Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 115

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 115

Kerongkongan Ginggi terasa tercekat oleh kesedihan yang mendalam. Betapa tidak, sebenarnya ia amat mencintai gadis itu. Namun, putri bangsawan Yogascitra yang dahulu anggun, cantik jelita dengan sorot mata berbinar dan senyum kecil berlesung pipit, kini tampak lenyap. Kehalusan kulit wajahnya masih terlihat nyata, namun warnanya begitu pucat. Sorot matanya sayu dan sepasang pipinya tidak ranum lagi. Nyimas Banyak Inten tampak begitu kurus dan tidak bercahaya. Hanya dalam waktu satu bulan, segalanya berubah drastis; wajah gadis itu tampak lebih tua belasan tahun.

"Nyimas, nasibmu benar-benar malang," keluh Ginggi dalam hati.

"Sebetulnya amat tabu bagi kaum lelaki memasuki asrama pendeta wanita, tapi engkau seperti memendam keperluan yang amat penting. Paling tidak untuk kepentinganmu sendiri. Bicaralah seperlunya, barangkali para pendeta yang ada di sini tak keberatan mendengarnya," kata Nyimas Banyak Inten dengan suara halus.

Ginggi melirik ke kiri dan ke kanan. Di sana ada belasan wanita yang kebanyakan usianya di atas Nyimas Banyak Inten, namun tampak sekali ada rasa hormat kepada gadis itu.

"Nyimas, saya tak bisa mengemukakan keperluan saya di hadapan banyak orang," ujar Ginggi dengan salah tingkah.

"Semuanya orang sendiri dan tak ada sesuatu yang harus dirahasiakan di sini," sahut gadis itu masih dengan suara halus.

Ginggi menghela napas. "Baiklah kalau begitu," gumamnya. "Ada berita sedih, Raden Purbajaya telah tewas."

Gadis itu membelalakkan matanya sejenak, kemudian mengatupkannya. Sambil menunduk, ia merapatkan kedua tangannya dan mulutnya komat-kamit berdoa. Semua pendeta lain pun ikut berdoa.

"Dia sahabat dan pengawal saya ketika masih di luar mandala. Tak disangka, dialah yang lebih dahulu membebaskan diri dari kesengsaraan dunia," tutur gadis itu masih merangkapkan sepasang tangannya yang halus.

"Nyimas, ada amanatnya sebelum ia mengembuskan napas terakhir," kata Ginggi.

Nyimas Banyak Inten membuka matanya. "Cintanya hanya untukmu," lanjut Ginggi.

Gadis itu menatap Ginggi, namun sorot matanya semakin sayu. "Adalah anugerah bahwa semua manusia diberkati cinta. Tapi mari kita kembalikan rasa cinta itu kepada Yang Memberinya agar rasa cinta tak membuat nestapa," kata Nyimas Banyak Inten kembali merangkapkan sepasang tangannya.

Ginggi menatap tindak-tanduk gadis itu dengan perasaan tidak menentu. Ada rasa sendu, pahit, dan pedih di hatinya.

"Kembalilah, Ginggi. Kami semua akan berdoa agar arwah Kakanda Raden Purbajaya mendapatkan kesentausaan di alam sana," gumam gadis itu.

Ginggi tetap berdiri mematung. Ribuan kata hendak ia sampaikan, tapi lidahnya mendadak kelu dan kerongkongannya terasa tersumbat. Semua maksud hatinya terbendung oleh sikap gadis itu yang berubah drastis. Nyimas Banyak Inten kembali menyuruh Ginggi meninggalkan asrama, namun Ginggi masih terpaku dengan tatapan tajam pada mata gadis itu.

"Masih ada lagi yang ingin engkau sampaikan, Ginggi?" tanya Nyimas Banyak Inten.

"Saya mencintaimu!" kata Ginggi pendek.

Gadis itu sedikit membelalakkan matanya, namun kemudian menunduk dan tersenyum kecut. "Ini nasibku, tapi juga anugerah. Dari mulai raja, para ksatria, sampai badega berkata cinta padaku. Ginggi, mari kita sama-sama memuji syukur kepada keagungan Sang Rumuhun Hyang, penguasa jagat raya, bahwa semua orang diberi perasaan cinta. Kuterima cintamu sebagaimana aku mencintai dan dicintai oleh semua pendeta di sini. Hidup manusia memang harus saling kasih-mengasihi, jauh dari perasaan iri dan dengki."

"Nyimas, cinta saya adalah perasaan seorang lelaki kepada wanita!"

"Sst, jangan bicara urusan kehidupan duniawi di sini," potong gadis itu.

"Nyimas, jangan mengubur diri dalam keterasingan. Tak baik melakukan kehidupan beragama dengan keterpaksaan!"

"Tidak ada keterpaksaan di sini."

"Engkau dipaksa Raja karena dia kecewa terhadapmu. Engkau juga dipaksa ke mandala karena hatimu putus asa dengan cintanya Raden Suji. Dengarkanlah, wahai wanita malang, perasaan hatimu terhadap pemuda itu sebetulnya percuma belaka sebab Raden Suji bukan orang baik-baik. Kau korbankan cinta sucimu kepada sesuatu yang seharusnya engkau jauhi!" kata Ginggi setengah berteriak karena kecewa dan kesal.

Gadis itu hanya tersenyum tipis dengan pandangan mata sayu. "Itulah kelemahan manusia, merasa diri sendiri lebih baik dari yang lainnya. Bila nafsu, cemburu, dan iri hati merasuki jiwa, pikiran kita tidak terkontrol lagi dalam memilih benar atau salah," ucap gadis itu, benar-benar seperti ahli kebatinan.

"Aku bicara benar! Engkau telah salah memilih cinta, sebab Raden Suji orang jahat!" teriak Ginggi.

"Kuburkanlah masa lalu sebab tak akan terulang kembali," ujar gadis itu. "Namun yang penting harus kita simak, cinta itu memang buta karena bukan baik atau buruknya yang dilihat, melainkan cocok atau tidaknya. Mungkin ada pujangga dan pohaci bermain cinta karena mereka sudah merasa cocok sebagai dewa dan dewi dari kahyangan. Tapi seorang penjahat pun punya peluang untuk menyinta dan dicinta. Ada pencuri di Pakuan yang begitu sayang dan setia terhadap istrinya; ia memberi makan anak-istrinya dari keringat mencuri. Aku ketika itu tak berani menuding Kakanda Suji lelaki jahat. Mungkin dia jahat bagi orang yang merasa dirugikannya, tapi tidak bagiku. Dia mati karena mencintaiku, mengapa aku harus membencinya? Aku bersyukur sekarang masuk mandala. Inilah tempat paling damai, jauh dari keruwetan duniawi. Jangan khawatir, aku tinggal di mandala bukan untuk membuang diri, melainkan sedang belajar saling mengasihi dan menjauhkan sikap saling menyakiti," tutur Nyimas Banyak Inten dengan tenang dan lembut.

Entah apa lagi yang kini bergayut di hati Ginggi. Sedih, kecewa, dan kesal bercampur aduk. Ia hanya memandangi wajah gadis itu yang tertunduk menutup mata dan duduk bersimpuh sambil merangkapkan kedua belah tangan.

"Anak muda, cepatlah keluar dan tinggalkan tempat ini. Kalau kau diketahui penjaga, kau akan mengalami kesulitan," kata seorang pendeta setengah tua.

Ginggi masih menatap gadis itu sebelum akhirnya berlalu. Setibanya di luar, ia melompat pergi, berlari kencang. Ia memang takut bertemu prajurit yang akan menghadangnya; bukan takut kalah atau mati, tapi ia takut membunuh orang. Ada kemarahan dan kekesalan tak terkendali bercampur duka dan kecewa. Itulah sebabnya Ginggi berlari secepat mungkin, menjauh dari Pakuan.

Ia ingin pergi ke mana pun, asal tidak melihat lagi ibu kota yang dipenuhi kemelut ini. Biarlah Pakuan kacau, biarlah orang-orang saling menjatuhkan, biarlah Raja tewas oleh pemberontak, dan biarlah perang terjadi!

*Brusss!*

Tubuh Ginggi jatuh ke permukaan air. Ia timbul tenggelam, terbawa aliran air. Ginggi tak peduli air apa yang membawanya; ia pasrah jika harus mati. Tubuhnya tenggelam, mulutnya terkunci, dan hidungnya tersumbat. Sampai saat napasnya tak lagi bisa ditahan, tubuh pemuda itu terantuk sesuatu yang keras. Dengan cepat ia berdiri. Ia berada di tepi gugusan tengah sungai.

Bulan tampak bundar namun pucat, menerangi bangunan pasanggrahan di Pulo Parakan Baranangsiang. Ginggi teringat, di sinilah Suji Angkara menemui ajalnya. Ia merasa sedih mengingat beberapa orang tewas karena ulahnya. Suji Angkara memang dibunuh prajurit kerajaan, namun pemuda itu tidak berdaya karena Ginggi sebelumnya telah melumpuhkannya. Purbajaya pun tewas karena adu tenaga langsung dengannya.

Ginggi merasa malu mengingat pesan Ki Rangga Guna bahwa selama manusia tak mampu menghidupkan, ia tak berhak membunuh. Purbajaya tewas karena keraguan Ginggi, dan Suji Angkara tewas karena cemburu yang tak disadari Ginggi. Ia terpukul oleh ucapan gadis itu bahwa cinta tidak melihat baik-buruknya seseorang, melainkan kecocokan hati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment