Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 103

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 103

Bagi orang biasa yang tak pernah melatihnya, pancaran gaya ini keluar tidak teratur sehingga kekuatannya tidak terbukti secara khas. Oleh orang yang gemar melatih diri, pancaran gaya ini bisa dihimpun menjadi satu dan membentuk kekuatan yang mahadahsyat. Apakah seseorang sanggup menghimpun sebanyak-banyaknya dari jutaan sel energi ini, bergantung sejauh mana ia melakukan latihan.

Ginggi tak pernah mengaku sebagai seorang yang ulet, apalagi ketika berada di bawah bimbingan Ki Darma. Orang itu selalu memaksa agar Ginggi berlatih keras, tetapi bila Ginggi sudah ogah-ogahan, Ki Darma selalu membiarkannya seenak perut Ginggi. Namun, kendati begitu, belakangan dia sadar akan perlunya ilmu kedigdayaan setelah berhadapan dengan Ki Rangga Wisesa. Kalau saja tidak ditolong Ki Rangga Guna, barangkali nyawanya sudah lama melayang.

Ketika sudah bersama Ki Rangga Guna saja Ginggi mau berlatih keras. Di samping memperdalam kembali apa-apa yang sudah diberikan oleh Ki Darma, Ginggi pun sungguh-sungguh menerima gemblengan ilmu-ilmu aneh Ki Rangga Guna yang katanya didapat dari negeri seberang.

Ketika Ki Bagus Seta mendorong sepasang telapak tangannya ke depan, terasa ada hawa panas menerjang ke arah dada Ginggi. Pemuda itu pun segera menghimpun tenaganya, jauh lebih besar daripada tenaga yang dipancarkan di ruang paseban itu. Dua tenaga besar berhawa panas beradu keras. Akibatnya, terdengar ledakan keras yang diikuti kilatan api. Tubuh Ginggi limbung ke belakang dengan dada terasa sesak dan berat. Matanya pun terasa berkunang-kunang, sehingga bila ada serangan susulan, sudah tak mungkin ia berkelit.

Namun, Ginggi heran; mengapa serangan susulan tak pernah dilakukan? Di keremangan cahaya bulan, pemuda itu melihat tubuh Ki Bagus Seta telentang di tangga bangunan pasanggrahan, hampir enam depa darinya. Ginggi terkejut karena tubuh itu seperti tak bergerak. Sambil tubuhnya sedikit limbung, Ginggi mencoba mendekati tubuh Ki Bagus Seta yang telentang dengan kaki mengarah padanya. Ginggi khawatir kalau-kalau orang tua setengah baya itu mati karena benturan tenaga dalam yang saling dikerahkan dengan kekuatan penuh. Kalau benar demikian, dia akan berdosa telah kembali membunuh orang.

Namun, satu depa sebelum dia sampai ke tubuh telentang itu, secara kilat Ki Bagus Seta bangun sambil membuat lentingan tubuhnya. Sepasang tangannya mengembang melakukan pukulan ke arah dada pemuda itu. Ginggi tidak menduga sehingga tidak punya kesempatan untuk menangkisnya. Pukulan itu langsung menuju dadanya. Karena tak mungkin ditangkis atau dielak, pemuda itu membusungkan dadanya, memusatkan inti tenaga di seputar dadanya sehingga jutaan sel elektromagnetik berkumpul di sana. Sel-sel yang memiliki daya tolak ini, jika pertahanannya betul-betul sempurna, akan mendatangkan daya yang kekuatannya sebanding dengan tenaga yang datang dari luar. Kian besar tenaga yang datang menyerang, maka akan kuat pula daya lontarannya.

Meneliti angin pukulan yang dilancarkan Ki Bagus Seta, sepertinya tidak mengandung kekuatan penuh. Mungkin Ki Bagus Seta ragu-ragu melontarkannya, atau mungkin karena dia sudah luka dalam ketika terjadi adu tenaga tadi. Ginggi lega hatinya sebab dengan keterbatasan tenaga itu, akan terbatas pula akibatnya. Pukulan sepasang tangan Ki Bagus Seta menerobos masuk ke dada bidang Ginggi.

Duk!

Pukulan itu menerpa keras sehingga tubuh pemuda itu terlontar ke belakang. Namun, bersamaan dengan itu terdengar pula jeritan keras keluar dari mulut Ki Bagus Seta. Tubuh orang tua itu terpental jauh sekali, berguling-guling masuk ke rimbunan semak belukar.

"Hebat!" kata-kata ini keluar dari mulut Ki Banaspati yang tahu-tahu sudah berada di sana.

Ginggi yang masih telentang karena pukulan tadi tak begitu heran melihat Ki Banaspati di sana secara tiba-tiba. Sejak tadi sebenarnya dia telah dikuntit orang. Baru belakangan ini Ginggi tahu bahwa yang menguntitnya adalah Ki Banaspati.

"Kau hebat, Ginggi! Sudah lebih dari pantas untuk menjadi pembantu utamaku kelak!" katanya berdiri menatap pemuda itu bangun.

Dengan seluruh tubuh terasa sakit-sakit dan dada sesak, Ginggi hanya menatap Ki Banaspati dengan heran. Heran, mengapa orang ini malah memuji dirinya ketimbang cepat-cepat menolong Ki Bagus Seta yang ia duga menderita luka berat karena peristiwa barusan.

"Coba kau periksa Ki Bagus Seta?" kata Ginggi dengan tarikan napas memburu karena sesak.

"Bagus Seta hatinya masih dipengaruhi urusan pribadi. Tidak cocok untuk melakukan perjuangan besar seperti yang tengah kita lakukan," gumam Ki Banaspati datar.

"Tapi dia perlu kita tolong," kata Ginggi.

"Mengapa kau membunuhnya kalau harus ditolong?" tanya Ki Banaspati enteng saja.

"Aku tak membunuhnya. Dia yang menyerangku. Tapi aku tak mau membunuhnya," kata Ginggi dengan dada masih terasa sesak.

Ginggi kemudian terhuyung-huyung menuju semak-semak untuk mencari tubuh Ki Bagus Seta. Namun, sebelum Ginggi mencarinya, Ki Bagus Seta tampak keluar dari semak dan bergerak menggunakan gerakan tangan. Ginggi menarik tubuh Ki Bagus Seta menjauhi semak. Sesudah berhasil diangkat, Ki Bagus Seta disuruhnya bersila untuk mengatur pernapasan. Ginggi juga menyeka darah yang meleleh dari sudut bibir Ki Bagus Seta.

"Engkau hebat, anak muda," gumam Ki Bagus Seta, dikomentari oleh kekeh tawa Ki Banaspati.

"Engkau bodoh, Bagus Seta. Sudah aku katakan, bertempur dengan kawan sendiri hanya membuat rugi tujuan kita!" kata Ki Banaspati.

Orang yang diomeli diam saja sebab perhatiannya tengah terpusat dalam pengaturan napas.

"Anakku mati?" gumamnya kemudian.

"Memang sudah diputuskan. Suji Angkara harus mati sebab hanya akan menghalangi perjuangan kita. Kalau kau terganggu oleh urusan percintaan, anak itu sebetulnya sudah akan melapor tentang kegiatan kita," kata Ki Banaspati. "Tapi sayang sekali, seharusnya Ginggi membunuh pemuda itu sesudah Suji Angkara membunuh Pangeran Yogascitra. Sekarang Yogascitra masih hidup. Kau yang harus bertugas membunuhnya, Ginggi!" lanjut Ki Banaspati.

Ginggi diam mematung.

"Engkau amat berpeluang membunuh bangsawan itu sebab kau sudah dipercaya penuh olehnya. Berita mengenai engkau akan dilantik menjadi ksatria puri Yogascitra sudah tersebar di Pakuan. Itu amat baik!" kata Ki Banaspati lagi.

"Bagaimana kalau anak muda ini tak membunuh Yogascitra, bahkan menyeberang memihak mereka?" tanya Ki Bagus Seta tiba-tiba.

"Tidak mungkin, sebab Ginggi sudah terlanjur menyayangi Rangga Guna yang kita tawan. Kalau tak dibebaskan, Ki Rangga Guna akan menjadi mayat begitu saja. Kalau Ginggi tak mau menjalankan perintah kita, artinya Ginggi telah membiarkan Rangga Guna mati. Bukan oleh kita, tapi oleh surat ini," kata Ki Banaspati sambil membuka buntalan kecil yang sejak tadi diikatkannya pada sabuk kainnya.

Bungkusan itu dibuka. Di dalamnya ternyata ada satu kotak surat dan kumpulan daun nipah. Ki Banaspati hanya membuka ikatan daun nipahnya saja.

"Apakah itu?" tanya Ginggi ingin tahu.

"Itulah surat yang ditulis sebelum Rangga Guna tertangkap di Sagaraherang. Adakah surat itu untukmu?" kata Ki Bagus Seta.

"Begitu pentingkah surat itu untukku?" tanya Ginggi lagi sambil menyipitkan sebelah matanya.

"Ya, penting sekali karena nyawamu ada di dalam sini," kata Ki Banaspati mengangkat lembaran daun nipah yang diikat benang putih itu.

"Bacakan, apa isinya!" kata Ginggi.

"Coba serahkan surat itu padanya, Banaspati!" kata Ki Bagus Seta.

"Percuma memperlihatkan surat itu secara langsung, dia tak bisa baca-tulis!" kata Ki Banaspati.

Ginggi sebetulnya ingin sekali membaca langsung apa isi surat yang katanya amat berkaitan erat dengan nyawanya. Tapi dia ingin mempertahankan pendapat orang lain bahwa dirinya tak bisa baca-tulis. Dulu Ki Darma memang memerintahkan dirinya untuk pura-pura tak mengenal tulisan, sebab suatu hari sifat kepura-puraan itu akan berguna.

"Ini, aku bacakan!" kata Ki Banaspati membeberkan susunan daun nipah, mendekatkannya pada kedua matanya karena cahaya bulan sepotong samar-samar saja cahayanya.

"Teruskan perjuanganmu sesuai perintah Ki Darma!" kata Ki Banaspati membaca surat daun nipah. Kemudian dibacanya pula penandatangan surat itu sebagai Ki Rangga Guna tertuju kepada Ginggi.

"Surat itu tak punya arti khusus dan tak membahayakan diriku," kata Ginggi.

Ki Banaspati terkekeh-kekeh. "Kalau surat ini sampai ke tangan orang-orang Pakuan, kau akan dikejar dan diburu sebab punya kaitan erat dengan Ki Darma!" katanya.

"Aku juga bisa katakan bahwa kalian punya hubungan erat," jawab Ginggi.

"Hahaha! Hanya engkau yang bisa dibuktikan. Kami bertahun-tahun sudah berada di sini dan tak ada orang yang tahu. Ki Darma sudah mati, kemudian Rangga Guna pun nyawanya ada di tangan kami dan kata-katamu tak akan dipercaya orang," Ki Banaspati tertawa lagi.

Ginggi tetap terpaku dan hatinya membenarkan kesulitan ini bila surat dari Ki Rangga Guna disampaikan kepada orang-orang Pakuan.

"Untuk keselamatanmu di Pakuan, maka selamanya kau terikat padaku. Kau laksanakan perintah-perintahku dan kau bisa hidup dengan aman!" kata Ki Banaspati lagi. Kemudian dia menoleh pada Ki Bagus Seta. "Bagus Seta, kini kendali aku yang pegang, sebab ternyata kau bodoh dan beberapa kali mengalami kegagalan saja!" katanya.

Ki Bagus Seta berdiri tapi dengan tubuh terbungkuk, mungkin karena luka di dadanya masih terasa sakit.

"Tidak. Aku yang pegang kendali, sebab kau terlalu kasar, Banaspati!" kata Ki Bagus Seta.

"Di sini kekuasaan dan pengaruhmu sudah lumpuh. Bangsawan Soka yang kau banggakan dan kau gunakan untuk tempat berlindung sudah tak berguna lagi. Sedangkan selama ini kau di sini hanya mengandalkan orang itu!"

"Kita semua memang mengandalkan Bangsawan Soka!"

"Tidak! Aku mengandalkan diriku sendiri!" potong Ki Banaspati.

"Kekuatanmu apa sehingga berani berkata begitu?" tanya Ki Bagus Seta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment