Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 123

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 123

Namun, dia sendiri sebetulnya hanya samar mendapatkan data penyerbuan kekuatan dari timur itu. Bukankah semuanya hanya didapat dari perkiraan-perkiraan yang dia baca lewat sandi rahasia? "Akhirnya kita hanya bisa saling menyalahkan. Aku juga menyalahkanmu, mengapa keinginanku, keinginan seorang rakyat, tidak kau penuhi?" kata Ginggi.

"Tapi setidaknya aku tetap cinta Pajajaran, seperti kecintaan Ki Darma yang mau mengabdi tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan pujian. Sekarang, bebaskan aku dari sini sebab aku akan melaksanakan kewajiban sebagai warga Pajajaran. Kalian dengar di atas bukit sana, pertempuran besar tengah terjadi. Aku harus melaksanakan titah Ki Darma, bahwa apa pun yang terjadi di bumi Pajajaran, rakyat tak berdosa jangan sampai jadi korban!" kata Ginggi sambil meloncat pergi, dan nampaknya dia dibiarkan oleh para perwira yang ada di sana.

Untuk tiba di punggung bukit, Ginggi memotong jalan setapak sehingga bisa datang ke tempat itu dengan cepat. Benar saja perkiraannya. Di punggung Bukit Badigul sedang terjadi peperangan yang cukup besar. Punggung bukit itu berupa tegalan atau padang alang-alang dan berbentuk sebuah lapangan. Kata penduduk, Bukit Badigul pada saat-saat tertentu selalu digunakan untuk upacara keagamaan. Tidak dinyana sedikit pun bahwa hari ini, bukit suci ini harus digunakan untuk pembantaian manusia.

Ada sekitar ribuan orang di tegalan itu. Mereka tengah bertempur mati-matian, saling berhadapan satu sama lain, dan sulit memisahkan mana kawan dan mana lawan. Ada prajurit melawan prajurit, ada prajurit melawan rakyat jika menilik jenis pakaian yang dikenakannya. Namun, bila Ginggi ingat kejadian semalam, orang-orang di bawah pimpinan Kandagalante Sunda Sembawa atau Ki Banaspati memang kebanyakan datang dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Kelompok mereka yang mengintai tepi telaga dan berhasil dia lumpuhkan pun semua memakai pakaian rakyat kebanyakan.

Korban sudah berjatuhan. Baik yang tewas maupun yang luka-luka bergeletakan di sana-sini. Di beberapa bagian, tegalan pun sudah berubah menjadi merah karena darah. Pertempuran itu tidak seimbang. Pasukan penyerbu jumlahnya masih lebih sedikit ketimbang Pasukan Pakuan. Lebih dari itu, Pasukan Pakuan sepertinya memiliki tenaga yang lebih terampil ketimbang anggota pasukan penyerbu.

Ginggi dengan perasaan heran bahkan melihat sepak terjang seorang anggota pasukan pemerintah yang nampak aneh dalam melakukan perkelahian. Dia banyak melumpuhkan pasukan penyerbu, tapi sedikit pun tidak berupaya membunuh lawan-lawannya. Berbeda dengan pasukan pemerintah lainnya, dia malah tidak memakai pakaian seragam perwira, melainkan menggunakan pakaian rakyat biasa saja. Jurus-jurus berkelahinya membuat hati Ginggi bergetar sebab dia hafal betul, itulah jurus-jurus yang biasa diperagakan Ki Darma yang dikombinasikan dengan jurus-jurus aneh, namun Ginggi pun telah kenal akan gerakan itu.

"Ki Rangga Guna?" gumam Ginggi dengan perasaan tak tentu. Ginggi mengucek-ucek sepasang matanya kalau-kalau dia salah lihat. Tapi beberapa kali dia menggosok mata, pandangannya tidak berubah. Yang dilihatnya benar-benar Ki Rangga Guna! Ki Rangga Guna masih hidup dan bebas dari kungkungan Ki Banaspati. Ginggi begitu bahagia melihat kenyataan ini. Dia tersenyum seorang diri.

Dia baru mengerti kini, kelompok-kelompok pasukan musuh yang bersembunyi di sekitar telaga pasti telah dilumpuhkan Ki Rangga Guna secara diam-diam. Musuh tak berdaya, tapi tak tewas. Itulah kebiasaan Ki Rangga Guna. Seperti yang diungkapkannya kepada Ginggi, bahwa dia pantang membunuh sebab manusia tak berhak membunuh. Jasa Ki Rangga Guna dalam melumpuhkan para pemberontak cukup besar. Pasukan yang akan membunuh Raja gagal melaksanakan tugasnya karena jauh sebelumnya kekuatan mereka sudah tak utuh lagi. Itu pasti hasil tindak-tanduk Ki Rangga Guna. Sekarang di Bukit Badigul ini, jumlah pasukan musuh jauh berkurang karena Ki Rangga Guna turun tangan ikut melumpuhkan musuh.

Ginggi berpikir, sebaiknya dia pun ikut turun tangan melumpuhkan pihak penyerbu. Bukan tak percaya kepada para prajurit dan perwira Pakuan, sebab tanpa bantuan Ki Rangga Guna atau dirinya, sebetulnya kendati secara perlahan, pihak Pasukan Pakuan akan bisa mengatasi pemberontakan ini. Tapi mengapa Ki Rangga Guna tetap memaksakan diri turun tangan? Barangkali karena dia ingin mengurangi korban tewas. Kalau pihak Pakuan sendiri yang melakukan penyelesaian, maka mereka akan membantai habis pasukan penyerbu. Tapi bila Ki Rangga Guna yang bergerak, musuh hanya akan lumpuh tanpa tewas.

Berpikir sampai di situ, Ginggi pun segera terjun ke arena pertempuran. Dia bertempur di dekat seorang perwira yang begitu ganasnya membabati musuh. Ginggi mencoba mengurangi korban tewas dengan cara mendahului. Setiap musuh yang dekat, sebelum disabet pedang perwira, Ginggi dahului dengan sodokan kepalan atau tusukan jari ke urat saraf lawan, yang penting lawan roboh tak berkutik, tapi nyawanya masih utuh.

Pada mulanya perwira itu mengerutkan dahi dan sedikit kaget karena secara tiba-tiba pemuda itu sudah ada di sampingnya. Dia kaget karena mungkin sudah kenal Ginggi sebagai pemberontak. Namun karena pemuda itu nampak ada di pihaknya, perwira itu malah seperti senang hatinya. "Hahaha! Engkau orang aneh, anak muda!" kata perwira itu di tengah kesibukannya menggerak-gerakkan pedang.

Perwira itu seperti terbawa arus sikap Ginggi, melumpuhkan lawan tanpa bermaksud menewaskannya. Hanya gerakannya saja yang tetap ganas sehingga musuh putus nyalinya. "Mereka hanya terbawa-bawa sikap pemimpinnya saja, jadi tak perlu kita bunuh," kata Ginggi pada perwira itu. "Benar juga. Yang penting, kita harus bisa membekuk biang keladinya!" sahut si perwira sambil menangkis sebuah serbuan ujung tombak.

Batang tombak kutung karena sabetan mata pedang yang demikian runcingnya. Pemilik tombak meringis kecut dan akhirnya lari tunggang-langgang karena takut lehernya kena tebas. Medan pertempuran sudah benar-benar dikuasai pasukan pemerintah. Sebagian tentara musuh melarikan diri serabutan ke berbagai arah. Tapi sebagian besar telah terkepung di tengah-tengah karena mereka terperangkap oleh taktik pertempuran yang disusun oleh para perwira kerajaan.

Bila Ginggi ingat akan keterangan Ki Darma tempo hari, maka inilah siasat perang yang bernama cakrabihwa. Siasat ini digunakan terbalik. Cakra-bihwa biasanya dilakukan bila pasukan terperangkap dalam kepungan musuh. Caranya, di dalam kepungan musuh mereka membentuk lingkaran. Dari lingkaran itu setiap selang dua orang, keluar satu perwira. Tugas mereka adalah berusaha membobol kepungan. Sekarang kedudukan pasukan perwira terbalik. Posisi mereka bertindak sebagai pihak pengepung, yaitu melingkari lawan dan membiarkan mereka ada di tengah. Dari setiap dua orang yang ada dalam lingkaran itu, keluar satu perwira dan mencoba melakukan gempuran.

Namun setiap lawan hendak balik menggempur, perwira itu segera melompat ke belakang dan ganti formasi. Dengan demikian, secara bergantian mereka melakukan penyerangan dan ganti pula melakukan pengawalan, begitu seterusnya, membuat musuh yang dikepung merasa kebingungan. Ginggi menghitung lebih dua ratus orang yang terperangkap siasat perang cakra-bihwa ini. Kedudukan mereka semakin terhimpit sebab jumlah pihak pengepung bahkan lebih dari enam ratus orang.

Ketika lingkaran semakin kecil, maka semakin ketat pula lingkaran pengepungan. Ginggi menghitung lagi, kini ada tiga lapis lingkaran; ketiganya berputar-putar dengan arah berlawanan dan membuat lawan yang terkepung menjadi bingung. Pasukan yang terjepit di tengah kepungan menjadi semakin kacau formasinya setelah belasan perwira secara berani melakukan salto di udara dan masuk ke tengah kepungan. Untuk sementara, belasan perwira harus mati-matian melakukan gempuran atau bahkan menahan gempuran lawan. Namun hebatnya, sambil berusaha melakukan sepak terjang penyerangan atau sebaliknya, belasan perwira itu menyusun formasi lingkaran baru. Dengan demikian, kini terbentuk satu formasi lingkaran lagi namun berada di tengah kepungan. Benar-benar hebat formasi ini, sebab musuh kini seolah digempur dari luar dan dalam.

Jerit kesakitan mulai terdengar di sana-sini dan semua keluar dari mulut-mulut pasukan musuh. Formasi mereka sudah demikian kacau dan hancur. Mereka bingung sebab serangan datang dari depan dan belakang. Kian lama lingkaran di tengah kian melebar pula sebab kian banyak perwira yang melakukan salto dan menerobos masuk. Lawan yang ada dalam kepungan hanya menunggu waktu saja untuk segera dibantai habis oleh teknik pertempuran cakra-bihwa ini.

Ginggi berteriak-teriak agar pasukan pemerintah tidak begitu ganas membantai mereka. Ginggi berteriak mengabarkan bahwa biang keladi kerusuhan sudah bisa dilumpuhkan dan Raja pun selamat. Namun, teriakan Ginggi tenggelam ke dalam gemuruh pertempuran. Jerit kesakitan terdengar membahana dan membuat bulu kuduk merinding saking ngerinya mendengar teriak-teriakan itu. Apalagi di seputar tegalan, tubuh-tubuh bertumpuk dan bergeletakan, dan darah membanjir di mana-mana.

Pertempuran sekarang hanya terpusat pada lingkaran itu saja, sebab di tempat lain perkelahian sudah usai. Ginggi hanya berdiri termangu sebab dia tak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Melihat ketatnya pengepungan ini, Ginggi tak mungkin ikut masuk lingkaran, sebab kalau pun terjun ke arena yang demikian ketatnya, dia akan masuk dalam putaran pembantaian itu sendiri. Ini adalah pertempuran dengan menggunakan taktik barisan dan bukan pertempuran perseorangan seperti tadi. Berbagai gerak dan jurus dikendalikan oleh satu komando dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ki Rangga Guna pun nampak mulai bingung untuk dapat melibatkan diri dalam pertempuran ini. Dia tak bisa lagi turun tangan untuk mengurangi korban. Ki Rangga Guna bahkan meloncat mendekati tempat di mana Ginggi berdiri termangu. "Ini korban yang sia-sia... benar-benar sia-sia," gumam Ki Rangga Guna. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah!" gumam Ki Rangga Guna mengusap wajah. Ginggi melirik dan menatap orang tua itu dengan heran dan menduga-duga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment