Chapter 124
"Paman, bagaimana kita mencegah pembantaian ini?" tanya Ginggi bingung.
"Kita sudah berusaha sekuatnya. Tapi, barangkali ini kehendak Allah. Allahu Akbar! Allahu Akbar!" gumam Ki Rangga Guna lagi.
Ginggi menatap ke arah pertempuran dengan pandangan kosong. Sudah tak terlihat lagi mayat-mayat bergelimpangan. Sudah tak terdengar lagi jerit-jerit kesakitan. Yang ada hanyalah hati pemuda itu yang kosong dan perasaannya yang hampa. Dengan tubuh seperti kehilangan berat badan, Ginggi membalikkan arah dan berjalan meninggalkan arena pertempuran begitu saja.
"Ginggi!" teriak Ki Rangga Guna memanggil.
Tapi Ginggi terus saja berlalu.
"Ginggi! Ada panah tertancap di bahumu. Mari aku cabut!" teriak Ki Rangga Guna menyusul pemuda itu. Tapi Ginggi seperti tidak mendengar panggilan orang tua itu.
Di sebuah tempat sunyi, jauh di benteng luar, Ginggi mendapatkan pengobatan sederhana dari Ki Rangga Guna. Panah sudah tercabut dari bahunya, namun luka itu akan melebar sebab kulit dan sedikit daging pada bagian bahu harus sedikit disayat.
"Terima kasih, engkau selamat, Paman?" gumam Ginggi sambil berdiri dan mulai hendak melangkah.
"Aku terlalu sembrono memasuki wilayah Sagaraherang, sehingga akhirnya ditangkap Ki Banaspati karena tak mau diajaknya bekerja sama. Tapi di saat persiapan mereka hampir matang, aku bisa kabur, bahkan aku akhirnya bisa menyadarkan beberapa wilayah Kandagalante lainnya untuk mengurungkan rencana dan tak ikut memberontak, sehingga kekuatan yang datang ke Pakuan sedikit berkurang," kata Ki Rangga Guna menerangkan sambil melangkah mengikuti Ginggi.
"Setelah itu, aku berkelana ke wilayah Cirebon dan bergabung dengan mereka," sambung Ki Rangga Guna.
Mendengar ini, Ginggi merandeg dan menatap Ki Rangga Guna.
"Engkau telah memasuki kehidupan agama baru, Paman?" tanya Ginggi. Ki Rangga Guna mengangguk.
"Aku menyadari, pada saatnya zaman akan segera berubah, meninggalkan hal-hal lama dan memasuki hal-hal baru," tutur Ki Rangga Guna.
"Engkau mencintai agama baru, Paman?"
"Pada dasarnya, tak ada agama baru atau agama lama, sebab setiap agama yang baik akan membawa kedamaian hidup. Namun, Allah Maha Penyayang. Dia selalu menginginkan manusia punya nilai kesempurnaan. Itulah sebabnya, setiap agama pada kurun waktu tertentu akan disempurnakan dan makin disempurnakan. Ini adalah kurun waktu di mana Allah mempercayai kemampuan umat manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Itulah sebabnya Allah menurunkan agama paling sempurna dan terakhir, sebab sesudah ini tak akan ada agama baru lagi. Inilah agama akhir zaman di mana semua manusia di bumi ini wajib mengikutinya," ujar Ki Rangga Guna menjelaskan.
Ginggi termenung, berdiri mematung sambil berpangku tangan.
"Mari anakku, masuklah engkau pada agamaku," ajak Ki Rangga Guna dengan lemah-lembut.
Ginggi menatap dengan dalam-dalam. "Kalau saya menolak, apakah saya akan diperangi, Paman?" tanya Ginggi.
"Mengapa engkau berpikiran begitu?"
"Pajajaran pun digempur karena tidak mau memasuki agama baru?" gumam Ginggi.
"Masya Allah! Jangan campurkan agama dan politik. Agamaku hanya menganjurkan orang mengikutinya karena inilah agama yang paling sempurna dalam membawa umat manusia menuju jalan keselamatan. Tapi kalau sudah diajak mereka tetap menolak juga, itu adalah hak mereka dengan risiko-risiko tertentu kelak di pengadilan Tuhan. Sementara peperangan yang selama ini berlangsung antara Pajajaran dengan negara-negara agama baru, pendapatku itu hanyalah pertentangan politik semata," ujar Ki Rangga Guna.
"Saya dibiarkan kosong oleh Ki Darma selama berada di Puncak Cakrabuana. Barangkali ini kebijaksanaan beliau agar di saat kosong begini saya disuruhnya memilih sesuatu yang terbaik buat diri saya sendiri," gumam Ginggi.
"Saya pun ingin memiliki kedamaian. Dan akan saya cari agama yang bisa membawa kedamaian hati, namun bukan hasil pengaruh dan gagasan orang lain," kata pemuda itu.
"Semoga Allah membukakan hatimu untuk segera memilih agama yang bisa menghantarmu ke kedamaian hakiki, anakku. Tapi hati-hatilah, waktu terus berlalu dan Allah akan selalu mencatatnya, sejauh mana kita mempergunakan dan memanfaatkan waktu yang sedikit itu?" kata Ki Rangga Guna.
Ginggi mengangguk mengiyakan. Dia hendak segera berlalu pergi ketika tiba-tiba ingat sesuatu.
"Paman, Raden Purbajaya telah tewas. Barangkali, sayalah pembunuhnya?" kata Ginggi sambil menatap tajam Ki Rangga Guna. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum pahit.
"Aku sudah mendengar semuanya. Dia diutus oleh Cirebon agar mengajak penghuni istana Pakuan untuk memasuki agama baru. Namun, pemuda itu hatinya dipenuhi urusan pribadi sehingga akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Anakku, ketahuilah, agamaku melarang orang memiliki kebencian. Aku sebagai warga Pajajaran, sebetulnya tetap berkeinginan Pajajaran tetap hidup dan besar. Tatanan pemerintahan sudah baik, tinggal membentuk sikap yang baik dari orang-orangnya. Alangkah baiknya bila kebesaran Pajajaran dijalankan melalui tata cara agama baru," kata Ki Rangga Guna.
Ginggi tersenyum tipis mendengarnya. "Kita lihat saja perkembangan zaman, Paman," gumam Ginggi.
Akhirnya mereka berpisah di sana. Ki Rangga Guna berdiri mematung memperhatikan Ginggi yang melangkah lesu menuju ke timur. Senja sudah mulai jatuh. Sebagian menimpa pintu gerbang timur, sebagian menimpa punggung pemuda itu. Di atas tanah tempat Ginggi melangkah, bayangan besar matahari senja yang terhalang kokohnya tembok-tembok gerbang telah menutupi bayangan tubuh pemuda itu, gelap dan suram.
Ginggi terus menuju ke timur; dia akan kembali ke Puncak Cakrabuana sebab hatinya tak yakin Ki Darma telah tiada. Dia pun akan berusaha mencari kampung kecil bernama Caringin di wilayah Cirebon, sebab Ki Darma pernah bilang, bila dia ingin tahu siapa dia sebenarnya, maka harus menuju Kampung Caringin.
Bila Ginggi masuk ke sebuah wilayah Kandagalante, sesekali akan terdengar lantunan tembang-tembang juru pantun yang cepat membawa berita baru dari Pakuan. Melalui berita-berita pantun, Ginggi mendapatkan kabar bahwa beberapa bulan sesudah peristiwa besar itu, Sang Prabu Ratu Sakti akhirnya turun takhta karena dianggap melakukan pelanggaran moral. Raja yang penuh ambisi ini memerintah sejak tahun 1543 dan berakhir tahun 1551. Penggantinya adalah Sang Lumahing Majaya, dikenal juga sebagai Sang Prabu Nilakendra.
Untuk mengurangi kemelut di istana, Sang Prabu yang masih belia ini segera menangkap Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta, namun keduanya kemudian meninggal karena sakit dan kecewa. Sang Prabu juga mengumumkan bahwa Ki Banaspati dicap pemberontak dan harus diburu sampai diketemukan kendati bersembunyi di ujung dunia. Sedangkan Pangeran Yogascitra sekeluarga, begitu pun Ginggi, disebut-sebut juru pantun sebagai para pahlawan Pajajaran yang berjuang mempertahankan Pakuan tanpa pamrih.
Namun yang paling melegakan Ginggi adalah ketika lantunan juru pantun menembangkan kisah-kisah kedigjayaan seorang perwira setia bernama Ki Darma Tunggara. Ini memberi tanda bahwa nama Ki Darma telah dibersihkan.
Sebelum tiba di Puncak Cakrabuana, Ginggi melakukan pengembaraan ke sana kemari termasuk memasuki wilayah-wilayah Kandagalante yang pernah dia kunjungi saat berangkat dulu. Dengan senyum tipis, dia melihat Asih dari Kandagalante Tanjungpura telah bersuamikan pemuda di sana. Senyum pahitnya membayang manakala tiba di Desa Cae saat mendengar kabar bahwa Nyi Santimi akhirnya menjadi istri muda Kuwu Suntara, ayah kandung Suji Angkara.
Semua serba terjadi dan semua membawa arti. Sambil berjalan sendirian di bawah bayang-bayang senja, Ginggi bersenandung melantunkan tembang yang pernah didendangkan Ki Darma dulu: "Hidup banyak menawarkan sesuatu, namun bila tak sanggup memilihnya, maka kita adalah orang-orang yang kalah!"