Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 112

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 112

Bagaimana tak begitu? Sebab apa pun kenyataannya, yang kini tengah duduk dengan anggun di kursi berukir indah itu adalah seorang raja dari sebuah kerajaan besar yang berdiri hampir 900 tahun lamanya.

"Engkau pandai merendah, anak muda. Tapi ada juga orang yang memperlihatkan kesombongan dengan sifat merendah-rendah. Jangan membuat orang tercengang karena kepura-puraan. Kalau kau pandai, maka perlihatkanlah kepandaianmu secara wajar agar orang pun bisa menghargai dan menilaimu secara wajar pula," ujar Sang Prabu dengan nada halus tapi tetap nyaring.

Wajah Ginggi terasa sedikit panas. Tidakkah Sang Prabu menyindirnya, sebab dia memang gemar berpura-pura bodoh? "Namun Paduka, orang tidak akan dianggap bijaksana bila tidak bisa memerankan orang bodoh dalam satu keadaan," kata Ginggi sambil kembali menyembah.

Tampak Sang Prabu tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih. "Dan yang berbahaya adalah orang bodoh yang berpura-pura bijaksana dan sok merasa tahu segala perkara," ujar Sang Prabu kemudian.

"Lebih celaka lagi, ada orang bodoh yang tidak menyadari dirinya bodoh. Orang bodoh yang merasa dirinya pintar dan apalagi berkuasa, maka kekuasaannya hanya akan membahayakan kepentingan orang banyak, Paduka," kata Ginggi menyela.

Untuk sejenak, Sang Prabu menatap sedikit terbelalak dengan ucapan lantang ini. Namun kemudian beliau tertawa renyah sambil sesekali punggung tangan kanannya yang putih halus digunakan menutupi mulutnya.

"Hahaha! Engkau seorang pemuda yang berani dan jujur, anak muda. Aku suka sikapmu itu. Tapi hati-hati, perasaan orang tidaklah sama, sebab ada juga yang mudah tersinggung. Kalau yang tersinggung adalah seorang penguasa misalnya, maka alamat celakalah dirimu," sahut Sang Prabu lagi namun masih dengan nada halus.

"Tapi Paduka, lebih baik tersinggung karena mendengar kata-kata bijak daripada terhibur dengan kata-kata palsu. Yang palsu tak bisa dikatakan baik. Dan bila mata hati dibutakan olehnya, maka rasa bijaksana pun akan hilang dan kehancuran akan menjelang," kata Ginggi lagi, semakin berani berkata-kata.

Sang Prabu masih tampak tersenyum, tapi senyumnya kian menipis, bahkan ada sedikit kerut di dahinya. "Serasa aku pernah menyimak kata-kata yang kau ucapkan barusan, anak muda?" gumam Sang Prabu sambil mencubit dan menarik-narik kulit jidatnya, seolah tengah menghilangkan rasa pening atau sedang memikirkan sesuatu.

Namun sebelum Sang Prabu melanjutkan ucapannya, dari pekarangan paseban datang tergopoh-gopoh beberapa orang. Ketika Ginggi melirik, ternyata yang datang adalah Pangeran Yogascitra, diiringi Banyak Angga dan beberapa perwira kerajaan. Dengan sopan tapi tergesa-gesa, Pangeran Yogascitra memasuki ruangan paseban, beringsut, dan menyembah.

"Ada apakah, Pamanda?" tanya Sang Prabu.

"Ampun beribu ampun, Paduka. Hamba memang terlalu tua untuk melakukan tindakan cepat. Kita terlambat menangkap Pangeran Jaya Perbangsa," kata Pangeran Yogascitra sambil tetap menyembah hormat.

"Apakah Jaya Perbangsa berhasil melarikan diri?" tanya Sang Prabu dengan mengerutkan dahi.

"Tidak melarikan diri. Dia kami dapatkan sudah tergolek kaku di purinya," ujar Pangeran Yogascitra.

"Mati?" tanya Sang Prabu.

"Hamba kira begitu, sebab ada cupu berisi cairan racun di tangan kanannya," kata Pangeran Yogascitra.

Sang Prabu mendengus kecil sambil kepalan tangan kanannya menopang dagu. Ginggi melirik, meneliti wajah para perwira pengawal Raja. Namun tidak seorang pun berubah mimik. Mereka menunduk tetap bersila dengan tubuh tegak. Ginggi kagum karena mereka bisa menjaga penampilan. Padahal, kalau di antara mereka terdapat kaki tangan Ki Banaspati, seharusnya ada perubahan wajah karena terkejut mendengar sekutu Ki Banaspati mati.

"Aku percaya pada Jaya Perbangsa, mengapa dia tega berkhianat padaku?" gumam Sang Prabu.

"Kita harus lebih hati-hati, sebab Pakuan sudah dipenuhi oleh orang yang akan mencelakakan Anda, Paduka," kata Pangeran Yogascitra.

Sang Prabu mengangguk-angguk. "Mengapa ada orang yang ditakdirkan tidak setia kepada Raja, padahal para wiku selalu berkata Raja adalah pilihan Sang Rumuhun?" gumam Sang Prabu lagi.

"Raja memang dipilih oleh Sang Rumuhun. Tapi Raja juga bisa didera bermacam-macam godaan. Kalau Raja bisa menahan godaan, semuanya akan aman dan tak akan ada lagi orang memalingkan kesetiaan, Paduka," kata Pangeran Yogascitra.

"Aku tahan akan berbagai godaan. Sejak aku jadi perwira dalam mengawal Ayahanda Ratu Dewata, sudah banyak godaan mendera, tapi aku selalu lolos dari bahaya maut," kata Sang Prabu.

"Terima kasih bila Paduka sadar akan godaan," gumam Pangeran Yogascitra.

Sang Prabu mengangguk-angguk. Namun bagi Ginggi, ucapan Pangeran Yogascitra terlalu dalam artinya. Bisakah Sang Prabu mafhum akan ucapan yang tersirat di dalamnya?

"Tadinya aku ingin memanggil Jaya Perbangsa ke balai penghadapan raja ini dan mempertemukan dia dengan engkau, Ginggi," ujar Sang Prabu sambil melirik ke arah Ginggi.

Hal itu membuat pemuda itu terkejut setengah mati. Baru sekarang dia tahu bahwa dirinya akan dijadikan sebagai saksi atas perbuatan Pangeran Jaya Perbangsa.

"Sekarang Jaya Perbangsa mati bunuh diri. Hanya menandakan bahwa dia memang bersalah, atau sekurang-kurangnya, ada sesuatu gerakan yang dia tak mau orang lain tahu. Tapi menurut Pamanda Yogascitra, tadi malam engkau menghubungi Jaya Perbangsa dan melakukan beberapa percakapan penting. Coba kau terangkan, soal apa yang engkau bicarakan itu?" tanya Sang Prabu menatapnya.

Wajah Ginggi sedikit memucat. Sejenak dia melirik ke arah Pangeran Yogascitra. Pangeran tua ini sudah melapor perihal pertemuannya dengan Pangeran Jaya Perbangsa. Dengan demikian, Raja pun sudah mengetahui bahwa dirinya punya hubungan dengan Ki Banaspati. Tidakkah ini membahayakan dirinya?

"Jangan takut, Pamanda Yogascitra sudah menerangkan perihalmu. Kata Pamanda, mulanya engkau diutus oleh Ki Banaspati untuk mengirimkan surat rahasia pada Jaya Perbangsa. Kau juga pernah ditangkap Pamanda tapi tak terbukti terlibat urusan ini. Karena Pamanda percaya terhadapmu, maka aku pun sebagai penguasa Pajajaran akan percaya kamu juga. Ingat, aku seorang raja dan bertanggung jawab menjaga keutuhan negeri. Tapi engkau pun sebagai penghuni negeri dan apalagi sebentar lagi akan diangkat menjadi ksatria di Pakuan, harus juga ikut bertanggung jawab menyelamatkan negeri dari kehancuran. Kau katakan sejujurnya tentang apa-apa yang telah engkau ketahui," ujar Sang Prabu lagi.

Ginggi termenung mendengar keinginan Raja ini. Ini sebuah permintaan berat sebab akan membahayakan keselamatan dirinya. Sekarang, di ruangan paseban yang hanya dihuni beberapa puluh orang, sebenarnya dia telah dihimpit oleh beberapa kekuatan. Sekurang-kurangnya di ruangan paseban ini terdapat tiga kekuatan, yaitu kelompok yang sudah dipengaruhi Ki Banaspati, kelompok yang telah memalingkan kesetiaan terhadap Raja, dan yang terakhir kekuatan Sang Prabu itu sendiri. Belum lagi tentang kehadiran Purbajaya yang jelas-jelas tidak berpihak pada Raja, tapi Ginggi belum tahu berada di pihak mana pemuda itu sebenarnya.

Ginggi bingung sebab tidak bisa memilih. Bila melaporkan semua yang diketahuinya, berarti sudah memihak kepada Raja dan akan berhadapan dengan kekuatan lainnya. Tapi kalau Ginggi bungkam, berarti harus membiarkan banjir darah di Pakuan. Padahal sejak awal dia mengukuhkan sikap untuk tak berpihak kepada siapa pun. Namun keadaan ini benar-benar menjepitnya. Sebab kendati dia tak mau memihak, Ginggi pun tak mau ada peperangan.

Melihat Ginggi seperti bimbang, dengan alis berkerut Sang Prabu mengulang pertanyaannya untuk kedua kalinya.

"Mengapa engkau diam? Atau, tidakkah penilaian Pamanda Yogascitra keliru?" kata Sang Prabu lagi dan nadanya mulai tak senang.

"Hamba akan uraikan yang hamba ketahui, asal dengan sesuatu syarat," kata Ginggi secara tiba-tiba.

"Apakah persyaratan itu?" tanya Sang Prabu.

"Paduka harus memenuhi keinginan hamba."

"Ya, sebutkan, apa itu?" kata Sang Prabu lagi tak sabar.

"Paduka harus berjanji untuk dua keputusan!" kata Ginggi.

"Bedebah! Tak biasa aku ditekan seperti ini. Anak muda, apa kedudukanmu di sini?" kata Sang Prabu berang dan wajahnya merah padam.

Ginggi masih duduk bersila dengan tenang. Dia melirik meneliti sikap para perwira yang duduk bersila berderet di kiri kanan Sang Prabu. Ada sebanyak dua belas perwira pengawal yang tampak turut melotot marah melihat kelancangan Ginggi ini. Tapi sepuluh orang lagi, termasuk di antaranya yang duduk di belakang Pangeran Yogascitra, berwajah biasa, kecuali menatapnya dengan perasaan tegang. Ginggi memutar otak dan mulai dapat menduga, mana perwira yang bersetia dan mana yang sudah dipengaruhi pihak lain.

"Hamba bukan siapa-siapa dan tak mempunyai peran penting di sini. Jadi bila Paduka tak mau memenuhi dua syarat yang hamba ajukan, tidak apa-apa, dan hamba akan keluar dari ruangan ini," kata Ginggi menyembah takzim dan akan segera berjingkat.

"Tunggu!" teriak Sang Prabu.

Ginggi kembali duduk tegak dan mencoba menatap Sang Prabu. Ornamen emas yang ada di kiri-kanan susumping bergoyang-goyang memantulkan cahaya gemerlapan, dan mahkota yang juga terbuat dari emas bertahtakan zamrud dan mutiara keindahannya tak sanggup menutupi wajah keruh Sang Prabu.

"Sudah kukatakan, aku tak biasa ditekan oleh ikatan janji ataupun persyaratan. Tapi mengingat ini urusan keselamatan negara, maka aku sebagai Raja Pakuan mau merendahkan diri untuk mengikuti keinginanmu. Coba kau katakan apa dua persyaratan yang engkau inginkan," kata Sang Prabu akhirnya.

Ginggi menghela napas lega mendengar ucapan Sang Prabu ini. Namun ketika matanya mengerling ke samping, wajah Purbajaya kelihatan murung dan sedikit pucat. Apa boleh buat, pikir Ginggi.

"Syarat pertama, hamba mau menjelaskan situasi di Pakuan akhir-akhir ini, asalkan Paduka mau mengubah sikap dan kebijaksanaan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment