Chapter 11
Sambil menepuk-nepuk celana kampretnya karena kena debu, Ginggi berdiri dan sama sekali tidak melirik ke arah penyerangnya yang mulai mengepungnya. Kedua orang itu mengelilinginya sambil memutar-mutar alat pikul. Madi ada di belakang dan Seta ada di depannya. Sambil memutar alat pikul, kedua orang itu melakukan langkah-langkah mantap, seperti kuda-kuda dalam ilmu berkelahi.
Ginggi sendiri tetap menampilkan diri sebagai seorang yang tidak mengenal ilmu kedigdayaan, seperti yang dipesankan Ki Darma. Selain ingat pesan orang tua itu, Ginggi pun merasa tidak punya kepentingan untuk mengeluarkan jurusnya, sebab menurutnya, ini hanya urusan sepele saja. Menghadapi pasangan kuda-kuda kedua orang yang mengepungnya, Ginggi hanya meringis saja. Kedua tangannya di depan dada seperti orang ketakutan dan minta diampuni.
Beberapa orang yang tadinya hendak ke pancuran atau hendak berangkat ke ladang, menyuruh mereka supaya berhenti saja. Gadis semampai berlesung pipit itu pun berteriak-teriak menyuruh untuk menyelesaikan urusan ini. Namun Seta dan Madi sepertinya masih memiliki rasa penasaran bila belum menggebuk pemuda bodoh tapi ugal-ugalan ini.
Secara serentak keduanya melakukan serangan. Madi mengemplangnya dari belakang, Seta menyodoknya dari depan. Ginggi menjerit ngeri, begitu pun yang lain. Semuanya membayangkan bahwa sebentar lagi ubun-ubun kepala Ginggi akan kena kemplang alat pikul yang keras itu dan ulu hatinya pasti tersodok ujung pikulan di tangan Seta. Untuk kesekian kalinya, Ginggi berteriak minta tolong sambil punggungnya membungkuk ke depan. Karena gerakan membungkuk ini, kemplangan dari belakang hanya menggebuk angin. Sedangkan serangan Seta hanya akan lolos sementara ketika tubuh Ginggi melenting ke belakang. Bila Ginggi tidak menjatuhkan tubuhnya ke samping, akhirnya sodokan akan kena juga. Sambil telapak kaki menginjak tonjolan batu, Ginggi pura-pura terpeleset dan jatuh ke samping.
Di lain pihak, Seta terlanjur mengeluarkan tenaga sodokan sepenuhnya, sehingga manakala sodokan itu gagal, tubuh Seta terjerembab. Hal yang sama terjadi pada pemuda Madi yang merasa kemplangan pertama gagal, secara cepat mengayunkan alat pikulnya untuk menyabet badan Ginggi bagian samping. Namun tubuh Ginggi sudah jatuh duluan ke arah berlawanan karena terpeleset batu. Padahal ketika serangan itu datang, amat bersamaan dengan munculnya tubuh Seta yang terjerembab ke depan. Akibatnya, tak ayal, jidat Seta terkena sabetan ujung pikulan. Tidak telak benar, namun cukup membuat jidat pemuda itu benjol dan warna hijau menghiasi benjolan itu.
Orang-orang tertawa melihatnya. Betapa tidak, serangan dua orang pengepung, dikacaukan begitu saja hanya karena yang diserang terpeleset kakinya. Lebih lucu dari itu, terjadi kesalahan penyerangan sehingga yang satu menyerang kawan satunya lagi. Madi terkejut menyaksikan hasil kerjanya lain dari harapan. Sebaliknya Seta menjadi kesal dibuatnya. Sambil menahan rasa sakit di jidat, Seta menghambur ke arah Madi.
"Hai, Seta mengapa malah menyerangku!" teriak Madi menangkis serangan Seta.
"Mengapa kau menggebukku?" Seta kembali melayangkan kemplangan. Dan, pletaaak!!! Ujung pikulan mendarat di dahi Madi. Yang dipukul balik menyerang, sehingga keduanya akhirnya saling kemplang disertai sumpah serapah.
Kini suara jerit penonton disertai teriakan kesakitan sebab yang bergumul, satu sama lain berhasil mengemplang lawannya.
"Hai! Hai! Jangan berkelahi! Berhenti! Berhenti!" Ginggi sibuk melerai kedua orang yang baku hantam ini. Akhirnya semua orang ikut terjun melerai perkelahian ini. Dan suasana kacau di pagi hari, di saat burung berkicau di hutan sana, berhenti manakala terdengar suara keras memekik, "Berhenti! Apa-apaan sepagi ini kalian sudah saling kemplang, hah?" kata orang itu. Semua mundur teratur sebab yang datang adalah Ki Kuwu Suntara.
"Mengapa kalian berkelahi?" tanyanya lagi.
"Karena anak dungu itu, Ki Kuwu!" kata Seta menunjuk ke arah Ginggi.
"Karena apa?"
"Dia mengintip orang mandi, Ki Kuwu!"
"Lantas, mengapa malah kalian yang berkelahi?" Keduanya tak bisa menjawab. Saling pandang dan akhirnya menunduk.
Giliran Ginggi yang diperiksa Ki Kuwu. "Kau mengintip orang mandi, anak dungu?"
"Aku hanya kena tuding saja, Ki Kuwu!" jawab Ginggi.
"Dia juga mengaku mandi di pancuran khusus wanita, Ki Kuwu," kata Madi sambil memegangi pipinya yang tergores serangan Seta dan sedikit mengeluarkan darah.
"Kau mandi di tempat wanita?" tanya Ki Kuwu Suntara.
"Betul, tapi di saat pancuran sunyi. Aku mandi paling pagi, Ki Kuwu," jawab Ginggi pula.
"Bohong Ki Kuwu, sebab di pancuran ada Nyai Santimi. Begundal ini pasti habis menggoda gadis itu, Ki Kuwu!" kata Seta dengan wajah merah dan bibir bengkak kena sabetan Madi. Wajah pemuda tampan ini jadi kian tak keruan bila ditambah hiasan jendol sebesar telur ayam di jidatnya.
"Nyai, kau mandi bersama pemuda tolol itu?" Ki Kuwu mendeleng ke bagian dada gadis yang segera Nyi Santimi halangi dengan tangan kanannya.
"Ih, siapa bilang! Dia mandi duluan sebelum saya datang ke pancuran. Saya juga katakan padanya bahwa lelaki tidak diperbolehkan mandi di pancuran ini," tutur Nyi Santimi marah.
"Dia memaksa?"
"Dia sedang mandi ketika saya katakan perihal aturan itu!" kata Nyi Santimi.
"Apa kau mendekati pemuda itu padahal dia sedang mandi, Nyai?" tanya Ki Kuwu Suntara dengan suara setengah menyelidik. Tampak wajah Nyi Santimi merah merona.
"Saya hanya bicara dari balik rimbunan pohon, Ki Kuwu!" katanya menundukkan wajah.
"Bagus!" kata Ki Kuwu bergembira. "Anak itu belum tahu tata-aturan di sini, harap maafkan saja Ki Kuwu," kata seseorang dengan lemah lembut. Ternyata yang datang adalah Rama Dongdo. Barangkali dia memaksa datang karena keributan ini. Ki Kuwu Suntara memandang Rama Dongdo dengan wajah dingin, tapi kemudian dia mengangguk.
"Ya, kali ini aku maafkan dia!" katanya sambil berlalu. "Ayo, bubar semua. Bubar. Urusan selesai!" katanya kepada penduduk yang bergerombol. Semuanya taat dan kembali mengerjakan tugas masing-masing. Yang akan pergi mencuci pergi ke pancuran dan yang akan berangkat ke ladang kembali memanggul cangkul. Madi dan Seta yang tadinya mengambil air minum di mata air pun kembali memikul gentongnya yang masih kosong.
Namun belum beranjak dari tempat itu sebab nampak Ginggi mendekati Nyi Santimi.
"Nyai, baru tahu sekarang namamu Santimi. Indah benar, pas sekali dengan semampai tubuh dan mungil wajahmu," kata Ginggi. "Oh, ya, maafkan keributan ini. Tapi sungguh aku tak mengintipmu," katanya lagi. Madi dan Seta mendengus. Nyi Santimi juga rupanya agak terpengaruh oleh sangkaan kedua pemuda ini. Buktinya wajahnya agak cemberut.
"Nih pakaianmu, sudah aku cucikan, sudah bersih!" katanya menyerahkan cucian kepada Ginggi.
"Ah, jasamu tidak akan kulupakan, Nyai. Perlu aku balas. Ayo, biar semua cucian itu, aku yang bawa. Kalau kau mau menyuruhku mengambil air bersih, akan aku lakukan pula!" kata Ginggi.
"Mari Nyai, biar aku saja yang membawakan cucian itu!" kata Madi menawarkan jasa.
"Ya, cepat, kau yang bawa Madi!" kata Seta setengah memerintah.
"Biarlah, saya tiap pagi juga membawanya sendiri," Nyi Santimi menolak. Entah kepada siapa, mungkin semuanya. Madi dan Seta termangu. Tapi Ginggi segera menyabet ember dan tempat air dari bambu. Dia segera membawanya pergi.
"Hai, biarkan saya yang bawa! Biarkan!" seru Nyi Santimi sambil berlari kecil memburu pemuda itu. Namun sesudah keduanya berdekatan, mereka malah berjalan sama-sama.
"Nyi Santimi, kau tidak punya malu mencucikan pakaian orang asing yang dungu itu!" teriak Madi kesal. Seta hanya menggigit bibirnya sambil meringis menahan sakit. Dia lupa bahwa bibirnya pun bengkak kena sodokan temannya. Ginggi dan Nyi Santimi melangkah cepat menyusul Rama Dongdo yang nampak sudah jauh.
"Kau harus percaya Nyai, aku tak mengintipmu mandi," kata Ginggi di tengah jalan.
"Tapi mengapa kau masih di dekat-dekat situ?" tanya Nyi Santimi masih kurang percaya.
"Ya, gimana, ya... Ah, pokoknya aku tak mengintipmu. Percayalah, aku jujur bicara!" Ginggi minta dipercaya.
"Sejujur matamu itukah?" Nyi Santimi menyindir tapi Ginggi tidak mengerti.
"Lelaki di mana-mana sama saja!"
"Sama apanya, Nyai?"
"Matanya itu!" Nyi Santimi menunjuk pada mata Ginggi. Pemuda itu pun serentak meraba kedua bola matanya.
"Ah, aku kira mataku hanya bulat saja. Tapi Si Tonghor itu matanya melotot besar. Dan Si Seta biar pun tampan tapi matanya cekung. Mengapa kau katakan sama, Nyai?" Ginggi heran dibuatnya.
"Bukan ukurannya, tapi jelalatannya, tolol!" kata Nyi Santimi membentak sambil tertawa. Untuk kesekian kalinya orang menyebut tolol padanya. Tapi yang ini rasanya lain. Ginggi merasa senang.
"Macam-macam orang menggunakan matanya itu, Nyai. Ada yang karena nafsu, ada juga karena kagum. Bila melihat sesuatu yang indah, mata akan senang dan kagum melihatnya. Yang salah mungkin tubuhmu, mengapa begitu indah," kata Ginggi terus terang, membuat rona merah di wajah gadis itu timbul kembali.
"Tapi aku heran Nyai, kekagumanku akan sesuatu yang indah jadi membuat kemarahan orang. Buktinya kedua pemuda itu marah besar padaku hanya karena... ya, mataku yang jelalatan itulah. Padahal, mereka pun sebetulnya sama saja! Engkau tidak adil hanya aku saja yang..."
"Aku malah sering memarahi kedua orang yang menyebalkan itu. Mereka sering menggodaku dan mereka sering cemburu buta. Mereka benci padamu sejak kehadiranmu pertama kali malam tadi!" kata Nyi Santimi.
"Lho, masa begitu aku datang ke sini sudah membuat kesalahan pada mereka?" tanya Ginggi menahan langkah. Jilid 04. "Ya, karena matamu itulah. Di dapur malam itu mereka sedang makan singkong bakar ketika engkau datang bersama Ki Ogel dan Ki Banen. Lalu dia juga mengawasimu manakala matamu jelalatan menatapku ketika menyodorkan penganan. Eh, mengapa kau jalan sambil meram?" tanya Nyi Santimi heran.
"Takut mataku jelalatan lagi, Nyai."