Chapter 100
Ada belasan pejabat dan bangsawan duduk di deretan sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri, kaum muda terdiri dari para ksatria, termasuk Ginggi.
Pangeran Yogascitra membuka acara dengan membeberkan beberapa maksud. Salah satu hal yang dikemukakan Pangeran itu adalah sesuatu yang amat mengejutkan Ginggi.
"Puri Yogascitra akan mengangkat seorang pemuda bernama Ginggi untuk kami jadikan ksatria," kata Pangeran Yogascitra.
Semua hadirin menoleh pada Ginggi sehingga membuat pemuda itu malu karena menjadi pusat perhatian semua orang. Pangeran Yogascitra menerangkan bahwa ia merasa perlu memberikan penghargaan dengan mengangkat Ginggi sebagai ksatria karena jasa, tindak-tanduk, dan kepandaiannya sesuai untuk tingkat derajat tersebut. Pangeran itu membeberkan kepahlawanan Ginggi yang berhasil membongkar kejahatan Suji Angkara.
"Dengan usaha-usaha yang dilakukan Ginggi, martabat dan nama baik para bangsawan Pakuan dapat terselamatkan. Bayangkanlah selama ini kita menaruh hormat kepada Suji Angkara, padahal kelakuan sebenarnya dari pemuda itu jauh dari tindak-tanduk seorang bangsawan. Kalau Ginggi tidak membongkarnya, barangkali selama itu pula kita terlena dibuatnya," kata Pangeran Yogascitra.
"Kami akan mencari hari baik untuk menyelenggarakan upacara ngawastu (pelantikan) pemuda Ginggi. Kami ingin melantiknya di kuil utama, dihadiri para wiku istana, dan pelantikan dilakukan oleh Purohita Ragasuci. Ginggi, kau berikan hormat pada Purohita agar secepatnya mencari hari baik untuk upacara pelantikanmu," kata Pangeran Yogascitra sambil menoleh pada Ginggi.
Dengan tersipu dan serba salah, Ginggi menyembah takzim ke arah Purohita Ragasuci yang menatap dirinya dengan sorot penuh wibawa.
Selanjutnya, Pangeran Yogascitra melanjutkan pembicaraan ke hal-hal lainnya. Menurutnya, para bangsawan dan pejabat istana tengah dihadapkan pada beberapa masalah. Masalah ini sedikitnya telah membuat gejolak yang bila tak segera diselesaikan dikhawatirkan akan membahayakan sendi-sendi kekuatan negara.
"Bagi yang akan bicara perihal penyebab gejolak, silakan, kami memberi waktu," kata Pangeran Yogascitra.
Seorang pejabat berpakaian bedahan lima beludru hitam dengan ornamen indah warna kuning emas memberi tanda. "Silakan Pangeran Sutaarga berbicara," kata Pangeran Yogascitra memberi izin.
Pangeran yang bernama Sutaarga ini membeberkan beberapa situasi yang dianggapnya bisa membahayakan keberadaan negara. Situasi yang paling rawan yang tengah dihadapi Pakuan adalah semakin banyaknya negara kecil yang dulu ada di bawah Pakuan sekarang berani memalingkan muka. Sudah tak bisa dimungkiri lagi kalau negara-negara kecil di wilayah timur melepaskan diri dari kekuasaan Pajajaran karena merasa lebih dekat kepada pengaruh Cirebon. Namun, kata Pangeran ini, banyak juga negara kecil yang melepaskan diri bukan karena pengaruh kekuatan negara lain, tapi karena ketidaksetujuan dengan kebijaksanaan Pakuan.
"Dengan demikian kita mendapatkan kenyataan bahwa banyak negara kecil memisahkan diri bukan saja karena pengaruhnya telah direbut kekuasaan negara baru, melainkan karena tidak setuju dengan kebijaksanaan Pakuan. Ini perlu menjadi perhatian dari semua pejabat agar kita sama-sama mengajukan masalah ini pada Sang Prabu," kata Pangeran Sutaarga.
Selesai bangsawan ini mengemukakan pendapatnya, muncul lagi pendapat lain.
"Silakan Pangeran Jayaperbangsa mengemukakan pendapatnya," kata Pangeran Yogascitra melirik pada bangsawan berpakaian gagah dengan bendo corak batik hihinggulan ornamen emas.
"Maafkan bila ucapan saya menyinggung perasaan semua orang, termasuk juga perasaan Pangeran Yogascitra," kata bangsawan berwajah putih dengan kumis. Sebelum melanjutkan pembicaraannya, dia melirik ke segala arah dan terakhir pandangannya hinggap ke mata Pangeran Yogascitra.
"Silakan berbicara apa adanya. Hal-hal menyakitkan tak selamanya membahayakan. Obat yang terasa pahit pun sebenarnya menyehatkan," kata Pangeran Yogascitra dengan sedikit senyum.
Pangeran Jaya Perbangsa mengangguk hormat tanda setuju dengan ucapan tuan rumah.
"Kemelut-kemelut di Pajajaran ini sebetulnya tidak terlepas dari sikap kebijaksanaan Sang Prabu yang saya anggap kurang berkenan di banyak hati dan perasaan," katanya. "Sang Prabu mudah terombang-ambing oleh pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya. Tidak mengapa bila pengaruh yang datang dari luar adalah hal-hal baik dan bermanfaat bagi kemajuan dan kebesaran negara. Tapi bila pengaruh itu hanya membuat kemelut berkepanjangan, maka ini adalah sebuah kehancuran! Saya ingin mengajak saudara sekalian untuk memikirkan, bagaimana caranya agar Sang Prabu tidak tergelincir ke jurang kekeliruan," kata bangsawan ini dengan suara berapi-api.
Mendengar pendapat Pangeran Jaya Perbangsa, semua hadirin saling pandang. Sesudah itu, akhirnya semua menatap ke arah Pangeran Yogascitra. Bangsawan ini tidak segera tampil untuk berbicara, melainkan menoleh pada Purohita Ragasuci. Sang Purohita yang berwajah sabar dan penuh wibawa ini segera berdehem sebagai tanda bahwa dirinya akan mengemukakan pendapat.
"Semua yang barusan dikemukakan sebetulnya sudah jadi pembicaraan kita semua," kata Purohita. "Sang Prabu, apa pun kemampuan beliau, sebenarnya hanyalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan beliau adalah semangat dan cita-citanya yang begitu tinggi dalam upaya mengembalikan kejayaan Pajajaran ke puncak kejayaan seperti zamannya Sri Baduga Maharaja. Namun kekurangannya, beliau terlalu percaya kepada gagasan-gagasan yang datang dari orang-orang yang ingin berusaha dekat dengannya."
"Dalam memimpin negara, Raja hanyalah dibutuhkan titahnya, sebab itu yang menjadi komando utama. Tapi titah itu harus datang setelah mendapatkan berbagai saran dan masukan dari para pembantu dekatnya. Raja akan mengeluarkan titah yang bijaksana kalau dia mendapatkan saran atau masukan dari para pembantunya dengan gagasan-gagasan yang bijaksana. Tapi titah Raja juga bisa jadi malapetaka kalau terlahir dari kebijaksanaan yang salah. Itulah sebabnya dalam memimpin negara, dibutuhkan para pembantu yang selain cakap juga jujur dalam menyodorkan saran dan gagasan. Apakah kita memiliki Raja yang baik atau sebaliknya, itu semua juga berpulang pada kita semua selaku pembantunya. Bila kita menginginkan Raja berlaku adil, bijaksana, dan jujur, mari kita bantu Sang Prabu dengan jalan pikiran kita yang bijaksana dan penuh kejujuran pula," kata Purohita Ragasuci.
"Selama ini kami berusaha membantu Raja agar memiliki kebijaksanaan yang adil dan jujur. Tapi di Pakuan banyak sekali pejabat yang mencoba mendekati Sang Prabu, mencoba memberi pengaruh yang semua didasarkan demi kepentingan pribadi mereka semata," sanggah seorang bangsawan lainnya.
"Banyak pejabat yang paling berambisi mencari kedudukan bahkan yang paling bersemangat mendekati Sang Prabu. Sehingga akibatnya, pejabat yang benar-benar ingin membela negara tapi tak mau menjilat, sedikit demi sedikit tersisih oleh mereka," kata yang lain.
"Saya selaku Purohita selalu berdoa dan berusaha selalu memberi nasihat pada Sang Prabu bahwa tak selamanya orang yang selalu ingin dekat dengan Raja adalah orang-orang yang ingin membantunya. Dan nampaknya Sang Prabu sudah mulai mendengar saran saya. Sebagai bukti, beliau mau mengangkat Pangeran Yogascitra sebagai penasihatnya. Pangeran Yogascitra adalah pejabat setia sejak zaman Sang Prabu Ratu Dewata, namun tak pernah berusaha menjilat Raja untuk mendapatkan pujian atau kenaikan pangkat. Saya anjurkan pada Sang Prabu agar sudi memperhatikan dan memercayai pembantu yang selalu setia tapi tanpa memiliki pamrih kepentingan pribadi, dan nampaknya beliau mulai mengerti," kata Purohita Ragasuci panjang lebar.
"Tapi Purohita, bagaimana halnya dengan rencana-rencana Sang Prabu dalam merencanakan perkawinannya dengan putri Bangsawan Bagus Seta?" tanya seseorang. Dan pertanyaan ini seolah-olah mengingatkan yang lainnya untuk bertanya hal yang serupa.
"Adalah pantang bagi raja-raja Pajajaran mengawini perempuan larangan. Nyimas Layang Kingkin yang saya ketahui sudah bertunangan dengan Raden Banyak Angga. Mengapa sekarang hendak dipersunting Raja?"
"Ya, Sang Prabu telah melanggar aturan moral. Kalau hal ini berlangsung, hanya akan menjadi aib bagi Pajajaran!" kata yang lainnya.
"Turunkan Raja!" kata Pangeran Jayaperbangsa keras.
Pertemuan ini hampir menjadi hiruk-pikuk karena adanya silang pendapat. Bukan terjadi pro dan kontra menilai tindakan dan perbuatan Sang Prabu, melainkan terdapat perbedaan dalam menimbang keputusan. Para bangsawan muda cenderung ingin melakukan tindakan tegas dengan mengganti Raja, sedangkan bangsawan tua lebih memilih cara-cara bijaksana.
Pangeran Yogascitra berujar bahwa pendapat Purohita Ragasuci benar, kebijaksanaan Raja banyak dipengaruhi oleh saran dan gagasan para pembantu dekatnya. Kalau para pembantu Raja di istana sanggup berbuat jujur dan mendorong Raja dalam memberikan titah dan keputusan demi kepentingan negara dan rakyat, maka Raja pun akan terpengaruh baik.
"Berupaya mengganti Raja sama dengan pemberontakan. Adalah pantang bagi bangsawan tulen melakukan pemberontakan, sebab itu adalah perbuatan pengkhianatan yang amat hina!" kata Pangeran Yogascitra.
"Tapi pengabdian saya selama ini bukan kepada Raja, melainkan kepada Pajajaran. Kalau saya tak setuju dengan cara kepemimpinan Raja yang satu, bukan berarti berkhianat terhadap bangsa dan negara!" cetus bangsawan muda lainnya.
"Kita juga sama. Saya pun hanya mengabdi kepada Pajajaran. Tapi Raja adalah pilihan Hyang (Yang Maha Kuasa). Hanya keputusan Hyang yang sanggup menurunkan atau mengangkat Raja. Kendati kita berusaha menyingkirkan Raja, kalau Hyang tak berkenan maka kedudukan Raja akan selalu kuat," kata Purohita Ragasuci.
"Saya sebagai pendeta istana tidak menganjurkan kalian menggeserkan kedudukan Raja. Kita semua tahu, kemelut berkepanjangan ini, di samping kita ditekan oleh kekuatan negara baru, juga karena kelemahan Raja dalam memilih keputusan."