Chapter 13
Aku sampai saat ini merasa sebagai anak bumi Pajajaran. Aku tetap mendambakan Pajajaran bisa hidup sampai akhir zaman. Mungkin aku melaksanakan seba sebagai titah raja. Tapi tujuanku yang sebenarnya adalah mempertahankan bumi Pajajaran," kata Rama Dongdo panjang lebar.
Ginggi puyeng sendiri menyimak jawaban atas hasil pertanyaannya itu. Bagaimana mungkin ada orang yang setia sampai mati bagi sebuah kerajaan yang dirajai oleh orang yang tak bijaksana. Bila begitu halnya, maka rakyat hanya akan jadi korban kesetiannya itu sendiri. Gila, pikir Ginggi.
Tapi, sebentar kemudian anak muda ini sudah merenung kembali. Bukankah hal-hal ini yang harus diperhatikannya, seperti apa yang diamanatkan oleh Ki Darma "Mengubah bumi Pajajaran, sesuatu hal yang mustahil untuk dilakukan sendirian. Tapi kau bantulah rakyat agar tak dibiarkan menderita. Lebih baik satu kali berjuang untuk rakyat daripada tidak sama sekali," ucapan Ki Darma terngiang lagi di telinganya.
Tapi, bagaimana bentuk perjuangan itu? Ikut menyukseskan pengiriman seba, ataukah perjuangan membela kesengsaraan rakyat? Ginggi memijit-mijit kepalanya, pening rasanya.
"Kau sakit kepala, anak muda? Pasti tadi malam kau kurang tidur karena ikut tugur. Tapi tugur akan jadi bagian dari hidupmu kalau kau betah di sini kelak. Kampung ini butuh tenaga muda untuk tugur, yaitu menjaga keamanan daerah dari gangguan orang jahat," kata Rama Dongo.
Ginggi berhenti memijit-mijit kepalanya karena dia tak mau dianggap orang yang sakit kepala. "Aku tidak sakit, apalagi lelah, Rama. Bahkan kalau Rama mengizinkan, aku akan membantu apa saja di rumah ini. Mungkin aku bisa membelah kayu bakar, mengambil air dengan pikulan, atau pekerjaan apa saja yang berguna di rumah ini," kata Ginggi menawarkan jasa.
Rama Dongdo tersenyum mendengarnya. "Aku dulu punya anak lelaki. Tapi karena kegemarannya mempelajari ilmu kedigjayaannya, dia tewas karena perkelahian. Tidak percuma, sebab dia mati dalam mempertahankan tugas mengirim seba," kata Rama Dongdo.
Ginggi hanya mengangguk-angguk tanpa berani meminta penjelasan lebih lanjut. Sebab kalau dia memaksa, hanya berarti menyuruh orang menceritakan kisah dukanya belaka.
"Kalau kau senang bekerja kasar, bekerjalah di dapur. Hari ini semua penduduk ramai memasak untuk persiapan pesta nanti malam," kata Rama Dongdo.
Ginggi amat bersemangat mendapat izin membantu di dapur. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena ada pengharapan lain yang amat diharapkannya, ia pun segera bergegas menuju dapur. Dan benar saja, di dapur dia segera saja mendapatkan apa yang diharapkannya.
"Nyai, sedang apakah engkau?" bisiknya kepada Nyi Santimi yang tengah sibuk bekerja.
"Aku tengah membuat lemper untuk hidangan nanti malam, Kang," kata gadis itu tersenyum manis namun matanya tetap memperhatikan pekerjaannya.
Mereka berbincang-bincang akrab sekali. Dan mereka pun berjanji untuk bertemu malam nanti di tempat pertunjukan pantun.
Talung-talung keur Pajajaran Jaman aya keneh kuwerabakti Jaman guru bumi dipusti-pusti Jaman leuit tangtu eusina metu Euweuh anu tani mudu ngijon Euweuh anu tani nandonkeun karang Euweuh anu tani paeh ku jengkel Euweuh anu tani modar ku lapar (masih mending waktu Pajajaran ketika masih ada kuwerabakti ketika guru bumi dipuja-puja ketika lumbung umum melimpah-ruah tiada petani perlu pengijon tiada petani menggadai tanah tiada petani mati karena kesal tiada petani mati karena lapar).
"Mari, pertunjukan pantun sudah dimulai!"
"Siapakah prepantun (juru pantun)nya, Ki?"
"Siapa lagi kalau bukan Ki Baju Rambeng dari Pakuan!"
"Kasihan, ya. Juru pantun paling baik di Pakuan, harus pergi terlunta-lunta seperti itu. Disangkanya di tempat ini lebih tentram. Disangkanya di tempat ini Pajajaran masih mekar."
"Dia menjauhi Pakuan karena kemelut berkepanjangan. Tapi apa pun terjadi, ini keuntungan buat kita dan generasi seusai kita. Sebab biar pun jauh dari Pajajaran, anak cucu kita masih bisa mendengar kemegahan istana raja Sri Bima Untarayana Madura Suradipati, atau keelokan Tamansari Milakancana beserta permainannya, danau Talaga Rena Maha Wijaya. Dengarlah lantunan merdu Ki Juru Pantun, dia pasti membuka tabir riwayat emas yang bergelimang di..."
Obrolan orang-orang di seputarnya sangat menarik perhatian Ginggi. Padahal, di tengah benderangnya cahaya purnama yang dipercantik cahaya obor dan damar sewu (lampu seribu jajar), pemuda ini sebenarnya sedang menyeruak kesana-kemari mencari Nyi Santimi.
"Dia janjian mau menunggu di tempat pertunjukan pantun. Tapi, di mana dia tunggu aku?" pikir Ginggi.
Ginggi menyeruak-nyeruak sampai ke bagian penonton paling depan, tapi yang dicarinya tak ada. Yang dia saksikan hanyalah kerumunan orang-orang di sini. Yang namanya pertunjukan, Ginggi baru menonton pertama kali ini. Begitupun bentuk kesenian pantun, baru kali ini dia kenali. Ternyata pantun hanyalah pertunjukan maha sederhana. Tak ada penari, tak ada pemain lain, kecuali seorang lelaki buta sendirian dengan alat musik bernama kecapi di haribaannya. Kalaupun orang-orang berkerumun di dekatnya, itu lebih tepat disebut mendengarkan ketimbang menonton. Semua yang hadir menyimak sebuah cerita yang dilantunkan dengan nyanyian amat merdu dari mulut lelaki buta itu.
"Ada dahulu, ada sekarang. Tak ada dahulu, tak ada sekarang. Ada masa silam, ada masa kini. Tak ada masa silam, tak akan ada masa kini. Ada tonggak, ada batang. Tak ada tonggak, tidak akan ada batang. Bila ada tunggul, tentu ada catangnya."
Ki Baju Rambeng dengan lantunan merdu melontarkan ingatan semua orang ke masa silam, masa di mana bumi Pajajaran terang benderang dengan segala cahaya keemasan dan kecermelangannya. Dia puji-puji Kangjeng Prabu Wangi yang gugur di tanah Bubat karena membela harkat dan derajat bumi Sunda. Dengan kedigjayaan dan keberanian, Sang Prabu relakan darah dan...
"Apalah gunanya darah setitik, apalah gunanya nafas sejentik, tapi amat berguna darah setitik bila dipakai membela hati dan harga diri... dan harga diri." Oh, hai, dan harga diri!
Ki Baju Rambeng terus mengaduk-ngaduk kenangan orang terhadap masa-masa yang telah lalu. Dan seluruhnya membicarakan tentang bumi Pajajaran. Dia kabarkan kebijaksanaan Sang Prabu Sri Babaduga Maharaja perihal kehadiran agama baru. Denting-denting kecapi dengan luwes dan merdu mengiringi lantunannya: "Raja Pajajaran hanteu nyaram somah milih agama anu dicaram soteh nyaeta: palah-pilih teu puguh milih mimiti milih agama ieu laju bosen " milih deui "Raja Pajajaran hanteu nyaram somah milih agama: ari tetela mah eta agama lain pi"eun ngaganggu kasantosaan nagara lain pi"eun macikeuh anu barodo lain pi"eun numpuk kabeungharan lain pi"eun kasenangan sorangan" (Raja Pajajaran tak melarang yang dilarang hanyalah: sembarangan memilih suatu yang tak tentu mula-mula pilih satu agama sudah bosan " memilih lagi Raja Pajajaran tak melarang Rakyat memilih agama Bila jelas itu agama yang bukan untuk mengganggu Kesejahteraan negri Bukan untuk mengakali orang bodoh Bukan untuk menumpuk kekayaan Bukan untuk kesenangan pribadi).
"Tapi karena ambisi dan keserakahan, maka pertentangan dan perselisihan tak bisa dihindarkan. Perang, perang, dan perang! Di mana-mana terjadi perang! Sang Prabu Surawisesa pengganti ayahanda, limabelas kali bertempur, bertempur, dan bertempur!" kata lantunan Ki Baju Rambeng dengan volume dan tekanan suara berganti-ganti membuat yang mendengarkan terpana dan berdebar.
"Siapa yang unggul, Ki?" Ginggi nyeletuk dari sudut samping, sehingga memutuskan rasa keterpanaan pendengar.
"Tak ada yang unggul dan tak ada yang kalah. Kalaupun boleh disebut, maka dua-duanya ada dalam kemenangan!" kata Ki Baju Rambeng. Dan Ki Juru Pantun yang buta ini kembali melantunkan suara merdunya: "Nu heubeul unggul lantaran kasatiaan nu anyar unggul lantaran kasampurnaan!" (Yang lama unggul karena kesetiaan, yang baru unggul karena kesempurnaan!).
Ki Baju Rambeng terus melantunkan masa lalu tentang Pajajaran yang tetap besar. Kalaupun kebesarannya terganggu, ini karena adanya kemunafikan dan ketidakjujuran. Berkali-kali mendapatkan serangan musuh, benteng baru bisa terkuak sesudah ada penghianatan dari dalam.
"Siapa berkhianat itu yang jahat! Seribu perwira siap mati, seribu perwira hampir mati, mati karena pengkhianatan, mati karena pengkhianatan. Oh, hai! Pengkhianat! Dialah Ki Darma Tunggara! Dialah Ki Darma Tunggara!"
Ginggi tersentak di tengah-tengah keasyikannya menyimak lantunan Ki Baju Rambeng ini. Prepantun ini ada menyebut-nyebut nama Ki Darma walau pun masih dilanjutkan dengan nama Tunggara, Ki Darma Tunggara. Apakah yang disebut Ki Juru Pantun itu Ki Darma, orang tua yang hampir sepuluh tahun hidup bersama di puncak Gunung Cakrabuana? Atau hanya kebetulan saja ada kemiripan nama? Pemuda itu tak melanjutkan perkiraannya sebab Ki Baju Rambeng terus melantun.
Oh, hai Ki Darma Tunggara engkau perwira sakti, engkau perwira berani, sayang keberanianmu dipakai melawan ratu, oh, hai, melawan ratu! Itulah hukuman bagi yang meragu, ke sana tak mau, ke sini tak mau. Akhirnya Ki Darma menjadi musuh semua. Oh, hai! Musuh semua!
Ki Juru Pantun terus melantunkan cerita hingga larut malam, hingga bulan pudar condong ke barat. Anak-anak sudah dari tadi tergeletak tidur di lantai kayu. Para remaja baik lelaki maupun perempuan, entah pergi ke mana. Yang sisa, tinggallah para orang yang sudah lanjut usia. Mereka masih setia menyimak masa lalu kendati sambil terkantuk-kantuk dan tubuh membungkuk karena sudah tak mampu bersila dengan benar. Sampai kokok ayam bersahutan, sampai pulalah saat akhir lantunan Ki Juru Pantun. Hanya belasan orang yang tersisa. Terhuyung-huyung meninggalkan bale gede karena kantuk yang kental.
Tangisan Nyi Santimi. Sayup-sayup di kejauhan terdengar suara lantunan lain. Seperti bersajak atau berdoa tapi dengan bahasa yang tidak dimengerti Ginggi.
"Suara lantunan apakah itu?" tanya Ginggi entah kepada siapa sebab hampir semua orang telah pergi.