Chapter 14
"Itulah pembacaan ayat suci dari orang yang sudah memiliki agama baru," Ki Baju Rambeng menjawabnya, sambil berbenah dan bersiap hendak turun dari bangunan panggung bale gede.
"Menjelang fajar menyingsing, pemeluk agama baru akan bersembahyang menghadap ke barat. Sehari semalam mereka melakukannya sebanyak lima kali," kata Ki Baju Rambeng lagi, mengangkat badan setengah terhuyung karena beban kecapi di tangan kanannya.
Dia sendirian saja dan cukup hafal menuruni tangga kayu. Lantas berjalan tertatih-tatih, tak ada orang yang mengacuhkannya lagi. Ginggi melangkah di sampingnya.
"Aku ingin lebih jelas lagi menyimak apa yang kau lantunkan tadi itu, Aki!" kata Ginggi.
"Apa yang Aki lantunkan tadi itulah keseluruhan pengetahuanku, anak muda?" kata Ki Baju Rambeng dengan desah napas berat. Mungkin dia kecapaian, mungkin juga kedinginan karena udara subuh.
"Tak adakah pengetahuan berlebih, misalnya tentang perwira sakti Pajajaran bernama Ki Darma Tunggara itu, Ki?" tanya pemuda itu lagi penasaran.
"Menurut sahibul hikayat, dia adalah perwira kerajaan dari seribu perwira yang mengabdikan dirinya untuk keselamatan Raja."
"Terus, jelaskan?" desak Ginggi sambil mengikuti langkah Ki Baju Rambeng.
"Seribu perwira yang bertugas bela-mati Raja, sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Sunda ratusan tahun silam. Kedudukan Raja dikawal seribu perwira yang bela-mati. Pada zamannya Prabu Wangi, banyak perwira ikut ke Bubat dan tewas bersama Raja di sana. Namun jumlah seribu selalu kembali utuh sebab segera tergantikan yang baru. Begitu sampai sekarang," kata Ki Baju Rambeng.
"Perwira sakti bernama Ki Darma Tunggara, kira-kira hidup di zaman mana?" tanya Ginggi lagi.
Lama Ki Baju Rambeng tak memberikan jawaban. Ketika pemuda itu kembali bertanya, juru pantun itu hanya menggelengkan kepala.
"Hampir semua juru pantun yang ada di Pajajaran selalu mengatakan bahwa pantun yang dilantunkannya asli, menggambarkan hal-hal yang pernah terjadi. Aku sendiri akan bicara begitu, sebab begitu yang dikatakan guruku. Aku bisa menggambarkan keperwiraan sekaligus pengkhianatan Ki Darma Tunggara, tetapi tak bisa melukiskan, di masa mana perwira sakti itu hidup. Apakah Ki Darma Tunggara nama sebenarnya atau hanya sebuah julukan, aku tidak tahu. Barangkali juga begitu pengetahuan semua juru pantun," kata pula Ki Baju Rambeng.
Ginggi menghela napas kecewa. Bila begitu, bisa saja kejadian mengenai perwira bernama Ki Darma Tunggara hanya dongeng belaka. Kecewa. Mengapa harus kecewa? Kalau ternyata peristiwa itu benar dan melibatkan Ki Darma yang dia kenal, mau apa? Akhirnya pemuda itu membiarkan Ki Baju Rambeng pergi. Tertatih-tatih menjinjing kecapi memburu fajar yang tengah menyingsing.
Ginggi juga melangkah pergi. Dia melewati sebuah rumah gedek yang penghuninya di dalamnya masih melantunkan ayat suci agama baru seperti apa kata Ki Juru Pantun. Melangkah lagi beberapa ratus tindak, ada terlihat sebuah rumah dengan pekarangan agak luas dan di sudutnya terdapat sebuah pura dengan dupa mengelun lemah. Namun apa pun yang terjadi, sebetulnya ada kedamaian di sini. Paling tidak di saat pagi hari begini.
Ginggi berpikir, sebenarnya percekcokan hanya terjadi pada orang-orang yang mempertahankan kebenaran dirinya secara fanatik. Orang-orang yang berpikiran sederhana cenderung membatasi keinginan-keinginan yang keras, termasuk mengukuhkan kebenaran yang diakuinya.
Sekarang Ginggi berjalan gontai menuju rumah Rama Dongdo. Dia baru ingat lagi sekarang, bahwa tadi malam sebenarnya mengikat janji dengan Nyi Santimi untuk sama-sama nonton pantun. "Kita saling menunggu di depan bale gede," kata Nyi Santimi kemarin siang. Tapi mengapa gadis itu tak diketemukannya tadi malam? Tidak jadi pergikah dia? Ginggi kurang teliti mencari karena lebih terpukau menyimak pertunjukan itu sendiri. Ada yang perlu ditanyakan kepada gadis itu. Tapi karena kantuknya menyerang demikian hebat, Ginggi hanya meloso di sudut beranda rumah dan akhirnya tertidur pulas.
Ginggi tersentak bangun ketika seseorang menepuk-nepuk pundaknya. "Bangun, hai, bangunlah!" Ginggi gelagapan karena kepalanya terasa berat dan pening. Kedua matanya terasa kesat dan pedih. Susah sekali dia membuka kelopak matanya.
"Ada apakah?" tanyanya mencoba memandang kepada yang barusan membangunkannya.
"Bangunlah. Hari sudah siang. Lagi pula tak baik menjelang kedatangan tamu penting kau malah tidur di sini," kata orang itu. Yang berbicara adalah seorang lelaki, entah siapa.
Ginggi melihat cuaca. Hari sebetulnya masih pagi kendati matahari sudah memancarkan sinarnya. Dia baru sadar, sepulang nonton pantun, dia tertidur kelelahan di beranda rumah Rama Dongdo. Tapi melihat hari masih pagi, bisa diperkirakan, dia tidur di sana belum lama benar, kalau tak disebutkan baru sebentar. Tapi, sepagi ini rumah Rama Dongdo akan kedatangan tamu, dari manakah?
"Tamu apa Mamang, sepagi ini sudah bertandang ke sini?" tanya Ginggi.
"Tamu penting. Tidak tahukah kalau pagi ini akan ada rombongan keluarga Seta?"
"Rombongan keluarga Seta?"
"Betul anak muda. Hari ini secara resmi mereka akan meminang Nyi Santimi!"
Kalau ada petir di siang bolong, mungkin beginilah kedengarannya, paling tidak oleh Ginggi. Nyi Santimi akan dilamar Seta? Tak mimpikah aku? Atau, tidak kelirukah orang ini bicara?
"Maksud Mamang, Nyi Santimi akan menikah dengan Seta, pemuda tampan yang mulutnya selalu mencibir seperti sinis tapi kemarin bengkak dan dower dipukul temannya itu?"
"Sssst!!!"
"Dan yang jidatnya menyendol karena pukulan kayu pikulan di dekat pancuran sana itu, Mamang?" Ginggi masih nyerocos kendati dia sudah diberi isyarat untuk tidak bicara jelek seperti itu.
"Kau marah-marah tak keruan, ada apakah sebenarnya?" tanya orang itu heran. Pertanyaan ini terasa sebagai teguran. Dan pemuda itu akhirnya menunduk malu. Dia sadar, tak seharusnya uring-uringan mendengar berita ini. Apa hak dia mencela peristiwa ini? Kalau pun punya, dia hanyalah berhak untuk merasa heran.
Memang, siapa tidak heran. Kemarin pagi Nyi Santimi masih mengatakan kepadanya, bahwa dia sebal terhadap pemuda itu karena sering menggodanya. Pemuda itu pun katanya angkuh dan sombong, hanya karena ayahnya seorang juragan ladang yang luas tanahnya. Tapi, aneh sekali, mengapa hari ini ada upacara pinang-meminang? Heran, bukankah kemarin siang sudah ada janji dengannya untuk sama-sama nonton pertunjukan pantun? Mengapa secara diam-diam gadis itu membatalkan rencananya? Semua pertanyaan yang ada dalam benaknya ini hanya menimbulkan kebingungan belaka. Dan Ginggi mengeluh pendek dibuatnya. Dia hanya bisa duduk termenung. Sikut di atas lutut dan tangan memijit-mijit jidat. Begitu yang dilakukannya sambil bersandar di tiang rumah yang ada di sisi beranda. Sesekali dia menoleh ke pintu ruangan tengah. Tapi pintu sejak tadi tertutup rapat. Kata orang itu, di dalam rumah orang tengah sibuk berbenah, termasuk memolek-molekkan Nyi Santimi agar hari itu kelihatan lebih manis dan lebih cantik dari biasanya.
Lelaki setengah baya yang merupakan satu-satunya yang ada di ruangan depan ini, sebentar pergi ke bagian samping rumah. Sebentar kemudian sudah membawa sapu ijuk, dua batang, satu diberikannya kepada Ginggi. "Kau tolong bantu aku menyapu. Halaman ini nampaknya belum bersih benar," katanya.
Langsung menyapu lantai tepas. Sambil pikiran melayang entah kemana, Ginggi ikut menyapu lantai tepas. Namun baru satu dua kali dia menggoyangkan sapu, pintu ruangan dibuka orang. Ginggi berhenti menyapu dan cepat menoleh ke arah sana. Tapi yang keluar bukan Nyi Santimi, melainkan Rama Dongdo. Dia berpakaian rapih. Baju kampret putih, ikat kepala batik jenis punjungan, serta ke bawah kain polekat. Melihat Ginggi tengah menyapu, orang tua itu berseri wajahnya.
"Wah, syukur sekali anak muda. Aku mencari kau, lantaran butuh tenagamu bantu-bantu di dapur. Hari ini ada kebahagiaan mendadak. Cucuku sudah menemukan jalan hidupnya. Dia dipinang orang," kata Rama Dongdo ceria.
Ginggi hanya mengangguk dan tersenyum. Terus menyapu kendati gerakannya tak beraturan.
"Memang serba mendadak. Tadi malam keluarga anak muda itu datang meminang. Pagi ini rencananya akan meresmikan pinangan itu," kata pula Rama Dongdo.
Ginggi tak menyambutnya dengan kata-kata. Sampai pada suatu saat, ada orang yang menyuruhnya agar dia ikut bantu di dapur sebab banyak kayu bakar yang belum dibelah. Celaka aku, pikirnya. Dia terperangkap oleh kesanggupannya sendiri, sebab kemarin pagi dengan bersemangat Ginggi menawarkan jasa untuk bantu-bantu di rumah ini. Ya, dia mau bekerja di rumah ini tapi bukan untuk melihat Nyi Santimi dilamar orang, apalagi dilamar oleh pemuda yang pernah berkelahi dengannya. Ah, betapa anak itu membusungkan dada dengan congkaknya karena kemenangan ini!
Tapi Ginggi akhirnya pergi juga ke dapur. Jalannya memutar ke samping. Bukan untuk mengharapkan pekerjaan kasar itu, tapi untuk menunggu kalau-kalau dia bertemu muka dengan gadis itu. Sialan anak perempuan bau kencur itu! Aku akan memarahinya, gertak Ginggi dalam hatinya. Dasar perempuan kecil! Seenaknya saja melanggar janji! Umpatan di hatinya terus berlanjut sampai dia tiba di ruangan belakang. Tapi sayang, Nyi Santimi tak ada di sana. Ya, mana mungkin berada di dapur, sebab pagi ini dia tengah didandani juru rias. Pasti dia elok, pasti dia cantik! Tapi, untuk siapa kecantikannya itu? Bah, bukan untuk diriku!
Prak, prak, prak! Ginggi melampiaskan kekesalan hatinya dengan membelah kayu-kayu bakar cepat sekali. Kayu bakar ukuran besar-besar dalam sekejap sudah menjadi potongan-potongan kecil beraturan, amat mengherankan orang-orang di dapur sebab secepat itu dia bekerja. Sudah itu Ginggi duduk di sudut dapur dengan napas pendek-pendek. Bukan kecapaian karena membelah kayu, melainkan karena hati yang gundah itulah. Sampai pada suatu saat, rombongan tamu yang ditunggu tiba sudah. Jumlahnya terbatas saja. Ada sepasang lelaki dan perempuan usia sekitar lima puluhan, gagah berwibawa.