Chapter 17
Buktinya, mata sayu berbulu lentik itu sedikit-sedikit terbuka, bahkan akhirnya menatap lemah ke arah wajah pemuda yang memangkunya.
Lama gadis itu menatapnya. Sambil melangkah pelan, keduanya saling menatap.
Barangkali tak akan berhenti kalau saja kaki pemuda itu tidak tersandung akar-akaran.
"Kakang, turunkan aku?" kata gadis itu sedikit malu.
Ginggi segera menurunkan tubuh semampai itu dengan perasaan enggan, sebab keinginannya adalah bisa memondong tubuh molek itu selama-lamanya, sejauh-jauhnya sampai berakhir ke ujung dunia.
Nyi Santimi memilih jalan sendiri saja.
Tapi baru satu-dua langkah saja dia sudah limbung lagi dan segera dipeluk pemuda itu lagi.
"Kita istirahat saja dulu di bawah pohon itu," ajak Ginggi. Nyi Santimi setuju.
Gadis itu digandengnya menuju sebuah pohon rindang.
Mereka kemudian duduk di sana.
Nyi Santimi bersandar di batang pohon dan Ginggi bersila di hadapannya.
"Ceritakanlah, mengapa sampai terjadi hal hebat seperti ini, Nyai?" kata Ginggi setelah beberapa lama beristirahat.
Nyi Santimi menunduk, menutup matanya dengan kedua belah tangannya.
Diingatkan kembali akan peristiwa hebat itu, perasaannya mungkin tergoncang lagi.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu bagaimana awal mulanya," gumamnya hampir seperti berbisik.
Gagap dan terbata-bata, gadis itu hanya mengatakan bahwa ketika itu, kendati malam belum benar-benar larut tapi seisi rumah seperti diserang kantuk yang hebat.
Rama Dongdo yang biasanya selalu tidur larut malam karena sepanjang senja hingga malam selalu membaca doa-doa, malam itu sudah tertidur pulas.
"Kepala rasanya pusing, mata terkatup rapat, sulit untuk dibuka.
Kami semua tertidur pulas," kata Nyi Santimi.
"Aku akhirnya tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya," katanya lagi.
"Tapi antara sadar dan tidak, aku merasakan bahwa tubuhku ada yang memondong, melayang, entah dibawa ke mana.
Ada angin dingin menerpa wajah.
Ujung kebaya pun seperti bergerak-gerak akibat tiupan angin.
Aku mencoba membuka mata yang selalu terkatup rapat.
Samar-samar terlihat pucuk pepohonan seperti berlari cepat, badan pun terguncang-guncang," kata Nyi Santimi pula.
"Kau pasti sedang dipondong orang.
Mungkin si laknat itu.
Siapa dia, Nyai?" kata Ginggi.
"Aku tidak tahu siapa dia.
Tapi sayup-sayup terdengar kekehan tawanya.
Serasa pernah mendengar tawa seperti itu di sini," kata Nyi Santimi setengah mengingat-ingat.
"Ya, pasti dia orang sini.
Sudah hafal suasana di sini, dan dia orang yang pandai," gumam Ginggi.
Keduanya berdiam diri beberapa lama.
Bulan kian benderang.
"Kakang?"
"Apa, Nyai?"
"Cantikkah wajahku?" kata Nyi Santimi menatap pemuda itu.
Bulan benderang menyinari wajah putih bersih itu, menyinari mata berbinar itu, mulut tipis merah merekah itu, serta menyinari pipi berlesung pipit itu.
Masih tidak sadarkah gadis ini bahwa tubuh molek, ramping, berisi, dan rambut hitam legam sebatas pinggul itu adalah tanda kecantikan seorang makhluk bernama perempuan? "Kalau bulan berkata punya wajah benderang, tidak boleh sombong sebab akan ada yang mengalahkannya.
Kalau bintang gemintang mengaku punya sinar berbinar, tidak boleh menepuk dada, sebab ada yang berbinar lebih dari itu.
Benderangnya bulan pasti kalah dengan benderangnya wajah putih halusmu, binar bintang pun tidak sanggup melampaui cemerlangnya bola matamu," kata Ginggi mendadak lancar membuat siloka. "Kau dewi dari khayangan. Kau cantik, Nyai?" lanjutnya menatap tajam dalam-dalam.
Tapi Ginggi kecewa, pujian setinggi langit tidak disambut keceriaan wajah gadis itu.
Dia malah tampak murung dan sedih.
"Orang cantik sebenarnya malang, Kakang.
Ia banyak mengalami penderitaan?" gumam gadis itu menunduk lesu.
Ginggi terkekeh merasa lucu mendengarnya.
Nyi Santimi hanya menunduk dan tidak menoleh. "Keindahan itu didambakan setiap orang. Tapi mengapa kau katakan sebuah derita?" tanya Ginggi, tetap menatap wajah sendu itu.
"Katanya aku tercantik di desa ini.
Orang menyebutnya Kembang Desa Cae.
Tapi itulah masalahnya.
Aku banyak dikejar dan diperebutkan lelaki di sini, tapi juga banyak dibenci dan dicemburui sesama gadis.
Dan itu masalah untukku, Kakang."
"Wajar mereka berlaku begitu," gumam Ginggi.
"Orang terkadang berkelahi karena aku," kata gadis itu lagi dan membuat Ginggi tersipu.
Dia jadi ingat peristiwa tempo hari di tepi pancuran itu.
Pemuda Seta dan Madi uring-uringan bukan sekadar menudingnya mengintip orang mandi, melainkan karena rasa cemburu itulah.
Mereka takut aku ikut persaingan, pikir Ginggi.
"Tapi begitu banyaknya lelaki yang memperebutkanmu, sebenarnya bukan urusanmu, sebab kau punya pilihan sendiri, bukan?" kata Ginggi.
Dan pemuda itu ingat Seta.
Ginggi ingin menanyakan, apakah gadis itu memilih pemuda angkuh itu. "Aku tidak pernah berpikir untuk mencari pilihan," kata gadis itu.
"Tapi, Setamu itu?" Ginggi bertanya. Nyi Santimi menunduk.
Kemudian satu per satu butiran air mata meleleh di pipinya.
"Kau pasti marah melihat peristiwa tadi pagi.
Kau juga marah aku tidak menepati janji, padahal kita akan bertemu di tempat pertunjukan pantun," kata Nyi Santimi.
Ginggi mencoba untuk pura-pura tidak memperhatikan secara khusus omongan ini.
Padahal sejak tadi malam pertanyaan ini bergayut terus di benaknya.
"Aku tersiksa malam itu. Kubayangkan, kau menungguku, kau lelah, dan kau kesal karena akhirnya aku tidak datang. Aku tidak bisa keluar malam itu," kata Nyi Santimi.
Ginggi masih memandang ke arah lain.
"Rama Dongdo mengabarkan padaku bahwa secara mendadak Ki Aspahar akan datang besok pagi."
"Siapa itu Ki Aspahar?" tanya Ginggi.
"Dia ayah Seta," jawab Nyi Santimi.
"Datang meminangku untuk kepentingan Seta.
Pinangannya datang secara mendadak, sebab Rama Dongdo yang meminta.
Rama khawatir setelah melihat kedatangan Suji Angkara.
Suji Angkara adalah pemuda putra Ki Kuwu Suntara.
Pemuda itu sering mengembara.
Hanya tiga atau empat bulan sekali dia pulang ke desa sambil membawa kekayaan melimpah.
Katanya dia berniaga, saling tukar-menukar barang dengan saudagar bangsa asing," kata Nyi Santimi.
"Apa hubungannya dengan urusan pinangan?" tanya Ginggi heran.
"Entahlah. Tapi Rama sebenarnya tidak senang kepada pemuda itu.
Hampir sama, Rama pun tidak senang kepada ayahnya.
Ki Kuwu pernah berkata kepada Ki Banen bahwa Rama mencurigai sesuatu kepada pemuda itu.
Soal apa, beliau tidak mengungkapkannya," kata Nyi Santimi.
Ginggi bertanya, "Menurutmu, pemuda bernama Suji Angkara itu seperti apa?"
"Entahlah, aku kurang bisa meneliti sikap orang.
Di hadapan orang banyak, dia memperlihatkan diri sebagai orang yang menjaga kehormatan.
Halus tutur katanya, sopan kepada semua orang.
Tapi dua kali aku pernah bertemu secara khusus dengannya.
Sorot matanya tajam menggerayangi.
Bibirnya selalu terkatup dan terkadang digigit-gigitnya sendiri bila tengah menatapku.
Dia tampan sebab suka mengenakan baju bagus.
Tapi aku takut terhadapnya.
Entah mengapa, padahal dia tidak pernah menggangguku," kata gadis itu.
Berdiam diri beberapa lama.
Bulan tampak berjalan melewati taburan awan.
"Keteranganmu belum tuntas, Nyai?" kata Ginggi.
Nyi Santimi bertanya, "Soal apa?"
"Soal bagaimana pandanganmu terhadap Seta, calon suamimu," jawab Ginggi.
Nyi Santimi menunduk.
"Aku belum ingin menikah dan aku tidak mencintai pemuda itu!" katanya.
Ginggi berkata, "Tapi dia pasti sangat mencintaimu."
"Ya, benar," jawab Nyi Santimi.
"Dia selalu tidak putus asa mengejarku.
Ayahnya petani ladang cukup berada.
Punya banyak juru tengah (pegawai di ladang) dan selalu membantu Rama dalam menutupi kebutuhan pangan sehari-hari.
Kata Rama sore itu, Ki Aspahar sudah lama membicarakan perihal keinginan anaknya itu.
Kemarin ia sudah memintanya lagi sesudah melihat kehadiran Suji Angkara di desa ini," kata Nyi Santimi.
Ginggi termenung mendengar penjelasan ini.
Kalau benar rencana pernikahan ini kurang dikehendaki gadis ini, maka benar pendapat Nyi Santimi bahwa kecantikan baginya adalah derita.
"Tapi kecantikanmu tidak berarti derita bila kau sanggup menemukan pemuda pilihan, Nyai," kata Ginggi tiba-tiba sehingga membuat gadis itu terpana mendengarnya.
"Adakah kau cintai seseorang, Nyai?" tanya Ginggi.
Nyi Santimi hanya menunduk, menatap, kemudian menunduk lagi.
Tapi setelah terdengar sedu sedan yang ditahan, gadis itu tiba-tiba menubruk tubuh Ginggi dan membenamkan wajahnya ke dada pemuda itu.
Ginggi mendekapnya, membelai rambutnya, dan dia tidak bisa menahan hasratnya lagi untuk mengecup kening gadis itu.
Kini sedu sedan semakin keras dan tidak bisa dibendung.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya.
"Nyai... Nyai...!" Ginggi mendorong tubuh Nyi Santimi agar kembali bisa menatap gadis itu.
Melalui cahaya bulan sangat kentara air mata Nyi Santimi meleleh-leleh turun dari pipinya, bening dan berkilat-kilat.
Ginggi menyekanya perlahan-lahan.
Namun ketika tangannya akan ditarik, Nyi Santimi tidak mengizinkannya.
Dia malah meremas erat tangan itu, menciuminya, mendekapnya, dan kembali menciuminya.
"Nyai, Nyai... jangan begitu, Nyai...!" Ginggi gagap dan sekujur tubuhnya menggigil.
Di malam yang sebenarnya sudah dingin ini, tubuh pemuda itu bahkan berkeringat.
Ada dorongan hawa panas di dalamnya.
Di keremangan cahaya bulan, rambut gadis itu tampak tidak beraturan, juga pakaiannya.
Kain kebaya di bagian dada, lubang kancingnya terkoyak-koyak, memperlihatkan bagian dada yang sebenarnya tidak boleh diperlihatkan sembarangan.
Namun kali ini, Nyi Santimi sepertinya tidak peduli terhadap segalanya.
Termasuk ketika Ginggi menatapnya dengan penuh gejolak.
Dialah bahkan yang seolah-olah menggoda dan mempengaruhi agar darah pemuda itu menggelegak.
Dan akhirnya, pertahanan Ginggi bobol.
Dia terbenam ke dalam buih-buih panas yang seharusnya tidak pantas ia terjuni.
Bulan mendadak bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menyaksikan adegan yang terjadi di bawah pohon rimbun itu.
Namun keengganan sang rembulan ini, bahkan dianggapnya sebagai pendorong semangat kedua insan itu.
Berpalingnya tatapan sang purnama dari muka bumi, disangka menawarkan keleluasaan bagi mereka berdua untuk melakukan sesuatu sebebas mungkin.
Ginggi semakin terbenam, keduanya semakin tenggelam.