Chapter 117
Di antara berbagai macam pedagang di pasar malam tepi alun-alun benteng luar, pemuda itu mendapati para pedagang senjata menggelar barang dagangannya begitu saja di atas tanah.
Ketika Ginggi bertanya kepada orang di sana, mereka mengatakan bahwa setiap keramaian Kuwerabakti sudah biasa terdapat pedagang alat-alat, mulai dari peralatan pertanian sampai benda-benda yang biasa digunakan sebagai senjata. Dalam keramaian Kuwerabakti juga diadakan latihan perang-perangan. Pada saat-saat ini, pemerintah pun membuka lamaran kepada semua orang untuk mengabdi sebagai prajurit Pakuan. Kuwerabakti juga menjadi musim bagi orang-orang untuk memamerkan kedigjayaan karena ingin terpilih sebagai pengabdi negara. Inilah saat-saat orang mencari pekerjaan terhormat.
"Jadi amat wajar di keramaian pasar malam juga digelar dagangan macam-macam senjata sebab memang erat hubungannya dengan pamer kedigjayaan," kata seseorang yang tengah meneliti berbagai ragam dagangan senjata.
Ginggi pun ikut meneliti. Di samping jajaan alat pertanian seperti belincong, baliung, patik, kored, sadap, dan kujang, atau alat-alat yang biasa digunakan para pendeta seperti peso pengot, peso raut, peso dongdang, dan pakisi, dijajakan pula benda-benda berupa senjata, mulai dari golok, pedang, abet, pamuk golok, peso teudeut, sampai keris yang sebetulnya hanya digunakan para raja. Namun, tentu saja keris yang dijajakan di sini hanya kualitas pasaran.
Pedagang senjata ini tidak berkumpul pada satu tempat, melainkan berpencar jauh. Kalau meneliti hanya selintas, tidak akan menimbulkan perhatian khusus. Lain halnya dengan Ginggi yang perhatiannya tengah tertuju pada sesuatu. Pedagang senjata ini amat mencurigakan karena jumlahnya terasa terlalu banyak. Di sekitar benteng luar, Ginggi menghitung hampir dua puluh pedagang senjata yang betul-betul mencurigakan. Benarkah mereka hanya pedagang biasa?
Ginggi mencoba mendekati satu pedagang. Ditelitinya dengan saksama siapa saja pembelinya. Satu-dua orang pembeli tampak wajar-wajar saja, tapi yang lainnya begitu ganjil. Mereka membeli benda-benda tajam tanpa banyak bicara, tidak rewel menawar harga, dan langsung dibeli. Banyak pedagang hanya dalam waktu singkat sanggup menghabiskan dagangannya.
"Enak sekali, jualan benda-benda tajam cepat laku, Paman," kata Ginggi pada seorang pedagang.
Yang diajak bicara hanya tertawa kecil.
"Kenapa yang banyak laku barang-barang berupa senjata, sedangkan alat pertanian tidak, Paman?" tanya Ginggi lagi.
Pedagang itu mengernyitkan dahi dan menatap Ginggi sedikit curiga. Namun, karena dagangannya sudah habis, dia segera melipat kantung-kantung goni tempat barang dagangannya disimpan. Tanpa banyak cakap, orang itu segera berlalu meninggalkan Ginggi seorang diri. Pemuda itu termangu sejenak, namun sesudah orang itu menghilang di balik gang di antara dua bangunan kedai, Ginggi segera berjingkat. Dia ingin mengikuti ke mana orang itu pergi.
Ginggi tiba di gang tersebut, hanya tampak bayangan hitam berkelebat menjauh. Ginggi pun melangkah lebih cepat lagi, tetapi bayangan itu semakin menjauh. Kecurigaan pemuda itu semakin menebal. Orang tadi, atau bahkan beberapa orang lainnya, pasti bukan benar-benar pedagang, melainkan anggota pasukan yang bertugas membagikan senjata. Ginggi sudah menduga bahwa pasukan yang datang dari Sagaraherang tidak datang secara terang-terangan. Kalau mereka menampakkan diri sebagai pasukan, tentu akan amat mencurigakan bagi pihak Pakuan. Mereka pasti masuk Pakuan secara terpisah dan dipecah-pecah dalam bentuk rombongan kecil, mungkin berpura-pura sebagai rakyat biasa atau anggota rombongan pengangkut seba. Sementara itu, perlengkapan perang diangkut dan disamarkan seolah-olah barang dagangan.
Melihat banyak "dagangan" sudah habis, Ginggi menduga bahwa semua atau kebanyakan anggota pasukan sudah mendapatkan jatah senjata. Ginggi bingung dan sedikit menyesal. Hanya karena dia banyak berdiam diri di Pulo Parakan Baranangsiang, upaya pencegahan menjadi terlambat. Padahal, bila Ginggi sudah sejak sore hari melakukan penelitian, sedikitnya dia bisa melakukan tindakan, misalnya berusaha menggagalkan upaya mereka dalam membagikan senjata. Senjata tajam bagi prajurit biasa adalah perlengkapan vital. Jadi, bila berperang tanpa senjata, akan amat menyulitkan. Tapi semua sudah terlambat, senjata sudah dibagikan, dan Ginggi pusing dibuatnya.
Meski begitu, Ginggi terus mencoba membuntuti orang itu. Sang "pedagang" rupanya hendak memasuki sebuah rumah, namun ternyata dia tidak jadi masuk. Dia malah mencoba membalikkan badan, berdiri bertolak pinggang, dan nampaknya sengaja menanti kehadiran Ginggi. Tentu saja pemuda itu agak merandek dibuatnya. Dia menyumpah-nyumpah dirinya karena kurang hati-hati.
"Mau apa kau membuntuti aku?" teriak orang itu, sengaja memperkeras suaranya.
Ginggi mengerti, suara ini hanya sebagai tanda dalam upaya memanggil teman-temannya. Dan benar perkiraannya; begitu teriakan itu berhenti, pintu terkuak lebar dan sekitar lima orang keluar.
"Serbu!" teriak orang yang dibuntuti tadi.
Lima orang serentak menghambur ke arah Ginggi. Semua melakukan serangan ganas yang tujuannya hendak membunuh. Ginggi merasakannya sebab semua serangan ditujukan ke arah bagian badan yang vital. Satu orang menyerang mata Ginggi dengan dua ujung jari siap menusuk. Lainnya mengarah ke bagian pusar. Ginggi memiringkan kepala ke kanan dan kiri untuk menghindarkan serangan tusukan dua jari, serta menahan beberapa tendangan dengan telapak tangan kiri dan kanannya. Tapi serangan semakin deras mengarah padanya. Dua orang lawan bahkan menggunakan loncatan salto untuk bersama-sama menyerang ubun-ubun Ginggi.
Pemuda itu tidak berniat balas menyerang, apalagi untuk mencoba menganiaya atau membunuh mereka. Tapi serbuan lawan demikian ganas. Bila dia hanya mengelak saja, mungkin hanya satu-dua serangan yang bisa dihindarkan, sedangkan yang lainnya pasti mengenai sasaran. Maka, agar keselamatan dirinya terjaga, Ginggi terpaksa mengeluarkan jurus serangan.
Serbuan dari atas kepalanya berupa sodokan tangan kiri dan kanan sulit untuk dikelak, sebab Ginggi baru saja menghindar dari terjangan ujung kaki lawan yang mengarah ke dadanya. Pemuda itu sudah dalam keadaan jongkok dan tak mungkin menghindarkan serangan dari atas. Satu-satunya cara mempertahankan diri adalah melakukan tangkisan. Namun, tangkisan biasa tidak akan berarti apa-apa dalam menahan serangan yang datang dari atas dengan pengerahan tenaga penuh. Sepasang tangan Ginggi yang sudah terbuka lebar dia isi dengan pengerahan tenaga dalam. Begitu tangan lawan bertumbukan dengan telapak tangan Ginggi, terdengar jerit kesakitan karena dua orang penyerang yang bersalto di atas kepala Ginggi terpental kembali ke udara.
Ginggi belum lolos dari bahaya karena terjangan dari arah depan menyuruk mengarah ke wajahnya. Namun, dalam keadaan jongkok, dengan mudah Ginggi jungkir balik ke belakang dengan cara menotolkan sepasang kakinya. Dua orang penyerang yang melakukan terjangan hanya bisa menyerang tempat kosong yang sudah ditinggalkan Ginggi.
Tiga orang penyerang akan kembali melakukan serbuan, namun dari gang tempat tadi Ginggi muncul, bermunculan pula beberapa orang. Mereka berbekal obor sehingga suasana menjadi terang benderang. Ginggi dan para penyerangnya bisa melihat bahwa yang datang adalah para prajurit istana.
"Tolong, ada penjahat mau merampok!" teriak salah satu penyerangnya.
Ginggi mendengus mendengar siasat busuk ini. Namun, para prajurit rupanya percaya omongan tersebut. Buktinya mereka mengurung Ginggi, jumlahnya sekitar tujuh orang. Ada tiga buah obor dengan nyala terang sehingga wajah Ginggi bisa dilihat semua orang.
"Ginggi!!!" teriak beberapa orang dari kedua belah pihak.
Ginggi terkejut. Ternyata dari kedua belah pihak yang kini tengah mengurungnya ada yang mengenal dirinya.
"Tangkap pemberontak!" seru seorang prajurit.
"Siapa pemberontak?" tanya orang yang dikuntit Ginggi.
"Dia!" seru prajurit itu menunjuk hidung Ginggi dengan ujung obornya.
"Ya, tangkap dia!" teriak yang lain.
Maka Ginggi pun dikepung lagi. Hanya saja, kini para pengepungnya terdiri dari tujuh prajurit. Ginggi menduga peristiwa tadi siang di paseban istana rupanya secara diam-diam sudah diketahui para prajurit, bahkan mereka sudah ditugaskan mengejarnya. Buktinya, ketika di antara mereka ada yang mengenalnya, langsung menuding dan mencercanya sebagai pemberontak. Ginggi juga berpikir bahwa dari pihak yang dikuntitnya sudah ada yang mengenalnya. Ini membuktikan bahwa mereka benar anggota pasukan dari Sagaraherang.
Ketika berada di wilayah Kandaga Lante itu, Ginggi dikenal banyak oleh para prajurit di sana. Bagaimana sikap orang-orang Sagaraherang terhadapnya kini? Apakah masih menganggapnya orang sendiri atau sebaliknya? Pemuda itu tak bisa menduga. Kalau saja tadi mereka berteriak-teriak agar Ginggi ditangkap, itu bisa saja sekadar siasat pula, sebab tak mungkin mereka membantu Ginggi jika tidak ingin ikut ditangkap prajurit istana. Nampak sekali mereka mulai meninggalkan tempat itu setelah perhatian para prajurit hanya tertuju pada Ginggi seorang. Mereka pasti sudah menghindari tempat ini.
Ginggi tak mau mati konyol, tapi juga tak mau menganiaya mereka. Maka, sebelum kepungan merapat, Ginggi segera melompat ke dahan pohon di atasnya. Sesudah itu dia meloncat ke sana kemari, melompat lagi ke atas atap bangunan, dan melarikan diri dari tempat itu.
"Kacau sekali," kata Ginggi dalam hatinya. Betapa tidak kacau, gerakan Ginggi untuk meneliti pergerakan pasukan penyerbu kini terganggu oleh para prajurit istana.