Chapter 18
Sepertinya tak ada kehidupan lain selain keasyik-masyukan yang tengah mereka lakukan. Tapi, mata hati pemuda itu tertutup, kesadarannya tak berjalan normal, hanya ketika gejolak darahnya mendidih saja. Ketika api dalam dada telah padam, ketika gerak denyut nadinya telah menurun, kembali pulanglah kesadarannya.
Pemuda itu tersentak kaget, berjingkat, dan duduk agak menjauh. Cepat-cepat dibenahinya pakaiannya yang tadi semrawut dan sebagian terlepas begitu saja. Nyi Santimi yang terlena kecapaian segera ikut bangun dan duduk membelakangi. Dengan terburu-buru, dia pun segera membenahi seluruh pakaiannya. Dia tertunduk lama sekali sambil tetap duduk membelakangi.
Sinar bulan kembali menerangi bumi manakala gumpalan awan berlalu. Setelah suasana mulai diterangi bulan, perasaan Ginggi serasa baru bangun dari mimpi. "Oh, mimpi burukkah ini?" Ginggi tak memungkirinya bahwa baru saja dia berlayar di lautan kesenangan lahiriah. Sebuah kesenangan yang baru dirasakannya selama dia menjadi seorang lelaki.
Tapi, benarkah ini sebuah kebahagiaan? "Nyai? Maafkan aku. Kurasa kelakuanku barusan amat keterlaluan," gumam pemuda itu perlahan. Melihat gadis itu duduk membelakangi tanpa bersuara sepatah kata pun, Ginggi menduga Nyi Santimi tersinggung perasaannya.
"Nyai?" Ginggi mencoba mendekati tubuh gadis itu. Dipegangnya bahunya. Ditepuk-tepuknya perlahan sekali, kalau-kalau gadis itu tak mendengarnya.
Nyi Santimi menoleh perlahan. Tangannya meraih tangan pemuda itu dan disuruhnya memeluknya dari belakang. "Kang, telapak tanganmu kasar sekali. Kalau bukan pehuma, kau pasti peladang," kata Nyi Santimi dengan suara manja.
"Ah, Nyi Santimi tak marah padaku," kata Ginggi dalam hatinya, tetapi sambil menarik tangannya dari cekalan gadis itu. Ginggi mengusap-usap telapak tangannya sendiri. Benar, ini kekeliruan Ki Darma, mengapa dia selalu memaksanya untuk melatih tangan.
Mula-mula dia disuruh bertepuk tangan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Selama empat puluh hari empat puluh malam, Ginggi menahan rasa sakit karena kulit telapak tangannya pecah-pecah. Kemudian selama empat puluh hari empat puluh malam, kedua telapak tangannya itu dilatihnya memukul batang kayu, permukaan batu, dan permukaan cadas yang keras serta kasar.
Dari latihan keras ini, Ginggi bisa memukul hancur benda-benda keras dan meluluhlantakkan palang pintu yang terbuat dari kayu jati. Waktu itu Ginggi merasa amat beruntung, sebab bila bekerja mencari kayu bakar di hutan, cukup mengandalkan sepasang tangannya saja tanpa memerlukan alat-alat tajam seperti golok ataupun kapak.
Tapi, baru kali ini dia merasakan betapa ruginya hasil latihan itu. Kedua telapak tangannya menjadi keras dan kasar serta tak disenangi wanita. Buktinya, tadi Nyi Santimi meringis dan mengeluh karena remasan tangan pemuda itu menyakitkan.
"Tanganku kasar, juga kelakuanku, Nyai. Tidakkah kau membenciku?" tanya Ginggi masih meraba-raba tangannya sendiri.
Nyi Santimi tersenyum tipis, manis sekali. Dan untuk kesekian kalinya, gadis itu meraih kedua tangan Ginggi, didekapnya dengan mesra.
"Aku orang jelek, kasar, dan buruk, Nyai?"
"Kalau cinta sudah tergelar, tak ada jelek ataupun buruk yang terlihat, Kakang. Oh ya, aku ingin menyebut namamu, siapakah engkau sebenarnya? Ah, kau lelaki tak sopan! Dua hari kita berkenalan, tak sekali pun kau sebut namamu!" kata Nyi Santimi dengan nada tetap manja.
Terkejut hati pemuda itu. Hal ini amat menyadarkan dirinya. Gadis ini belum kenal namanya karena dia pun tak berusaha memperkenalkan diri. Tapi kendati gadis itu tak mengenal namanya, dia sudah berani menyerahkan segalanya kepadanya. Dalam dua hari! Mengapa begitu murah?
"Nyai, namaku Ginggi. Ini pertama kali aku mengenalkan nama kepada seseorang, tapi sanggupkah kau mengenalku sesudah tahu namaku?" tanya pemuda itu.
"Ginggi... Nama yang indah. Nama yang gagah," puji Nyi Santimi seperti tak mendengar kata-kata selanjutnya dari pemuda itu.
"Ginggi bukan nama yang baik. Itu nama jin jahat yang menganggap nafsu angkara murka sebagai dewa," kata pemuda itu.
Tapi Nyi Santimi malah tersenyum dengan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Tidak percayakah kau aku orang jahat, Nyai?" tanya Ginggi.
"Kau orang baik, Kang."
"Kalau orang baik, tak mungkin merusak kehormatan wanita, apalagi yang sudah punya tunangan!" kata Ginggi lagi.
Kini giliran Nyi Santimi yang terkejut. Deretan giginya yang putih dan rapi mendadak menghilang bersamaan dengan hilangnya senyum manisnya. Kalau saja cahaya bulan datang lebih terang, barangkali Ginggi bisa menyaksikan betapa pucatnya wajah gadis itu.
"Kang?"
"Ya, aku orang jahat, Nyai! Sama jahatnya dengan lelaki yang akan memperkosamu. Atau, ya, aku pun sebetulnya memperkosamu! Sebab, apalah bedanya antara lelaki di gua itu denganku? Kedua-duanya sama berupaya mengganggu keutuhanmu. Dan terbukti, siapa sebenarnya yang membuat dirimu tidak utuh? Bukan lelaki di gua sana, tapi aku Nyai! Aku, Si Ginggi jahat ini!" teriak pemuda ini setengah histeris.
"Kakang!" Nyi Santimi balas berteriak. "Jangan katakan itu lagi! Jangan! Kalau kau bicara begitu, sama saja dengan mencercaku. Bukankah aku juga sama denganmu, melakukan hal-hal yang mungkin dianggap salah?"
Ginggi terpekur. "Ya, kita berdua salah."
"Betul, kita berdua salah. Engkau bisa berusaha memperbaikinya, Kang?"
Ginggi memandang tajam, kemudian menggelengkan kepala.
"Kita harus menikah!" kata Nyi Santimi tegas.
"Menikah?" tanya Ginggi kaget.
"Ya, apalagi kalau tidak menikah? Itu salah satu cara menghapus kesalahan kita!" kata gadis itu pasti.
"Lalu, dosa terhadap Seta bagaimana? Dosa berkhianat kepada para orang tua, bagaimana? Betapa hancurnya Rama Dongdo, betapa sakitnya hati Ki Aspahar. Bisakah kita bersihkan kesalahan kita terhadap mereka, Nyai?"
Nyi Santimi membisu seribu bahasa, dan Ginggi memandangnya dengan senyum pahit. Lama mereka saling membisu seolah ada kunci besi yang menggembok mulut mereka.
"Sudah hampir dini hari, Nyai! Kalau seisi rumah dalam keadaan tidur pulas sewaktu kau diculik, sebaiknya kau cepat-cepat pulang dan mudah-mudahan semuanya masih dalam keadaan terlelap. Aku ingin semua peristiwa malam ini tidak ada orang yang tahu," kata Ginggi sambil berdiri.
Nyi Santimi masih tak mau berdiri, tetapi pemuda itu menariknya agar gadis itu ikut berdiri. "Mari," ajak Ginggi.
Nyi Santimi masih tertegun, tetapi Ginggi tak membiarkan gadis itu berlama-lama di situ. Secepat kilat dia memondongnya dan membawanya berlari. Sepanjang perjalanan, Nyi Santimi meneteskan air mata. Terasa hangat ketika jatuh di dada pemuda itu. Ginggi tak sanggup memperkirakan tetesan air mata itu karena apa.
Tiba di depan lawang kori, pintu besar itu tertutup rapat sebab dikunci dari dalam. Ginggi merasa lebih yakin lagi bahwa penculik Nyi Santimi adalah orang pandai. Dia membawa gadis itu dalam pondongan tidak melalui pintu, tetapi melalui jalan lain. Mungkin dia memiliki ilmu loncat seperti yang pernah dipelajari Ginggi dari Ki Darma. Suasana sunyi senyap sebab semua penduduk sedang tidur nyenyak. Hal ini melegakan Ginggi. Dia tetap tak menginginkan peristiwa penculikan diketahui orang. Jika ada orang tahu gadis itu menghilang kemudian kembali bersamanya, hal itu bisa menghebohkan dan dia akan mengalami kesulitan. Padahal, pengembaraan dirinya yang dikehendaki Ki Darma adalah menjauhi keributan yang tak perlu dan tak ada hubungannya dengan rencana serta tujuan dia turun gunung.
Ginggi menengadah meneliti bagian-bagian benteng kayu itu. Sesudah menemukan bagian atas benteng yang tak begitu tajam, dia segera mengambil ancang-ancang dan mengerahkan inti tenaganya.
Hup! Tubuh Ginggi meloncat ringan seperti gerakan harimau kumbang yang melompat di dahan. Benteng setinggi lebih dari dua depa bisa dia lompati. Sejenak dia berdiri di ujung kayu, melirik ke sana kemari. Setelah yakin tidak ada petugas ronda, dia segera meloncat ke bawah tanpa menimbulkan bunyi berarti.
Nyi Santimi ternganga kaget mengalami kejadian ini. Betulkah pemuda yang memondongnya pandai terbang? Dia tak menyaksikan dengan nyata, sebab ketika Ginggi bergerak, ada tiupan angin menerpa ubun-ubunnya sehingga dia memejamkan mata dengan rapat. Dia baru membukanya setelah dirinya berada di dalam benteng.
Ginggi tidak memberi kesempatan kepada gadis itu untuk bertanya sebab dia segera berlari kembali sambil tetap memondong tubuhnya. Tiba di rumah gadis itu, dia berkeliling mencari jalan masuk. Pasti ada jalan masuk tanpa membangunkan penghuni rumah. Dan jalan masuk itu adalah jalan yang digunakan penculik untuk membawa Nyi Santimi keluar. Benar saja, ada sebuah jendela yang tidak dikunci dari dalam. Daun jendela itu bekas dicongkel. Ginggi membawa masuk Nyi Santimi melalui lubang jendela itu.
"Ini kamar tidurku, Kang," bisik gadis itu.
"Ya, kau cepatlah tidur. Dan simpanlah rahasia ini baik-baik," kata pemuda itu hendak kembali meloncat, tetapi ditahan oleh gadis itu.
"Ada apa?" Ginggi tak melanjutkan kata-katanya sebab Nyi Santimi segera mendekapnya erat. Mereka berdua bergulingan di atas dipan dan peristiwa di hutan terulang kembali. Keduanya bergejolak lagi, mendidih lagi, sampai pada suatu saat kembali normal sesudah segalanya terlampiaskan. Dan kembali Ginggi mengeluh lagi, bergumam dengan sumpah serapah sebagai tanda kesal yang tiada akhir.
Akhirnya Ginggi meloncat secepat kucing yang menghindari pukulan. Dia pergi berlari dengan keluhan-keluhan yang hanya keluar dari lubang hidungnya. Ginggi berlari, meloncati benteng kampung dengan sepenuh tenaga. Berlari ke mana saja. Dia kembali memasuki hutan di bukit kecil. Menjatuhkan badannya di tanah lembap. Bergulingan dan menjambak-jambak rambutnya.
"Gila aku," pikirnya. Dia merasakan, hanya berselang beberapa hari sejak perpisahannya dengan Ki Darma, hidupnya jadi tak terkendali. Kalau dia seekor kuda, mungkin inilah kuda binal, garang, dan kasar. Kalau dia seekor tikus, mungkin inilah tikus licik tapi penakut.
"Penakut dan pengecut!" teriaknya sendirian.