Chapter 107
Ki Darma mungkin bermaksud "melahirkan" keberadaan Ginggi apa adanya. Ia tidak mencekokinya dengan keyakinan yang dipeluknya, atau menyuruhnya membenci kehadiran agama baru. Ia membiarkan Ginggi dalam keadaan kosong. Siapa yang harus mengisinya bukan karena anjuran, pengaruh, ataupun perintah orang lain, melainkan diserahkan kepada hasil pilihan hatinya sendiri.
"Semakin dewasa, orang akan semakin berpikir tentang perlunya suatu pandangan hidup. Kau carilah sendiri, sebab bila jalan pikiranmu sudah dewasa, kau akan sanggup memilih mana yang terbaik," kata Ki Darma tempo hari.
Orang tua itu tidak menyuruhnya masuk agama apa pun; segalanya diserahkan kepada Ginggi sendiri. Ki Darma hanya membekalinya dengan berbagai pandangan agar kelak Ginggi sanggup memilah sendiri mana yang benar dan mana yang buruk. Sekarang Ginggi sudah banyak belajar meneliti sikap dan perilaku manusia. Sedikit banyaknya, dia sudah bisa menarik kesimpulan sendiri untuk dijadikan pedoman dalam menempatkan diri kelak.
Benar seperti yang dijanjikan Pangeran Yogascitra, malam harinya ia datang lagi ke sel tahanan bersama Banyak Angga dan Purbajaya.
"Bagaimana, apakah kau sudah siap memberi keterangan tentang surat sandi itu?" tanya Pangeran Yogascitra menatap tajam padanya.
"Saya juga baru menemukan isi sandi itu barusan. Namun, ini pun sekadar dugaan saja. Bila dugaan saya benar, Pangeran harap segera melakukan berbagai tindakan. Tapi bila salah, anggaplah itu keluar dari jalan pikiran orang dungu semata," kata Ginggi balik menatap Pangeran itu.
Semua orang mendekatkan wajahnya ke besi jeruji.
"Maksudmu, engkau sudah tahu arti sandi surat itu?" tanya Purbajaya heran.
"Tidak. Isinya baru dugaan saja," gumam Ginggi.
"Sudah bisa menduga isinya berarti sudah tahu kalimat sandi. Dari mana engkau tahu, padahal engkau tak bisa membaca?" tanya Purbajaya lagi.
Ginggi tersenyum tipis. "Maafkan saya banyak bohong, saya sebenarnya sedikit bisa," katanya.
"Kau memang banyak berbohong sehingga amat membingungkan kami," kata Banyak Angga.
"Ayahanda, kalau dia mengemukakan isi sandi itu, apakah kita akan mempercayainya?" tanya Banyak Angga seraya menoleh pada Pangeran Yogascitra.
"Bagaimana nanti saja, yang penting dia mau bicara dulu," jawab Pangeran tua itu pendek.
"Cobalah kau katakan, Ginggi, apa isi sandi itu?" tanya Purbajaya.
"Itu adalah surat pemberitahuan perihal akan adanya pasukan besar dari wilayah timur ke Pakuan ini. Saya menduga, mereka akan menyerang tepat pada peringatan Kuwerabakti!" kata Ginggi.
Semua orang saling pandang, kemudian sama-sama menatap wajah Ginggi.
"Mengapa Ki Banaspati mengirim surat padamu?" tanya Banyak Angga.
"Surat itu bukan untuk saya."
"Kalau begitu, untuk siapakah surat itu?"
"Saya diutus menyerahkan surat itu pada Pangeran Jaya Perbangsa!" kata Ginggi.
"Apa?" teriak ketiga orang itu berbarengan dengan nada kaget. "Kau maksudkan Pangeran Jaya Perbangsa punya hubungan khusus dengan Ki Banaspati?" tanya Banyak Angga.
"Saya tak berkata begitu."
"Kau tuduh Pangeran muda itu bersekongkol untuk melakukan satu kegiatan rahasia?" tanya Banyak Angga.
"Saya tidak bicara begitu," jawab Ginggi lagi.
"Ginggi, aku ingin percaya padamu, kumohon kau bicaralah dengan benar!" kata Purbajaya seperti memohon agar Ginggi bertindak dengan kesadaran.
"Apa yang ada dalam hati saya, itulah yang diucapkan. Saya tak menduga atau menuduh sesuatu. Tapi yang jelas, saya diperintahkan Ki Banaspati menyerahkan kotak surat kepada Pangeran Jaya Perbangsa. Saya ingin sekali melihat isinya, maka saya coba buka. Namun, sebelum berhasil membacanya, ada serangan jarum beracun dari kotak itu dan saya pingsan. Belakangan saya menyadari sudah berada di sini," kata Ginggi.
"Engkau terpaksa diamankan di sini karena ada surat seperti itu," kata Purbajaya.
Ginggi menundukkan muka.
"Engkau berkomplot dengan Ki Banaspati?" tanya Banyak Angga.
"Keinginan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta memang begitu. Semua harus berkomplot melawan Raja!" Ginggi menjawab begitu.
"Mengapa mereka ingin melawan Raja?" tanya Pangeran Yogascitra.
"Menurut mereka, Raja tak bijaksana dalam mengatur pemerintahan sehingga rakyat sengsara!" jawab Ginggi.
"Merekalah yang membuat rakyat sengsara. Ki Bagus Seta selalu mempengaruhi Raja agar melakukan tindakan keliru!" kata Pangeran Yogascitra.
"Entahlah. Hanya itu yang mereka katakan!" kata Ginggi lagi.
"Kalau begitu, semua orang punya pendirian sama untuk menurunkan Raja, Ayahanda?" gumam Banyak Angga.
"Aku tak berniat menggulingkan Raja, sekalipun memang benar aku tak setuju dengan tindak-tanduknya. Aku sudah mencoba membujuk Sang Prabu agar mau membatalkan perkawinannya dengan Nyimas Layang Kingkin, tapi beliau malah tersinggung atas sikapku," kata Pangeran Yogascitra dengan nada penuh sesal.
"Lalu, bagaimana dengan nasib adikku, Nyimas Banyak Inten?" tanya Banyak Angga.
Mendengar pertanyaan ini, wajah Pangeran Yogascitra tampak kelabu. Dia menghela napas beberapa kali sebelum melontarkan jawaban.
"Penghargaan Sang Prabu terhadap adikmu menjadi berkurang karena peristiwa Suji Angkara. Sang Prabu bahkan menyuruh agar adikmu dimasukkan ke mandala saja," gumam Pangeran tua itu.
"Apa? Dimasukkan ke mandala?" Pertanyaan itu berbarengan dilontarkan oleh Banyak Angga dan Purbajaya. Wajah Purbajaya tampak amat pucat dan bibirnya bergetar.
"Apakah mandala itu?" tanya Ginggi heran.
"Mandala adalah semacam puri para wiku wanita. Setiap gadis yang gagal dalam perkawinan atau kehidupan lahiriah selalu memasuki mandala untuk belajar ilmu batin. Para wanita bangsawan yang ditinggal mati suaminya pun biasanya masuk ke mandala," kata Banyak Angga dengan wajah murung.
"Apakah Nyimas Banyak Inten digolongkan wanita yang gagal dalam kehidupan cinta?" tanya Ginggi.
Tak ada yang menjawab, sehingga suasana amat sunyi.
"Barangkali bagi Sang Prabu lebih terhormat melihat gadis yang dicintanya memasuki mandala ketimbang hidup di luar atau bahkan menjadi selirnya tapi sudah memiliki cacat. Gadis yang dilarikan lelaki lain secara paksa dianggap kehormatannya sudah cacat, apalagi gadis itu tadinya sudah dipilih Raja," gumam Pangeran Yogascitra seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Pamanda Yogascitra, jangan biarkan Dinda Banyak Inten meninggalkan kehidupan duniawiyah. Dia masih muda. Dia masih penuh harapan dan cita-cita!" kata Purbajaya menggebu.
"Banyak Inten masuk mandala adalah harapan Raja. Tapi harapan Raja adalah perintah juga. Aku tak berani menentang titahnya, apalagi amat berkaitan erat dengan kepentingan dan kehormatannya," gumam Pangeran Yogascitra dengan nada sendu.
"Kalau Pamanda tak berani menentang Raja, untuk urusan ini saya berani ke depan," kata Purbajaya tegas.
Pangeran Yogascitra menatap pemuda itu dengan penuh selidik. "Mengapa kau begitu mati-matian membela anakku?" tanyanya. Namun, yang ditanya malah menunduk, membuat hati Ginggi sedikit berdebar karena penuh dugaan.
"Sudahlah. Urusan paling besar yang harus kita hadapi adalah sandi rahasia itu. Ginggi, benarkah isi surat itu maksudnya demikian?" tanya Pangeran itu menoleh pada Ginggi.
"Sudah saya katakan tadi, itu hanya dugaan belaka. Ribuan pipit terbang dari timur, itulah pasukan yang kelak akan datang dari arah timur. Ketika senja jatuh di barat, maksudnya pasukan itu akan tiba di wilayah barat—saya artikan sebagai Pakuan—di senja hari. Tiga hari sebelum Kuwerabakti, saya tafsirkan pasukan akan mulai bergerak dari timur tiga hari sebelum upacara Kuwerabakti. Baris terakhir, pagi hari di Telaga Rena Maha Wijaya, saya artikan bahwa penyerbuan akan dilakukan di pagi hari, mungkin di titik telaga itu. Apakah dugaan saya ini benar atau salah, saya sendiri pun tak dapat memastikannya!" kata Ginggi.
Namun, mendengar penjelasan ini, semua orang mendadak pucat wajahnya.
"Bisa jadi dugaanmu benar, anak muda," gumam Pangeran Yogascitra. "Pagi hari pada hari pertama upacara Kuwerabakti adalah mandi suci Sang Prabu beserta seluruh pejabat istana di Telaga Rena Maha Wijaya. Kemungkinan penyerbuan dilakukan di saat semua penghuni istana meninggalkan kadaton dan berada di tempat terbuka tanpa perlindungan," kata Pangeran Yogascitra.
Ginggi pun ingat, telaga di Bukit Badigul Rancamaya itu berada di wilayah benteng luar istana. Kalau seluruh penghuni istana sedang berada di sana, maka penyerbuan itu akan sangat membahayakan keselamatan Raja.
"Kalau begitu, kita harus segera mengambil tindakan," kata Pangeran Yogascitra.
"Nanti dulu, Ayahanda. Kita harus selidiki kebenarannya," kata Banyak Angga sambil menoleh ke arah Ginggi. "Ginggi, sebetulnya engkau ada di pihak manakah? Di lain pihak diutus Ki Banaspati, tapi di lain pihak pula memberitahu kami mengenai rencana mereka," kata Banyak Angga lagi.
Pangeran Yogascitra pun rupanya terpengaruh oleh ucapan pemuda itu, terbukti dia menatap tajam Ginggi. "Kau berada di pihak mana, anak muda?" tanyanya.
"Saya tak berada di pihak mana pun. Semua peristiwa ini tak ada kepentingannya dengan saya. Tapi kalau saya sekarang beberkan rencana Ki Banaspati atau siapa saja, saya sebenarnya hanya tak ingin terjadi banyak korban. Kalau benar ada rencana penyerbuan besar-besaran ke Pakuan, akan jatuh korban sia-sia. Saya tak ingin melihat perang sebab akan menyengsarakan banyak orang," kata Ginggi mantap.
Pangeran Yogascitra merenung, namun akhirnya mengangguk-angguk. "Pendapatmu benar belaka, anak muda. Perang tak boleh terjadi, apalagi dilakukan sesama orang Pajajaran," kata Pangeran itu.
"Lalu bagaimana tindakan kita, Ayahanda?" tanya Banyak Angga.
Pangeran Yogascitra berpikir sejenak. Dia menerawang ke langit-langit, lalu menatap Ginggi. "Kau lanjutkan dulu perintah Ki Banaspati. Serahkan kotak surat pada Pangeran Jaya Perbangsa. Aku ingin teliti, apakah benar dia terlibat pemberontakan?" Pangeran Yogascitra melirik pada putranya. "Kau dan Purbajaya, kawal anak muda ini."