Chapter 12
"Nanti orang sekampungmu mengepungku!" kata Ginggi.
Kakinya mencari-cari pijakan, persis orang buta.
Nyi Santimi tertawa cekikikan sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.
Mereka berjalan lagi, mengobrol sana-sini tapi masih seputar urusan tadi.
"Pantas saja kedua pemuda itu tadi semalam sangat angkuh padaku," gumam Ginggi teringat kembali peristiwa semalam di gardu.
"Nanti malam ada pertunjukan pantun, Kang!" kata Nyi Santimi sebelum tiba di rumah.
"Pantun, apakah itu?" Ginggi mengerutkan dahi.
"Seni bercerita dilantunkan dengan lagu merdu.
Eh, darimana sih asalmu, kok tidak kenal kesenian pantun?" tanya Nyi Santimi heran.
Ginggi hanya tersenyum kecil.
"Semua orang nanti malam akan keluar di saat bulan purnama.
Di antaranya akan nonton pantun, sebagai selamatan panen telah terpetik," kata Nyi Santimi pula.
"Kalau begitu engkau pasti keluar rumah juga, ya?" Ginggi menatap gadis berbibir tipis itu dari sisinya.
Si gadis mengangguk.
"Pasti nonton pertunjukan pantun juga?" Kembali Nyi Santimi mengangguk.
Berseri wajah pemuda itu.
Ada senyum tersungging di bibirnya.
Lantunan Ki Juru Pantun Benar seperti perkataan Nyi Santimi, malam ini di saat bulan benderang, penduduk desa keluar rumah.
Para gadis dan jejaka, malam itu diberi waktu untuk bertemu.
Bahkan anak-anak kecil, diperbolehkan main di halaman.
Tapi, baik anak remaja maupun anak kecil semua bermain bersama.
Gadis-gadis remaja tampak saling olok dengan sesamanya, dan sesekali mengolok-olok serombongan pemuda yang datang bertandang.
Terdengar jerit dan tawa di antara mereka yang saling berkejaran.
Ginggi senang sekali melihat keramaian malam ini.
Ini barangkali pemandangan pertama baginya, melihat orang berseliweran di terang bulan, dengan perasaan riang gembira.
Ginggi senang menyaksikan gadis yang elok-elok, digoda oleh para jejaka yang tampan-tampan.
Mereka berpakaian bersih dan rapi.
Yang gadisnya berkebaya dan berkain warna hitam nila, begitu pun para jejaka, berbaju salontreng, bercelana pokek dan berikat kepala lohen. Beberapa di antaranya ada yang memakai ikat pinggang besar terbuat dari kulit.
Tapi kaum jejaka hampir semuanya menggunakan kain sarung poleng, apakah itu digunakan semacam selendang yang dikenakan di bahu, atau diikatkan di pinggang mereka.
Ginggi punya kesempatan menikmati keindahan malam ini.
Ada obor terpancang, berjajar sepanjang jalan utama kampung dan berakhir di bale gede tempat orang berkumpul.
Tadi pagi, Rama Dongdo pun sudah mengizinkan dia untuk melihat keramaian ini.
"Asalkan kau sanggup menahan hati untuk tidak terlibat keributan seperti tadi pagi," kata Rama.
Ginggi hanya menunduk.
Dia merasa tak perlu membeberkan kejadian tadi, sebab dianggapnya hanya akan mengeruhkan suasana.
Rama Dongdo mengabarkan bahwa para tokoh di desa ini tak keberatan bila dia akan ikut bekerja di sini.
Izin ini juga termasuk datang dari Ki Kuwu.
"Karena urusan perbedaan sikap dalam menentukan agama, sebetulnya dari desa ini banyak tenaga cakap pergi mengembara.
Yang mencintai agama baru, mendekatkan diri ke pusat Kerajaan Talaga, atau bahkan ke Cirebon sana.
Yang masih setia kepada agama lama, pergi ke wilayah barat, mendekati Pakuan.
Kalau aku boleh bicara, sebetulnya yang tinggal di sini kebanyakan hanya yang punya sikap di tengah saja.
Mereka adalah yang sanggup membiarkan agama lama hidup, namun juga tak berkeberatan adanya agama baru muncul.
Bisa kau saksikan nanti malam, akan ada orang berdoa dengan gaya agama lama, tapi ada juga yang melakukan sembahyang dengan cara agama baru," kata Rama Dongdo.
"Kami bersyukur, di desa ini sekarang berkumpul orang-orang yang tidak mempertentangkan jenis keyakinan.
Tapi juga kami sedih, bahwa banyak orang muda yang cakap meninggalkannya.
Padahal menjelang acara besar seperti panen tahun ini, kami butuh tenaga banyak," kata Rama Dongdo lagi.
"Kalau pun aku bersedia membantu, sebetulnya aku tak memiliki kecakapan apa-apa.
Tapi biar pun begitu, aku ingin tahu, pekerjaan macam apakah itu?" tanya Ginggi.
Rama Dongdo menerangkan, bahwa Desa Cae ini kedudukannya terjepit.
Di lain pihak, ibu negeri Karatuan Talaga sudah masuk pengaruh Cirebon, artinya sudah melepaskan diri dari kekuasaan Pakuan.
Akan tetapi di lain pihak, masih ada kelompok berpengaruh di desa ini masih menyegani nama besar Pakuan dan berupaya mengirim seba atau upeti ke Pakuan.
"Kami sama-sama menahan diri untuk tidak pecah sesama tokoh.
Jadi, akhirnya semua kebijaksanaan kami lakukan.
Tiga hari yang akan datang ada rombongan seba berangkat dari Desa Cae ini.
Kami butuh tenaga banyak untuk memikul barang-barang seba," kata Rama Dongdo.
"Bila hanya untuk memikul barang saja, aku sedia, Rama!" kata Ginggi.
Tapi Rama Dongdo menghela napas dalam.
"Ada sesuatu yang dirisaukan, Rama?" tanya pemuda itu.
Rama Dongdo kian mengerutkan dahinya.
"Untuk mengangkut barang seba, sebetulnya kami tidak sekadar membutuhkan orang yang bertenaga kuat saja, tapi juga kami butuh orang yang sanggup melindungi keselamatan barang-barang itu sendiri," tuturnya.
Ginggi menatap tajam, belum mengerti apa yang dimaksud orang tua ini.
"Sudah aku katakan, hanya di kampung ini saja beda pendapat bisa diredam.
Akan tetapi di luar kampung suasana lain lagi.
Kelompok yang tak setuju kami mengakui Pakuan, selalu mengganggu perjalanan kami.
Mereka mencegat, merampok, bahkan membunuh petugas yang berani melawan," keluh Rama Dongdo dengan sedih.
Meneguk minuman di atas sebuah lumur (sejenis cangkir yang terbuat dari bumbung bambu) dan menghela napas. "Dengan kata lain, mengirim seba ke Pakuan itu taruhannya bisa nyawa.
Begitu, Rama?" tanya Ginggi.
Rama Dongdo mengangguk. "Orang-orang dari negara agama baru kah pelaku perampokan itu?" tanya Ginggi lagi.
Rama Dongdo tidak mengiyakannya.
"Sulit untuk menebak bahkan menuduhnya.
Kata petugas yang pernah mengalaminya, para penjahat itu bertampang kasar dan bengis.
Tidak layak ditampilkan oleh orang yang mengaku memiliki agama sempurna.
Kalau para perampok itu bukan dari kelompok agama baru, aku percaya, sebab dalam suasana permusuhan antara Pajajaran dan Cirebon, sebetulnya banyak kelompok memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.
Orang-orang dari agama baru mungkin saja tak setuju kami mengirimkan seba ke Pakuan.
Namun ketidaksetujuan mereka, dimanfaatkan oleh orang-orang yang memancing di air keruh.
Mungkin saja yang mencegat dan merampok sebenarnya hanya bertindak atas dasar keserakahan saja.
Mereka hanya penjahat biasa saja," tutur Rama Dongdo panjang lebar.
Ginggi termenung mendengar penjelasan ini.
Setelah agak lama suasana membisu, Ginggi bertanya, "Rama, aku ini pengembara.
Sedikitnya, ada beberapa berita yang sampai ke telingaku," katanya.
"Apa saja itu?" "Bahwa susuhunan di Pakuan sekarang sebetulnya sudah tak pantas dianggap panutan lagi.
Dia sudah tak mampu mempertahankan kebesaran Pajajaran seperti para pendahulunya.
Bukan tak mampu menghadapi serangan musuh dari luar, sebab hingga saat ini, kendati jumlahnya terus berkurang, namun tembok benteng Pakuan masih dijaga perwira dan jagabaya yang pandai-pandai.
Yang dirasakan ambarahayat Pajajaran sekarang, bahwa katanya para penguasa di Pakuan tak sanggup melawan musuh dari dalam hati sendiri, yaitu hawa nafsu.
Betulkah itu, Rama?" tanya Ginggi panjang lebar.
Mendapat pertanyaan serupa ini, Rama Dongdo batuk-batuk kecil.
Untuk beberapa lama dia tak sanggup menjawabnya.
Namun pada akhirnya, biar pun pelan dan datar, dia berujar juga.
"Tidak salah apa yang kau katakan, Sang Prabu Ratu Sakti banyak melakukan hal-hal yang sebetulnya menyinggung perasaan rakyat," katanya menghela napas panjang.
"Kami saban tahun masih sanggup menghasilkan panen.
Juga saban tahun masih bisa mengadakan pesta selamatan akan keberhasilan panen.
Namun setiap tahun berlalu, tiap itu pula kebahagiaan kami berkurang.
Hasil panen biar pun jumlahnya tetap sama, tapi tak menimbulkan kebahagiaan.
Pesta selamatan yang dulu dilakukan berhari-hari, kini hanya dilakukan secara sederhana saja.
Bukan tak ada yang mesti kami pestakan.
Akan tetapi karena sebagian besar harus diabdikan untuk seba, maka kegiatan untuk selamatan bahkan untuk kekayaan berlebih kami, banyak berkurang," kata Rama Dongdo.
Ini adalah penjelasan yang kesekian kalinya yang diterima pemuda itu.
Persis seperti apa kata Ki Darma tempo hari, bahwa rakyat Pajajaran sekarang dirundung malang karena ulah rajanya.
"Heran sekali, kalau ternyata Raja bersifat tak bijaksana, mengapa Rama memaksakan diri untuk tetap setia kepada Raja?
Tidakkah Rama memilih biluk (memihak) saja ke Talaga dan ke Cirebon sana?" tanya Ginggi.
Ada senyum pahit menghiasi mulut orang tua itu yang kumisnya sudah banyak dihiasi uban.
Sekali lagi Rama Dongdo menghela napasnya dalam-dalam.
"Mikukuh Dasa Perbakti yang terdapat dalam agamaku mengatakan bahwa seseorang harus mentaati orang lain karena kedudukannya.
Anak harus taat kepada ayah, istri taat kepada suami, kaula atau rakyat harus taat kepada penguasa, murid taat kepada guru, petani taat kepada wadha, wadha taat kepada mantri, mantri taat kepada nu nangganan, nu nangganan taat kepada mangkubumi, mangkubumi kepada ratu dan ratu taat kepada dewata, dewata taat kepada hyang sebagai penguasa tunggal di jagat raya ini.
Semuanya harus dijalankan agar kehidupan bermasyarakat dan bernegara berjalan lancar.
Dan aku sebagai kaula, sebagai rakyat, jelas harus mentaati kebijaksanaan Raja," kata Rama Dongdo.
"Akan tetapi, bila Raja tak sanggup menerima rasa taat kaulanya dengan kebijaksanaan agung, kehidupan tak akan berjalan dengan baik," potong Ginggi.
"Mungkin begitu.
Tapi biarlah pengalaman jadi guru yang utama bagi semua orang, termasuk bagi raja itu sendiri.
Bagaimana akibatnya bila raja tak melakukan tapa bagi negaranya.
Kita sebagai rakyat, tak boleh keluar dari sendi-sendi aturan.
Sebab begitulah, kalau semuanya ikut melenceng, maka semua kehidupan tak berguna.
Lagipula, ada yang harus diingat rakyat, kalau pun dia mengabdi, bukanlah mengabdi karena raja, tapi karena negara.