Chapter 101
Raja sedang sakit. Bukan sakit fisik yang membutuhkan pengobatan, melainkan sakit yang perlu disembuhkan melalui perbaikan keadaan.
"Para bangsawan yang benar-benar setia tanpa pamrih pribadilah yang akan menjadi pengobat orang sakit," kata orang tua bijaksana itu.
Para bangsawan muda sempat mereda setelah mendengar pandangan dari Purohita. Namun, tidak lama kemudian, hampir semua hadirin mendesak agar segera dilakukan upaya untuk "mengobati" kondisi Sang Prabu.
Butir-butir pendapat yang paling keras yang dituntut oleh para bangsawan muda beserta para ksatria Pakuan untuk mengubah keadaan adalah pertama, membendung pengaruh para pejabat yang mementingkan diri sendiri, dan kedua, mencegah Raja melakukan tindakan yang dikategorikan melanggar aturan moral.
"Kita semua harus berusaha mencegah perkawinan Sang Prabu dengan wanita larangan. Nyimas Layang Kingkin termasuk wanita larangan dan ditabukan bagi Raja untuk mengawininya, sebab putri Ki Bagus Seta itu sedianya sudah dipertunangkan dengan Raden Banyak Angga," kata Pangeran Jaya Perbangsa.
"Purohita bersama Pangeran Yogascitra sebagai calon penasihat Raja harus segera menghadap Raja untuk mengemukakan hasil pertemuan ini," kata yang lainnya.
Mendengar usulan tersebut, Pangeran Yogascitra menunduk dan menghela napas.
"Sungguh berat, terutama mengenai urusan perjodohan, sebab sedikit banyak akan melibatkan keluarga kami. Bila Sang Prabu salah tanggap, usulan ini bisa diartikan sebagai perjuangan pribadi pihak keluarga kami untuk mempertahankan hak. Memang benar, mengenai pertunangan itu, kami masih memiliki hak dan tidak pernah memutuskan, karena pihak Ki Bagus Seta yang secara sepihak memutuskan pertunangan itu," kata Pangeran Yogascitra dengan nada mengeluh.
Ginggi melirik dari sudut matanya; tampak Banyak Angga tertunduk dengan wajah muram.
"Kita semua berbicara atas nama kepentingan Pajajaran," ujar Pangeran Sutaarga.
"Ya, saya mengerti dan akan saya coba kerjakan," sahut Pangeran Yogascitra singkat, namun membuat semua orang merasa lega.
Pertemuan pun berakhir. Ginggi melihat rasa puas pada semua orang, terutama setelah Pangeran Yogascitra dan Purohita Ragasuci bersedia menjadi juru bicara mereka dalam mengajukan hasil pertemuan tersebut kepada Raja.
Malam itu merupakan malam ketiga Ginggi tinggal di puri Yogascitra. Selama itu, pikirannya bergejolak. Dia sendiri tidak tahu apa tujuan sebenarnya tinggal di sana. Jika dia masih memikirkan "tugas" yang dibebankan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, sepertinya dia bisa menaati mereka, yaitu berhasil menyingkirkan Suji Angkara, kendati bukan dia sendiri yang membunuhnya.
Ginggi bisa menyusup ke puri Yogascitra seperti yang diharapkan Ki Banaspati. Namun, dia bisa masuk dan bahkan tiba-tiba dianggap pahlawan oleh keluarga Yogascitra semata-mata karena kebetulan. Ginggi dianggap berjasa oleh keluarga itu karena dianggap telah berhasil menjauhkan aib yang hampir menimpa Nyimas Banyak Inten. Padahal, dia menggagalkan niat jahat Suji Angkara lebih karena membela kepentingan dirinya sendiri ketimbang kepentingan keluarga Pangeran Yogascitra.
Barangkali pengalaman pahit kembali menimpa dirinya dalam urusan cinta. Dulu, Ginggi merasa mencintai Nyi Santimi, tetapi kenyataan membuktikan gadis dari Desa Cae itu telah ditunangkan dengan orang lain. Saat itu, Ginggi berlaku nekat. Hanya karena ingin memuaskan cintanya, dia berani melakukan perbuatan buruk dengan bercinta secara gelap. Sekarang, rasa cintanya beralih kepada seorang putri bangsawan, dan gilanya lagi, dia harus bersaing dengan orang-orang yang kedudukan serta derajatnya lebih tinggi.
Siapa yang berani bersaing memperebutkan cinta dengan seorang raja? Jangankan harus berhadapan dengan orang yang derajatnya tinggi, sekadar melawan cinta Suji Angkara saja dia sudah tidak mampu. Kalau belakangan Suji Angkara bisa ia kalahkan, itu bukan karena cinta, melainkan karena dipaksa. Secara tidak langsung, Ginggi telah memisahkan cinta antara Nyimas Banyak Inten dengan Suji Angkara.
Boleh saja Ginggi menyebut Suji Angkara sebagai orang jahat, cabul, atau pengkhianat, tetapi urusan cinta tidak pernah berkaitan dengan keburukan atau kebaikan. Asalkan kedua belah pihak merasa cocok, maka cinta akan berlaku. Nyi Santimi begitu mencintainya sehingga mau melakukan hubungan selayaknya suami-istri. Nyi Santimi tidak pernah menilai apakah Ginggi laki-laki baik atau sebaliknya. Karena dibutakan oleh cinta, Nyi Santimi tidak punya waktu untuk menilai. Begitu pula rupanya yang dirasakan Nyimas Banyak Inten. Dia tidak pernah menilai keberadaan Suji Angkara. Yang ia lihat hanyalah pemuda tampan, ramah, dan baik budi—sebab memang begitulah citra yang ditampilkan pemuda itu.
Rasa cinta Nyimas Banyak Inten semakin menggebu, apalagi setelah Suji Angkara menjadi "pahlawan" yang mengusir penjahat yang hendak memperkosanya. Nyimas Banyak Inten bahkan tidak melihat satu hal ganjil ketika Suji Angkara mencoba melarikannya. Mungkin gadis itu berpikir, karena cinta pemuda itu begitu besar, ia nekat membawa gadis itu secara diam-diam setelah tahu Nyimas Banyak Inten akan dipersunting Raja.
Inilah yang menyakitkan Ginggi. Pahit sekali rasanya. Dia merasa berjuang menolong gadis itu dari peristiwa aib, tetapi si gadis merasa dijauhkan dari cintanya. Itulah sebabnya, meski selama tiga hari tinggal di puri Yogascitra ia dipuji dan dihormati, tidak sedikit pun ia merasa bangga. Hatinya beku, apalagi setelah kejadian di Pulo Parakan Baranangsiang tiga malam lalu, Nyimas Banyak Inten tidak pernah keluar dari purinya. Hanya para dayang yang mengabarkan bahwa gadis bangsawan itu tengah menderita sakit.
Malam itu, Ginggi tidur di sebuah bangunan terpisah yang cukup indah dan nyaman. Banyak bunga yang menyebarkan aroma semerbak diletakkan di sudut kamarnya. Di dekat pembaringan, selain lampu minyak kelapa, terdapat tempat menyimpan berbagai macam buah-buahan. Seharusnya Ginggi berbahagia, sebab banyak orang mendambakan kedudukan seperti ini. Menjadi ksatria yang bekerja di sebuah puri, sekali pun dalam bidang keamanan, ia berada beberapa tingkat di atas jagabaya.
Jika kesetiaan terhadap Raja sudah diperlihatkan, akan sangat mudah baginya diangkat menjadi anggota pasukan pengawal Raja, sebuah pasukan elit yang dipertahankan sejak zaman Sri Baduga Maharaja. Ginggi sudah memiliki kepandaian tinggi, ia hanya perlu melengkapinya dengan ilmu strategi militer. Barangkali kelak ia akan bergelar bangsawan. Namun, aneh sekali, Ginggi tidak merasakan kebanggaan apa pun. Pangkat dan jabatan seperti tidak membuatnya bergairah; ia justru bersedih dengan segalanya.
Untuk apa semua ini? Apa sebenarnya tujuan hidupnya? Ginggi teringat kembali pada Ki Darma dan amanatnya: "Kau belalah rakyat dari kesengsaraannya." Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Mudah diucapkan, sulit dikerjakan. Ki Banaspati benar, membela rakyat tidak bisa melalui satuan-satuan kecil karena tidak akan berarti. Ia menyarankan untuk membuat sebuah gerakan yang bisa mengakibatkan perubahan tatanan.
Namun, seperti apa gerakan itu? Apakah seperti yang dikerjakan Ki Banaspati? Ginggi menggelengkan kepala. Dia tidak pernah paham apa yang dikerjakan Ki Banaspati. Dalam perjuangannya, murid Ki Darma itu selalu menggunakan berbagai cara, termasuk mengorbankan rakyat sendiri. Begitu pun tindakan Ki Bagus Seta yang menyusup menjadi pejabat di Pakuan, namun melakukan kebijaksanaan yang ganjil jika dihubungkan dengan amanat Ki Darma. Ki Darma mengeluh akan kebijakan Raja yang memberati rakyat dengan pajak tinggi, tetapi Ginggi baru mengetahui bahwa kebijakan itu justru bermula dari gagasan Ki Bagus Seta sebagai pejabat muhara, yang ia klaim sebagai taktik agar dipercaya bekerja di Pakuan.