Chapter 111
"Ya, sayang, mengabdi kepada raja yang buruk, sehingga benda pusaka seakan tidak ada harganya?" gumam Purbajaya lagi.
Ginggi melirik pemuda itu, namun Purbajaya tidak membalas tatapannya.
"Mari," ajak Ginggi sambil berdiri.
Purbajaya pun ikut berdiri sambil membenahi ikatan kain yang kurang kencang di pinggangnya.
Sambil memperbaiki ikat pinggang kain berwarna hitamnya, pemuda itu menatap tajam ke arah Ginggi sambil berbisik, "Kalau kau mampu, di balai penghadapan raja inilah kau laksanakan tugasmu itu!"
"Tugas apa?" tanya Ginggi heran.
"Membunuh Raja!" Darah di urat nadi Ginggi berdesir cepat. Bulu kuduknya pun mendadak berdiri. Benarkah Purbajaya yang baru saja bicara?
"Raden?" desis Ginggi dengan mata setengah membelalak.
"Aku dengar percakapanmu dengan Ki Banaspati tadi malam," kata Purbajaya, masih menatap tajam Ginggi.
"Kau dengar percakapan kami?"
"Ya, tapi jangan takut!" jawab Purbajaya.
"Engkau juga bersekutu dengan Ki Banaspati?" tanya Ginggi kemudian. Namun, Purbajaya menggelengkan kepalanya. Ginggi bertambah heran.
"Bila begitu, mengapa engkau tidak menangkapku? Sebab seharusnya kau menuduhku berkomplot dengan Ki Banaspati," kata Ginggi.
Purbajaya hanya tersenyum tipis. "Tak ada kepentingannya aku menangkapmu sebab aku bukan orang pemerintah," jawab pemuda itu, membuat Ginggi kembali heran.
"Hampir dua tahun ini engkau mengabdi pada Pangeran Yogascitra. Bahkan, engkau pun sudah bisa keluar-masuk kadaton karena kerap kali Sang Prabu membutuhkanmu, bukan, Raden?"
Untuk kesekian kalinya, Purbajaya menggelengkan kepala. "Gerakan kita di Pakuan sebetulnya sama, yaitu menyelundup untuk menyingkirkan Raja, kendati motifnya mungkin berlainan," kata pemuda itu.
Ginggi masih menatapnya.
"Tapi tak apa. Yang penting perjuangan kita sekarang sama. Maka, untuk sementara kita berdua bisa bahu-membahu di Pakuan ini," ujar Purbajaya. "Kau dipanggil Raja dan ini kesempatan paling baik. Kalau kau melakukan tindakan membunuh Raja, tidak akan begitu sulit sebab hampir separuh pengawal yang bertugas hari ini kesetiaannya sudah berpaling. Jadi, kalau kau lakukan tugas Ki Banaspati hari ini, setengah dari pengawal Raja tidak akan menghambatmu, kalau pun tidak kusebut mereka malah membantumu."
Termenung Ginggi mendengar penjelasan Purbajaya.
"Ketidaksenangan para pejabat Pakuan kini meningkat menjadi kebencian karena kekeliruan Raja. Dia tetap bertahan dengan keinginan pribadinya untuk mengawini Nyimas Layang Kingkin, padahal semua orang sudah menganggapnya sebagai wanita larangan," kata Purbajaya.
"Bukankah Raja sudah tidak begitu percaya pada Ki Bagus Seta?" tanya Ginggi.
"Bagi Raja, tak ada hubungan antara cinta dan politik. Barangkali Raja tidak percaya pada Ki Bagus Seta sebagai pejabat, tapi tidak sebagai mertua. Apalagi Ki Bagus Seta sebenarnya pandai dan memikat dalam kata-kata. Raja juga semakin mengukuhkan cita-citanya untuk mempersunting Nyimas Layang Kingkin setelah merasa gagal mendapatkan gadis yang dicintainya, yaitu Nyimas Banyak Inten." Ketika mengucapkan nama gadis itu, wajahnya tampak kecut dan pahit.
Ginggi masih termangu-mangu. Ia akan berkata sesuatu, tetapi sepertinya Purbajaya tahu apa yang ada di benak Ginggi. Ia memberi tanda agar Ginggi tidak berkata apa-apa.
"Jangan dulu tanya siapa aku sebenarnya," kata pemuda itu.
Ginggi hanya menghela napas.
"Mari," ajak Purbajaya sembari berjalan di depan, dan Ginggi mengikutinya. Selama hampir setahun berada di Pakuan, baru kali inilah Ginggi akan berkunjung ke pusat pemerintahan. Pemuda itu akan diterima Sang Prabu di Paseban Agung atau Balai Penghadapan Raja.
Itu adalah bangunan bangsal yang cukup besar dan megah. Atapnya terbuat dari kayu sirap hitam mengilap. Lantainya terbuat dari papan kayu jati asal Borneo, berwarna hitam kecokelatan, amat halus, dan mengilap. Di beberapa sudut, atap itu ditopang tiang-tiang kayu jati gelondongan membentuk pilar berukir indah.
Ginggi pernah mendengar bahwa Raja beserta kerabat dekatnya, termasuk permaisuri, para selir, dan putra-putrinya, tinggal di kadaton megah bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yang dibangun oleh Sang Prabu Tarusbawa, raja Kerajaan Sunda pertama (670-723 Masehi), lebih dari 800 tahun lalu. Istana ini terdiri dari lima bangunan megah yang berjajar, semuanya menghadap ke halaman luas yang ditumbuhi tujuh pohon beringin. Atap bangunan istana disangga oleh 300 pilar kayu palem.
Kata Purbajaya, Sang Prabu bersemayam di bangunan paling besar yang diberi nama Istana Suradipati. Tidak sembarang orang bisa diterima di bangunan megah itu. Ginggi, yang dikawal empat prajurit bersenjata tombak dan perisai baja, hanya diantar ke bangunan paseban yang letaknya berseberangan dengan istana berjajar lima itu.
Ginggi dan Purbajaya dipersilakan duduk di ruangan terbuka Paseban Agung, menghadap ke arah timur di mana terdapat kursi kayu berukir indah yang masih kosong. Ginggi dan Purbajaya cukup lama menunggu. Namun, pada suatu saat terdengar bunyi gong dipukul lambat-lambat beberapa kali.
Ginggi menengok ke selatan. Bukan atap istana dengan latar belakang Puncak Gunung Salak yang ia saksikan, melainkan iring-iringan kecil yang baru keluar dari sebuah pintu berukir dengan warna emas.
Ginggi berdebar. Ternyata iring-iringan itu terdiri dari dua puluh perwira kerajaan yang berpakaian gagah sedang mengawal seorang lelaki tampan.
"Sang Prabu Ratu Sakti?" gumam Ginggi. Inilah untuk ketiga kalinya pemuda itu menatap Raja Pajajaran yang sering diperbincangkan karena tindakannya yang mengundang pro dan kontra.
Sang Prabu melangkah lambat namun mantap. Ada suara gemerincing merdu ketika Raja berkumis tipis itu melangkah, berasal dari gelang emas di pergelangan kakinya. Suara itu disambut oleh gemerincing dari gelang perak para pengawalnya.
Melihat dua puluh pengawal yang berjalan di belakang, Ginggi teringat pengakuan Ki Banaspati dan Purbajaya bahwa kesetiaan para pengawal telah terbelah. Di Pakuan ini, terlalu banyak rahasia. Apa yang terlihat oleh mata belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
"Kalau kau mampu, maka di Balai Penghadapan Raja inilah kau laksanakan tugasmu!" kata Purbajaya tadi pagi.
Sang Ratu Sakti sudah memasuki ruangan paseban. Purbajaya serentak menyembah takzim. Ginggi pun ikut menyembah hormat, namun selintas ia melihat lirikan Purbajaya ke arahnya. Darah di urat nadi Ginggi berdesir. Lirikan itu penuh arti, seolah sebuah isyarat agar ia melakukan tugas yang dimaksud Ki Banaspati.
Sang Prabu berjalan lambat ke arah kursinya. Jika Ginggi mau, dengan satu loncatan ia bisa menerkam dan mencengkeram leher Sang Prabu. Mungkin separuh perwira akan menyerang, tapi Raja tidak akan selamat. Ginggi dan Purbajaya selesai menyembah ketika Sang Prabu sudah duduk dengan tegak. Purbajaya menghela napas sambil melirik Ginggi yang duduk bersila.
"Engkaukah yang bernama Ginggi, ksatria tangguh yang akan segera diangkat Pamanda Yogascitra sebagai pembantu utama di purinya?" tanya Sang Prabu dengan suara halus namun nyaring.
"Hamba hanya sekadar pembantu biasa saja, Paduka Raja," sahut Ginggi dengan suara sedikit bergetar.