Chapter 109
"Mengapa mereka harus pergi sekarang juga?" tanya Ginggi.
"Itulah taktik mengundang harimau keluar sarang, sehingga dengan amannya kita bisa memasuki sarang mereka!" kata Pangeran Jaya Perbangsa bangga dengan jalan pikirannya.
"Para perwira yang aku tawarkan kepada Sang Prabu adalah perwira-perwira setia kepada Raja yang sulit diajak bekerja sama. Jadi, biarkan mereka jauh dari Pakuan saat dayo ini diserbu pasukan dari timur!" kata bangsawan itu.
"Tapi sepuluh perwira itu kemungkinan bertemu di jalan dengan pasukan dari timur!" kata Ginggi.
"Hahaha! Biarkan saja. Mereka akan berpapasan dan dibantai pasukan. Kekuatan perwira Pakuan akan utuh bila digabung sebab semuanya mahir ilmu pertempuran, tapi bila dipecah-pecah seperti itu, perlawanan mereka tak ada artinya! Hahaha!" Pangeran Jaya Perbangsa tampak gembira sekali.
"Jalan pikiran Pangeran amat cerdik. Tak percuma Ki Banaspati menugaskanmu di Pakuan. Tapi, apakah para pembantu Ki Banaspati lainnya sama cerdiknya dengan engkau, Pangeran?" tanya Ginggi lagi.
"Hahaha! Semua bisa dipercaya!"
"Saya pun harus mengenali mereka, sebab pada hari penting saya ada di Pakuan, jangan biarkan saya keliru memilih lawan!" kata Ginggi lagi.
"Nanti kau pun akan tahu," kata Pangeran Jaya Perbangsa masih tersenyum.
Ginggi sebetulnya penasaran ingin mengorek keterangan lagi, tapi kalau terlalu mendesak, dikhawatirkan Pangeran itu akan curiga.
"Kalau begitu baiklah. Saya mohon diri sebab tidak baik kalau terlalu lama di sini," gumam Ginggi sambil memohon diri hendak meninggalkan ruangan itu.
Ginggi berjalan keluar puri dan memohon diri untuk pulang kepada para jagabaya yang menjaga gerbang. Namun, tiba di sebuah jalan berbalay, sudah ada dua orang menunggu. Mereka adalah Banyak Angga dan Purbajaya.
"Keparat Jaya Perbangsa!" desis Banyak Angga.
"Ya, begitulah seperti yang kalian dengar tadi," gumam Ginggi. "Setelah ini, kita bagaimana?" tanyanya kemudian.
"Kita lapor pada Ayahanda!" ajak Banyak Angga.
Semua setuju untuk kembali ke puri Yogascitra. Demi mendengar laporan ini, Pangeran Yogascitra tampak pucat wajahnya.
"Tidak disangka Jaya Perbangsa yang selama ini baik padaku bertindak sehina ini?" gumamnya memendam kesedihan.
"Tapi bukankah hampir semua orang sekarang bertindak begitu?" tanya Ginggi.
Turun naik dada Pangeran tua itu ketika Ginggi berkata begitu.
"Kita boleh mengeluarkan Panca-Parisuda (kritik dan teguran) seperti apa yang tersirat dalam Kitab Sanghyang Siksakandang Karesian, tapi tak dibenarkan melakukan pemberontakan!" kata Pangeran Yogascitra tegas.
"Tapi Ki Darma Tunggara yang melakukan kritik tetap dianggap memberontak. Sehingga pada akhirnya, apakah itu terang-terangan kepada Raja atau hanya sekadar melontarkan Panca-Parisuda, kalau membuat Raja marah, tetap akan dituding pengkhianat dan pemberontak. Maaf, Pangeran, dalam pertemuan beberapa hari lalu di puri ini, Pangeran bersedia melakukan upaya perbaikan di istana. Itu artinya, Pangeran akan secara langsung berhadapan dengan Sang Prabu. Pangeran akan mengoreksi tindakan Raja. Kalau sudah begitu, apa bedanya dengan semua orang, dengan tindakan Ki Darma juga misalnya? Bukankah pada akhirnya Pangeran juga sama-sama memberontak dalam pandangan Sang Prabu?" tanya Ginggi menggebu.
"Aku tidak akan memberontak!"
"Tapi Ki Darma tetap dituduh memberontak!"
"Aku tak menuduh Ki Darma memberontak!"
"Mengapa sampai sekarang dia tetap dikejar? Mengapa semua prepantun mengolok-olok dan mengejeknya? Mengapa?" tanya Ginggi lagi kian menggebu.
"Ginggi! Ada apa secara tiba-tiba kau seperti membela Ki Darma?" teriak Pangeran Yogascitra.
"Karena saya murid Ki Darma!" Ginggi balik berteriak.
Terhenyak semua orang mendengar pengakuan ini. Pangeran Yogascitra bahkan tak terasa mundur selangkah.
"Ya, saya murid Ki Darma!" kata Ginggi lagi. "Barangkali saya akan ditangkap, sebab kata orang, setiap yang memiliki hubungan dengan Ki Darma akan disamakan kedudukannya sebagai pemberontak juga. Boleh tangkap saya. Tapi sebelumnya akan saya buktikan bahwa saya tidak melakukan pemberontakan, sama seperti apa yang dilakukan Ki Darma belasan tahun silam, bahkan sama dengan tindakan Pangeran Yogascitra yang melakukan Panca-Parisuda tapi bukan melawan Raja," kata Ginggi lagi menatap tajam.
Pangeran Yogascitra termenung mendengar kata-kata pemuda itu, demikian pun yang lainnya.
"Aku sudah katakan tadi, tidak pernah menuduh Ki Darma sebagai pemberontak. Tapi harap kau tahu, Sang Prabu Ratu Sakti banyak dikelilingi para pembantunya dan gagasan serta jalan pikirannya bermacam-macam. Kalau ada orang yang merasa tak senang dengan tindak-tanduk Ki Darma, maka rasa tak senangnya itu dipengaruhkannya pada Sang Prabu agar beliau membuat keputusan-keputusan tertentu," gumam Pangeran Yogascitra dengan nada penuh sesal.
Ginggi hanya terlihat mematung dengan napas sedikit ditahan-tahan.
"Kau tanyalah anakku, bagaimana sikapnya terhadap Ki Darma. Dia tak mengenal orang tua gagah itu secara pribadi, sebab Banyak Angga masih terlalu kecil saat itu. Tapi anakku sudah punya pandangan tersendiri pada Ki Darma," kata Pangeran Yogascitra sambil menoleh pada Banyak Angga yang duduk bersila dengan wajah muram.
"Sekarang ini dunia terbalik. Orang yang menyayangi dengan memberinya kritik dikesampingkan dan dibenci, tapi yang menjilat dan mencari muka dihargai. Saya mempelajari kehidupan Ki Darma sejak mulai beliau sebagai anggota Seribu Pengawal Raja sampai menjadi buronan yang harus dikejar. Tak ada arang tercoreng di wajahnya, sebab apa yang beliau lakukan, semuanya demi nama baik bangsa dan negara. Hanya karena sikap penguasa yang tak senang padanya saja yang menyebabkan dia dicap sebagai pemberontak," kata Banyak Angga sungguh-sungguh.
"Ki Darma seorang gagah. Dia patriotik sejati. Tapi kedudukan kami lemah sehingga sulit mempengaruhi Raja untuk tidak membencinya," Purbajaya ikut bicara.
Ginggi sangat terharu dengan sikap-sikap mereka ini. Setidaknya Ginggi tahu, tidak semua orang menuduh buruk terhadap Ki Darma.
"Terima kasih bahwa di puri ini saya mendapatkan kebahagiaan," kata Ginggi dengan nada bergetar. "Percayalah pada saya, bahwa saya juga sependapat dengan orang yang ada di sini. Saya benci kekerasan dan saya tak menghendaki adanya pemberontakan," katanya lagi.
"Baik, kami semua percaya padamu. Karena kau lebih banyak tahu daripada kami perihal rencana pemberontakan, maka sebaiknya kau bantu kami memecahkan cara dalam mencegah pemberontakan ini," kata Pangeran Yogascitra.
Ginggi tak menjawab, tapi karena Pangeran Yogascitra mulai duduk kembali sambil bersila, Ginggi pun ikut bersila.
"Di dayo ini saya melihat sudah banyak perbedaan pendapat. Di luar Pakuan lebih parah dari itu, sebab banyak orang tak menyukai Raja," kata Ginggi. "Saya tidak akan berpihak ke mana pun sebab mana benar mana salah, semuanya sudah bergalau menjadi satu. Tapi satu hal yang akan saya kerjakan di sini, saya akan coba menggagalkan pertumpahan darah. Saya tak ingin beda pendapat di antara orang-orang yang mementingkan kedudukan mengikutsertakan rakyat dan rakyat menjadi korban kepentingan mereka," kata Ginggi lagi menatap Pangeran Yogascitra.
"Pendapatmu aku hargai, anak muda," sambut bangsawan itu. "Namun bagaimana caranya agar pertempuran tidak terjadi?" tanyanya kemudian.
Baik Banyak Angga maupun Purbajaya sama-sama menatap padanya. Ginggi mengerutkan dahi sebab ia pun masih bingung bagaimana caranya mencegah pertempuran.
"Menahan perjalanan mereka sudah tak mungkin sebab hari ini hampir setengah perjalanan mereka lakukan," gumam Ginggi. "Lebih baik biarkan saja mereka memasuki Pakuan."
Semua orang menatap dirinya.
"Tapi kekuatan Pakuan harus tetap utuh. Untuk itu harus ada yang segera menghubungi Raja agar membatalkan pengiriman sepuluh perwira menuju timur. Perkiraan Pangeran Jaya Perbangsa harus kita khawatirkan. Dia yang melahirkan gagasan agar sepuluh perwira andalan meninggalkan Pakuan. Pertama, disengaja agar tidak bisa menjaga Pakuan dan keduanya diharapkan sepuluh perwira berpapasan dengan pasukan penyerbu untuk kemudian dibantai," kata Ginggi merenung lagi. "Adakah yang sanggup menghadap Raja?" tanyanya.
"Kapan kesepuluh perwira akan berangkat tugas?" tanya Pangeran Yogascitra.
"Saya dengar subuh hari ini mereka akan berangkat," kata Banyak Angga.
"Ya, benar, subuh ini!" sambung Ginggi.
"Kita tak bisa begitu saja mencegat para perwira agar tak jadi berangkat. Segalanya harus berdasarkan titah Raja. Sedangkan kapan kita bisa menghadap Raja, rasanya tak ada waktu lagi," Pangeran Yogascitra mengerutkan dahi.
"Bagaimana kalau tak melalui Raja? Kita langsung menghubungi para perwira saja dan kita katakan perihal bahaya penyerbuan ini," Banyak Angga mengajukan usul.
"Hati-hati. Jangan-jangan ini malah lebih berbahaya. Kau mungkin dengar ucapan Pangeran Jaya Perbangsa tadi, bahwa di Pakuan sudah banyak kaki tangan Ki Banaspati. Tapi, siapa saja mereka, kita tidak diberi tahu. Kalau kita salah menghubungi, malah kita seolah menyerahkan nyawa pada mereka," kata Ginggi mengingatkan.
Purbajaya membenarkan ucapan Ginggi ini.
"Jadi bagaimana baiknya?" tanya Banyak Angga bingung.
"Lebih baik kita cegat saja kesepuluh perwira yang sedianya akan melakukan perjalanan ke timur. Kita kabarkan marabahaya yang tengah mengancam Pakuan. Saya yakin mereka mau percaya dan mengurungkan perjalanan. Tapi yang harus menghubungi mereka haruslah Pangeran sendiri," kata Ginggi.
Pangeran Yogascitra setuju sebab mungkin para perwira hanya percaya padanya saja.
"Kalau begitu aku harus siap-siap menghubungi mereka," tutur Pangeran Yogascitra sungguh-sungguh. "Tapi semua pun harus membagi tugas," lanjutnya.
"Saya akan membayangi Pangeran Jaya Perbangsa," kata Banyak Angga.
Ginggi menatapnya, khawatir pemuda itu.
"Saya hanya akan kembali pada Ki Banaspati untuk menyelidiki gerakannya," tutur Ginggi.
"Akan saya pikirkan apa yang mau saya kerjakan. Saya ingin tahu siapa kaki tangan Ki Banaspati di Pakuan ini," gumam Purbajaya.