Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 119

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 119

"Kita semua baru diperbolehkan bersama Raja dalam upacara keagamaan di Puncak Badigul di mana dahulu Sang Prabu Sri Baduga Maharaja ngahiyang (moksa)," kata lelaki itu pula.

Ginggi mengangguk-angguk, namun sambil meninggalkan tempat itu. Dia harus bisa menyelinap dan ikut ke tepi telaga. Namun bagaimana caranya, belum terpikirkan benar. Tidak mungkin mendekati tepi telaga dengan mengambil jalan yang barusan dilalui rombongan Raja. Ginggi harus mencari jalan lain agar bisa mendekati tepi telaga untuk mengamati upacara mandi suci.

Dia memang harus mengamatinya. Upacara itu harus berlangsung dan tak boleh ada gangguan, apalagi gangguan berupa penyerbuan pasukan pemberontak. Berdesir darah Ginggi kalau mengingat kembali urusan ini. Hari ini begitu banyak orang menuju tempat tersebut. Bila dikaitkan dengan kejadian tadi malam, hati pemuda itu semakin yakin bahwa di antara ribuan pengunjung ini terselip ratusan anggota pasukan yang dipimpin Kandagalante Sunda Sembawa.

Bertepatan dengan jalan pikirannya ini, Ginggi melihat rombongan kedua lewat di jalan yang menjadi pintu masuk ke Bukit Badigul atau juga ke tepi telaga buatan itu. Kembali berdesir darah pemuda itu. Rombongan yang lewat ini ternyata barisan para pejabat istana beserta pejabat-pejabat dari wilayah-wilayah seputar kekuasaan Pakuan. Yang membuat darah Ginggi berdesir adalah karena di antara barisan pejabat yang datang menggunakan kuda, terdapat Kandagalante Sunda Sembawa.

Ginggi yakin, Sunda Sembawa datang ke sini disertai pasukannya yang hadir secara terpencar-pencar dan rahasia. Kehadiran Sunda Sembawa ke Pakuan memang wajar sebab semua kepala wilayah yang ada di bawah kekuasaan Pakuan akan hadir dalam upacara kuwerabakti. Namun, kehadiran Sunda Sembawa di Pakuan hari ini juga menandakan bahwa gerakannya tidak tercium orang-orang Pakuan. Ini betul-betul berbahaya.

Ginggi menyaksikan barisan pejabat berkuda itu dari balik batang pohon. Beberapa pejabat sudah Ginggi kenali sebab mereka telah ikut hadir dalam pertemuan penting di Puri Yogascitra beberapa waktu lalu. Hanya saja, yang membuat Ginggi khawatir ialah tidak terlihatnya Pangeran Yogascitra, begitu pun putranya, Banyak Angga. Ginggi menduga keluarga Yogascitra pasti mendapat kesulitan setelah peristiwa kemarin pagi di paseban istana. Pangeran Yogascitra pasti ditangkap karena dituduh terlibat dalam peristiwa itu.

Rombongan itu jelas menuju tepi telaga. Ginggi harus segera mendekati tepi telaga pula. Di sana ada Ki Sunda Sembawa yang akan mendekati Raja. Tugas membunuh Raja mungkin sudah dialihkan dari dirinya, entah kepada siapa. Ginggi menduga peristiwa kemarin siang di paseban istana pasti diketahui Ki Banaspati juga. Entah apa penilaian Ki Banaspati terhadapnya kini. Yang jelas, Ginggi sudah tak akan terpakai tenaganya dalam melaksanakan tugas membunuh Raja.

Ya, kendati Raja sudah mencurigai dirinya sebab punya kaitan erat dengan Ki Darma, sikapnya tetap tak berubah. Raja tak boleh mati. Tadi malam di Pulo Parakan Baranangsiang, hatinya sempat mengumpat agar membiarkan Raja tewas dalam kemelut penyerbuan. Dia berpikir begitu karena malam tadi hatinya panas dan pikirannya kacau. Sekarang, sesudah emosinya normal kembali, timbul lagi jalan pikirannya yang wajar. Dia tetap mempertahankan sikapnya yang lama untuk tidak menoleransi gerakan yang bernama pemberontakan.

Raja tak boleh tewas, sebab kalau itu terjadi, maka suasana di Pakuan akan semakin tak menentu dan menguntungkan kaum pemberontak. Raja harus tetap selamat, sebab apa pun yang terjadi di istana, kedudukan Raja sebetulnya tetap sebagai penentu kebijaksanaan. Maka betapa kacaunya suasana bila Raja harus mati dalam pemberontakan. Soal banyak pelanggaran yang dilakukan Raja, seperti melanggar aturan moral yang dikeluhkan banyak pejabat istana, biarlah kelak mereka menentukan sendiri dengan jalan musyawarah dan bukan jalan kekerasan seperti yang tengah dirancang Ki Banaspati dan Kandagalante Sunda Sembawa.

Sesudah memantapkan sikapnya, Ginggi segera meninggalkan tempat itu. Dia harus berjalan memutar melewati semak-semak dan hutan kecil lereng bukit untuk bisa mencapai tepi telaga. Namun, sebelum tiba di tempat yang dituju, Ginggi memergoki sekelompok orang misterius. Mereka berpakaian seperti orang kebanyakan, berjumlah sekitar lima orang, namun ada sesuatu tersembul di balik bajunya yang tertutup kain sarung. Ginggi menduga keras mereka adalah pasukan Sunda Sembawa.

Ginggi bertekad akan melumpuhkan orang-orang ini. Pemuda itu mendekati mereka, namun yang didekati rupanya bukan orang sembarangan. Buktinya, lima tindak sebelum Ginggi tiba di tempat mereka bersembunyi, tiga orang di antaranya sudah menengok ke belakang. Kecurigaan mereka begitu cepat berubah menjadi tindakan nyata. Kelima orang itu serentak menyerang Ginggi sebelum mereka diserang.

Dalam waktu singkat, Ginggi diberondong berbagai serangan dahsyat. Ginggi pun terkejut sebab mereka rata-rata berkepandaian tinggi dan memiliki pukulan tenaga dalam yang cukup mantap. Hanya karena Ginggi pandai berkelit, banyak angin pukulan mengenai tempat kosong. Ginggi mengerti, mereka langsung menyerang dengan tenaga dalam dengan maksud bisa melumpuhkan, bahkan membunuh pemuda itu dengan cepat.

Namun, sudah barang tentu Ginggi tak mau begitu saja jadi santapan pukulan maut mereka. Ginggi meloncat ke sana kemari, berkelit, dan menghindar. Akibatnya, banyak batang pohon runtuh atau hancur karena dorongan pukulan tenaga dalam mereka. Ginggi berpikir, mereka benar-benar orang pandai, namun terlalu gegabah mengobral tenaga dalam. Satu dua pukulan tenaga dalam mereka mungkin masih mampu ditahan, tapi kalau terus-terusan mengeluarkan tenaga dalam seperti itu, hanya akan mengurasnya saja. Melihat kebodohan mereka, Ginggi sengaja menyulut emosi mereka agar terus-terusan penasaran dan melancarkan pukulan. Biar tenaga mereka kedodoran, pikir Ginggi.

"Jangan terpancing pemuda sinting itu!" teriak seorang dari mereka. "Hemat tenaga!" katanya pula. Namun peringatan ini sungguh terlambat. Melihat tenaga mereka sudah mulai menurun, kini giliran Ginggi melakukan penyerangan. Ginggi memang tengah diserang oleh lawan dari kiri dua orang, kanan dua orang, serta dari depan satu orang. Dari kelima orang itu, ada dua orang di kiri yang tampak tenaganya sudah menurun. Oleh sebab itu, pemuda itu harus menitikberatkan serangan kepada orang yang paling lemah.

Ginggi melipat dua jari tengah dan telunjuk, kemudian menyodokkannya ke ulu hati lawan yang berdiri paling ujung dengan tangan kiri. Orang itu tampak terkejut dan menunduk dengan harapan perutnya mundur menjauh. Namun, ini sebenarnya hanya pancingan belaka. Serangan sebenarnya Ginggi lakukan dengan tangan kanan mengarah kepada lawan yang berdiri kedua dari kiri. Orang itu tak menduga bahwa serangan sebetulnya mengarah kepadanya. Karena serangan tangan kanan Ginggi mengarah pada ulu hati, serentak kedua tangannya melindungi bagian pusar. Namun, sodokan tangan kanan pemuda itu malah belok ke atas.

Tuk!

Leher di bawah tenggorokan terkena pukulan dua jari melipat. Bagian itu adalah titik paling lemah dari tubuh manusia. Bila diserang, orang yang memiliki tenaga dalam hebat pun tidak akan bisa melindungi bagian ini. Maka begitu menerima serangan telak, orang itu berteriak ngeri dan langsung terjerembap.

Dua orang di kanan serta satu orang di depannya secara bersamaan melancarkan pukulan keras mengarah wajah. Ginggi secepat kilat menarik wajahnya ke belakang sambil tubuh sedikit jongkok, secepat kilat juga kaki kirinya melayang dari samping kiri menyabet setengah lingkaran ke samping kanan. Tiga orang penyerangnya harus meloncat ke atas secara bersamaan kalau tidak mau kaki-kaki mereka tersapu serangan kaki kiri Ginggi. Sambil kaki kiri menyapu, tangan kirinya melakukan sodokan lurus ke arah satu penyerang.

Dua kepalan tangan beradu, dan akibatnya pihak penyerang menjerit ngeri karena sambungan tulang jari-jari tangannya seperti terlepas karena tonjokan kepalan tangan Ginggi. Pemuda itu melakukan serangan susulan berupa tamparan tangan kanan.

Plak!

Jerit kedua kalinya dari mulut orang itu terdengar yang diakhiri dengan terpentalnya tubuh. Orang itu meloso tak bisa bangun lagi. Tiga orang yang tersisa tampak ragu-ragu akan kemampuannya. Namun, Ginggi harus melumpuhkan semuanya, sebab bila satu orang saja lolos, maka semua teman-temannya ini akan segera mengetahui tindakan sabotasenya. Melihat nyali ketiganya sudah pudar, Ginggi melakukan serangan cepat. Hanya dengan menggunakan tendangan beruntun yang dilakukan kaki kanannya, ketiga orang itu mengeluh setengah menjerit ketika ulu hati mereka masing-masing menerima sapuan kaki. Tubuh mereka terpental ke semak-semak.

Dalam waktu singkat, lima orang bergeletakan malang melintang. Namun, sebelum meninggalkannya, Ginggi memeriksa tubuh mereka satu per satu. Tidak seorang pun yang mati, mereka hanya pingsan karena rasa sakitnya saja. Ginggi merasa hatinya tenang karena tidak membunuh orang-orang itu. Namun, anggota pasukan yang diduga orang-orang Ki Sunda Sembawa juga terdapat di sana-sini. Di setiap tempat terlindung, pasti Ginggi temukan regu-regu kecil dengan tindak-tanduk mencurigakan. Gerakan mereka lincah dan selalu siaga penuh, namun berpakaian seperti petani. Beberapa regu itu Ginggi lumpuhkan dengan serangan gelap. Namun, pemuda itu merasa tak mungkin seluruh anggota pasukan gelap itu dia kalahkan dengan tangannya sendiri, apalagi dia harus mampu melumpuhkan mereka dengan diam-diam. Tidak apa-apa, yang penting kekuatan mereka sedikit berkurang, pikir Ginggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment