Chapter 122
Ginggi berdiri kembali, melihat pasukan pemanah dengan kaget. Mengapa mereka menyerang membabi-buta ke sana-kemari? Ginggi menyaksikan Sang Prabu Ratu Sakti masih tetap menjadi incaran serangan anak panah, begitu pun dirinya. Sementara itu, tubuh limbung Ki Sunda Sembawa masih terus dihujani anak panah. Ketika tubuh itu terjerembap ke permukaan air telaga, sudah ada belasan anak panah tertancap di sekujur tubuhnya.
Sambil berkelit ke sana-kemari karena anak panah terus berhamburan mengarah padanya, Ginggi melihat tubuh Ki Sunda Sembawa timbul tenggelam di permukaan telaga. Air telaga yang tadinya begitu bening kini telah berubah merah karena darah Ki Sunda Sembawa. Para wanita menjerit histeris karena serangan panah tersebut, sementara para perwira dengan susah payah berusaha menghalau serbuan.
Ada dua orang yang nekat berlari menuju daratan, namun sebelum mereka sampai, tubuh mereka sudah tertembus banyak anak panah. Ginggi berpikir cepat, siapa gerangan pasukan pemanah ini. Dugaannya serentak mengarah pada satu tuduhan: Ki Banaspati. Inilah tujuan Ki Banaspati; dia ingin membunuh Raja sekaligus menyingkirkan Ki Sunda Sembawa agar dirinya sendiri kelak yang memetik kemenangan. Licin, licik, dan buasnya Ki Banaspati.
"Aku harus mencari dia," kata Ginggi dalam hati.
Sambil berkelit, Ginggi melakukan beberapa loncatan. Dia harus mencapai daratan tempat pasukan panah yang berada di bawah pengaruh Ki Banaspati berada. Usaha ini benar-benar untung-untungan sebab hujan panah begitu deras mengancam jiwanya. Namun, lebih baik mati sambil berusaha melawan daripada mati sia-sia di tengah telaga.
Ginggi bergerak memilih saat-saat anak panah dilepas karena pada saat itulah ada kekosongan serangan. Usaha ini tidak mudah sebab terdapat tiga barisan pemanah, masing-masing berjumlah dua puluh orang yang secara bergiliran melepaskan anak panah. Untuk menahan hujan anak panah itu, sesekali Ginggi melakukan pukulan jarak jauh dengan mengerahkan tenaga dalam. Namun, itu hanya dilakukan sesekali karena jika terlalu diobral, justru akan mencelakakan dirinya sendiri.
Sebuah anak panah menancap di bahunya. Tidak terlalu dalam, tapi sakitnya terasa mengganggu gerakannya. Ginggi tidak berani mencabutnya karena khawatir lukanya semakin melebar dan darah akan lebih banyak keluar. Sekarang Ginggi sudah berada di bagian air yang dangkal, sebatas betis. Serbuan anak panah datang sejajar dengan tubuhnya. Untuk menghindar, Ginggi harus meloncat ke udara melebihi ketinggian serangan itu. Dia harus menghitung waktu dengan tepat.
Ketika barisan pemanah melepaskan serangan mendatar, Ginggi segera meloncat dan bersalto di udara. Serangan pertama gagal total, dan barisan pemanah kedua tampak bingung. Mereka harus memiringkan busur, namun sulit mengikuti gerakan Ginggi yang naik-turun. Ketika anak panah dilepas, arahnya lemah dan tidak tepat sasaran. Begitu Ginggi berdiri di tanah, serangan datang lagi. Kali ini, Ginggi mengirim serangan pukulan jarak jauh dengan tenaga dalam yang besar. Karena jaraknya sudah dekat, pukulan itu bukan saja merontokkan anak panah, tetapi juga menghantam para pemanahnya. Beberapa orang menjerit ngeri ketika tubuh mereka terpelanting ke belakang.
Ginggi tidak memberi kesempatan kepada yang lain untuk memasang anak panah; dia merangsek ke depan dan melucuti busur-busur mereka. Pasukan panah yang dipaksa berkelahi jarak dekat tidak mampu mengimbangi keahlian Ginggi. Dalam sekejap, belasan orang tumbang. Kedudukan mereka semakin terdesak ketika para perwira kerajaan ikut membantu serangan.
Ginggi mengeluh menyaksikan sepak terjang para perwira kerajaan yang menyerang dengan beringas dan penuh kebencian. Mereka menebaskan pedang dengan ganas, bahkan membunuh musuh yang sudah dilumpuhkan Ginggi. Ini bukan lagi pertempuran, melainkan pembantaian. Di tepi telaga, mayat sudah bergelimpangan, mungkin ratusan jumlahnya. Darah berceceran di mana-mana, mengubah kesegaran alam sekitar menjadi tempat yang berbau amis. Merasa usahanya gagal, sisa pasukan panah berpencar untuk menyelamatkan diri.
Ginggi merasa keinginannya menjaga Raja telah terlaksana. Dia bersiap pergi untuk memburu ke puncak Bukit Badigul.
"Hai pengawal! Tangkap pemuda itu!" teriak Sang Prabu Ratu Sakti sambil menunjuk ke arah Ginggi.
Ginggi menoleh. Dengan marah, dia melihat empat orang perwira menghunus pedang dan memburunya. Ginggi sengaja berlari mendekat ke arah mereka, lalu tiga depa sebelum bentrokan, dia meloncat melewati kepala keempat perwira tersebut. Ginggi bersalto di udara dan mendarat tepat di belakang Sang Prabu. Para pengawal yang melindunginya merasa kesulitan menyerang karena posisi Ginggi yang sangat dekat dengan Sang Raja.
Ginggi segera menelikung tangan Sang Prabu. "Jangan bunuh Raja!" teriak para perwira.
"Bunuhlah aku dari belakang kalau kalian berani!" tantang Ginggi. Para penyerang pun menghentikan gerakannya.
"Sang Prabu, engkau begitu bernafsu menangkapku, apa sebenarnya salahku?" tanya Ginggi marah.
"Engkau punya hubungan dengan Ki Darma, engkau pun pengkhianat!" jawab Sang Prabu.
"Sudah dua kali aku berada di belakangmu seperti ini. Kalau aku benci, sangat mudah bagiku untuk membunuhmu. Engkau terlalu mudah menuding pengkhianat kepada orang yang tidak menyenangkan hatimu. Padahal Ki Darma tidak pernah berniat mencelakakanmu. Lihatlah orang-orang yang gemar membuatmu tenggelam dalam kesenangan; mereka yang manis bicaranya justru mencelakakanmu!" seru Ginggi.
Ginggi mendorong tubuh Sang Prabu ke arah pengawal dan bersiap berlalu.
"Seharusnya hari kemarin engkau beberkan rencana penyerbuan ini, maka tidak akan terjadi korban sebanyak ini!" sahut Sang Prabu.
"Sikapmu merugikan negara!" Ginggi berhenti dan menjawab tanpa menoleh. "Pangeran Yogascitra sudah aku beri tahu dan pasti sudah melaporkannya. Apa yang dia katakan, itulah yang aku ketahui!"
"Tapi Pangeran Yogascitra kurang rinci. Dia tidak tahu siapa pasukan dari timur itu. Banaspati kami kejar tapi dia menghilang. Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta tidak tahu-menahu. Semua orang hanya mencurigai sesuatu karena laporanmu semata. Sampai pagi tadi, tidak ditemukan kekuatan yang diduga akan menyerbu Pakuan. Pengkhianatan Si Sunda Sembawa baru terbongkar sekarang. Itu semua karena kau tidak sungguh-sungguh dalam menyelamatkan negara!" kata Sang Prabu.
Dalam hatinya, Ginggi sedikit membenarkan tudingan tersebut.