Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 108

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 108

"Datanglah malam ini juga ke puri Jaya Perbangsa. Selagi anak muda itu menyerahkan surat, kau bersembunyi di luar. Dan kau, Ginggi, aku ingin tahu sejauh mana kau ingin membantuku; maksudku, sejauh mana kau ingin menghindari pertumpahan darah seperti yang aku pikirkan. Kalau jalan pikiranmu sama denganku, kau tentu mau membantu," kata Pangeran itu sambil menoleh pada Ginggi.

"Saya siap membantu, Pangeran," ucap Ginggi sambil mengangguk.

Jagabaya dipanggil dan pintu jeruji dibuka. Ginggi berdiri dan melangkah keluar dari tahanan. Dadanya masih terasa sakit karena luka dan tubuhnya pun lemah lunglai.

"Tubuhmu terserang racun, tapi itu menolong menghilangkan kecurigaan kami akan keterlibatanmu, Ginggi," kata Purbajaya di tengah jalan menuju puri Jaya Perbangsa.

"Benar, kecurigaan kami berkurang. Kotak itu dipasangi senjata rahasia agar orang yang tidak tahu dan berniat membukanya akan mati terkena racun. Ini menandakan kau memang tidak terlibat. Tapi, aku sendiri masih bingung dengan sikapmu. Sepertinya kau tengah bimbang mesti berpihak ke mana," kata Banyak Angga.

"Dulu saya bimbang, tapi setelah saya teliti kian kemari, saya sudah bisa mengambil keputusan," jawab Ginggi.

"Apa keputusanmu?"

"Saya tidak akan ikut ke mana-mana."

"Termasuk membela negara?"

"Ini bukan pertentangan antara negara dan pemberontak, melainkan pertentangan orang-orang yang ingin menguasai negara," jawab Ginggi.

"Mungkin begitu, tapi apa pun yang terjadi, negara tetap dalam bahaya dan semua orang harus mau mempertahankan negara," kata Banyak Angga.

"Pendapatmu sama dengan saya. Maka untuk itulah saya pun berusaha mencegah terjadinya pertumpahan darah," kata Ginggi.

Tiba di depan benteng puri, Banyak Angga dan Purbajaya memisahkan diri. Mereka naik ke benteng lewat jalan samping untuk menghindari pertemuan dengan para jagabaya puri tersebut, sedangkan Ginggi masuk puri secara baik-baik.

"Tapi Juragan Jaya Perbangsa sedang tidak ada, Raden?" kata penjaga.

"Beliau sedang ke mana?" tanya Ginggi agak kecewa.

"Juragan dipanggil Sang Prabu malam ini juga. Rupanya ada kepentingan mendadak," ujar jagabaya. "Begitu pentingkah kehadiranmu malam ini, Raden?" tanyanya kemudian.

Ginggi tidak menjawab sebab hatinya tengah memikirkan maksud pertemuan Pangeran itu dengan Sang Prabu. Namun, ketika ia sedang termangu, dari jauh terdengar suara ketukan kaki kuda. Ginggi menoleh ke belakang; yang datang ternyata Pangeran Jaya Perbangsa, berjalan lambat dengan dikawal empat prajurit bersenjata yang masing-masing membawa obor.

"Siapa itu?" tegur bangsawan muda berkumis tipis ini. "Oh, aku kenal kau. Bukankah engkau calon ksatria dari puri Yogascitra?" kata Pangeran itu dengan nada sedikit mengejek yang tidak dimengerti Ginggi.

"Ada yang akan saya sampaikan, dan ini sangat penting. Bolehkah saya masuk?" kata Ginggi.

Pangeran Jaya Perbangsa menatap sejenak, namun kemudian mengangguk kendati penuh hati-hati. Ginggi diterima di sebuah kamar tertutup. Ketika ia baru saja duduk bersila, di atas sirap terdengar sedikit gerakan. Perlahan saja, tapi Ginggi tahu ada dua benda berat bertengger di sana. Ginggi khawatir akan kecerobohan dua orang temannya itu. Bagi penilaian Ginggi, gerakan mereka masih kasar. Kalau Pangeran Jaya Perbangsa memiliki kepandaian tinggi, mereka pasti mudah diketahui.

"Ada keperluan apakah Pangeran tua yang setia itu mengutusmu, hei ksatria!" kata Pangeran Jaya Perbangsa masih dengan nada mengejek.

Bagi Ginggi, sepertinya orang ini menunjukkan bahwa ia tidak senang terhadap Pangeran Yogascitra. Hal ini sedikit meyakinkan dirinya bahwa bangsawan muda yang gagah ini memiliki hubungan dengan Ki Banaspati.

"Saya datang ke sini bukan atas suruhan Pangeran Yogascitra," kata Ginggi pendek.

Mendengar penjelasan itu, Pangeran muda tersebut membelalakkan matanya. "Kau... siapa engkau sebenarnya?" tanyanya heran.

"Namaku Ginggi!" kata pemuda itu pendek, matanya menatap tajam Pangeran Jaya Perbangsa.

"Maksudku, bukankah engkau orang dari puri Yogascitra?" tanya bangsawan itu lagi.

"Segalanya bisa terjadi, Pangeran. Bukankah Pangeran Yogascitra pun sampai saat ini selalu menganggap Pangeran Jaya Perbangsa sahabat baiknya?" kata Ginggi sedikit menyindir, membuat wajah pangeran muda itu memerah.

"Ya, segalanya bisa terjadi dalam meniti perjuangan. Kau diutus oleh siapakah dan dalam urusan apa?" tanya Pangeran Jaya Perbangsa.

"Ini!" Ginggi langsung menyerahkan kotak surat yang engselnya sudah kembali terkunci.

Pangeran Jaya Perbangsa menerima kotak itu dengan terkejut. "Kau utusan Ki Banaspati, anak muda?" tanyanya. Ginggi hanya mengangguk pelan.

"Perlu dibuka hari ini juga?"

"Terserah Pangeran," kata Ginggi.

Bangsawan itu beranjak dan membuka sebuah lemari kayu berukir indah. Dari dalamnya ia mengeluarkan semacam baju zirah yang terbuat dari logam menyerupai sisik ikan. Ginggi terkejut sekali; jika begini, rahasia dirinya akan terbongkar. Dengan debar jantung kencang, Ginggi menyaksikan pangeran itu mencoba membuka engsel dengan sangat hati-hati. Wajahnya dijauhkan seolah bersiap menjaga diri. Namun, ketika engsel terbuka dan kepala pangeran itu sigap menghindar, tidak terjadi sesuatu.

Pangeran Jaya Perbangsa menatap selidik pada Ginggi. "Ada apakah, Pangeran?" tanya Ginggi ingin tahu pikiran bangsawan ini.

"Ada dua kemungkinan kotak ini memberi tahu padaku. Pertama, kau membohongiku, dan kedua, kau berkhianat!" kata Pangeran Jaya Perbangsa pendek.

"Mengapa begitu?"

"Ki Banaspati setiap mengirim surat dalam kotak tertutup selalu dipasangi jebakan. Orang yang sembrono membuka kotak surat akan mati seketika karena serangan senjata rahasia. Sekarang, kotak ini sudah tanpa jebakan. Artinya, kotak ini sudah ada yang membuka!" kata Pangeran Jaya Perbangsa.

"Saya yang membuka!" gumam Ginggi.

"Kalau begitu kau harus mati! Kau pengkhianat!" seru bangsawan muda pemarah itu sambil melancarkan pukulan dengan tangan kanan terkepal.

Pukulan itu mengarah ke jidat Ginggi, namun dalam pandangan pemuda itu, gerakannya terlihat lamban dan mudah diikuti. Dengan enteng, Ginggi menangkap pergelangan tangan bangsawan itu dengan tangan kirinya. Pangeran Jaya Perbangsa kembali melayangkan pukulan dengan tangan kiri, namun ditepis dengan baik oleh tangan kanan Ginggi. Bangsawan itu meringis karena tangkisan Ginggi.

"Aku tangan kanan Ki Banaspati, sudah barang tentu harus tahu segala gerakan yang ada!" kata Ginggi sembari terus memegang pergelangan tangan bangsawan itu hingga ia kian meringis.

"Tapi kau melanggar perintah Ki Banaspati!" kata Pangeran Jaya Perbangsa mencoba melepaskan tangannya, namun tidak kuasa.

"Tak ada yang kulanggar. Surat itu sudah sampai di sini seperti yang diinginkan Ki Banaspati," kata Ginggi.

"Ya, tapi kau membukanya!"

"Ki Banaspati tidak melarangku membukanya. Sebab kalau aku tidak punya kepandaian, biar disuruh buka pun aku tidak akan mampu membacanya karena keburu mati!" kata Ginggi sambil merasakan sakit di dadanya yang berdenyut-denyut.

Hatinya sedikit malu saat berbicara begitu, sebab jika tidak segera diobati penghuni puri Yogascitra, nyawanya mungkin sudah melayang karena racun dalam jebakan kotak surat itu. Mendengar ucapan Ginggi, Pangeran Jaya Perbangsa sepertinya memaklumi. Buktinya, ia tidak lagi memaksakan pendapatnya. Ginggi pun segera melepaskan pegangan tangannya.

"Saya ingin bertanya, bagaimana persiapan di sini dalam menyambut hari penting itu?" tanya Ginggi setelah Pangeran Jaya Perbangsa membaca dan mengartikan sandi surat tersebut.

Bangsawan itu menatap Ginggi sejenak. Namun, karena Ginggi balik menatap tajam, ia akhirnya mau berbicara.

"Semua sudah aku kerjakan sesuai perintah Ki Banaspati. Pakuan harus dikosongkan dari kekuatan perwira."

Berdebar hati Ginggi mendengarnya. "Itu akan disampaikan pada Ki Banaspati. Tapi coba jelaskan keadaan di Pakuan secara utuh agar saya bisa melaporkannya dengan sempurna," kata Ginggi.

Seperti bawahan yang melapor pada atasan, Pangeran Jaya Perbangsa menerangkan persiapan di Pakuan. Katanya, semua orang sudah siap menunggu komando. Jadi, bila saatnya tiba, mereka akan bergerak dari dalam.

"Secara kebetulan, malam ini aku dipanggil menghadap Sang Prabu. Ia ingin minta pendapat pada Pangeran Yogascitra perihal lima belas perwira kerajaan yang menuju Puncak Cakrabuana lebih dari dua tahun silam. Ini karena ada pertanyaan dari perwira lainnya, mengapa nasib lima belas perwira yang diutus mengejar buronan Ki Darma Tunggara tidak pernah diperhatikan. Kelimabelas perwira itu hingga kini belum kembali dan tidak ada kabar beritanya. Beberapa perwira tua ingin tahu, apakah kelimabelas orang rekannya berhasil menangkap Ki Darma atau tidak. Kalau berhasil, mengapa tak pernah pulang, dan kalau gagal, apakah mereka tewas atau bagaimana?"

"Teruskan?" kata Ginggi dengan nada diusahakan biasa, padahal dadanya bergetar hebat.

"Aku katakan, tidak perlu minta pertimbangan Pangeran Yogascitra sebab bangsawan tua itu kalau berpikir terlalu bertele-tele dan rasa hati-hatinya terlalu berlebihan. Jangan biarkan para perwira kerajaan goncang. Kelimabelas perwira yang hilang harus dicari. Aku sarankan agar dikirim lagi pasukan kecil terdiri dari perwira tangguh. Mereka harus ditugaskan mencari dan menyelidiki perihal raibnya rekan-rekan mereka. Aku beri susunan dan daftar para perwira yang bisa dipercaya melakukan tugas ini. Hahaha! Sepuluh perwira tangguh siap diberangkatkan besok subuh!" Pangeran Jaya Perbangsa tertawa terbahak-bahak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment