Chapter 104
Ditanya seperti itu, Ki Banaspati malah tertawa terkekeh-kekeh, kemudian tawanya meledak saat melihat Ki Bagus Seta mengerutkan alis.
"Ginggi, jelaskanlah apa kekuatanku yang sesungguhnya. Jangan katakan aku selama ini berlindung pada pengaruh pejabat tinggi bernama Ki Bagus Seta!" kata Ki Banaspati sambil menoleh kepada Ginggi.
Ki Bagus Seta menoleh kepada pemuda itu dengan wajah amat heran. "Kalian punya persekongkolan lain selain denganku?" tanya Ki Bagus Seta.
Ginggi tak menjawab apa pun.
"Hahaha! Katakanlah apa yang kau ketahui, Ginggi!" kata Ki Banaspati seolah mencoba memanas-manasi rasa penasaran Ki Bagus Seta, yang tampak marah sekali sambil menatap ke kiri dan ke kanan.
"Katakanlah, anak muda, jangan permainkan aku pula!" teriak Ki Bagus Seta kepada Ginggi.
"Ki Banaspati telah menyusun pasukan di wilayah timur!" kata Ginggi.
"Aku sudah tahu itu. Pasukan di wilayah timur sengaja dibentuk untuk dipakai melawan Raja. Pasukan itu akan dipimpin Kandagalante Sunda Sembawa yang berambisi menggantikan Raja!" kata Ki Bagus Seta.
"Ya, lanjutkan pengetahuanmu itu sampai mana?" tanya Ki Banaspati masih terkekeh-kekeh.
"Sunda Sembawa hanya dijadikan penggerak saja, sebab kau, Banaspati, yang sebetulnya memegang kendali. Kemudian di Pakuan, aku yang memegang kendali dengan menyulut Bangsawan Soka untuk berambisi menjadi penasihat Raja?"
"Ya, engkau di Pakuan punya satu orang saja yang pengaruhnya sudah buruk. Sedangkan aku di luar Pakuan punya ribuan pasukan yang kesemuanya ada di bawah pengaruhku!" potong Ki Banaspati.
"Apa maksudmu dengan bicara seperti itu?" tanya Ki Bagus Seta menatap tajam.
"Maksudku, akulah yang paling kuat di Pajajaran ini dan bukan engkau!" kata Ki Banaspati.
"Terangkan maksudmu yang sebenarnya!" desis Ki Bagus Seta.
"Maksudku yang sebenarnya, akulah kelak yang akan menjadi raja di Pakuan!" kata Ki Banaspati mantap.
Tubuh Ki Bagus Seta seperti tersentak ke belakang ketika mendengar pernyataan itu. Ginggi merasa heran menyaksikannya. Bukan heran oleh ambisi Ki Banaspati sebab sejak dulu dia telah tahu, tapi pemuda itu amat heran mengapa Ki Bagus Seta terlihat kaget mendengar perkataan Ki Banaspati. Apakah sebelumnya ia memang tidak tahu akan cita-cita Ki Banaspati?
"Engkau... engkau mengkhianati aku, Banaspati! Bukan engkau, akulah kelak yang harus jadi raja!" desis Ki Bagus Seta.
"Hahaha! Memang benar para wiku istana kerap kali berbicara bahwa yang jadi raja *teu kudu pinter tapi kudu ngarti jeung kaharti* (tidak harus pintar, tetapi harus mengerti dan harus dimengerti). Namun, engkau selain bodoh juga tak mengerti dan sulit dimengerti orang lain. Kau tak cocok jadi raja karena bodoh. Kau juga tak cocok karena tak pernah mengerti keadaan. Gerakanmu yang bodoh hanya membuat orang curiga saja pada kegiatan kita. Itulah sebabnya, urungkanlah cita-citamu untuk menjadi raja, sebab akulah yang lebih cocok menduduki jabatan paling tinggi seperti itu!" kata Ki Banaspati.
Ginggi menyaksikan betapa menggigilnya tubuh Ki Bagus Seta setelah mendengar penjelasan itu. Ia sekaligus mulai mengetahui bahwa Ki Bagus Seta pun punya ambisi sama untuk menjadi raja.
"Sudah tiga orang yang punya keinginan untuk menjadi raja," gumam Ginggi tak sadar.
"Hahaha! Bukan hanya tiga orang, tapi empat orang, Ginggi. Sebab selain Sunda Sembawa, Bagus Seta, dan aku, Bangsawan Soka pun punya keinginan seperti itu!" kata Ki Banaspati.
"Bangsawan Soka keinginannya terbatas. Dia hanya berjuang untuk jabatan penasihat saja!" potong Ki Bagus Seta.
"Bangsawan Soka tak setuju cara-cara kepemimpinan Ratu Sakti. Dia juga suka mengejek kemampuan Raja yang sekarang. Sedangkan dia orang angkuh. Mustahil dia ingin jadi penasihat raja bodoh. Dia inginkan lebih dari itu. Kau akan dimanfaatkan. Dia juga akan memanfaatkan aku sambil sebelumnya mendorong Raja mengeluarkan keputusan agar aku disetujui membangun kekuatan di wilayah timur. Aku tahu maksud buruknya. Kekuatan yang aku miliki kelak akan dia pinta untuk mendukung cita-citanya! Hahaha! Tidak! Akal bulusnya sudah aku ketahui seluruhnya dan aku tidak akan terkecoh!"
"Engkau jangan serakah, Banaspati. Akulah yang lebih pantas menjadi raja sebab aku pulalah yang pertama kali memasuki lingkungan istana. Kau tidak akan berarti apa-apa tanpa bantuanku!" seru Ki Bagus Seta dengan suara menggigil menahan kemarahan.
Sementara itu, Ki Banaspati hanya tertawa-tawa dengan nada penuh ejekan. Ki Bagus Seta semakin panas dengan sikap sombong Ki Banaspati. Ia hendak bergerak memburu ke depan, namun sebentar kemudian jatuh terjerembap karena tubuhnya limbung.
"Hahaha! Jangan melawanku, Bagus Seta. Tenagamu habis dan tubuhmu luka dalam karena kau memaksa berhadapan dengan pembantu utamaku. Pilihlah, kau hidup sejahtera di bawah kepemimpinanku, atau kau mati malam ini juga!" kata Ki Banaspati dengan nada sungguh-sungguh dan penuh ancaman.
Aneh sekali, mendengar ancaman itu, Ki Bagus Seta langsung menjatuhkan dirinya seperti karung goni. Orang yang sehari-harinya gagah dan angkuh itu kini menangis sesenggukan karena ancaman saudara seperguruannya.
"Kau pulanglah ke purimu dan tunggulah perintah-perintahku. Pergerakan besar akan segera dimulai!" kata Ki Banaspati.
Ki Bagus Seta dalam keadaan berlutut menatap tajam Ki Banaspati sambil berlinang air mata.
"Kau harus berpikir matang, Bagus Seta. Cita-cita kita adalah melaksanakan amanat Ki Darma dalam membela kepentingan rakyat Pajajaran. Sekarang kau harus yakin, akulah yang akan bisa memimpin Pakuan sehingga kehidupan rakyat terjamin. Kalau kau membantuku, berarti kau murid setia Ki Darma dan dosa-dosamu karena memerintahkan pasukan perwira kerajaan menyerbu Puncak Cakrabuana terampuni," kata Ki Banaspati.
Ki Bagus Seta menyeka air matanya. Namun setelah itu, ia bangun berdiri dan berjalan terhuyung-huyung meninggalkan Pulo dan menyeberangi Cihaliwung dengan menggunakan perahu yang tadi digunakan Ki Banaspati. Sepeninggal Ki Bagus Seta, tinggallah Ginggi berdua dengan Ki Banaspati.
"Saat-saat penting telah hampir tiba, hari-hari ini kau akan banyak pekerjaan, Ginggi!" kata Ki Banaspati. Ia mengeluarkan kembali kotak surat yang ada di dalam bungkusannya, kemudian diserahkan kepada Ginggi.
"Apa ini?" tanya Ginggi.
"Isinya surat maharahasia. Kau serahkan pada Pangeran Jaya Perbangsa!" kata Ki Banaspati.
"Pangeran Jaya Perbangsa?" gumam Ginggi.
"Ya, apakah kau tak kenal Pangeran Jaya Perbangsa?" tanya Ki Banaspati.
"Aku mengenalnya... dia termasuk sahabat baik Pangeran Yogascitra," gumam Ginggi. Mendengar gumaman pemuda itu, Ki Banaspati tertawa renyah, tapi Ginggi tak tahu arti tawanya.
"Ya, kau serahkan secara rahasia pada pangeran itu. Hati-hati, jangan sampai ada yang tahu bahwa kau menyerahkan kotak ini," kata Ki Banaspati. "Mati hukumanmu bila kau tak berhasil menyerahkan ini pada orang yang aku maksud!" katanya lagi dengan nada datar.
Ginggi tak mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Dia hanya menerima kotak itu dengan kedua belah tangan yang sedikit bergetar karena perasaannya. Ki Banaspati menatap sejenak, kemudian membalikkan tubuh dan berjalan menuruni tepi sungai. Namun sebelum jauh, dia berbalik lagi.
"Hati-hati, kau harus taati aku kalau tak ingin nyawa Rangga Guna melayang. Kalau kau langgar, di samping kau bunuh diri, juga sebetulnya kaulah yang membunuh Rangga Guna. Kau juga akan menjadi orang berdosa pada Ki Guru sebab kau kacaukan pergerakan yang diinginkan Ki Guru. Camkan kata-kataku!" kata Ki Banaspati.
Setelah puas meyakinkan kata-katanya, dia segera meloncat dan berlari menggunakan ilmu Napak Sancang di atas permukaan air. Tinggallah Ginggi sendirian di Pulo Parakan Baranangsiang yang sunyi dan dingin. Sambil termenung dengan alis berkerut, pemuda itu menimbang-nimbang isi kotak kayu tersebut.
Ginggi masih duduk sendirian di bangunan pesanggrahan Pulo Parakan Baranangsiang. Udara semakin dingin karena malam sudah demikian larut. Bulan sabit sudah hilang dari pandangan, dan dari seberang sungai, sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok, menandakan waktu subuh akan segera menjelang.
Ginggi harus cepat kembali ke puri Yogascitra. Kalau ketahuan dia keluyuran tanpa sepengetahuan penghuni puri itu, hanya akan membuat masalah baru. Tapi sebelum kembali, ia ingin sekali membaca surat yang kini ada di tangannya. Surat itu masih tersimpan di dalam kotak yang terkunci rapat. Kata Ki Banaspati, surat itu harus diserahkan kepada Pangeran Jaya Perbangsa.
Ginggi mengerutkan alis. Punya hubungan apa pangeran ini dengan Ki Banaspati? Apakah Pangeran Jaya Perbangsa sudah masuk ke dalam persekongkolan dengan Ki Banaspati? Ginggi tidak tahu tindak-tanduk pangeran muda ini. Dua hari yang lalu ketika ada pertemuan di puri Yogascitra, Pangeran Jaya Perbangsa ikut hadir. Ia diundang sebab, seperti kata Purbajaya, pangeran ini termasuk kawan dekat Pangeran Yogascitra.
Dalam pertemuan itu, Pangeran Jaya Perbangsa termasuk orang yang banyak bicara yang pada pokoknya menggambarkan ketidaksetujuannya terhadap perilaku Raja. Tidak tanggung-tanggung, bahkan ia berkata dengan suara keras meminta agar semua orang sepakat menurunkan Raja dari takhtanya. Tak ada yang ganjil dan tak ada yang aneh, sebab pada umumnya semua yang hadir pada pertemuan itu memperbincangkan perihal ketidaksetujuan mereka terhadap perilaku dan kebijaksanaan Raja.
"Tak ada yang ganjil... tak ada yang ganjil!" gumam pemuda itu sendirian. Ya, memang tak ada yang ganjil, sebab semua orang sama-sama tak setuju dengan sikap Raja. Ki Banaspati juga susah payah menghimpun kekuatan karena tak setuju dengan sikap Raja. Berpikir sampai di sini, pemuda itu menahan napasnya. Pangeran Jaya Perbangsa bersuara lantang agar semua orang bertindak menurunkan Raja dari kekuasaan. Ini juga keinginan Ki Banaspati.