Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 114

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 114

Menandakan bahwa tempat ini kerap kali dikunjungi, tetapi oleh orang-orang tertentu saja, mengingat tempat ini demikian tertutupnya.

"Turunkan aku," keluh Purbajaya.

Ginggi menurunkan tubuh pemuda itu. Ia dibaringkan di lantai tanah secara terlentang dan diurut-urut dadanya. Namun, pemuda itu menolaknya.

"Biarkan aku mati?" gumam pemuda itu.

"Jangan mati. Kalau engkau mati, aku akan amat berdosa, Raden," kata Ginggi khawatir dan penuh sesal.

"Biarkan aku mati. Hidupku tak berharga," keluh pemuda itu menyeka sisa darah di ujung bibirnya.

"Raden, mengapa engkau hendak membunuh Sang Prabu?" tanya Ginggi penasaran.

"Karena engkau tidak jadi membunuhnya!"

"Aku memang tak berniat membunuh Raja!"

"Raja sepatutnya dibunuh!"

"Mengapa?"

"Banyak dosa-dosanya. Bagi rakyat Pajajaran, Raja dianggap telah melanggar aturan moral. Dia selalu memaksakan kehendaknya untuk mengawini wanita larangan. Kau akan berjasa bila bisa membunuh Raja," kata Purbajaya sambil menahan rasa sakitnya.

"Aku akan berjasa membunuh Raja yang berdosa melanggar aturan moral? Mengapa aku harus menghukum seseorang, padahal aku sendiri pun sama pernah bersalah dan sama pernah melanggar aturan moral?" pikir Ginggi, tak mengerti akan ucapan Purbajaya. "Tidak! Aku tidak akan punya jasa apa-apa hanya karena membunuh Raja. Aku bahkan akan semakin berdosa!" kata Ginggi lantang.

Wajah Purbajaya tampak murung mendengar ucapan Ginggi ini.

"Engkau membingungkan aku. Sikapmu dan posisimu, ada di manakah sebenarnya?" gumam pemuda itu seraya tetap memegangi dadanya yang mungkin dirasakan amat sakit.

"Mengapa engkau merasa bingung hanya karena aku tak mau membunuh Raja? Yang harus dibuat berpikir, malah orang yang ingin membunuh sesama. Aku pernah dengar ucapan Ki Rangga Guna, murid Ki Darma, bahwa bukan kita yang menghidupkan makhluk di dunia, maka kita pun tak berhak membunuhnya," kata Ginggi.

Tampak Purbajaya mengatupkan mata.

"Aku malu padanya... aku malu pada Ki Rangga Guna," ucapnya.

"Engkau sudah mengenalinya?" Ginggi heran menatap wajah pemuda itu yang kini kian memucat.

"Ya... aku kenal dia... aku kenal dia!" gumam pemuda itu semakin payah berbicara.

"Raden! Raden!" Ginggi mengguncang-guncang tubuh pemuda itu.

"Ginggi... terima kasih!" gumam pemuda itu lagi.

Serasa dingin tengkuk Ginggi mendengar gumaman pemuda itu. Ginggi menganggap kesadaran Purbajaya telah mulai menurun. Ginggi berduka dan selalu penuh sesal, sekaligus juga merasa berdosa. Dia tahu, sebenarnya kepandaian pemuda ini tidak terlalu tinggi. Namun, karena Ginggi merasa kaget melihat Purbajaya menyerang dan hendak membunuh Raja secara tiba-tiba, maka serentak Ginggi pun menolak serangan pemuda itu dengan kekuatan penuh. Akibatnya, tenaga dalam pemuda itu menghantam dirinya sendiri.

Ginggi tahu, luka dalam pemuda ini amat parah dan sulit ditolong. Ini semua gara-gara dia. Kalau pemuda itu tewas, Ginggi berdosa.

"Ginggi... terima kasih... engkau berjasa... engkau berjasa," gumam pemuda itu datar dan dingin.

"Raden, sadarlah! Sadarlah!" Ginggi mengguncang-guncang tubuh pemuda itu.

"Bila tak kau cegah, maka aku akan melakukan pembunuhan. Padahal dalam agamaku, membunuh karena benci adalah dosa... Apalagi... apalagi rencana pembunuhan itu hanya karena dasar cemburu?" gumam pemuda itu.

Ginggi mengerutkan dahi. Tidak, pemuda ini masih memiliki kesadaran. Tapi mengapa kata-katanya begitu aneh?

"Engkau mau membunuh Raja karena cemburu?"

"Aku sakit hati. Raja begitu berkuasa untuk mengambil dan menolak cinta. Nyimas Banyak Inten, dia hancurkan hidupnya. Begitu gampangnya Raja menyuruh gadis itu masuk mandala," ujar Purbajaya memejamkan mata dan terengah-engah.

Tubuh Purbajaya semakin melemah, begitu pun detak jantungnya.

"Raden! Raden!"

"Ginggi... kau pergilah ke mandala, temui Nyimas Banyak Inten. Katakan padanya... katakan padanya..."

"Raden, apa yang harus aku katakan?"

Mulut Purbajaya berkomat-kamit. Dia masih ingin berbicara, tapi gerakan mulutnya sudah amat sulit. Ginggi mencoba mendekatkan telinganya ke bibir pemuda itu.

"Katakan padanya... aku... aku mencintainya... Allahu Akbar."

Ginggi tersentak karena terkejut. Terkejut oleh kematian pemuda itu dan terkejut karena ucapan terakhirnya. Purbajaya mengucapkan sebuah kalimat yang Ginggi kenal sebagai kalimat suci yang biasa diserukan pemeluk agama baru. Ginggi sedikit tergoncang jiwanya. Purbajaya yang dalam kesehariannya tidak terlalu menonjol, kurang banyak mengemukakan pendapat, dan selalu bicara apa adanya, ternyata banyak memendam rahasia. Dia mengenal Ki Rangga Guna, dia pemeluk agama baru, dia mencintai Nyimas Banyak Inten. Hanya karena cintanya pada gadis itu, dia nekat akan membunuh Raja. Pantas saja pemuda itu seperti mendorongnya untuk melaksanakan perintah Ki Banaspati. Dan ketika ternyata Ginggi tidak melakukan apa-apa pada kesempatan paling baik, Purbajaya hendak turun tangan sendiri untuk membunuh Raja.

"Ah... malang sekali nasibmu, Raden," keluh Ginggi seorang diri.

Pemuda itu harus menunggu malam tiba untuk menyampaikan amanat Purbajaya. Mandala adalah sebuah asrama tempat pendeta wanita berkumpul. Kata Purbajaya, Nyimas Banyak Inten ada di sana dan Sang Prabulah yang memerintahkan gadis itu untuk menjadi seorang pendeta yang kerjanya mempelajari ilmu-ilmu yang jauh dari urusan duniawi. Kata Purbajaya, Sang Prabu bersalah menyuruh Nyimas Banyak Inten memasuki mandala. Raja sudah menjauhkan harapan-harapan hidup gadis itu hanya karena kecewa melihat peristiwa aib yang menimpa gadis itu. Purbajaya marah menerima kebijaksanaan Sang Prabu. Barangkali pemuda itu menginginkan, seandainya Raja batal mempersunting Nyimas Banyak Inten, maka tak perlulah mengirim gadis itu ke mandala. Purbajaya diam-diam mencintai gadis itu. Sekarang dengan masuknya Nyimas Banyak Inten ke pusat para pendeta, artinya sudah tertutup harapan untuk mendekatinya. Itulah pangkal kemarahan Purbajaya sehingga akhirnya nekat hendak membunuh Raja.

Ginggi amat berduka mengingatnya. Cinta memang membutakan segalanya. Cinta juga membuat hati menjadi duka. Paling tidak sekarang ini yang tengah dirasakan Ginggi.

"Kalau engkau masih hidup, mungkin engkau akan kaget, sebab aku sendiri pun mencintai Nyimas Banyak Inten," keluh Ginggi sambil menatap wajah pucat pasi Purbajaya yang sudah tak bergerak itu.

Ketika malam sudah tiba, Ginggi merawat dan membenahi tubuh Purbajaya, membaringkannya di sudut ruangan. Sesudah itu, dengan berindap-indap pemuda itu keluar dari ruangan bercungkup. Ginggi harus begitu hati-hati, sebab ternyata di beberapa tempat didapati kelompok-kelompok prajurit dan nampaknya mereka tengah melakukan pencarian. Dirinyakah yang mereka cari? Mungkin hanya dirinya, mungkin juga lebih banyak lagi. Sang Prabu pasti sudah mengetahui bahwa dengan kejadian di paseban berarti sudah ada unsur-unsur yang melawan Raja di kalangan istana.

Ginggi khawatir, bagaimana dengan nasib Pangeran Yogascitra? Karena tindakan Purbajaya, Pangeran itu pasti dituduh ikut terlibat. Kalau Raja demikian marah dengan peristiwa siang tadi, ada kemungkinan Pangeran Yogascitra ditangkap pemerintah. Memikirkan hal ini, Ginggi menjadi amat berduka. Kemelut di Pakuan ini semakin menjlimet dan terus memanjang. Pangeran Yogascitra mungkin benar terlibat, mungkin tidak. Tapi kemarahan Sang Prabu terhadap pangeran tua itu pasti terjadi karena perkara Purbajaya dan perkara dirinya.

Tadi sudah dia saksikan, Sang Prabu tak mau memaafkan Ki Darma yang dianggapnya membuat keresahan dan menurunkan wibawa Raja karena kritik-kritiknya. Dengan demikian, sikap Sang Prabu juga jelas, akan menganggap setiap yang memiliki hubungan dengan Ki Darma adalah orang yang harus diburu.

Ginggi harus meloncat ke atas wuwungan dan berjalan di atap sebab bila melakukan perjalanan biasa, akan amat mudah berpapasan dengan pasukan penjaga. Untung sekali bulan tertutup awan. Cahaya bulan hanya akan muncul sebentar lagi. Ginggi yakin karena awan di langit begitu tebal. Ginggi sudah tahu di mana letak paseban. Tempat itu agak terpencil, yaitu agak di ujung setelah bale watangan (ruang peradilan) dan bale tulis (ruang administrasi). Mandala atau ruangan dan bangunan tempat berkumpulnya para wiku wanita terpaut jauh agak terpencil, mungkin untuk mendapatkan suasana tenang.

Ginggi harus berlari menggunakan ilmu mencek-mesat, sebuah ilmu berlari cepat yang diberikan Ki Darma untuk mencapai bangunan mandala dengan cepat. Ini karena bangunan itu terpisah oleh lapangan yang cukup terbuka. Mencek-mesat adalah ilmu lari yang dilakukan dengan pengarahan tenaga dalam. Langkah kaki saking cepatnya seperti putaran roda dan hampir-hampir tak menapak tanah. Bila dilihat oleh mata orang awam, gerakan berlari tak mungkin terikuti, kecuali hanya menyerupai sebuah bayangan melesat saja.

Ginggi langsung saja memasuki pintu yang selamanya selalu terbuka sebab tak ada sesuatu yang dirahasiakan di sana. Hanya bedanya, ke mandala tak boleh sembarangan masuk, apalagi kaum lelaki. Penghuni mandala semuanya wanita semata, yaitu wanita yang sudah benar-benar ingin meninggalkan kehidupan duniawi. Tapi, benarkah demikian yang dikehendaki Nyimas Banyak Inten? Ginggi berduka mengingatnya. Bagi gadis itu, sebenarnya masih banyak rencana hidup yang musti dia jalani. Mengapa Sang Prabu begitu kejam memasukkan gadis itu ke mandala? Ini pula yang jadi kemarahan Purbajaya sehingga akhirnya nekat berusaha membunuh Raja.

Semua penghuni asrama pendeta wanita itu terkejut setengah mati. Mereka semua tak memiliki kepandaian khusus, sehingga tidak sanggup merasakan kehadiran Ginggi jauh sebelumnya. Hanya tiba-tiba saja mereka melihat seorang pemuda berdiri di sana, persis seperti kehadiran makhluk gaib saja.

"Jangan kaget dan panik, saya tidak akan berbuat jahat. Saya hanya ingin menemui Nyimas Banyak Inten," kata Ginggi pelan dan sopan agar penghuni asrama tidak merasa ketakutan.

"Aku sendirilah Banyak Inten," gumam seseorang berkerudung putih.

Semua penghuni memang menggunakan pakaian putih. Beberapa di antaranya kepalanya dikerudung sehingga wajahnya sulit dikenal.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment