Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 116

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 116

Seribu kali Ginggi mengaku orang baik, kalau Nyimas Banyak Inten tidak menyukainya, bisa apa? Ginggi berduka dan merasa malu. Sebetulnya lancang benar dia berkata cinta kepada Nyimas Banyak Inten. Disangkanya siapa gadis itu? Memang benar Nyimas Banyak Inten sudah menjadi pendeta, tapi apa pun yang terjadi, gadis itu tetap saja seorang putri bangsawan dan terlalu tinggi untuk disanding oleh Ginggi.

"Ini sebuah anugerah bagiku, dari sejak raja, para ksatria, hingga badega (jongos) mencintaiku?" Ucapan Nyimas Banyak Inten terdengar begitu menyakitkan sebab secara tak langsung menyadarkan siapa dia dan apa kedudukannya. Sakit sekali! Benar, dia hanyalah seorang badega karena pangkat itulah yang resmi disandangnya. Kalau pun ada orang mau mengangkatnya sebagai ksatria, itu baru rencana dan mustahil terlaksana sesudah terjadi peristiwa tadi siang di paseban istana.

"Oh, Ki Darma, engkau membuatku sengsara saja," keluh pemuda itu di tepi gugusan. Ginggi berjingkat dan melangkah menuju bangunan pasanggrahan. Pemuda itu membaringkan tubuhnya, tidur telentang sambil kepala berbantalkan kedua belah tangannya. Banyak kemelut di istana yang membuat dirinya pusing tujuh keliling. Sekarang dirinya baru sadar, betapa berat sebenarnya amanat yang diberikan Ki Darma. Begitu beratnya sehingga tak semua orang yang menerima amanat mengerti akan makna sebenarnya. Ya, Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati adalah salah satu pengemban amanat yang salah menerapkannya. Dan barangkali Ginggi pun termasuk orang yang tak tahu bagaimana cara melaksanakan amanat tersebut, sehingga akhirnya dia merasa tak sanggup lagi memikul beban amanat ini.

"Aku akan kembali saja ke Puncak Cakrabuana. Kalau Ki Darma benar sudah tewas oleh penyerbuan para perwira Pakuan, aku akan minta maaf karena tak sanggup mengemban apa yang dia inginkan," gumam pemuda itu sendirian. Ya, gumamnya dalam hati, aku sudah tak mau tahu lagi akan keadaan di Pakuan. Silakan orang berusaha berebut kekuasaan! Silakan orang saling berperang dan saling bunuh! Dia tak ada kepentingannya sama sekali.

Tak ada kepentingannya? Pemuda itu bangun dan duduk merenung. Alisnya pun berkerut tanda memikirkan jalan pikirannya sendiri. Bisa saja perang bukan urusannya dan dia tak punya kepentingan dengan itu. Tapi, apakah hanya karena dia tak berkepentingan maka akan tega membiarkan orang saling bunuh sesamanya? Membiarkan orang saling bunuh berarti dia setuju pembunuhan. Padahal pendapat Ki Rangga Guna amat dia hargai, bahwa selama manusia tak sanggup menghidupkan, maka dia tak berhak membunuh. Dengan begitu, Ginggi tetap masih terikat dengan sebuah kewajiban, yaitu mencegah pembunuhan. Perang jangan sampai terjadi!

"Ya, perang jangan sampai terjadi sebab akan menyengsarakan rakyat!" gumam Ginggi. Dan itulah amanat Ki Darma. Jangan sengsarakan rakyat! Ginggi menghitung-hitung hari. Di malam bulan purnama akan diadakan upacara kuwerabakti. Tapi sehari sebelumnya, akan ada upacara mandi suci di Telaga Rena Mahawijaya. Raja dan seluruh keluarganya akan mandi suci di telaga itu. Kapan? Bulan purnama terjadi dua hari lagi. Berarti upacara mandi suci akan dilangsungkan besok pagi. Akankah berlangsung upacara di Telaga Rena Mahawijaya padahal tadi siang hampir terjadi percobaan pembunuhan terhadap Raja?

Ginggi mengingat-ingat lagi surat sandi yang dikirim dari Ki Banaspati untuk Pangeran Jaya Perbangsa: *Ribuan pipit terbang dari timur ketika senja jatuh di barat tiga hari sebelum kuwerabakti pagi hari di Telaga Rena Mahawijaya.* Ribuan pipit itu jelas pasukan besar yang datang dari Sagaraherang (timur). Mereka akan tiba pada senja hari. Mungkin yang dimaksudnya senja hari tadi. Tiga hari sebelum kuwerabakti adalah dimulainya pemberangkatan pasukan besar itu, sebab perjalanan dari Sagaraherang memakan waktu dua hari. Sedangkan pagi hari di Telaga Rena Mahawijaya mungkin adalah hari penyerbuan!

Siapa yang sudah tahu isi surat rahasia ini? Tidak ada yang benar-benar tahu, sebab Pangeran Yogascitra pun menerima penjelasan ini kurang begitu rinci. Kemudian kalau Pangeran Yogascitra mengabarkannya pada Raja, belum tentu Raja akan benar-benar percaya, apalagi dengan terjadinya peristiwa tadi siang. Pangeran tua itu pasti akan dianggap memberi kabar bohong belaka. Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan benar-benar merugi. Hanya karena tak mau memberi pengampunan kepada Ki Darma, dia tidak mendapatkan keterangan rahasia yang amat berharga, pikir Ginggi. Ya, kalau pun penjelasan dari Pangeran Yogascitra mau dia terima, keterangan tersebut sepotong-sepotong. Orang-orang Pakuan tidak tahu pasukan mana dan siapa yang memimpin. Kepada Pangeran Yogascitra, Ginggi tidak pernah bicara tentang Sagaraherang beserta situasi yang ada di sana. Ginggi juga tidak pernah menyebut-nyebut nama Kandagalante Sunda Sembawa kepada siapa pun, padahal dirinya merasa yakin yang akan memimpin penyerbuan kelak adalah Sunda Sembawa. Ki Banaspati adalah otak penggerak yang sebenarnya. Dia akan membiarkan pertarungan antara Sang Prabu Ratu Sakti dengan Ki Sunda Sembawa, tak ubahnya seekor serigala menunggu hasil pertarungan dua keledai. Pemenang dari pertarungan pasti sudah lemah dan sang serigala tinggal menyerangnya dengan mudah. Tidak boleh terjadi, sebab kalau peperangan berlangsung, banyak orang tak berdosa akan jadi korban!

Karena teringat hal inilah maka Ginggi tak jadi pergi meninggalkan Pakuan. Sedapat mungkin dia akan mencegah pertempuran. Bukan untuk kepentingan para penguasa ataupun para pengejar ambisi, melainkan demi kepentingan rakyat semata!

Suasana semakin genting. Ginggi yang sudah lelah dan yang sedianya hanya akan bersembunyi saja di Pulo Parakan Baranangsiang, akhirnya kembali meninggalkan tempat itu. Dia harus memburu dan meneliti daerah sekitar dayo. Pertama yang diburunya adalah kota di wilayah jawi khita (benteng luar). Kota berpenduduk hampir 50 ribu jiwa itu malam itu nampak ramai sekali. Menurut beberapa pedagang kain yang dihampirinya, setiap upacara kuwerabakti, Pakuan memang selalu dipenuhi keramaian. Ini karena hari-hari itu dayo dikunjungi oleh orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Wilayah-wilayah Kandagalante atau kerajaan kecil yang hingga saat itu masih setia kepada Pakuan.

Kuwerabakti adalah upacara menghormati suami Dewi Sri, Ratu dan Dewi Padi. Pakuan sehabis musim panen tahunan akan menerima seba (upeti) dari wilayah-wilayah kekuasaannya. Semua rombongan seba dari setiap wilayah akan hadir di Pakuan. Rombongan-rombongan itu merupakan barisan besar, datang dengan bawaan hasil bumi seperti kapas yang diangkut menggunakan carangka, dan berbagai hasil bumi pangan yang diangkut menggunakan dondang. Ada juga yang diangkut menggunakan roda pedati yang ditarik kerbau.

Ginggi bisa melihat di pusat-pusat keramaian, banyak dondang ditaruh di halaman rumah wadha (petugas penerima seba), begitu pun barisan pedati. Di pusat-pusat keramaian, berbagai macam hiburan juga diadakan. Di sudut sana, prepantun membawakan kisah-kisah kepahlawanan para ksatria Pajajaran. Sedangkan di sudut lainnya, ada seni pewayangan tengah dibawakan para dalang. Ginggi menghitung ada sekitar tiga buah panggung pewayangan dan tiga panggung pertunjukan pantun digelar di tiap sudut alun-alun jawi khita. Kata orang, semua dalang akan mempertunjukkan cerita-cerita terkenal seperti kisah Darmajati, Jayasena, Ramayana, Adiparwa, atau Sedamana. Begitu pun prepantun melantunkan kisah terkenal mulai dari cerita Pamanah Rasa hingga Sanghyang Lutung Kasarung, dari mulai kisah Anggalarang hingga kisah Banyakcitra atau Katurwargi. Namun para prepantun juga tidak pernah lupa untuk membawakan kisah pengelanaan Raden Mundinglaya Di Kusumah atau Guru Gantangan.

Pada saat ksatria ini dinobatkan menjadi raja dengan nama Prabu Surawisesa, nama perwira pengawal Raja berjuluk Ki Darma Tunggara disebut-sebut. Mulanya sebagai perwira gagah berani, namun belakangan berubah menjadi seorang perwira yang rewel karena terlalu banyak berkehendak, serta dianggap orang tinggi hati, sok tahu, dan tidak hormat kepada Raja. Ginggi tersenyum pahit mendengar kisah ini. Dan dia segera berlalu sebab bukan tujuannya untuk menonton berbagai pertunjukan di alun-alun itu. Tujuannya untuk menyelidiki "pasukan dari timur" yang menurut surat rahasia harus sudah tiba di Pakuan pada senja hari. Sekarang sudah lewat senja hari, berarti pasukan penyerbu sudah lama tinggal di sini. Namun Ginggi tak melihat hal-hal aneh ataupun mencurigakan. Tak ada ketegangan ataupun hal-hal merisaukan di sana. Bahkan yang Ginggi lihat, semua orang larut dalam pesta. Orang sibuk ke sana-kemari melihat berbagai ragam pertunjukan.

Di bagian lain, Ginggi melihat para penembang sedang melantunkan kawih Bongbong Kaso, Porod Surih, Sisindiran, atau Kawih Bangbarongan. Malah di panggung lain, orang tengah terpingkal-pingkal karena ada pertunjukan seni pamaceuh (permainan lucu) seperti tatapukan (permainan topeng), ceta niras, dan ngadu nini. Semua ceria dan seperti tak satu pun mengingat sesuatu bahaya.

"Entah mengapa, pengunjung dari luar daerah upacara Kuwerabakti tahun ini demikian banyaknya. Aku juga heran, padahal hasil panen tahun ini tidak menggebu dan keamanan di beberapa wilayah kurang terjamin," kata seorang pedagang yang mengaku datang dari wilayah seberang Sungai Cisadane.

"Berapa kali pengunjung Kuwerabakti ramai seperti tahun ini, Paman?" tanya Ginggi.

"Berapa kali? Bahkan baru kali inilah sepengetahuanku. Aneh, begitu banyaknya orang yang datang ke Pakuan ini?" gumam pedagang itu heran.

Berdebar jantung Ginggi. Tak pelak lagi, pasukan dari timur sudah tiba di Pakuan. Ginggi sudah menduganya, Pakuan seramai ini karena yang datang bukan hanya rombongan pengirim seba saja, melainkan juga pasukan dari Sagaraherang. Tapi bagaimana cara membedakan mana pasukan dan mana orang-orang biasa? Ginggi terus berkeliling meneliti ke sana-kemari.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment