Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 110

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 110

"Purbajaya, dari kelompok mana?" Percakapan terhenti sampai di situ sebab Pangeran Yogascitra harus segera bersiap keluar puri. Hari belumlah subuh, tetapi pangeran tua ini perlu berkemas mempersiapkan sesuatu.

Sementara itu, Ginggi segera memohon diri karena kantuk sudah menyerangnya, apalagi tubuhnya masih terasa lemah akibat luka-luka. Namun, ketika pemuda itu tiba di bangunan tempatnya menginap, darahnya berdesir cepat saat melihat sesosok tubuh membayang di sudut ruangan.

"Ki Banaspati?" gumam Ginggi setengah berdesis saking kagetnya.

Ginggi menahan napas dan mencoba bersiap memusatkan tenaga, berjaga-jaga jika Ki Banaspati melakukan penyerangan. Namun, kekhawatirannya tidak terjadi. Ki Banaspati malah mendekatinya.

"Tiga hari yang akan datang adalah waktu yang baik untuk melakukan tugasmu," kata Ki Banaspati.

"Tugasku yang mana?" tanya Ginggi berdebar.

"Membunuh Raja!"

"Membunuh Raja?"

"Ya! Sang Prabu akan mandi suci tepat di pagi hari, di Telaga Rena Maha Wijaya. Orang lain yang sama-sama harus kau bunuh juga ada di telaga."

"Pangeran Yogascitra?"

"Benar!"

"Akan begitu banyak pengawal di sana. Aku pasti kesulitan melakukan tugas itu!" kata Ginggi.

"Hm! Kau meremehkan gerakanku. Ketahuilah, lebih dari setengah pengawal Raja adalah anak buah Ki Bagus Seta, tapi kini sudah berada di bawah komandoku," kata Ki Banaspati.

Ginggi terkejut mendengarnya. "Lalu, bagaimana dengan Ki Bagus Seta?"

"Dia sudah tak bisa diharapkan. Ki Bagus Seta sakit parah!" jawab Ki Banaspati pendek.

Ginggi mengerutkan dahi.

"Dia sudah menjadi orang yang tak berguna. Tinggal kita berdua yang masih bisa melaksanakan amanat Ki Guru," desis Ki Banaspati. "Camkan itu."

"Tapi apakah pelaksanaan tugasku masih berada di bawah ancamanmu?" tanya Ginggi menatap tajam.

"Ya, sebab nyawamu dan nyawa Ki Rangga Guna masih amat bergantung pada sejauh mana kesetiaanmu pada perjuangan ini!" jawab Ki Banaspati tegas. "Ingat, tiga hari lagi, pagi-pagi di Telaga Rena Maha Wijaya!"

Ki Banaspati segera berlalu. Dia meloncat dari jendela dan menghilang di dalam kegelapan. Tinggallah Ginggi sendirian, merenung dengan pikiran gundah. Kekuatan Ki Banaspati ternyata sudah benar-benar sempurna. Dia memiliki jaringan di mana-mana, termasuk di antara pengawal Raja sendiri. Ginggi harus semakin berhati-hati tinggal di Pakuan ini.

Ada dua kekuatan besar yang akan saling beradu: satu kekuatan pendukung Raja dan satu lagi yang akan menggulingkan Raja. Kedudukan Ginggi seolah berada di tengah dan sedang diperebutkan. Bila salah satu pihak tahu bahwa dia memilih lawan, maka posisinya akan sangat berbahaya.

Pangeran Yogascitra, kendati kecewa terhadap kebijaksanaan Raja, tidak berniat menggulingkannya. Ginggi memasukkan pangeran ke dalam kelompok pendukung Raja. Namun, yang lebih berbahaya adalah kelompok Ki Banaspati. Niat mereka jelas untuk memberontak dan merebut kekuasaan. Gerakan ini membahayakan keselamatan rakyat dan dirinya sendiri, sebab kini Ginggi berada di bawah ancaman mereka. Ki Banaspati kerap menekan bahwa jika Ginggi tidak mau membantu, maka selain Ki Rangga Guna akan dibunuh, dirinya juga akan diumumkan sebagai pengikut Ki Darma yang pada akhirnya akan dikejar-kejar.

Namun, untuk kesekian kalinya, Ginggi teringat ucapan Ki Banaspati bahwa untuk mencapai kepentingan yang lebih besar, nyawa satu orang tidaklah berarti. Jika harus mengikuti pendapat itu, Ginggi perlu mengorbankan Ki Rangga Guna. Tegakah dia membiarkan orang tua itu dibunuh pasukan Sunda Sembawa? Kemudian, jika bertahan menyelamatkan nyawa Ki Rangga Guna, beranikah dia mengorbankan orang banyak dalam kancah peperangan besar? Ginggi pusing memikirkannya.

Pertimbangan seperti ini sebenarnya tidak diketahui oleh Ki Darma. Menurut Ki Darma, terlalu banyak memikirkan untung-rugi pada akhirnya hanya akan melahirkan kerugian. Hanya karena tak mau membunuh harimau, pada akhirnya Ginggi bisa menjadi mangsa harimau itu sendiri.

"Untuk mencapai satu tujuan yang lebih penting, engkau harus bisa mengeraskan hati untuk membuat satu keputusan!" kata Ki Darma ketika di Puncak Cakrabuana.

"Ya, aku memang lemah! Aku berjiwa lemah!" gumamnya seorang diri.

Sampai kokok ayam bersahutan, Ginggi masih gundah gulana. Dia baru bisa tidur saat matahari hampir muncul. Ginggi bangun setelah matahari agak tinggi karena Purbajaya datang memanggilnya.

"Ada hal yang penting, Raden?" tanya Ginggi mengucek kedua matanya yang masih perih.

"Ya, ada sesuatu yang amat penting menyangkut dirimu," kata Purbajaya.

Ginggi memandang pemuda itu penuh perhatian.

"Kau mandilah dulu!" perintah Purbajaya.

Ginggi segera membersihkan diri hingga kesegarannya kembali pulih. Dia muncul kembali di ruangan tempat Purbajaya berada dengan mengenakan pakaian santana, yaitu baju kurung berwarna biru tua dari kain halus buatan negeri Cina. Ornamen warna emas melingkari kain di pergelangan tangannya. Ginggi juga mengenakan ikat kepala dari kain batik hihinggulan. Dia sekarang sudah mengerti etika berpakaian di Pakuan yang harus dijaga.

"Bagaimana, Raden?" tanyanya ketika sudah berada di hadapan Purbajaya.

"Engkau dipanggil menghadap ke balai penghadapan Raja," kata Purbajaya.

"Maksudmu, aku dipanggil Sang Prabu?" tanya Ginggi heran.

Pemuda di hadapannya mengangguk.

"Ada keperluan apa?"

"Mungkin berkaitan dengan pengetahuanmu perihal gerakan pasukan dari timur," jawab Purbajaya.

Ginggi merenung dalam. "Sepuluh perwira yang akan berangkat ke Puncak Cakrabuana berhasil dibatalkan. Tapi Raja perlu mendapatkan keterangan lebih saksama. Itulah sebabnya kau dipanggil menghadap," kata pemuda itu dengan nada datar.

"Sekarang?"

"Mari," ajak Ginggi. "Tapi sebelumnya, ada sesuatu yang akan aku tanya padamu, Raden, kalau-kalau engkau mengetahuinya?"

"Soal apa?" Purbajaya menoleh.

"Sejauh mana kebencian orang-orang Pakuan terhadap Ki Darma?" tanya Ginggi.

"Tidak semua orang membenci Ki Darma. Sebagian besar anggota Seribu Pengawal Raja bahkan tidak merasakan bahwa Ki Darma memiliki kesalahan. Sekurang-kurangnya itu yang aku dengar di kalangan para perwira. Tapi Sang Prabu kurang gemar menerima kritik. Dia terlanjur dinina-bobokan oleh pembantu-pembantunya yang penjilat. Karena hasutan merekalah maka Raja memutuskan Ki Darma harus diperlakukan sebagai pengkhianat," kata Purbajaya.

"Betulkah sekitar dua tahun lalu ada pengejaran ke Puncak Cakrabuana?"

"Betul. Itu karena ada kabar yang sampai ke telinga Sang Prabu bahwa Ki Darma bersembunyi di sana. Raja semakin yakin bahwa Ki Darma adalah pengkhianat setelah dia berada di Cakrabuana," kata Purbajaya.

"Mengapa begitu?" tanya Ginggi heran.

"Raja tahu, di Cakrabuana tersimpan sebuah tombak pusaka bernama Cuntang Barang." Ginggi mengernyitkan dahi. "Saya tak mengerti. Cobalah terangkan lebih rinci."

Purbajaya pun menjelaskan bahwa puluhan tahun silam, seorang bangsawan dari Karatuan Talaga bernama Pangeran Aria Saringsingan memiliki benda pusaka berupa tombak bernama Cuntang Barang. Namun pada tahun 1530, Karatuan Talaga diserbu Cirebon sehingga takluk dan terpaksa beralih keyakinan. Banyak pusaka Karatuan Talaga diboyong ke Cirebon, tetapi beberapa di antaranya berhasil dilarikan oleh para perwira yang tidak mau takluk. Salah satunya adalah Dita Jayarasa yang berhasil membawa kabur tombak Cuntang Barang. Kabarnya, tombak itu disembunyikan di Puncak Cakrabuana.

Semua orang mencarinya, termasuk Pasukan Cirebon, tetapi tidak ada yang bisa menemukannya. Baik Perwira Dita Jayarasa maupun tombak pusaka itu sepertinya hilang ditelan bumi.

"Semua pihak merasa perlu memiliki benda pusaka itu. Cirebon memerlukannya sebagai tanda bahwa Talaga resmi berada di bawah kekuasaannya, dan Pakuan merasa benda itu milik mereka sebagai simbol pemeluk agama lama," kata Purbajaya.

Sang Prabu memaksakan diri mengirimkan lima belas perwira kerajaan karena menganggap Ki Darma bersembunyi di sana untuk mencari benda pusaka itu. Namun, selama dua tahun, tugas mencari Ki Darma dan tombak Cuntang Barang tidak berhasil dituntaskan.

"Jangankan menangkap Ki Darma atau membawa benda pusaka, bahkan kelima belas perwira itu pun hingga kini tidak diketahui nasibnya," ujar Purbajaya.

Selama Purbajaya bercerita, ingatan Ginggi melayang ke masa lalu. Sepuluh tahun lebih bersama Ki Darma, tidak sepatah kata pun orang tua itu berbicara soal benda pusaka, tidak pula berusaha mencarinya. Ginggi yakin Ki Darma tidak tertarik pada benda pusaka.

"Kekuatan bukan pada benda pusaka, melainkan pada diri manusia itu sendiri," kata Ki Darma ketika di Puncak Cakrabuana. Hal itu dikemukakannya di sela-sela latihan bela diri. Menurut Ki Darma, tangan dan kaki adalah senjata paling hebat jika seseorang tahu cara menggunakannya.

"Ki Darma tidak butuh benda pusaka," gumam Ginggi.

"Pangeran Yogascitra pun pernah mengatakan demikian. Dalam sepak terjangnya melawan musuh, Ki Darma tak pernah menggunakan senjata apa pun. Jadi, beliau pun tak percaya Ki Darma pergi ke Puncak Cakrabuana hanya karena butuh benda pusaka. Pangeran menduga, kalaupun Ki Darma datang ke Cakrabuana karena urusan benda pusaka, bukan ingin memilikinya, melainkan akan menjaganya. Kendati Ki Darma tak senang menggunakan senjata, dia sangat menghormati simbol-simbol kenegaraan," kata Purbajaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment