Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 106

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 106

Dia harus memecahkan sandi ini.

Menjelang senja, seorang jagabaya menyodorkan makanan. Pemuda itu amat berterima kasih sebab sejak malam hari dia belum makan apa pun. Sekarang ada makanan yang cukup baik dan menyehatkan untuk dimakan. Namun, sebelum dia mencicipi makanan itu, dia teringat sesuatu.

"Paman, tolong beritahu aku, kapan upacara Kuwerabakti dimulai?" tanyanya kepada jagabaya.

Yang ditanya sejenak mengernyitkan dahi, kemudian menepuk jidatnya sendiri.

"Oh, sampai aku melupakan kegiatan penting ini. Empat hari lagi kalau tak salah, pesta panen 49 hari akan segera dimulai," jawab jagabaya.

"Apa saja upacara paling penting dalam Kuwerabakti, Paman?"

"Ya, banyak sekali. Sehari sebelum Kuwerabakti, rombongan seba dari seluruh wilayah Pajajaran akan datang saat senja di Pakuan. Besoknya, pagi-pagi, akan ada upacara mandi suci di Telaga Rena Maha Wijaya, kemudian dilanjutkan dengan upacara nadran (ziarah) ke Bukit Rancamaya, mengenang moksa Sang Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja di Bukit Badigul," kata penjaga itu.

"Siapa saja yang mandi suci di pagi hari itu?"

"Seluruh penghuni istana, mulai dari Sang Prabu hingga permaisuri dan para selir serta kaum wiku dan pendeta agung, semua mandi suci di Telaga Rena Maha Wijaya. Tapi, ada apa denganmu? Sepertinya ingin sekali engkau hadir, sayang anak muda, kedudukanmu seperti ini?" kata jagabaya menyayangkan nasib Ginggi.

Ginggi sendiri tidak menyimak ucapan terakhir jagabaya ini, sebab dia lebih terpaku memikirkan ucapan jagabaya sebelumnya. Surat rahasia itu sepertinya punya hubungan erat dengan kegiatan Kuwerabakti. Ginggi berpikir keras, mencoba mencari maksud surat tersebut.

"Paman, kalau kita melakukan perjalanan tanpa henti dari wilayah Kandagalante Sagaraherang, kira-kira akan memakan waktu berapa lama?" tanya Ginggi kemudian.

Jagabaya yang sedianya akan berlalu mendadak berhenti lagi. Dia mengernyitkan dahi terpengaruh oleh pertanyaan itu. "Bila dilakukan tanpa tergesa-gesa, mungkin memakan waktu selama tiga hari. Kira-kira senja hari rombongan baru bisa memasuki dayo (ibu kota)," jawab jagabaya.

"Betulkah?"

"Ya, aku pernah melakukan perjalanan seperti itu."

Berdebar jantung Ginggi mendengarnya. Beberapa baris kalimat sudah bisa diraba kemungkinannya. Dan kalau "ribuan pipit terbang dari timur" sudah bisa dipecahkan, maka seluruh isi surat rahasia bisa dia artikan. Ginggi benar-benar sudah bisa menduga.

"Ribuan pipit terbang dari timur" siapa lagi kalau bukan pasukan di bawah pimpinan Kandagalante Sunda Sembawa dari wilayah Sagaraherang yang terletak di sebelah timur Pakuan. Ginggi kembali menyusun surat rahasia itu di dalam benaknya, kemudian mencoba menyusun pemecahannya.

Maka, "ribuan pipit terbang dari timur" diterjemahkan sebagai pasukan yang akan bergerak dari Sagaraherang. "Ketika senja jatuh di barat" diartikan Ginggi bahwa pasukan itu akan tiba di barat (Pakuan) saat senja tiba. Kemudian baris ketiga berbunyi "tiga hari sebelum Kuwerabakti" menerangkan bahwa pasukan itu akan mulai bergerak tiga hari sebelum upacara Kuwerabakti. Baris keempat berbunyi "pagi hari di Telaga Rena Maha Wijaya" memberitahukan bahwa pada pagi hari akan diadakan satu kegiatan. Kegiatan itu sudah pasti acara mandi suci seluruh keluarga istana. Raja juga akan mandi suci di telaga itu.

Oh, nanti dulu! Baris surat keempat bukan sekadar pemberitahuan akan upacara mandi suci. Pangeran Jaya Perbangsa tak perlu diberitahu sebab dia sendiri sudah tahu akan upacara itu. Kalimat baris keempat ini lebih berupa perintah untuk melakukan satu gerakan. Mungkin pagi hari waktunya, saat ada upacara mandi suci di Telaga Rena. Ginggi semakin berdegup jantungnya.

Dia ingat perkataan Ki Banaspati di Pulo Parakan Baranangsiang kemarin malam bahwa sebuah gerakan besar akan segera dimulai. Akan ada penyerbuan besar-besaran ke Pakuan saat upacara penting Kuwerabakti. Pasukan akan datang dengan menyamar sebagai rombongan pengirim seba. Benar! Pemberontakan akan dimulai empat hari lagi. Barangkali pasukan yang menyamar sebagai pengirim seba akan mulai bergerak esok hari dari Sagaraherang.

Ginggi terpaku di ruangan gelap berjeruji ini. Sebentar lagi akan terjadi puncak kemelut di Pakuan. Maka di mana Ginggi akan menempatkan diri dalam situasi ini? Berdiri di pihak Ki Banaspati? Tapi Ginggi kini sudah bisa menilai, Ki Banaspati tidak benar-benar berjuang sesuai amanat Ki Darma. Bahkan orang ini sebenarnya menggunakan perintah guru hanya sebagai dalih saja. Dengan membonceng amanat Ki Darma, dia punya tujuan tertentu untuk menjalankan ambisi pribadinya. Kedoknya semakin terbuka di Pulo Parakan Baranangsiang. Betapa dengan kejamnya dia mencampakkan Ki Bagus Seta setelah tahu bahwa orang itu tak memiliki pengaruh berarti lagi di Pakuan. Ki Banaspati benar-benar berani memperlihatkan sikap sebenarnya sebelum cita-citanya tercapai. Tindakan seperti ini hanya menandakan bahwa dirinya yakin akan keberhasilan usahanya. Mungkin benar, sebab Ki Bagus Seta sudah tak mungkin memperbaiki posisinya. Waktu sudah tak ada lagi, sebab Ki Banaspati membuka kartu di saat-saat terakhir, di mana seluruh kekuatan pasukannya sudah mulai bergerak.

Ki Banaspati seorang yang berambisi besar, tamak, dan licik. Ginggi tak perlu memihak padanya. Dengan kata lain, dia tak akan menjalankan perintah-perintah Ki Banaspati secuil pun!

"Tapi, bagaimana nasib Ki Rangga Guna?" keluhnya. Jelas, nyawa Ki Rangga Guna jadi taruhannya bila Ginggi berani menghindari perintah-perintah Ki Banaspati.

"Jangan meributkan nyawa seseorang untuk sebuah perjuangan besar," kata Ki Banaspati tempo hari.

Apakah Ginggi pun akan bercermin pada prinsip Ki Banaspati, merelakan nyawa Ki Rangga Guna demi sesuatu? Sesuatu apa? Perjuangankah? Kalau dia menolak ajakan Ki Banaspati, lantas akan berjuang demi siapakah kini? Untuk kepentingan Pakuan? Untuk kepentingan Raja? Tidak mungkin, sebab selain tak sesuai dengan amanat Ki Darma, juga bertolak belakang dengan hati nuraninya. Sudah jelas Raja itu berjiwa lemah, mudah diombang-ambing pengaruh dari luar dirinya dan mudah tergoda oleh kehidupan duniawi termasuk kecantikan wanita. Ginggi tak sudi mengabdi kepada Raja yang seperti ini.

Dan kalau ke sini tak mau dan ke sana tak mau, sudah benarkah sikap hidupnya ini? Ingat tembang-tembang juru pantun yang menyindir dan mencerca sikap Ki Darma. Itulah hukuman bagi yang meragu; ke sana tak mau, ke sini tak mau. Akhirnya Ki Darma menjadi musuh semua. Oh, hai, musuh semua!

Ginggi merenung. Hanya karena ke sana tak mau dan ke sini tak mau, maka Ki Darma akhirnya menjadi musuh semua orang. Ginggi sedih, mengapa orang tidak diberi kebebasan memilih sikap dan selalu harus mengikatkan diri pada satu kepentingan? Ketika berada di puncak, di saat suasana sepi tengah malam, Ki Darma selalu bersenandung. Bunyi tembangnya tak pernah berubah, selalu membacakan satu bait syair: "Hidup banyak menawarkan sesuatu, namun bila salah memilihnya, kita adalah orang-orang yang kalah."

Oh, hai! Orang-orang yang kalah! Ginggi tersenyum pahit bila menyimak syair tembang Ki Darma ini. Memang tak terbatas tawaran terhadap pilihan hidup. Tapi, mencoba tidak memilih sesuatu sebetulnya adalah sebuah pilihan hidup juga. Mengapa orang dianggap berdosa bila tak mencoba memilih satu kepentingan? Ke sana tak mau, ke sini tak mau, dosakah itu? Bukankah tidak memilih sesuatu pun sebenarnya adalah satu pendirian juga?

Ginggi kembali tersenyum pahit. Sepertinya dia pun akan berpendirian seperti Ki Darma. Ke sana tak mau, ke sini tak mau, dan akhirnya dimusuhi semua orang. Tidak apa. Aku hanya taat pada Ki Darma.

Ada surat dari Ki Rangga Guna yang kata Ki Banaspati akan membahayakan dirinya. Surat itu menyuruh Ginggi agar tetap berpegang teguh pada amanat Ki Darma. Ginggi ingat betul, Ki Darma berkata agar dia membela rakyat dengan jalan apa saja. Dia disuruh bergabung dengan para murid lainnya, sepanjang mereka pun menaati perintah Ki Darma. Tapi Ginggi merasa bahwa Ki Banaspati tak seutuhnya menjalankan amanat guru, berarti Ginggi tak perlu ikut bergabung.

"Pada akhirnya kau akan punya keyakinan sendiri dalam menentukan kebenaran. Kalau kau benar-benar telah meyakini satu pilihan, maka kau kerjakanlah!" kata Ki Darma ketika dia berada di Puncak Cakrabuana hampir dua tahun silam.

Tak terasa ada lelehan air mata di pipi pemuda itu. Baru sekarang dia sadar, sebenarnya orang yang paling bijaksana adalah Ki Darma. Orang tua ini tidak pernah mengangkat dirinya sebagai murid. Mulanya Ginggi berpikir buruk. Ki Darma tak secara resmi mengangkat dia sebagai murid mungkin karena dia kurang disayang dan kurang dipercaya. Namun belakangan Ginggi menyadari bahwa perbuatan Ki Darma ini bisa jadi punya maksud tertentu. Ki Darma tak mengangkatnya sebagai murid, tapi memberinya berbagai ilmu kepandaian, termasuk kepandaian dalam berpikir dan belajar menimbang-nimbang arti kehidupan.

Pemuda itu menduga, Ki Darma membebaskan dirinya dari hubungan guru dan murid agar Ginggi bisa melakukan pilihan. Kalau dia terikat sumpah pada Ki Darma, jelas tak memiliki pilihan hidup lagi sebab segalanya sudah diatur guru. Apa yang diinginkan guru itu harus diturut. Karena ikatan-ikatan itu, Ki Darma akan merasa kecewa kalau pada suatu saat sang murid tak mematuhi apa yang diinginkannya. Dengan melepaskan ikatan guru-murid, kedua belah pihak akan saling membebaskan diri dari sesuatu yang bernama keharusan. Itulah sebabnya, kendati ada kata "perintah", tapi di akhir kalimat, Ki Darma menyertakan ucapan, "sepanjang kau merasa yakin atas kebenaran yang aku katakan."

Ki Darma tak pernah mengajarkan padanya apa itu agama. Barangkali bukan berarti dirinya tak perlu memiliki keyakinan agama. Tapi, orang tua itu membebaskan Ginggi untuk belajar menilai dan memilih. Sekarang dunia semakin berkembang dengan hadirnya agama baru.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment