, lelaki tidak di sini! Ayo, sini saja cucianmu, aku yang bersihkan!" kata gadis itu, langsung mengambil pakaian kotor yang tengah digapit Ginggi. Pemuda itu mandah saja pakaian kotornya diambil gadis itu. Bahkan di hatinya ada perasaan senang gadis itu mau melakukan untuknya.
"Aku tunggu di sana, ya?" kata Ginggi.
"Ah, sudahlah. Di rumah ada ubi rebus, sengaja aku buatkan. Lagipula, kakek ingin bertemu kau," kata gadis dengan rambut halus menghiasi jidatnya ini sambil berlalu menuruni anak tangga batu.
Ginggi menyimak langkah kaki gadis itu sampai hilang di kelokan. Ginggi menghela napas, entah karena apa. Tapi dia lupa akan ucapan gadis itu bahwa dia ditunggu Rama Dongdo. Dia malah memilih batu sebagai tempat duduk di pinggir jalan itu. Duduk termenung namun dengan hati ringan dan senang. Apalagi ketika didengarnya sang gadis mempermainkan air pancuran karena sedang membersihkan badan. Pemuda itu membayangkan betapa si gadis tengah menyibakkan dan menguraikan rambutnya yang hitam legam agar diguyur air dingin dan jernih itu. Dia pun membayangkan betapa kulit wajah yang putih halus itu ikut diguyur, juga pundaknya yang sedikit berbulu tipis-tipis, juga betisnya, juga dadanya yang montok. Dan, ah, semuanya diguyur air pancuran itu. Beruntung benar sang pancuran, dia bisa bebas dan semena-mena menyaksikan tubuh mulus tanpa busana itu. Berbahagia sekali sang air gunung, dia dengan bebas dan semena-mena mengelus-elus semua lekuk dan bagian tubuh mungil itu. Sialan benar! Pasti tak ada yang terlewat, semua lekuk dan relung dirambahnya oleh air keparat itu!
Tuk! Ginggi mengetuk ubun-ubunnya sendiri. Benar kata Ki Darma tempo hari, kalau tak ada kendali, lari kuda bisa kemana saja. Tidak pula untuk jalan pikiran manusia. Dan ingat ini, Ginggi segera berdiri. Dia akan mengunjungi Rama Dongdo seperti apa yang dipesankan gadis itu. Dia melongok sebentar ke arah jalan setapak yang menurun dan berkelok itu sebelum meninggalkannya.
Namun baru saja akan membalikkan badan untuk berlalu, "tuk!", kepala bagian belakangnya terasa ada yang memukul. Ginggi menoleh ke belakang. Bukan karena sakit tapi karena terkejutnya. Rasanya sudah dari tadi dia menggetok kepalanya sendiri, mengapa sekarang terasa ada getokan lagi.
"Kau mencuri lihat orang mandi, ya?" kata seseorang mengamangkan alat pikul. Ternyata yang datang adalah Madi, pemuda jangkung hitam bergigi tongos itu. Dia pasti telah menggetok kepala Ginggi dengan ujung pikulannya.
"Siapa bilang aku mengintip orang mandi?" kata Ginggi menolak tuduhan.
"Pasti mengintip. Kalau tak begitu, masa engkau diam di sini. Di bawah kan pancuran tempat orang mandi?" kata si tongos dengan pikulan siap dipukulkan lagi.
"Aku tak mengintip orang mandi. Aku bahkan baru saja mandi," kata Ginggi lagi. Mendengar perkataan ini, si tongos membelalakkan mata. Melihat ke jalan setapak arah pancuran, lantas berpaling kembali ke wajah Ginggi.
"Kau maksudkan mandi di pancuran ini?" Ginggi menganggukkan kepala.
"Sialan kau! Tidak tahukah bahwa ini pancuran untuk kaum wanita?" bentak si tongos berteriak. Mulutnya terbuka lebar dan gigi tongosnya kian kentara. Kuning, kehitaman, dan jarang-jarang.
"Ah, biar saja!" kata Ginggi mencoba berpura-pura tak acuh akan kemarahan si tongos. Merasa diabaikan, pemuda kurus jangkung dan hitam ini segera mengayunkan pikulan yang kini digunakan sebagai pentungan. Sudah barang tentu, Ginggi tak rela ubun-ubunnya begitu saja menerima pentungan, apalagi ini dilakukan dengan pengerahan tenaga. Tetapi pemuda ini pun tak mau membuat orang mencurigai bahwa dia memiliki ilmu berkelahi. Ginggi menutup wajah rapat-rapat dengan kedua belah telapak tangannya dan berteriak minta tolong. Namun sambil meringis dia menunduk dan mundur selangkah. Hanya terdengar ujung pikulan bersiul lewat beberapa sentimeter saja tapi ubun-ubun pemuda itu lolos dari serangan.
Ginggi lari kesana-kemari sambil teriak minta tolong, dikejar pemuda tongos dengan beringas. Sementara semakin matahari bersinar, semakin banyak orang menuju pancuran, laki-laki dan perempuan. Mereka heran sepagi ini ada orang teriak-teriak ketakutan. Beberapa orang berlarian mendatangi tempat kejadian dan mendapatkan dua anak muda saling berkejaran. Yang satu minta tolong, satunya lagi melayangkan pikulan ke kiri dan ke kanan.
Seorang pemuda yang jauh lebih awal tiba di sana mencoba menghentikan aksi kejar-mengejar. "Madi, mengapa engkau hendak menganiaya pemuda itu?" tanyanya, sambil menahan gerak Madi.
"Dia brengsek! Dia kurang ajar, Seta!"
"Brengsek dan kurang ajar karena apa, Madi?" tanya Seta sambil mendelik kepada Ginggi.
"Dia mandi di pancuran wanita. Ketika aku peringatkan, malah bilang biar saja. Begitu kan kau bilang tadi?"
"Apa tadi perkataanku kau dengar lain?" Ginggi ringan saja menjawabnya.
"Tuh, kurang ajar, kan?"
"Kurang ajar bagaimana?" Ginggi memotong. "Kubilang biar saja karena tadi hari masih pagi dan tak ada wanita mandi di sana," katanya.
Tapi berbareng dengan itu, dari jalan setapak arah pancuran, muncul gadis rambut tergerai sebatas pinggul sambil menjinjing ember kayu dengan setumpuk cucian. Gadis berlesung pipit ini hanya mengenakan kain hitam sebatas dadanya dan membuat seluruh lekuk-relung tubuhnya tercetak erat dan ketat, membikin ketiga pemuda itu terpana dan melongo. Si gadis yang melangkah cepat karena mendengar ribut-ribut, segera menutupi bagian dadanya dengan tangan kiri setelah tahu bahwa ketiga pemuda itu matanya seragam menyorot ke arah bagian badan yang barusan dia tutupi. Semuanya tersipu-sipu malu karena kelakuannya ini.
Tapi rasa malu Seta berubah menjadi kemarahan. Dia cepat menghambur ke arah Ginggi, dan plak-plak-plak! Tiga tamparan mendarat di pipi Ginggi. Gadis itu menjerit kecil karena peristiwa ini.
"Hai, mengapa kau tampar wajahku?" Ginggi lebih merasa heran ketimbang sakit melihat Seta menamparnya beberapa kali.
"Kau kurang ajar menatap wanita lewat!" bentak Seta.
"Kalau begitu, tamparlah juga wajahmu tiga kali, malah empat kali buat temanmu itu, sebab dia menatap gadis itu sambil menelan air liurnya!" kata Ginggi sambil tersenyum. Tapi omongan ini kian menyulut kemarahan Seta. Dibantu Madi ia kembali menghambur menerjang Ginggi. Para wanita yang menyaksikan pertengkaran ini menjerit-jerit ngeri karena baik Madi atau pun Seta dengan garangnya mengayunkan pikulan untuk mencecar kepala Ginggi. Yang diserang malah hanya berteriak-teriak minta tolong sambil meringis dan menutupi wajahnya.
Ketika ayunan alat pikul yang dipegang Seta hendak menyabet tengkuk, kaki Ginggi tersandung akar dan jatuh terjerembab. Namun akibatnya, sabetan ke arah tengkuk menjadi lolos. Ketika pikulan Madi hendak mencecar pinggulnya, Ginggi bangun dengan cara berguling dulu ke kiri. Santai saja dia melakukannya, namun gerakan menggulir badan dilakukan dengan pas sehingga serangan alat pikul hanya menggebuk permukaan tanah.