Chapter 113
"Semua perubahan sikap dan kebijaksanaan Paduka penting untuk mengembalikan keadaan ke arah yang diinginkan semua pihak," kata Ginggi sambil menatap Sang Prabu.
Sang Prabu membalas tatapan itu. Ginggi menunduk karena sorotan mata Sang Prabu demikian tajam dan sulit untuk dilawan. Hening sejenak, sehingga bunyi tonggeret, sejenis serangga di pepohonan beringin, terdengar nyata.
"Sabda wiku paraloka (ahli kebatinan), sikap Raja haruslah *seuseug keupeul lega aur, tenget suling panyaweuyan, teuas peureup leuleus usap* (tegas tapi bijaksana). Sebetulnya aku harus bicara seperlunya. Tapi jika bicara terlalu singkat, ucapanku selalu salah diartikan oleh aparatku. Aku pun harus teliti memilih laporan dan pengaduan, namun terkadang ada laporan yang dipalsukan dan aku terkecoh mempercayainya. Karena banyak hal tak benar terdengar sampai ke telingaku, maka terpaksa aku harus memilih *teuas peureup* (bertindak tegas) tanpa mengikutsertakan sikap *leuleus usap* (bijaksana, welas asih)," ujar Sang Prabu sesudah lama merenung.
Kemudian Sang Ratu Sakti bersabda lagi, "Kuakui, tindakanku selalu keras, aku mudah menghukum orang yang dianggap salah, tapi juga tak segan-segan memberi penghargaan kepada yang berjasa. Kalau yang kau maksud aku harus mengubah sikap kerasku, kurasa sulit sekali terkabul. Kau harus maklum, anak muda, sekarang zaman keras. Hanya yang berhati baja yang bisa bertahan. Bukan berarti sikap welas asih tak berlaku lagi, tapi cara mengasihi kehidupan sekarang tak dilakukan dengan lemah-lembut. Sikap Ayahandaku, Sang Ratu Dewata, yang welas asih dan lemah-lembut diartikan salah sebagai jiwa yang lemah, sehingga musuh dari luar tidak merasa jerih, begitu pun aparat dan ambarahayat. Kalau kau bertanya kepada pujangga (ahli sejarah), akan begitu jelas betapa Pajajaran banyak diserang musuh dari luar karena kepemimpinan waktu itu dianggap lemah." Sang Prabu Sakti dadanya turun-naik karena terlalu banyak berbicara. Suasana amat hening ketika beliau menghentikan ucapannya sambil menatap tajam pemuda itu.
"Coba kau sebutkan syarat yang kedua!" ucap Sang Prabu kemudian.
Ginggi kembali menatap Sang Prabu. "Syarat yang kedua, ampuni Ki Darma dan Paduka harus mencabut tuduhan bahwa Ki Darma pengkhianat dan pemberontak!" kata Ginggi nyaring.
Mendengar ucapan ini, semua orang tampak terkejut dan membelalakkan mata, kecuali Pangeran Yogascitra dan Purbajaya yang tampak tenang. Namun, Ginggi heran sebab mimik wajah Sang Prabu tak berubah. Beliau hanya menatap tajam terus-menerus kepada Ginggi.
"Sudah aku duga, engkau punya hubungan dengan Ki Darma. Ucapan-ucapanmu itu tajam, menyakitkan, dan mudah membuat orang tersinggung, anak muda," ujar Sang Prabu. "Persis seperti apa yang gemar diucapkan oleh Ki Darma," sambung Sang Prabu lagi.
"Sepuluh tahun hamba bersamanya di Puncak Cakrabuana, Paduka," kata Ginggi, sengaja menyebutkannya agar Sang Prabu ingat bahwa beliau pernah memerintahkan pasukan perwira untuk menyerbu Puncak Cakrabuana.
Ucapan Ginggi hanya ditanggapi Sang Prabu dengan tatapan mata disertai kerutan di dahi. Untuk beberapa lama suasana menjadi hening kembali.
"Rupanya tak ada keputusan penting di sini. Maafkan, hamba akan meninggalkan paseban," kata Ginggi menyembah dan hendak berlalu.
"Tidak semudah itu engkau meninggalkan tempat ini, anak muda!" kata Sang Prabu.
"Apakah hamba pun masuk dalam tuduhan memberontak juga, Paduka?" tanya Ginggi menatap Sang Prabu dengan berani.
"Jalan pikiran Ki Darma membahayakan ketenteraman negeri sebab meresahkan dan menimbulkan gejolak pro dan kontra di kalangan pejabat istana. Aku kenal Ki Darma sejak kami sama-sama menjadi perwira pengawal Raja. Betapa bahayanya ucapan-ucapannya. Dan itu bisa merongrong kewibawaan Raja," kata Sang Prabu lagi.
"Barangkali Paduka lupa, baru saja Paduka mengatakan bahwa kasih sayang sekarang tidak dilakukan dengan lemah-lembut. Ki Darma hanya melontarkan kritik pada keadaan yang tengah berlangsung dan kritik tidak sama dengan pemberontakan. Kritik hanyalah sebuah kasih sayang yang dilakukan secara keras. Itu juga sebenarnya yang dilakukan Paduka terhadap bawahan dan rakyat Paduka," ujar Ginggi.
Wajah Sang Prabu merah padam mendengar ucapan Ginggi. Dadanya turun-naik menahan gelora hatinya dan matanya memandang tajam pemuda itu. Ginggi kini tak menggubrisnya dan hendak berlalu. Namun, Sang Prabu bangun berdiri. Sambil menuding ke arah Ginggi, beliau berseru, "Tangkap pemuda itu!"
Dari dua puluh pengawal, hanya dua belas perwira yang serentak berdiri, sedangkan yang lainnya masih duduk bersila dengan punggung tegak. Kedua belas perwira segera menghambur dan mengepung. Tapi Ginggi kini lebih berpengalaman. Dia sudah mengenal para perwira yang pandai taktik berkelahi beregu. Mereka punya formasi tempur, baik menyerang maupun bertahan. Pemuda itu tak mau meladeninya karena pernah dikalahkan oleh taktik kepungan *asu-maliput* di Puri Bagus Seta beberapa waktu lalu.
"Kalau akan melumpuhkan ular, maka tangkaplah kepalanya," kata Ki Darma ketika di Puncak Cakrabuana. Ginggi ingat pepatah ini. Ketika beberapa pengawal menghambur ke depan, Ginggi bukan melayaninya, melainkan meloncat tinggi, bersalto beberapa kali melewati kepala mereka. Rupanya semua orang tak menduga kenekatan Ginggi, sehingga para perwira lebih tampak kaget daripada melakukan tindakan. Ginggi yang jungkir balik itu bergerak ke arah Sang Raja berdiri. Sebelum semua orang sadar, Ginggi sudah berdiri tepat di belakang Sang Prabu. Tangan kiri Ginggi mencengkeram pakaian di bagian pundak Sang Prabu, sedangkan tangan kanan siap menghantam batok kepala penguasa Pakuan itu.
"Semua berhenti jika tak ingin keselamatan Raja terancam!" teriak Ginggi.
Tindakan ini mungkin keterlaluan, tapi inilah satu-satunya cara agar dia terlindungi. Semua perwira kini berdiri seperti patung, tak terkecuali delapan orang perwira yang sejak tadi hanya duduk bersila dengan wajah tegang. Dalam suasana seperti ini, mata Ginggi mengenal jelas siapa yang berpihak kepada Sang Prabu Ratu Sakti dan siapa yang sudah berpaling. Dua belas perwira berdiri dengan sikap siaga, tubuh menggigil menahan kemarahan, mata melotot, dan gigi berkerot. Namun, yang lainnya hanya bersiaga tanpa menampakkan mimik tertentu.
Pangeran Yogascitra berwajah pucat. Sambil berdiri dengan tubuh bergetar, dia berseru agar Ginggi tak melakukan tindakan seperti itu. "Ginggi, apa pun yang dilakukan Ki Darma, sebenarnya dia orang yang amat menghargai Raja dan tak pernah berniat mencelakakan Raja. Lepaskan Sang Prabu! Jangan kotori perjuangan Ki Darma dengan perbuatan tercela seperti itu!" teriak Pangeran Yogascitra.
Ginggi tersentak. Pangeran Yogascitra memang mengingatkannya bahwa selama Ki Darma berbicara perihal rasa kecewanya, tidak sekalipun dia memerintahkan untuk mencelakai Raja. Ki Darma tak menyuruhnya melakukan pemberontakan atau menyingkirkan Raja. Ginggi segera hendak melepaskannya. Namun sebelum dirinya menjauh, dia kaget melihat gerakan Purbajaya yang tiba-tiba.
"Jangan lepaskan dia!" teriak Purbajaya sambil meloncat ke depan. Sepasang kaki Purbajaya terpentang lebar dan kedua tangan diayun ke depan. Ginggi berteriak kaget sebab pemuda itu menghunjamkan pukulan jarak jauh dengan kekuatan penuh. Serangan itu diarahkan ke dada Sang Prabu dan jelas-jelas bertujuan membunuh Raja. Ginggi mendorong tubuh Sang Prabu ke samping sehingga jatuh terjerembap.
"Hiaaattt!!!" teriak Ginggi mengerahkan tenaga dalam dan sepasang telapak tangannya dibuka lebar menahan serbuan Purbajaya.
Terdengar suara benturan keras. Purbajaya menjerit ngeri dan tubuhnya terpental ke belakang. Dia berguling beberapa kali dan akhirnya telentang dengan mulut penuh darah segar. Ginggi pucat wajahnya sebab ini di luar dugaannya. Namun, pemuda itu tak boleh tinggal berlama-lama di sana karena Sang Prabu sudah bebas. Maka, sebelum bahaya mengancam, dia segera meloncat amat cepat. Tubuh Purbajaya diburu, kemudian diangkat dan dipanggul di bahu kirinya. Ginggi meloncat beberapa kali dan berlari menjauhi tempat itu.
Tidak ada yang melakukan pengejaran karena di halaman paseban telah terjadi pertempuran kecil antara perwira yang setia dan perwira yang membelot. Ginggi menduga-duga apakah para pembelot itu anak buah Ki Banaspati atau teman-teman Purbajaya.
"Masuk... masuk ke bangunan itu!" perintah Purbajaya di antara erang kesakitannya.
Ginggi memasuki sebuah bangunan seperti tempat pemujaan. Di dalamnya hanya terdapat sebuah batu bertulis dengan huruf palawa berjumlah sembilan baris. Ketika Ginggi membacanya, itu merupakan peringatan atau kenang-kenangan perihal kebesaran Sri Baduga Maharaja, ditulis oleh putranya, Sang Prabu Surawisesa, pada tahun 1533 atau delapan belas tahun sebelum hari ini. Batu bertulis ini disimpan di sebuah bangunan tertutup dan bercungkup. Banyak bunga dan wewangian bertebaran di sekitar batu tersebut.