Chapter 102
Katanya, untuk menanamkan pengaruh, seseorang harus berusaha menanamkan kepercayaan terhadap Raja. Raja yang berambisi mengembalikan kejayaan negara seperti masa silam membutuhkan banyak dana. Dana harus diambil dari dalam negeri sebab dari luar, seperti perdagangan antarpulau, sudah tak mungkin dilakukan sesudah semua pelabuhan milik Pajajaran direbut Banten dan Cirebon.
"Raja yang sudah punya dasar keperluan seperti itu, kalau disodori gagasan yang sejalan dengan jalan pikirannya, maka akan segera menyambut baik dan kita akan dipercaya sebagai pembantu yang tahu memikirkan kebutuhan. Itulah cara untuk menanamkan pengaruh," kata Ki Bagus Seta.
Katanya, bila pengaruh sudah mulai kokoh menguasai sendi kehidupan di pemerintahan, maka selanjutnya akan sangat mudah untuk menyusun tatanan baru.
"Pada saat itulah sebenarnya perjuangan kita lakukan. Kita rombak negara, campakkan yang buruk dan yang tak cocok, lalu kita tegakkan sendi-sendi terbaik yang bisa membuat rakyat sejahtera!" kata Ki Bagus Seta ketika itu.
Sudah benarkah gaya perjuangan yang dilakukan Ki Bagus Seta dan kelompoknya? Entahlah. Yang jelas, upaya menjaga nama baik negara juga banyak dikemukakan oleh pihak lain dengan cara yang berbeda. Purohita Ragasuci dan Pangeran Yogascitra pun sebenarnya merasakan bahwa tatanan negara sedang tidak sehat dan perlu perbaikan. Namun, cara memperbaiki keadaan yang mereka inginkan tidak melalui cara-cara perombakan. Mereka berpendapat tidak perlu merombak, apalagi merusak.
"Raja belum melakukan tapa di nagara dengan baik. Seorang Raja harus *teuas peureup leuleus usap* (tegas tapi punya rasa kasih sayang). Ini belum sempurna dilaksanakan oleh Raja. Raja harus *teuas peureup* (tegas) saja, sehingga akibatnya hanya menyakiti orang yang ditegasi saja. Raja juga mudah tergoda kehidupan lahiriah, menyenangi kekayaan, dan mudah jatuh cinta pada wanita cantik. Ini sebetulnya kurang sehat bagi kehidupan bernegara. Raja sedang menderita sakit dan harus segera disembuhkan agar bisa kembali memimpin dengan baik," kata Purohita Ragasuci.
Ucapan-ucapan ini menegaskan kepada semua orang bahwa dalam mengembalikan keberadaan negara yang dibanggakan rakyat, tidak perlu diadakan perombakan, tidak perlu menggusur Raja, dan tidak perlu melakukan pemberontakan.
"Pemberontakan adalah perbuatan hina bagi orang-orang Pajajaran!" kata Pangeran Yogascitra dalam pertemuan di purinya kemarin.
Jelas banyak perbedaan dalam mempertahankan keberadaan negara. Ginggi mau ikut ke mana, dia sendiri pun tak tahu. Itulah sebabnya, baik ketika berada di puri Ki Bagus Seta maupun kini sesudah berada di puri Yogascitra, Ginggi merasa tidak betah karena semua percakapan dan cara berpikir mereka tentang kehidupan bernegara tidak ia pahami sama sekali.
Terlalu banyak yang dipikirkannya sampai-sampai Ginggi tidak bisa tidur, padahal kantuk sudah amat hebat menyerangnya. Ketika dia hampir memejamkan mata karena rasa pedih pada kelopaknya, pemuda itu mendengar suara berkeresekan yang amat mencurigakan. Itu bukan suara kaki kucing atau kelepak sayap burung malam, tetapi seperti benda yang lebih berat hingga di atas atap sirap.
Ginggi semakin menajamkan telinganya menggunakan ilmu dengar *Hiliwir Sumping*. Bunyi keresekan itu semakin meyakinkan dirinya bahwa itu langkah kaki seseorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Siapakah dia? Untuk memastikannya, Ginggi segera meniup pelita sehingga ruangan menjadi gelap. Rupanya orang yang berjalan di atas atap pun merasakan bahwa lampu tiba-tiba gelap, sehingga Ginggi segera mendengar gerakan angin yang menandakan orang itu meloncat turun.
Ginggi tak membuang waktu, segera membuka jendela dan meloncat keluar. Bulan sudah bersinar kurang dari setengahnya, tapi cukup terang untuk melihat gerakan orang yang melarikan diri. Ginggi segera mengejarnya. Ternyata orang misterius itu berlari menuju tepi benteng. Ginggi pun terus membuntutinya. Ketika bayangan itu meloncati benteng, Ginggi pun segera meloncat mengejar.
Kini terjadi kejar-mengejar di antara keduanya. Ginggi belum tahu siapa bayangan misterius itu. Hanya saja, yang membuat pemuda itu heran, bayangan itu seperti membimbingnya ke suatu tempat. Ginggi terus mengikutinya. Bayangan itu telah menyeberangi Sungai Cipakancilan, berlari cepat menuju arah timur, dan nampaknya membawanya ke tepi Sungai Cihaliwung. Sesudah tiba di tepiannya, dia berlari menyusuri sungai menuju arah utara. Dia melewati Leuwi Kamala Wijaya, masih terus ke utara, lalu tibalah di tempat tambatan perahu yang menyambungkan tepian itu dengan gugusan delta Pulo Parakan Baranangsiang.
Bayangan itu tidak menaiki perahu, melainkan meloncat ke permukaan sungai dan berlari menggunakan ilmu *Napak Sancang*, yaitu ilmu meringankan tubuh untuk berlari cepat di atas permukaan air. Ginggi berhenti sejenak di tepi sungai, merasa heran mengapa orang misterius itu membawanya ke tempat itu. Kedua, dia juga heran sebab sejak tadi sebenarnya ada orang lain berlari di belakangnya. Siapa pula orang di belakangnya? Pemuda itu tidak mengenalnya. Namun, jelas orang yang di belakang memang berupaya mengejar dirinya. Adakah hubungan orang yang dikejarnya dengan orang yang kini berada di belakangnya? "Biar aku buktikan nanti," gumamnya seorang diri.
Sesudah berpikir begitu, Ginggi segera melompat ke tengah sungai dan berlari *Napak Sancang* menuju gugusan delta Pulo Parakan Baranangsiang. Ginggi mendarat di gugusan delta tengah Sungai Cihaliwung dan segera mendapati seorang lelaki berdiri bertolak pinggang sambil sepasang kaki terpentang lebar. Laki-laki itu memang sengaja menantinya di depan pesanggrahan. "Ki Bagus Seta?" tanya Ginggi heran.
Sebagai jawaban, Ki Bagus Seta mendengus. "Ada apa malam-malam mengajakku ke sini?" tanya Ginggi lagi.
"Aku ingin melihat di mana tempat anakku dibunuh," gumam Ki Bagus Seta dengan suara dingin. Kain penutup pinggangnya tampak berkibar-kibar karena tertiup angin malam.
"Bukan aku yang bunuh," kata Ginggi sedikit terkesiap.
"Ya, aku tahu. Orang-orang puri Yogascitra yang melakukannya. Tapi mereka tak berarti apa-apa bagiku. Kalau aku mau, malam ini juga bisa kubantai semuanya sampai habis. Yang aku perlukan hanya engkau," kata Ki Bagus Seta lagi dengan suara mendesis.
"Aku tak membunuh putramu," kata Ginggi mundur setindak.
"Tapi kau yang memberi peluang sehingga memudahkan orang-orang Yogascitra membantai anakku. Kau lumpuhkan anakku sehingga tak berdaya dan menjadi bulan-bulanan mereka. Kalau kau tak memukul Suji Angkara, setidaknya anakku masih bisa melawan atau bahkan menyelamatkan diri," kata Ki Bagus Seta.
Serasa lumpuh sendi-sendi tulang Ginggi disudutkan seperti ini. Kalau dipikir, memang benar, Suji Angkara begitu saja dibantai oleh para prajurit dengan amat mudah karena sudah terlebih dahulu dibuat lumpuh olehnya dan tak sanggup mengadakan perlawanan lagi. Dengan kata lain, yang membunuh pemuda itu sebetulnya dirinyalah. Ki Bagus Seta mungkin benar tak begitu suka pada anak tirinya karena selalu curiga pada kegiatannya, tapi sebagai orang tua, tentu dia merasa sakit hati melihat anak tirinya mati secara mengenaskan.
Ginggi memang melihat jasad Suji Angkara. Dia mati dengan tubuh hampir hancur karena banyak tusukan benda tajam bersarang. Ginggi hanya menunduk, sebab dia ikut merasakan kehancuran hati seorang ayah ditinggal mati anaknya, kendati sekadar anak tiri. Ya, mengapa tidak begitu? Suji Angkara pernah menjadi tangan kanannya dalam mengawasi kegiatan pengiriman seba di wilayah timur.
"Harus kau akui, engkaulah pembunuh anakku!" kata Ki Bagus Seta.
"Bisa dikatakan, memang begitu," gumam Ginggi.
"Bagus kalau kau sudah akui!" bentak Ki Bagus Seta sambil menghambur ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Barangkali benar Ginggi mengaku ikut terlibat dalam pembunuhan, tapi untuk disalahkan begitu saja dia tak terima. Apalagi sekarang harus pasrah menerima hukuman. Maka, ketika Ki Bagus Seta menghambur melancarkan pukulan deras, Ginggi segera menghindar ke samping sehingga pukulan Ki Bagus Seta mengenai tempat kosong.
Ginggi sudah pernah berhadapan dengan Ki Bagus Seta di ruangan paseban purinya. Dalam pertandingan di paseban, keduanya saling melancarkan angin pukulan dan kedua-duanya terlontar menabrak dinding di belakangnya. Ginggi tak tahu sejauh mana kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Ki Bagus Seta. Apakah pukulan yang dilontarkan Ki Bagus Seta waktu itu dilakukan sepenuhnya atau tidak? Ginggi sendiri waktu itu hanya melontarkan tiga perempat bagian saja karena khawatir pukulan itu mencelakakan dirinya maupun lawan.
Barangkali sekarang akan diketahui siapa dari kedua murid Ki Darma yang memiliki angin pukulan paling baik. Adu tenaga dalam nampaknya akan segera dilakukan karena Ki Bagus Seta segera mendoyongkan tubuhnya ke depan seperti kodok hendak meloncat. Hanya bedanya, sepasang tangannya dibuka lebar dan siap sedia. Ginggi pun terpaksa harus melayaninya. Tidak sekadar bertahan, mungkin akan melakukan serangan juga. Kalau hanya bertahan, Ginggi takut tak akan kuat mengingat Ki Bagus Seta akan melakukan serangan sungguh-sungguh karena rasa ingin membalas dendam atas kematian anak tirinya.
Bagaimana agar tenaga dalam yang keluar dari tubuhnya semakin deras? Ginggi mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan Ki Rangga Guna. Bila diterjemahkan melalui bahasa ilmiah masa kini, maka Ki Rangga Guna mengatakan bahwa pengembangan tenaga dalam merupakan pelampiasan penggunaan sistem sumber daya tubuh (biolistrik). Di dalam tubuh manusia sebenarnya terdapat satu triliun sel. Antara satu sel dengan sel yang lainnya ada suatu gaya yang memancar keluar (dalam ilmu bela diri masa kini yang diteliti secara ilmiah rasional, pancaran tenaga ini disebut sebagai gaya elektromagnetik).