Chapter 16
Karena urusan ini, aku sampai melupakan perutku, keluhnya dalam hati. Ginggi mencoba menyeruak-nyeruak di hutan kecil di perbukitan kampung ini. Tapi hutan ini memang terlalu kecil. Sekali pun banyak rimbunan pohon dan semak, rupanya sudah tak ada binatang buruan di sana. Apalagi hutan kecil ini dekat kampung. Di mana pun, hutan yang sudah banyak disibak orang, jarang dihuni binatang buruan.
Tak mendapatkan apa yang dicarinya, Ginggi akhirnya kelayaban ke mana saja kaki membawa. Dan akhirnya tak sengaja kakinya membawa ke sebuah tempat di mana air pancuran terdengar keras menimpa batu. Ginggi jadi terkenang lagi peristiwa dua hari lalu. Di sinilah pertemuan pertama hati dua insan ini, barangkali pikir Ginggi. Ya, barangkali di sini. Sebab di sinilah Ginggi benar-benar meneliti keelokan gadis semampai berkulit kuning dan berambut tergerai sebatas pinggul ini.
Kalau saja malam ini dia berada di sini, keluhnya. Ya, tapi ini lebih berupa keluhan ketimbang harapan. Amat mustahil meminta keajaiban seperti ini. Yang terjadi sebenarnya, barangkali gadis itu tengah tidur dengan damai, atau melamunkan rencana-rencana perjalanan hidupnya bila kelak sudah mengarungi perkawinan dengan pemuda Seta. Hatinya kembali gundah bila mengingat hal-hal seperti ini. Dan untuk menjauhkan jalan pikiran itu, dia segera meninggalkan tempat itu, melangkah entah kemana.
Sampai pada suatu saat, langkahnya terhenti sebab dari arah berlawanan sayup-sayup terdengar suara berkeresekan. Suaraini sepertinya ranting dan daun kering terinjak kaki. Pasti ada orang berjalan di depannya. Ginggi berhenti melangkah, bahkan bersembunyi di balik rimbunan pohon. Karena bulan sudah menampakkan diri dari balik bukit sebelah timur, pemuda itu bisa dengan jelas melihatnya yang datang. Benar saja, yang datang adalah manusia. Dia nampaknya seorang lelaki, datang dari arah kampung.
Tapi, apa yang tengah dibawa? Lelaki itu nampak memondong sesuatu. Memondong wanita? Ya, terlihat kain kebayanya. Juga terlihat rambutnya yang tergerai. Mau apa malam-malam keluar kampung berduaan. Pasti pasangan yang tidak syah akan berbuat mesum di tempat sunyi. Kalau mereka suami-istri tak mungkin berbuat seperti itu. Tapi, perempuan yang digendongnya seperti tak berdaya. Tampak kepalanya terkulai, kedua tangannya pun tergantung. Perempuan di atas pondongan lelaki itu sedang tidur? Atau sedang tak sadar, pingsan? Ginggi menjadi curiga.
Kalau mereka datang dari kampung, bagaimana bisa, bukankah pintulawang kori (gerbang kampung) tertutup di malam hari? Karena rasa curiga ini, Ginggi mengendap dan mengikuti ke mana orang misterius ini membawa pondongannya. Tak sulit untuk mengikutinya, sebab cahaya bulan di atas punggung bukit cukup memberi penerangan. Dan dengan menggunakan ilmu yang diberikan Ki Darma, dia bisa berjalan berindap tanpa menimbulkan suara, persis seperti harimau mengintip mangsa.
Namun Ginggi pun bisa menduga, orang yang dicurigainya ini sedikitnya memiliki kepandaian. Ini terlihat dari caranya berjalan. Kendati pun sambil memondong tubuh, langkahnya nampak ringan dan mantap. Dia pun sanggup meloncat dari tonjolan batu yang satu ke tonjolan batu yang lain tanpa risih akan terjatuh. Pemuda itu jadi teringat kembali ucapan Ki Darma, bahwa harus hati-hati memasuki Desa Cae sebab banyak orang pandai. Kata gurunya, wilayah Kerajaan Talaga sejak dulu banyak dihuni orang-orang digjaya. Sebelum jatuh ke wilayah Cirebon, Kerajaan ini sering melakukan peperangan. Banyak orang dari Talaga pandai berkelahi.
Mungkin orang ini dari Kampung Cae dan pandai berkelahi. Tapi siapa dia? Yang ditemuinya baru Ki Ogel, Ki Banen, dua pemuda Seta dan Madi saja lelaki beringas di tempat itu. Tapi semuanya hanya memiliki ilmu pasaran saja. Untuk meyakinkan siapa dia dan apa keperluannya membawa wanita pingsan ke dalam hutan, Ginggi terus mengikutinya. Ternyata lelaki itu membawa pondongannya ke sebuah mulut gua di punggung bukit bercadas. Gua ini bukan tempat rahasia. Letaknya tidak tersembunyi dan ada bekas-bekas batu cadas yang digali orang.
Tapi tentu saja bila malam hari, tempat ini bisa digunakan untuk melakukan hal-hal yang dikerjakan secara diam-diam. Ginggi bisa menduga, orang ini pergi malam-malam kesini karena akan melakukan sesuatu yang tak ingin orang lain tahu. Sekarang orang misterius itu sudah memasuki gua. Ginggi bertidak hati-hati untuk mendekatinya. Di dalam gua pasti gelap gulita tapi di luar cahaya bulan menerangi alam sekitarnya. Ginggi harus bisa bersembunyi di tempat yang tak mungkin terlihat dari dalam. Kebetulan di mulut gua banyak tonjolan batu cadas. Pemuda itu bisa menyelinap dan berlindung di sana.
Orang yang sedang melakukan sesuatu, biasanya pikirannya terpusat pada sesuatu yang dikerjakannya saja, apalagi bila pekerjaannya itu ingin cepat-cepat diselesaikannya. Dan Ginggi memanfaatkan perkiraannya itu. Orang yang ingin meyelesaikan sesuatu dengan terburu-buru, diharap tidak memperhatikan sekelilingnya. Dan benar perkiraannya. Orang misterius itu hanya memperhatikan apa yang dia pondong saja. Wanita pingsan itu dia telentangkan di atas tanah sudut gua. Pelan-pelan dia melakukan sesuatu. Dan ini amat mengejutkan, sekaligus membuat darah pemuda itu mendidih menahan marah.
Betapa tidak sebab orang misterius itu rupanya hendak berbuat tak senonoh terhadap wanita pingsan itu. Dia mencoba menarik-narik dan membuka kain yang membelit tuguh wanita itu. Menggerayangi segala macam yang ada di tubuh wanita itu. Dia juga menciumi sekujur tubuh terbaring itu. Kian lama ciumannya kian ganas dan panas, sampai pada suatu saat terdengar keluhan pendek dari wanita tersebut. Mungkin baru sadar apa yang terjadi pada dirinya, wanita yang masih telentang itu mendadak menjerit tapi mendadak berhenti karena mulutnya dibekap orang jahat itu. Sekarang seperti terjadi pergumulan di sana. Yang satu tertahan di bawah yang satu menyerang di atas.
Kalau saja kejadian itu dilakukan suka sama suka, Ginggi tak akan peduli dengan semuanya. Tapi ini nyatanyata pemaksaan dan penganiayaan dan Ginggi tak senang dengan itu. Bahkan menurut Ki Darma pun, dengan kemampuan yang ada dia harus membela orang tertekan. Wanita lemah itu jelas-jelas mendapat tekanan dari nafsu angkara murka. Ingat ini, Ginggi harus mengambil keputusan. Dia keluar dari persembunyiannya, membuat kuda-kuda dan segera kakinya menotol tanah. Tubuh Ginggi melesat bagai loncatan harimau kumbang. Bedanya, harima kumbang meloncat dengan tubuh lurus cakar ke depan, pemuda ini melayang sambil jumpalitan, kedua tangan bersilang di depan wajah.
Tapi lelaki jahat itu benar-benar mempunyai naluri yang kuat. Gerakan jumpalitan yang dilakukan Ginggi terkontrol oleh indranya. Terbukti, ketika tubuh Ginggi melayang tepat di atasnya, wajah orang itu menoleh cepat. Melihat bahaya mengancam, dia pun segera beringsut dan mencoba untuk berdiri. Namun upayanya ini sudah terlambat sebab serangan Ginggi jauh lebih cepat. Telapak tangan Ginggi yang dibuka lebar secepat kilat mendorong ke depan. Plak! Jidat si culas terkena dorongan kuat telapak tangan. Begitu kuatnya dorongan tangan itu, sehingga kepala orang itu seperti terlontar ke belakang dan tubuhnya ikut melonjak membentur dinding gua.
Ginggi sementara masih jumpalitan untuk mencoba menahan terjangannya. Sebab kalau tak melakukan salto, tubuhnya sendiri akan ikut menerjang dinding. Jumpalitan beberapa kali dan ujung kakinya menotol dinding. Badannya kembali arah sebab kaki menotol dinding. Begitu jatuh di atas tanah, dengan sepasang kaki terpentang lebar, pemuda itu sudah melihat si culas terkulai di sudut gua. Si wanita yang merasa nasibnya lolos dari kehinaan, segera berdiri namun dengan gerakan kaku sebab semua pakaiannya hampir tanggal. Untung saja suasana di dalam gua amat remang-remang sebab cahaya bulan tak bisa masuk ke sana.
"Mari keluar dari sini!" ajak Ginggi menggandeng bahu wanita itu. Tapi mendengar suara Ginggi, sejenak wanita itu diam. Dia menoleh ke arah pemuda itu dan mencoba meneliti "Kang " " gumamnya ragu-ragu. Ginggi heran sebentar. Namun pada akhirnya dia terkejut setengah mati. Tergopoh-gopoh dia menggandeng bahu wanita itu, dibawanya keluar gua, dimana cahaya bulan sanggup menerangi keadaan. "Nyi Santimi ?"" teriak Ginggi kaget. Nyi Santimi pun kaget dan terkejut melihat pemuda ini. Kemudian tubuhnya limbung. Dan kalau Ginggi tak segera menangkapnya, tubuh semampai itu pasti sudah jatuh terjerembab ke tumpukan batu cadas.
Pemuda ini segera memondong tubuh Nyi Santimi. Dibawanya menjauhi mulut gua. Melalui jalan setapak, masuk lagi ke hutan kecil perbukitan. Dia hanya memondong pelan saja, tidak berlari seperti si laknat itu. Karena bulan terang benderang, Ginggi sambil melangkah bisa menatap wajah gadis itu yang mendongak dan bergoyang seperti mengangguk-angguk karena goncangan langkahnya. Wajah Nyi Santimi nampak kelelahan, pucat dan berkeringat. Mungkin karena peristiwa hebat yang baru saja menimpanya, atau mungkin juga lelah karena peristiwa demi peristiwa mendera hidupnya belakangan ini. Namun yang jelas, raut muka gadis ini apa pun yang terjadi, masih nampak elok dan cantik.
Sudah tak nampak pupur penutup wajah yang dipakainya tadi siang manakala dipinang orang. Juga pemerah bibirnya, dan tahi lalat palsunya di sudut dagu, semua sudah hilang. Yang sisa kini, hanyalah kecantikan alamiahnya. Tapi itulah kecantikan asli yang terdapat pada raut Nyi Santimi. Gadis itu sudah memiliki kecantikan asli yang lebih mempesona ketimbang segala macam polesan. Dalam kelelahan wajahnya, Nyi Santimi seperti terbuai dalam tidurnya. Ingin Ginggi mengusap-usap pipi yang putih dan halus itu dengan penuh kasih. Ingin dia mencawil dagu yang runcing itu, bibir tipis yang merekah itu. Ah, kalau saja dia bukan milik orang lain, keluhnya.
Harapan dan khayalan pemuda itu rupanya terlalu keras keluar dari lubuk hatinya, menyebabkan naluri gadis di pangkuannya ikut tersentuh.