Chapter 121
Apalagi pemuda elok itu hanya menggunakan keris, sedangkan penyerangnya menggunakan pedang. Kalau pertempuran dilakukan satu lawan satu, dalam waktu singkat Sang Lumahing Majaya pasti akan kalah. Hanya beruntung jumlah pengawal keluarga raja lebih banyak ketimbang para penyerangnya. Antara pengawal dan pemuda itu bisa saling mengisi dan saling menutupi kekosongan.
Sementara itu, Ginggi sudah terlibat perkelahian dengan Ki Sunda Sembawa. Kandagalante dari Sagaraherang ini demikian kaget dan marah melihat Ginggi berdiri di pihak Raja. Ginggi tak tahu apakah kekagetan Ki Sunda Sembawa ini karena sebelumnya tak menduga atas sikap Ginggi sekarang atau bukan. Yang jelas, ada sinar kebencian Ki Sunda Sembawa yang terpancar di matanya.
"Pengkhianat engkau! Aku harus membunuhmu! Aku harus membunuh engkau!" teriak Ki Sunda Sembawa dengan geram.
Ginggi sekarang agak tenang sebab Sang Prabu sudah terlindungi oleh para pengawalnya. Kalau Ki Sunda Sembawa memaksa hendak menyerang Raja, rasanya sudah tak semudah itu. Rupanya Ki Sunda Sembawa pun merasakan situasi ini. Itulah sebabnya pejabat itu kini seperti menimpakan kemarahannya kepada Ginggi. Dengan gerengan keras, Ki Sunda Sembawa berlari di antara air sebatas dada dan mengarahkan serangan terhadap Ginggi.
Perkelahian satu lawan satu terjadi antara Ginggi dan Ki Sunda Sembawa. Dalam pertempuran itu, Ginggi tampak menjadi pihak yang terdesak. Hal ini karena di samping Ki Sunda Sembawa begitu bernafsu untuk membunuh Ginggi, juga karena Ginggi sendiri hanya bermain kelit saja. Pemuda itu tak secuil pun punya niat membunuh Ki Sunda Sembawa. Tujuan semula hanyalah hendak mencegah pembunuhan terhadap Raja saja. Dia pun tak berniat melumpuhkan atau mengalahkan Ki Sunda Sembawa; biarlah dia ditangkap para pengawal Raja. Namun, Ginggi merasa heran, ternyata dia dibiarkan berkelahi sendirian. Belasan pengawal yang sudah berdiri kokoh dengan air telaga sebatas dada itu hanya menyaksikan saja dan seperti tak punya minat membantu Ginggi.
"Kubunuh engkau, pengkhianat! Kubunuh engkau, manusia dungu!" teriak Ki Sunda Sembawa. Dia menjadi semakin marah manakala melihat ke samping; keempat perwiranya telah tewas mengambang di permukaan telaga. Keempat orang itu rupanya tak mampu melawan kepungan para pengawal. Tadi saja ketika mereka menghadapi enam orang pengawal ditambah tenaga putra mahkota Sang Lumahing Majaya, telah begitu sulitnya untuk segera menerobos pengawalan. Apalagi ketika datang bala bantuan belasan pengawal dari darat. Maka ketika tenaga bantuan datang, keempat perwira itu tak mampu bertahan lagi. Mereka tewas dalam membela ambisi tuannya, yaitu Sunda Sembawa.
Belasan perwira kerajaan yang turun ke permukaan telaga sekarang jumlahnya kian bertambah oleh belasan atau bahkan puluhan perwira yang ikut turun memperkuat pengawalan. Perkelahian Ginggi dan Ki Sunda Sembawa di air telaga sepertinya kini berada di tengah kepungan para perwira. Semuanya membuat lingkaran dalam keadaan siaga, kendati sikap mereka hanya mengawasi perkelahian saja.
Sebetulnya kepandaian Ginggi berada di atas Ki Sunda Sembawa. Namun, karena sikap pemuda itu yang mengalah, pertempuran sepertinya seru dan berimbang. Ki Sunda Sembawa dengan ganasnya membuat tusukan dan sabetan dengan kerisnya, sedangkan Ginggi yang bertangan kosong hanya berkelit dan memutar untuk menghindarkan berbagai serangan dahsyat itu. Banyak dugaan mengapa Ginggi dibiarkan berkelahi seorang diri. Ini mungkin karena para perwira tak merasa berkepentingan membantu Ginggi. Hampir semua perwira sepertinya mengetahui bahwa Sang Prabu telah memerintahkan agar pemuda itu ditangkap. Kalau ada yang turun tangan menangkap Ki Sunda Sembawa, sepertinya mereka membantu Ginggi. Mereka seperti tengah membuat siasat; biarlah dua serigala berebut mangsa, siapa yang menang, giliran dirinya yang diserang. Mungkin para perwira pun tengah menunggu hasil pertempuran.
Sialan, pikir Ginggi. Karena merasa Raja telah terselamatkan, ada terbetik dalam benak Ginggi untuk meloloskan diri saja dari kepungan dan membiarkan Ki Sunda Sembawa seorang diri di sana. Tapi ketika pemuda itu melihat ke darat, di sana ada puluhan pasukan panah dan semuanya telah siap melepas anak panah dari busur. Bergetar hati Ginggi, sebab Ki Darma pernah berkata bahwa Pasukan Panah Pajajaran sungguh hebat. Sementara di tempat lain, sudah terlihat puluhan korban bergelimpangan. Korban-korban itu bercampur-baur; ada para pejabat bergeletakan, ada juga tubuh para perwira dan prajurit biasa.
Ginggi sedikit waswas melihat jajaran pasukan pemanah itu. Mereka sudah dalam keadaan siap melepas anak panah. Siapa yang akan mereka serang? Dirinyakah? Ki Sunda Sembawakah? Atau keduanya? Celaka, pikir Ginggi. Usaha untuk melarikan diri menuju daratan rupanya sudah tertutup rapat oleh barisan panah. Ke arah mana Ginggi harus melarikan diri? Sementara itu, Sang Prabu beserta keluarganya sudah dibimbing untuk meninggalkan telaga. Mereka dikawal ketat oleh puluhan perwira.
"Mana para pengawal lain? Mengapa yang ada di sini hanya puluhan orang?" teriak Sang Prabu gemas dan marah.
"Ampun Paduka, di puncak bukit pun tengah terjadi pertempuran. Secara tiba-tiba ada gemuruh sorak-sorai pasukan asing. Nah, dengarkan Paduka! Mereka mulai menyerang!" teriak seorang perwira dengan suara parau.
Mendengar berita ini, Ki Sunda Sembawa berhenti menyerang Ginggi. Kepalanya dimiringkan seperti ingin mendengar suatu suara. Padahal, sudah sejak tadi Ginggi mendengar suara gemuruh banyak orang. Inilah saat penyerbuan pasukan dari timur. Mereka ternyata datang dari punggung Bukit Badigul sebelah selatan. Dan melihat pasukan pengawal Raja di sini jumlahnya sedikit, ada kemungkinan mereka pun sudah tahu akan ada penyerangan pasukan misterius itu. Mereka pasti tengah menghadangnya di puncak bukit, atau bahkan mungkin sudah saling berhadapan.
"Hahaha! Mereka datang! Mereka datang! Hahahaha!!" Ki Sunda Sembawa berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
"Sunda Sembawa, apa ini artinya?" teriak Sang Prabu sambil menghentikan pasukan pengawal agar tak melanjutkan langkah menuju daratan.
"Artinya, kejatuhan dirimu terjadi hari ini. Besok pagi di saat matahari bersinar cerah, yang menjadi Raja di Pakuan adalah Sang Prabu Sunda Sembawa!" kata Ki Sunda Sembawa dengan congkak.
"Jangan sombong, Sunda Sembawa. Engkau melawan keinginan Sang Rumuhun. Sebentar lagi engkau akan tewas di sini. Tidak sadarkah kendati engkau membawa pasukan begitu banyaknya dari wilayah timur, tapi kau sendirian di tepi telaga ini? Kau lihat ke darat, puluhan pasukan panah sudah siap menghadang!" kata Sang Prabu tenang.
Ucapan ini ditimpali oleh suara tertawa keras Ki Sunda Sembawa. "Engkau Raja dungu, sebab engkau hanya merajai istana kosong belaka. Hampir sebagian besar penghuninya sudah bersujud kepada Prabu Sunda Sembawa!" kata Ki Sunda Sembawa diiringi tawa keras.
Antara percaya dan tidak kepada ucapan ini, Sang Prabu Ratu Sakti segera mengajak para pengawalnya untuk mendekati daratan. Berusaha mencapai daratan berarti mendekati jajaran puluhan anggota pasukan berpanah. Dan Ginggi terperangah kaget manakala dari daratan serentak berhamburan puluhan panah yang dilepas dengan kepandaian khas.
"Awas serangan panah!!!" teriak Ginggi ke arah para pengawal Raja.
Mereka pun amat terkejut dengan peringatan ini sebab tidak menduga sedikit pun bahwa para anggota pasukan pemanah itu mengarahkan sasaran ke arah Sang Prabu Sakti. Serentak belasan orang melindungi Raja beserta keluarganya. Puluhan anak panah yang datang menyerang mereka tepis dengan senjata pedang. Tapi anak panah datangnya beruntun. Ada beberapa perwira yang tak sanggup menepis dengan baik dan menjadi sasaran empuk panah-panah itu. Ginggi menghitung, dalam dua gerakan penyerangan, lima perwira terjungkal karena dadanya tertembus panah. Namun para perwira pengawal begitu setia terhadap Raja; lima orang terjungkal, segera tergantikan oleh belasan perwira yang lain. Dengan gagah berani mereka melayangkan pedangnya ke kiri dan kanan sekalipun beberapa orang di antara mereka sudah ada yang terjungkal lagi.
Para wanita dan selir Raja berteriak histeris karena rasa takut dan tegangnya. Tiga wanita jatuh terjerembap. Dua orang karena saking takutnya, tapi seorang wanita jatuh karena anak panah menembus perutnya. Sang Prabu berteriak-teriak histeris dengan kejadian ini. Dia mencoba melepaskan diri dari kawalan dan akan menghambur mendekati Ki Sunda Sembawa yang berdiri agak jauh terpisah sambil bertolak pinggang dan tertawa terbahak-bahak.
"Engkau biadab, Sunda Sembawa! Engkau manusia durhaka, jahat, dan tak punya rasa malu!" teriak Sang Prabu. "Lepaskan! Aku sanggup membunuh durjana itu!"
"Hahaha! Lepaskan dia! Dulu engkau perwira kerajaan, tapi kepandaianmu sudah hilang entah ke mana karena tergantikan oleh kebiasaan bermewah-mewah dan main perempuan. Engkau tidak sekuat dulu lagi!" teriak Ki Sunda Sembawa menantang.
Sementara itu, beberapa pengawal sudah berjatuhan lagi karena serangan anak panah. Ki Sunda Sembawa tawanya semakin keras menyaksikan adegan ini, membuat Ginggi sebal hatinya. Ada terpikir untuk memukul jatuh Kandagalante ambisius ini. Namun sebelum niatnya terlaksana, secara tiba-tiba terdengar teriakan ngeri Ki Sunda Sembawa. Ginggi kaget setengah mati sebab tanpa diketahui awal mulanya, dada Ki Sunda Sembawa sudah tertusuk sebuah anak panah. Serangan itu jelas datang dari daratan dan dilepas oleh pasukan pemanah itu.
Ginggi yang berdiri terpaut dua-tiga tindak dari kedudukan Ki Sunda Sembawa segera melempar tubuhnya ke samping sebab hamburan anak panah datang ke arah dia dan Ki Sunda Sembawa. Ginggi lolos dari serangan karena sudah melempar tubuhnya, tapi Ki Sunda Sembawa tidak. Dia masih berdiri terpaku ketika tiga batang anak panah sekaligus menembus bagian leher dan tangan kanannya.