Chapter 105
Tidakkah Pangeran Jaya Perbangsa dikendalikan oleh Ki Banaspati? Makin berkerut dahi Ginggi karena berpikir keras. Sudah dia ketahui memang semua orang tidak setuju terhadap Raja. Namun, dia perlu memilah-milahnya. Ada kelompok yang sekadar tidak menyenangi sikap Raja tetapi tanpa memiliki tujuan-tujuan tertentu. Ada juga kelompok yang sama-sama tidak menyenangi Raja tetapi memiliki tujuan khusus.
Ki Banaspati jelas termasuk kelompok kedua ini. Mungkinkah dia berusaha mengendalikan beberapa pangeran yang ada di Pakuan untuk memperbesar api kemelut? Bisa saja begitu; semakin kacau suasana di Pakuan, semakin bagus menurut pertimbangan Ki Banaspati. Pangeran Jaya Perbangsa suaranya paling lantang mengajak semua orang meruntuhkan Raja. Kalau dikatakan dia mengajak semua orang untuk memberontak, bisa benar-benar persis. Dan Ki Banaspati menyusun kekuatan untuk memberontak.
Akan lebih bagus bagi Ki Banaspati jika sebelum pasukan dari timur dikerahkan menyerang Pakuan, di dayo (ibukota) itu sendiri sudah ada yang saling gebuk. Barangkali Ki Banaspati tinggal menunggu waktu saja. Sesudah dua kekuatan di Pakuan saling gebuk dan pemenangnya dalam keadaan lemah, giliran pasukan Ki Banaspati yang bergerak untuk meraih kemenangan. Ginggi memang sudah melihat situasi di Pakuan. Kekuatan di sana cenderung sudah terpecah-pecah. Ada kelompok yang sudah meragukan kepemimpinan Raja, tetapi ada juga yang tetap bertahan dengan keputusan-keputusan Raja.
Ginggi kini mulai bisa meraba bahwa Pangeran Jaya Perbangsa yang selalu bersuara lantang dikendalikan Ki Banaspati agar menyulut dan memanasi para penentang Raja untuk mengadakan keributan berupa pemberontakan. Satu-satunya bukti untuk memperjelas dugaannya ini, Ginggi harus membuka kotak dan membaca surat yang harus ia serahkan kepada Pangeran Jaya Perbangsa. Suasana gelap di tempat yang terpencil ini tidak memungkinkan dirinya untuk membaca surat itu. Ilmu Sorot Kalong (melihat di tempat gelap) yang ia miliki tidak akan membantu penuh. Jadi, pemuda itu harus segera kembali ke Puri Yogascitra.
Dia pun segera meninggalkan tempat itu, berlari menuju Puri Yogascitra yang kini sudah menjadi tempat tinggalnya. Dengan amat hati-hati, pemuda itu meloncati benteng puri dan menyelinap ke bangunan yang menjadi tempat tinggalnya. Masuk ke ruangan tidurnya, ia segera menyalakan pelita. Keremangan berubah menjadi benderang. Ginggi meneliti kotak surat itu. Berukir indah dan halus buatannya, tetapi tutup kotaknya dikunci oleh semacam engsel. Ginggi perlu membuka engsel itu agar tutup kotak bisa terkuak.
Dengan serampangan, tangan pemuda itu membedol ujung engsel. Begitu tutup kotak terbuka, terdengar suara halus bersiutan. Ada cahaya-cahaya kecil berkeredipan mengarah pada wajah dan dadanya. Ginggi terkejut setengah mati sebab tidak menduga akan ada benda kecil tajam melesat keluar. Dia hanya sanggup memiringkan wajah ke kanan, tetapi tidak keburu melontarkan tubuhnya ke belakang. Akibatnya, tiga batang jarum halus bersarang di dadanya dan rasa sakitnya seketika membuat tulang ngilu.
Ginggi mencabuti ketiga batang jarum itu, tetapi rasa sakit di tubuhnya kian menghebat. Dengan mata berkunang-kunang dan rasa sakit yang hebat, dia mengerahkan tenaga dalamnya dan memusatkannya pada bagian dada. Dia sadar, jarum itu beracun dan ia perlu menahan aliran darah di bagian dada agar tidak menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Tindakan pengamanan ini rasanya kurang cukup dan dia khawatir racun masih bisa menyebar. Oleh sebab itulah, Ginggi mencari benda tajam. Kebetulan di sebuah laci terdapat peso pengot (pisau amat tajam ujungnya, biasanya digunakan untuk menoreh tulisan di atas daun nipah).
Pisau tajam itu ia gunakan untuk menoreh tiga luka di dadanya agar darah bisa keluar lebih banyak dari luka itu. Namun, sebelum pekerjaannya selesai, matanya semakin berkunang dan kepalanya terasa pening. Akhirnya, kegelapan menyelimuti dirinya dan Ginggi tidak ingat apa-apa lagi.
Dia baru sadar dari pingsannya ketika suhu badannya terasa panas. Banyak keringat membasahi dahi dan kerongkongannya terasa kering. Dia ingin sekali minum. Tanpa membuka mata, pemuda itu meraba-raba ke pinggir kiri. Dia ingat, di sisi pembaringan sebelah kiri ada meja yang di antaranya diisi berbagai minuman, tetapi tangannya meraba tempat kosong. Ginggi juga merasakan udara amat pengap, padahal setahu dirinya, tempat tinggalnya di Puri Yogascitra terasa harum semerbak oleh berbagai wewangian.
Ginggi mencoba membuka matanya. Suasana hanya remang-remang saja karena pening yang mendera. Pelipisnya terasa berdenyut, tetapi setelah terbiasa dengan pandangan matanya, mendadak hatinya terkejut. Tidak heran jika ia terkejut karena di sisi kirinya ia melihat jeruji besi. Dia tidur telentang di sebuah balai-balai kasar di sebuah kamar ukuran kecil dengan lubang berjeruji besi.
"Penjarakah ini?" Ginggi bangun serentak, tetapi kemudian jatuh telentang kembali karena dadanya terasa pedih dan berdenyut. Dirabanya dada itu, ternyata sudah diberi bebat. "Mengapa aku ada di dalam penjara?" pikirnya. Terdengar suara langkah mendekat. Ginggi menoleh ke kiri. Ada dua jagabaya tengah menatapnya. Salah seorang kemudian berlalu dan sayup-sayup terdengar suaranya, "Tawanan sudah siuman, Raden?" katanya.
Kemudian terdengar langkah mendekat lagi. Kini ada dua orang lagi yang datang. "Raden Purbajaya!" seru Ginggi pelan. Tampak alis Purbajaya berkerut melihatnya. "Mengapa aku ada di sini?" tanyanya lagi sambil mengeluh pendek karena ada rasa sakit di dadanya.
"Engkau dipenjara, Ginggi," kata Purbajaya pendek.
"Apa dosaku?"
"Nanti engkau akan diperiksa Pangeran Yogascitra!" gumam Purbajaya seperti penuh sesal.
Tak berapa lama kemudian terdengar beberapa langkah mendatang. Ginggi melihat Pangeran Yogascitra disertai Banyak Angga. Pangeran tua berwajah sabar itu menatap Ginggi dengan alis sedikit berkerut. Ginggi mencoba hendak bangkit, namun dirasakannya tubuhnya sakit-sakit.
"Kau terluka karena racun. Sudahlah, tidak perlu bangun. Aku hanya menginginkan penjelasanmu, anak muda," kata Pangeran Yogascitra datar.
Ginggi mau bicara, tetapi Pangeran Yogascitra memperlihatkan kotak surat beserta isinya. Ginggi terkejut melihat isi surat itu. Jadi, karena benda itu dia dijebloskan ke penjara.
"Saya belum sempat membaca isinya, Pangeran," jawab Ginggi sejujurnya.
"Sudah aku baca isinya, tapi aku tidak mengerti sebab itu kata sandi. Barangkali kau pasti bisa mengartikannya," kata Pangeran itu.
Ginggi menerima susunan daun nipah: *Ribuan pipit terbang dari timur ketika senja jatuh di barat tiga hari sebelum kuwerabakti pagi hari di Telaga Rena Maha Wijaya. Banaspati.*
"Saya tidak bisa membaca, Pangeran," gumam Ginggi setelah meneliti susunan huruf Palawadi di atas daun nipah itu.
Pangeran Yogascitra menatap penuh selidik. "Benar, dia tidak bisa baca-tulis, Pamanda?" kata Purbajaya. Bukan sekadar membela, tetapi Ginggi memang pernah mengatakan tidak pernah belajar baca-tulis ketika Purbajaya memberinya sebuah kitab pelajaran agama lama.
"Tapi setidaknya engkau masih punya hubungan dengan Banaspati, anak muda," kata Pangeran Yogascitra.
Ginggi bingung mau menjawab bagaimana. Dikatakan punya hubungan, sebetulnya juga tidak, sebab selama ini Ginggi tidak senang terhadap orang itu. Tapi dikatakan tidak punya hubungan, kotak surat itu amat membuktikan bahwa ada hubungan antara dia dengan Ki Banaspati.
"Engkau membingungkan kami. Kedudukanmu sebetulnya ada di mana? Suatu saat kau membela kami, tapi di saat lain kau erat dengan mereka. Ketahuilah, Ki Bagus Seta sudah dicurigai beberapa pejabat istana karena penyelewengan pajak negara. Dan otomatis, Ki Banaspati pun dicurigai sebab dia tangan kanan Ki Bagus Seta. Aku menyesalkan sikapmu yang ternyata masih memiliki hubungan dengan kelompok mereka. Padahal aku sudah menyukaimu, anak muda," kata Pangeran Yogascitra. "Tapi perasaan pribadiku menjelaskan mengapa ada surat sandi di tanganmu. Ada rencana apakah Ki Banaspati sehingga perlu mengirim surat rahasia padamu?"
Semua mata memandang tajam padanya ketika pertanyaan itu diajukan. Ginggi sulit untuk menjawab. Sebetulnya bisa saja dia katakan bahwa surat itu dari Ki Banaspati untuk Pangeran Jaya Perbangsa. Tapi, apakah Pangeran Yogascitra percaya akan penjelasan ini? Surat itu tidak ditujukan langsung pada Pangeran Jaya Perbangsa. Jadi, kepada setiap pemegang surat bisa ditudingkan bahwa itu surat dari Ki Banaspati untuk dirinya.
"Aku harap engkau menjelaskannya padaku. Sebab bila peristiwa ini bocor ke istana, kau akan jadi tawanan istana dan nasibmu akan lebih buruk lagi. Kau harus tahu Sang Prabu sangat kejam terhadap orang yang bersalah," kata Pangeran Yogascitra menegaskan.
"Jangan," Ginggi mencegah.
"Nah, kalau kau takut dipindahkan ke istana, terangkanlah dengan baik, apa isi surat itu!" kata Pangeran Yogascitra lagi.
Pangeran itu salah mengerti, kata Ginggi dalam hatinya. Yang dia maksud "jangan" adalah agar surat itu jangan dulu sampai ke istana, karena takut keburu diketahui oleh Pangeran Jaya Perbangsa. Ginggi tidak mau surat itu sampai ke tangan pangeran muda yang berperangai keras itu.
"Pangeran, sebaiknya urusan itu diselesaikan di sini saja. Beri saya waktu untuk menjelaskannya," kata Ginggi.
"Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi," gumam Pangeran Yogascitra.
Setelah menatapnya, bangsawan itu pun berlalu. "Engkau mengecewakan aku, Ginggi," gumam Purbajaya, sedangkan Banyak Angga hanya menatap saja. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Kini Ginggi sendirian di kamar tahanan berjeruji itu. Dia masih bingung bagaimana harus membebaskan dirinya dari tudingan ini, tetapi Ginggi harus mengesampingkan dulu urusan ini. Yang harus dia pikirkan adalah teka-teki surat rahasia itu. Apa makna surat yang sedianya harus diserahkan kepada Pangeran Jaya Perbangsa ini? *Ribuan pipit terbang dari timur ketika senja jatuh di barat tiga hari sebelum kuwerabakti pagi hari di Telaga Rena Maha Wijaya.* Ginggi mengerutkan dahinya beberapa kali.