Chapter 120
Hal yang membuat Ginggi heran adalah ketika ia tiba di sebuah tempat bersemak. Ia melihat begitu banyak orang bergeletakan. Ketika pemuda itu memeriksa, hatinya merasa aneh karena tidak satu pun dari mereka tewas, melainkan hanya pingsan. Mereka pingsan karena menderita pukulan telak pada bagian yang vital. Pukulan itu tampaknya dilakukan oleh seorang ahli.
Orang-orang yang pingsan itu berjumlah belasan, dan semuanya berbekal senjata yang belum siap digunakan. Ginggi menduga mereka adalah anggota pasukan Ki Sunda Sembawa. Yang menjadi pertanyaan adalah oleh siapa mereka dibuat tidak sadarkan diri? Ginggi terus menyusuri semak belukar dalam upaya mendekati tepi telaga. Ternyata di bagian lain, orang-orang pingsan masih bergeletakan hingga hampir ke wilayah tepi telaga.
Benar-benar hebat pelakunya. Orang itu berhati mulia; meskipun memukul, ia tidak mengakibatkan cedera berat pada korbannya, kecuali pingsan karena gangguan urat darah, dan pada waktunya mereka akan sadar kembali. Namun, siapa pun orang itu dan apa maksudnya, hal tersebut jelas sangat meringankan tugas Ginggi. Mereka yang berusaha menyelundup ke tepi telaga ini semuanya adalah orang-orang pandai. Mungkin mereka bekerja terpisah untuk menyelesaikan tugas khusus. Tugas apakah itu? Mungkinkah tugas untuk membunuh Raja?
"Pagi hari di Telaga Rena Mahawijaya." Begitu jelasnya isi sandi ini. Pagi hari memang waktunya Raja mengadakan mandi suci di Telaga Rena. Kalau sandi ini diartikan sebagai saat yang tepat untuk membunuh Raja, memang sangat beralasan. Yang datang ke tepi telaga hanya orang-orang khusus saja, kemungkinan hanya dikawal beberapa orang kepercayaan, dan situasinya tepat untuk penyerangan. Namun, siapa yang akan menyerang? Sejauh ini Ginggi tidak mengetahuinya. Kalau Ginggi menaati keinginan Ki Banaspati, sebetulnya itu adalah tugasnya. Tapi, Ginggi yakin Ki Banaspati sudah memindahkan tugas berat itu kepada orang lain.
Akhirnya, Ginggi tiba di wilayah tepi telaga. Telaga itu tidak terlalu luas dan membentuk tapal kuda. Ginggi senang melihat air telaga yang demikian jernih; menyenangkan bila digunakan untuk mandi atau diminum saat haus. Namun, keindahan tempat ini kini tengah dibayang-bayangi peristiwa yang akan mengundang maut dan kemelut. Bisakah ia seorang diri mencegah peristiwa besar ini? Melalui semak-semak, Ginggi menyaksikan ke suatu tempat.
Di tepi telaga sebelah kanan, dilihatnya banyak orang mandi. Mereka mandi begitu saja tanpa melepas baju, sambil menaburkan bunga warna-warni di tepiannya. Yang ditaburi bunga adalah Sang Prabu Ratu Sakti beserta keluarganya. Mereka mandi dengan tertib dan serius. Tidak ada canda ria atau cekikikan. Mereka melakukan upacara mandi dengan penuh perhatian, diiringi lantunan doa Purohita Ragasuci dan para wiku lainnya. Asap dupa kemenyan mengelul ke udara disertai bau harum semerbak. Upacara ini disaksikan oleh puluhan perwira dan belasan pejabat yang khusyuk menyimak.
Namun dari jarak agak jauh, Ginggi melihat satu orang menyaksikan upacara ini dengan tindak-tanduk mencurigakan. Dia tidak lain adalah Kandagalante Sunda Sembawa. Bila yang lainnya dengan saksama memperhatikan ke arah permukaan telaga, Ki Sunda Sembawa justru sesekali dengan gelisah melirik ke kiri dan ke kanan. Terkadang ia menengadah ke tempat yang jauh.
Darah Ginggi berdesir. Yang dilihat Ki Sunda Sembawa adalah daerah bersemak yang diketahui Ginggi berisi banyak orang pingsan. Lirikan Ki Sunda Sembawa ke arah itu menunjukkan bahwa dia tengah menunggu sesuatu dengan penuh harap yang mungkin datang dari arah tersebut. Manakala upacara mandi suci hampir selesai, kegelisahan Ki Sunda Sembawa semakin memuncak.
Akhirnya, upacara mandi suci selesai. Raja beserta seluruh keluarganya berkemas untuk menuju darat dan disambut oleh para pembantunya. Ada yang tergopoh-gopoh menyodorkan pakaian kering, ada pula yang ingin membantu Raja naik ke darat. Namun, di antara mereka, terdapat Ki Sunda Sembawa yang diiringi empat pengawal raja. Anehnya, Ki Sunda Sembawa menghambur menuju tepi telaga dengan keris terhunus. Begitu pun keempat perwira yang berlari di belakangnya, mereka bergerak cepat sambil menghunus pedang yang mengilap.
Tidak ada waktu bagi Ginggi kecuali berteriak keras sambil melompat keluar dari semak.
"Sang Prabu! Awas!!!" teriak Ginggi.
Pemuda itu menghambur seperti terbang. Ia harus berlomba dengan Sunda Sembawa dalam upaya mendekati Raja. Ki Sunda Sembawa ingin mendekati Raja terlebih dahulu untuk membunuhnya, sementara Ginggi punya maksud sebaliknya. Puluhan perwira lainnya dengan kaget segera bergerak pula. Sebagian mencoba mengejar Ki Sunda Sembawa, tetapi sebagian besar menghadang Ginggi.
"Tangkap pemberontak Ginggi! Dia akan membunuh Sang Prabu!" teriak penghadang.
"Tangkap anak buah Ki Darma!"
"Bunuh Ginggi!"
Teriakan itu muncul dari mulut beberapa perwira, termasuk perwira yang tadi lari di belakang Ki Sunda Sembawa. Ginggi tidak tahu apakah mereka perwira setia kerajaan atau sekutu Ki Banaspati. Untuk mengacaukan perhatian, sekutu pemberontak bisa saja berteriak seperti itu agar perwira setia teralihkan perhatiannya dari Raja. Namun, terlepas dari itu semua, pemuda tersebut kesal sebab upayanya untuk menggagalkan penyerangan terhambat.
Para perwira yang menghadangnya ada sekitar dua belas orang dengan senjata lengkap. Ketika Ginggi berlari cepat menuju tepi telaga, dua belas perwira itu pun memburunya. Padahal di belakang mereka, Sang Prabu tengah terancam bahaya karena Ki Sunda Sembawa dengan keris terhunus terus mengejar ke mana pun Sang Prabu lari. Sementara di belakang Ki Sunda Sembawa, empat orang berpakaian perwira berlari dengan pedang terhunus.
Barangkali para perwira lainnya terkecoh. Mereka menyangka empat orang perwira yang berada di belakang Ki Sunda Sembawa tengah mengejar pejabat itu guna menggagalkan pembunuhan. Padahal Ginggi tahu betul keempat perwira itu sudah menjadi anak buah Ki Sunda Sembawa. Para pengawal setia Raja malah meninggalkan Sang Prabu dan menitikberatkan usaha untuk menghadang Ginggi karena teriakan tadi.
Dengan pedang terhunus, belasan perwira memburunya. Melihat mereka berlari kencang ke arahnya, Ginggi tidak menghindar, melainkan berlari kencang ke arah mereka. Namun, beberapa depa sebelum berpapasan, Ginggi segera menotol tanah dengan sekuat tenaga. Tubuh Ginggi meloncat tinggi melampaui kepala mereka, dan sepasang kakinya langsung terjun ke permukaan telaga.
Di tepian, kedalaman air hanya sebatas betis. Begitu kakinya masuk ke air, pemuda itu menggerakkan sepasang tangannya. Ia memukul ke arah Ki Sunda Sembawa dengan pengerahan tenaga dalam. Air muncrat seolah ada ledakan dahsyat dari dasar telaga saat pukulan tenaga dalam itu dikerahkan oleh Kandagalante Sagaraherang tersebut. Namun, kendati serangan Ginggi gagal, setidaknya hal itu menghambat serangan Ki Sunda Sembawa terhadap Raja.
"Sunda Sembawa, apa yang engkau lakukan ini?" teriak Sang Prabu, marah bercampur heran melihat tindakan Ki Sunda Sembawa yang aneh.
Ki Sunda Sembawa tidak menjawab, melainkan kembali melakukan serangan. Sambil melompat tinggi, tubuhnya melayang ke arah posisi Sang Prabu. Yang diserang bergerak ke samping dengan sangat lamban. Di samping kedalaman air di sana hampir mencapai dada, Sang Prabu juga tampak kaget dengan serangan ini. Terdengar jerit ketakutan dari para wanita yang ada di air telaga.
Beberapa pengawal Raja yang ada di sekitar permukaan telaga berlari di atas air setinggi perut dan dengan bingung mencoba melakukan pengawalan. Mereka berjumlah sepuluh orang. Mereka tampak bingung siapa yang harus dikawal sepenuhnya. Bila semua mendekati Raja, maka keluarga Raja ditinggalkan, padahal empat perwira anak buah Ki Sunda Sembawa sudah mendekat dan tampak hendak mengancam keselamatan Raja.
Akhirnya, para pengawal mengambil inisiatif masing-masing. Beberapa orang berusaha melindungi Raja, sementara yang lain melindungi keluarga Raja yang tampak panik.
"Ki Sunda Sembawa memberontak! Ki Sunda Sembawa memberontak!" teriakan ini keluar dari mulut para pejabat lain yang sejak tadi berderet di tepi telaga. Namun, teriakan ini tidak berlangsung lama karena beberapa pejabat lain serentak menghunus senjata dan menyerang para pejabat yang diketahui sebagai pendukung Raja.
Sekarang perkelahian kecil terjadi di sana-sini. Di atas daratan, para pejabat saling serang. Satu kelompok yang pasti sudah menjadi sekutu Ki Sunda Sembawa menyerang kelompok lainnya, sehingga mereka saling bunuh. Sementara itu, keempat perwira sudah mulai berhadapan dengan enam orang pengawal keluarga Raja. Mereka berkelahi menggunakan senjata tajam. Para pengawal keluarga Raja tampak dibantu oleh seorang pemuda tampan yang dikenal Ginggi sebagai Sang Lumahing Majaya, putra terkasih Raja dari salah seorang selirnya. Pemuda elok itu memiliki kepandaian, namun tingkatannya tampak berada di bawah para penyerangnya. Selintas Ginggi melihat, pemuda itu cepat sekali terdesak oleh serangan seorang perwira.