Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 118

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 118

Hal ini sekaligus kian menyadarkan dirinya bahwa kedudukannya sekarang mulai terjepit. Pihak penyerbu yang dipimpin Ki Banaspati atau Ki Sunda Sembawa kini pasti sudah menganggapnya sebagai musuh karena tidak menuruti keinginan mereka dengan benar. Sebaliknya, pihak istana yang hendak ia tolong pun kini memusuhinya dan menuduhnya sebagai pemberontak. Ginggi hampir bosan mengalami hal-hal menyebalkan seperti ini.

Kalau hatinya tidak keberatan untuk membiarkan peperangan terus berlangsung, sudah sejak tadi ia pergi dari Pakuan. Namun, Ginggi memutuskan untuk tetap bertahan di dayo ini. Ia memang merasa gagal karena peperangan pasti akan terjadi, tetapi ia tetap ingin berusaha agar tidak banyak korban yang jatuh sia-sia. Baginya, peperangan yang selalu mengakibatkan korban jiwa sebenarnya hanya terjadi karena ulah segelintir orang yang mengaku sebagai pemimpin. Kalau ia berhasil menyadarkan para pemimpinnya, mungkin peperangan tak bakal terjadi. Namun, bagaimana caranya? Ginggi bingung memikirkannya.

Sampai pagi menjelang, pemuda itu tidak tidur meski kantuk luar biasa menyerangnya. Ginggi hanya berbaring di sebuah gudang belakang, di salah satu bangunan kedai. Pagi-pagi sekali, semua penghuni rumah sudah bangun, tetapi mereka tidak berupaya membuka kedai. Mereka hanya terdengar sibuk bersiap-siap seolah akan pergi ke suatu tempat.

"Ayo berkemas, kalau agak siang sedikit kita tak bisa melihat upacara mandi suci di Telaga Rena Maha Wijaya," kata seseorang.

Sang Prabu Ratu Sakti benar-benar orang hebat dan pemberani, pikir Ginggi. Ia memang tak pernah mengabarkan langsung perihal akan terjadinya penyerbuan dari wilayah timur, tetapi sekurang-kurangnya Raja sudah menerima berita tersebut dari Pangeran Yogascitra. Entah apakah ucapan Pangeran itu tak dipercayai karena dianggap terlibat urusan Ginggi dan Purbajaya, Ginggi sendiri tidak mengetahuinya.

Seisi rumah sudah meninggalkan tempat itu, sehingga keadaan kembali sunyi. Ginggi harus segera pergi untuk menyaksikan upacara mandi suci. Namun, akan sangat berbahaya bila ia datang begitu saja; jika ada yang mengenalinya, ia pasti akan dikejar-kejar lagi. Ginggi terpaksa memasuki rumah yang ditinggalkan penghuninya untuk mencari sesuatu. Akhirnya, ia menemukan pakaian. Selama beberapa hari, ia hanya menggunakan pakaian santana pemberian Pangeran Yogascitra yang berwarna ungu dan sangat mencolok.

Ia harus berganti pakaian. Di rumah itu hanya tersedia celana pokek dan baju kampret berwarna hitam yang terbuat dari tenunan kasar jenis *seumat saumur*—kain yang menggunakan serat benang kasar berukuran besar. Ia mengambil pula sebuah ikat kepala jenis *lohen* dan segera memakainya. Namun, ketika melihat jenis lain, ia melepasnya kembali. "Tidak, aku harus menggunakan ikat kepala jenis *barangbang semplak* ini," batinnya.

Ikat kepala jenis ini biasanya hanya digunakan orang lanjut usia, namun Ginggi justru memilihnya. Ukurannya lebar, sehingga jika dipakai agak miring ke sisi, ia akan sedikit menutupi pipinya. Ini perlu untuk menghindari penyamarannya terbongkar. Selesai berdandan, Ginggi keluar setelah memastikan tak ada orang yang memperhatikannya.

Ia menuju Telaga Rena Maha Wijaya yang terletak di benteng luar sebelah selatan. Telaga itu dibuat pada zaman Sang Prabu Sri Baduga Maharaja hampir 30 tahun silam, mengandalkan sumber air dari ujung bukit kecil yang dikenal sebagai Bukit Badigul. Ginggi pernah mendengar penjelasan dari Purohita Ragasuci bahwa sebenarnya Bukit Badigul pun merupakan bukit buatan. Tanah dataran tinggi itu dibuat sedemikian rupa hingga membentuk punggung kura-kura. Puncaknya berupa alam terbuka tanpa pepohonan, kecuali semacam lapangan rumput yang rata, karena tempat itu digunakan untuk upacara pemujaan.

Seusai melaksanakan mandi suci dalam kegiatan *Kuwerabakti* ini, akan diadakan upacara keagamaan di puncak bukit tersebut. Mengingat penjelasan Purohita itu, perasaan Ginggi kembali berdebar. Ia membayangkan bahwa penyerangan pasukan dari timur pasti dilakukan saat semua orang tengah melakukan pemujaan. Itulah sebabnya sepagi itu sudah banyak orang menuju Bukit Badigul dan Telaga Rena Maha Wijaya.

Tiba di sana, Ginggi menemukan sesuatu yang mencengangkan. Banyak rombongan pria, wanita, dan anak-anak berpakaian bagus. Kaum lelaki membawa dan memikul jampana berisi makanan seperti nasi kuning, panggang ayam, dan telur rebus. Para wanita mengusung tempayan berisi berbagai jenis buah-buahan ranum. Di seputar tepi telaga yang berair tenang dan jernih itu, berderet umbul-umbul dengan kain warna-warni.

Kian dekat ke tepi bukit, kian banyak orang yang ditemui. Ribuan orang berderet memadati tepian jalan tanah bercampur pasir, menunggu atau menyambut sesuatu. "Siapa yang akan disambut di sini, Paman?" tanya Ginggi kepada seorang lelaki yang berpakaian baru.

"Kita semua tengah menyongsong kehadiran keluarga istana. Raja dan keluarga, disertai para pejabat, akan mengadakan upacara mandi suci di tepi telaga," jawab lelaki itu.

Tidak terlalu lama Ginggi menunggu, sayup-sayup dari arah utara terdengar suara gong ditabuh beberapa kali. Orang-orang di ujung utara bersorak-sorai dengan meriah saat rombongan Raja tiba. Rakyat mengelu-elukan Raja dengan penuh sukacita, sementara sekelompok wanita dan gadis belia melemparkan bunga warna-warni.

Kian dekat, kian nyata bahwa rombongan itu sangat berwibawa. Raja duduk di atas jampana atau tandu mewah dari kayu jati berukir dengan hiasan patung burung garuda di belakangnya. Raja masih mengenakan mahkota logam emas bertatahkan zamrud dan mutiara—*Makuta Binokasih Sanghyang Pake*—namun tubuhnya dibalut selendang kain putih, sehingga sekilas mirip seorang pendeta. Anggota rombongan lain, termasuk permaisuri dan para selir, juga tampak menggunakan kain putih dengan bunga-bunga yang menempel di sanggul mereka akibat lemparan bunga para penyambut.

Rombongan itu dikawal dengan rapat oleh para perwira. Mungkin inilah barisan seribu pengawal Raja, pasukan elit yang disegani sejak zaman Sang Prabu Sri Baduga Maharaja. Mereka berjalan dengan rapi, langkah yang mantap, mengenakan baju zirah dari logam baja berbentuk sisik ikan di balik pakaian indah mereka.

"Paman, siapakah anak muda yang naik kuda putih di belakang Sang Prabu itu?" tanya Ginggi.

"Itulah Sang Lumahing Majaya," jawab lelaki itu.

"Apa kedudukannya di Pakuan? Nampaknya anak lelaki berwajah tampan itu punya hubungan erat dengan Sang Prabu," gumam Ginggi.

Ia terus menatap pemuda berusia sekitar 16 atau 17 tahun yang menunggang kuda putih dengan anggun itu. Pakaiannya mewah meski ditutup kain putih. Pergelangan tangan dan kakinya dihiasi gelang-gelang emas yang berdentang halus saat ia menggerakkan kendali kuda.

"Aku tak begitu tahu hubungan antara Sang Prabu dengan Raden Majaya. Mungkin ia putra dari seorang selir. Hanya yang pasti, kata beberapa prajurit istana yang aku kenal, Sang Prabu demikian sayangnya kepada Raden Majaya," ujar lelaki itu.

Ginggi terus menatap pengendara kuda putih itu sampai berlalu dari pandangannya.

"Hei, engkau mau ke mana anak muda? Bukankah kita akan menyaksikan Raja beserta kerabatnya mandi suci?" tanya Ginggi.

"Huss! Kita tidak diperkenankan menyaksikan upacara mandi suci," jawab lelaki setengah baya itu.

"Jadi, untuk apa kita berduyun-duyun ke sini?" tanya Ginggi lagi sambil mendongakkan wajah ke arah jalan yang menanjak ke bukit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment