Chapter 15
Lelaki itu berkumis dan berjenggot tipis. Penutup kepalanya berupa bendo cetak batik motif lereng. Ia mengenakan baju salontreng putih, kain poleng hitam, dengan ikat pinggang tebal yang terbuat dari kulit.
Sang wanita mengenakan kebaya ungu tua, kain batik, dan selendang putih. Meski sudah tua, ia masih tampak cantik dengan kulit kuning langsat yang halus.
Hal yang membuat hati Ginggi terasa terbakar adalah pemuda tampan dengan sunggingan bibir angkuh itu. Siapa lagi kalau bukan Seta! Ia memakai baju kampret berkancing. Hari itu ia pun mengenakan bendo cetak. Ia memang tampan, andai saja tidak ada benjolan di keningnya. Madi, sahabatnya yang bergigi tonggos, mengawal si tampan angkuh itu sampai ke muka beranda.
Mereka disambut ceria oleh Rama Dongdo yang hari itu ditemani seorang wanita tua. Rama Dongdo berkata dalam sambutannya bahwa upacara tersebut dilakukan secara sangat sederhana. "Jadi, bila kami sebagai tuan rumah kurang hangat dalam penyambutan, harap maklum," katanya.
"Kamilah yang bersalah karena melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru," jawab lelaki setengah baya berkumis tipis itu sambil bersila tegak. "Namun, yang terpenting bukan kemeriahan yang diharapkan, melainkan keselamatan," tambahnya lagi.
Mereka berbasa-basi panjang lebar hingga akhirnya Rama Dongdo memanggil Nyi Santimi keluar dari kamarnya. Semua orang ikut mendekati ruang tengah, tidak terkecuali para petugas dapur. Ginggi pun turut hadir di sana.
Semua mata tidak berkedip melihat sosok bertubuh kecil semampai keluar dari kamar. Pagi itu Nyi Santimi tampak sangat anggun. Dengan rambut tergelung rapi dan kulit halus terpoles bedak, betapa cantiknya dia. Lesung pipitnya yang alami kian menawan, apalagi setelah diperindah dengan hiasan tahi lalat palsu pada ujung dagunya.
Hanya saja, tubuh semampai berkebaya nila dengan sedikit hiasan di dada kiri itu membuat semua orang heran. Mengapa wajah manis tiada tanding itu tampak muram dan tak bercahaya? "Inilah cucuku yang bodoh dan tak punya kepandaian apa pun, Ki Silah. Kalau kalian hendak mengejek atau menampiknya, lakukanlah sekarang juga," kata Rama Dongdo berbasa-basi.
Tidak seorang pun yang menuruti permintaan tuan rumah; yang terjadi justru sebaliknya. Seta menatap tanpa berkedip, sementara Madi menganga hingga gigi tonggosnya kian menonjol keluar.
Ginggi menatap wajah muram itu dengan penuh tanya di kalbunya. Nyi Santimi tampak sangat sedih menghadapi kejadian ini. Namun, mengapa peristiwa ini terus berlangsung? Tidakkah ia punya kekuatan untuk menolaknya? Dari mana Ginggi tahu bahwa Nyi Santimi tidak suka dijodohkan dengan Seta? Dari mana pula Ginggi berasumsi bahwa Nyi Santimi menyukainya, memberi harapan, atau menjanjikan sesuatu padanya? Cih, tidak tahu malu!
Plak! Ginggi menampar pipinya sendiri hingga lebam, membuat orang-orang di sekelilingnya menoleh heran. Nyi Santimi pun melirik ke samping karena bunyi tersebut. Wajahnya pucat pasi setelah mengetahui siapa orang yang tiba-tiba menampar wajah sendiri itu.
Mereka saling tatap. Ginggi menatap tajam penuh tanya, sedangkan Nyi Santimi menatap redup dengan wajah seolah meminta dikasihani dan dimengerti. Namun, Ginggi tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia terkejut saat menyaksikan gadis yang pucat pasi itu akhirnya meneteskan air mata. Nyi Santimi menangis sesenggukan, lalu menjatuhkan badannya hingga tersungkur di lantai kayu.
Suasana seketika menjadi panik. Para wanita menjerit, kaum lelaki berseru heran. Pemuda Seta mendelik geram ke arah Ginggi. Mungkin ia menduga kejadian ini disebabkan oleh kehadiran pemuda itu. Sebelum suasana semakin tidak menentu, Ginggi menjauhkan diri. Ia berjalan cepat, bahkan melompat-lompat menjauhi tempat itu. Setengah berlari, ia menghambur ke arah pintu gerbang kampung untuk menjauhi rumah Rama Dongdo.
Setibanya di sebuah hutan kecil perbukitan di luar desa, pemuda itu merebahkan diri di bawah pohon rindang. Matanya pedih, tubuhnya lelah. "Oh, mengapa aku begini? Tidakkah aku akan dimarahi Ki Darma jika ia tahu?" Tempo hari, orang tua itu berpesan agar ia berhati-hati menghadapi wanita. "Wanita itu makhluk lemah. Namun, jika kita sembarangan menilainya, ia bisa menghancurkan!" kata Ki Darma saat itu.
Dulu Ginggi tidak mengerti mengapa Ki Darma berkata demikian. Hal yang ia takuti hanyalah harimau, karena lompatannya lincah, gerakannya kuat, dan cakarannya mematikan. Mengapa wanita yang lemah lembut bisa mematikan? Sekarang, setelah mengalaminya sendiri, barulah ia tahu arti kehancuran yang diakibatkan oleh wanita.
"Sialan! Ada apa dengan hatiku ini? Menghadapi peristiwa seperti ini, badanku terasa seperti dicabik-cabik harimau ganas," keluhnya sendiri. Ia berguling-guling di tanah, menjambak rambutnya hingga ikat kepalanya terlepas dan rambutnya berantakan. Ginggi memejamkan mata rapat-rapat sambil menahan napas dalam-dalam. Ia mencoba melupakan gadis itu, tetapi bayangannya justru semakin nyata. Lesung pipitnya, bibir tipisnya, dan sudut matanya yang hitam dengan bola mata berbinar.
Ah, betapa terbayang mata yang mendadak sayu dan wajah muram itu saat menatapnya seolah mempertanyakan mengapa ia begitu kejam mengingkari janji. "Tunggulah aku di sekitar panggung pertunjukan pantun, Kang!" Itulah janji gadis itu yang tidak ditepati. Ya, hanya itu.
Namun, benarkah Nyi Santimi merasa berdosa karena janji ini? Benarkah hanya karena tidak menepati urusan sepele itu ia menangis hingga tersungkur di lantai? Ginggi serentak bangun. Jika hanya urusan janji sepele, mengapa gadis itu begitu sedih? Masa di mana seorang gadis dipinang seharusnya disambut dengan rasa syukur dan tawa bahagia. Mengapa Nyi Santimi menyambutnya dengan muka pucat pasi, terutama setelah bertemu pandang dengannya?
"Nyi Santimi, tidakkah ini..." gumam Ginggi merenung dalam. Ah, tidak! Ia menggelengkan kepala. Kalaupun benar ada perasaan yang sama, percuma saja. Untuk apa mengejar gadis yang sudah diikat janji oleh pemuda lain?
Ginggi merenung lagi, mengingat-ingat pertemuan singkat mereka. Apa yang menjadi ukuran bahwa ada ikatan di antara mereka? Karena gadis itu mau mencucikan pakaian kotornya? Karena sikap ugal-ugalannya, atau karena matanya yang dituduh jelalatan melihat kemolekan tubuh wanita kemarin? Tidak ada tanda-tanda pertemuan hati. "Percuma aku mengingatnya," pikirnya bolak-balik.
Karena kelelahan, kurang tidur, serta terlalu banyak berpikir, akhirnya Ginggi tertidur di bawah pohon. Ditemani suara burung, embusan angin bukit, dan sinar matahari di sela dedaunan, pemuda itu tertidur pulas dalam waktu lama meski dibayangi mimpi buruk.
Ketika tersadar, udara di sekitarnya terasa dingin. Sambil mata masih terkatup, ia meraba tanah yang terasa lembap. Selembar daun yang jatuh di sana terasa basah oleh embun. Ginggi membuka matanya, namun sekeliling tampak gelap. Setelah matanya terbiasa, ia menatap ke atas. Melalui sela dedaunan, tampak langit jernih dengan bintang-gemintang. Sebentar lagi bulan akan muncul. Jika tidak salah hitung, malam ini adalah malam kelima belas, yang berarti bulan akan bersinar terang.
Setiap melihat bulan purnama, Ginggi teringat kembali pada Ki Darma. Lelaki tua itu bukan saudara, apalagi orang tua kandungnya. Tak tampak kasih sayang darinya, selain perintah untuk berlatih keras ilmu kedigdayaan. Namun, jika dibandingkan dengan hari-hari terakhir ini, hidup bersama Ki Darma terasa jauh lebih bahagia.
Kebahagiaan dirinya sebenarnya terasa saat bersama Ki Darma di Puncak Cakrabuana. Di sana tidak pernah terjadi kemelut batin atau percekcokan. Kalaupun ada perbedaan pendapat, itu semua hanya hal remeh karena mereka hanya hidup berdua. Kini, baru satu-dua hari bertemu manusia lain, kemelut sudah terjadi. Pertemuan pertama dengan Ki Ogel dan Ki Banen diawali perselisihan yang hampir memicu perkelahian. Melihat Ki Kuwu Suntara yang sombong serta menyaksikan keangkuhan Seta dan Madi membuatnya tidak senang. Padahal selama bersama Ki Darma, Ginggi tidak pernah menilai orang dengan ukuran senang atau tidak senang.
"Apakah sebaiknya aku kembali ke puncak?" pikirnya. Namun, ia menyadari itu tidak mungkin. Kembali hanya akan mengecewakan Ki Darma yang telah menyuruhnya berlatih selama sepuluh tahun untuk sebuah tugas. "Ah, Ki Darma, mengapa kau memaksaku melakukan perjalanan ini?" keluhnya sendiri. Karena tanah tempatnya duduk terasa dingin dan lembap, ia segera berdiri. Perutnya terasa sangat perih; ia baru ingat bahwa sejak kemarin ia belum makan apa pun.