Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 19

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 19

Dia pengecut, berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab.

Huh!

Padahal berkali-kali Ki Darma mengatakan bahwa manusia itu hidup karena tanggung jawabnya.

"Kalau kau tidak berani bertanggung jawab, lebih baik mati!" kata Ki Darma.

Mati? Kalau aku mati karena urusan wanita, bagaimana aku harus melaksanakan tanggung jawab untuk urusan yang lebih besar, yang secuil pun belum aku laksanakan? Bukankah Ki Darma bilang aku harus bertanggung jawab membantu dan meringankan nasib rakyat bumi Pajajaran? "Kau boleh mati dalam membela mereka!" kata Ki Darma.

Tetapi banggakah Ki Darma bila mendengar dia mati karena urusan wanita? Hati-hati dengan wanita! Hati-hati dengan wanita! Itu perkataan Ki Darma yang kerap kali diulangnya. Sekarang, ternyata dia tidak berhati-hati terhadap makhluk lemah tetapi membahayakan ini.

Ginggi berdiri.

"Tidak. Aku memang harus bertanggung jawab. Tetapi aku minta jangan sekarang. Tunggulah setelah ada tanggung jawab besar yang sudah aku selesaikan, aku akan datang padamu," kata pemuda itu dalam hatinya.

Sekarang Ginggi melangkah lagi. Tujuannya mendatangi gua lagi. Dia akan mencari tahu siapa gerangan lelaki penculik Nyi Santimi itu. Si laknat itulah yang menjadi gara-garanya. Kalau saja dia tidak menculik gadis itu, kalau saja dia tidak berusaha memperkosa Nyi Santimi, tidak mungkin dia bertemu lagi dengan gadis itu.

Ginggi meloncat-loncat menuju gua. Dalam sekejap, ia sudah tiba di tempat itu. Pukulan telapak tangannya yang digunakan untuk menyerang lelaki misterius itu hanya dikeluarkan seperempat bagian saja. Orang itu tidak akan mati. Kalau pun pingsan, itu karena badannya membentur dinding gua dan bukan karena pukulannya.

Ginggi segera memasuki gua, celingukan ke sana kemari dengan harapan si laknat itu masih terbaring pingsan. Tetapi dia kecele sebab orang yang dimaksud sudah hilang entah ke mana. Orang itu pasti bertubuh kuat bila sudah berhasil pergi dengan cepat. Atau, apakah karena dia begitu lama terlena bersama Nyi Santimi di hutan sana?

Plak! Ginggi menampar pipinya lagi. Masih kurang puas, dia segera mengetuk ubun-ubunnya.

"Sialan! Brengsek!" kutuknya.

Bila Ginggi naik ke puncak pohon di bukit kecil itu, lawang kori Desa Cae akan terlihat samar-samar. Seperti pada suatu pagi di saat dia sedang mengumpulkan buah-buahan di hutan, pemuda itu pun bisa memandang ke arah kampung tersebut. Sudah dua pagi dia memandang perkampungan wilayah Desa Cae dari puncak pohon itu.

Dari atas pohon ini terlihat beberapa bangunan rumah. Ada rumah Ki Kuwu Suntara yang ukurannya paling besar; rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu jati kokoh. Beberapa di antaranya terdapat lagi rumah-rumah besar, tetapi ukuran dan kondisinya berada di bawah rumah Ki Kuwu. Salah satu di antaranya adalah rumah Rama Dongdo. Rumah itu terletak di sudut jalan kampung. Kalau ada orang keluar dari halaman rumah itu, ia akan terlihat samar-samar dari puncak pohon tempat Ginggi berada.

Tetapi sudah dua pagi dia tidak pernah melihat ada orang yang keluar dari rumah itu. Tidak pula Rama Dongdo. Ke mana mereka? Ke mana Nyi Santimi? Apakah mereka tinggal di dalam rumah saja selama dua hari itu? Pemuda itu ingin pergi menengoknya untuk mencari tahu mengapa mereka tidak keluar rumah. Namun, bila dia memaksa pergi, dia hanya akan kembali terjun ke peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan, peristiwa yang melibatkan aib dirinya.

Ah, biarlah untuk beberapa lama aku tidak menemui gadis itu. Mudah-mudahan bila aku tidak bertemu dengannya, gadis itu pun akan segera melupakannya. Dan melupakan kejadian berarti merahasiakan aib! Ginggi tersenyum kecut memikirkan hal ini.

Kata Ki Darma, sejahat-jahatnya binatang, ia melakukan tindakan karena tidak mempergunakan pikirannya, bahkan bukan hasil dari kecerdikannya berpikir.

"Ada orang pura-pura berlaku baik untuk menutupi kejahatannya, sehingga orang lain terkelabui. Sedangkan binatang bertindak jujur. Apa yang menjadi nalurinya, itulah yang menjadi sifat dan tindakannya," kata Ki Darma tempo hari.

Jadi kalau Ginggi boleh menilai, binatang memiliki kejujuran sedangkan manusia tidak, pikirnya ketika itu.

"Tidak begitu," kata Ki Darma. "Binatang memiliki kejujuran karena dia tidak punya pilihan. Dia hanya bisa memperlihatkan sikap seperti apa yang diperintahkan nalurinya. Sedangkan manusia diberi kebebasan memilih. Dia punya kemampuan untuk bertindak jujur dan baik, tetapi juga punya kemampuan untuk melakukan hal sebaliknya. Tinggal manusia itu sendiri yang menentukan mau dipakai di mana otak dan pikirannya itu. Yang jelas, manusia itu makhluk yang bisa berbahaya. Sebab dengan memiliki kemampuan berpikir, semua makhluk termasuk sesamanya bisa mengalami kesulitan dalam menilai sifat apa yang sebenarnya ada dalam dirinya. Kita mengenal harimau ganas karena melihat taringnya yang runcing, tetapi manusia berhati mulia tidak bisa dilihat hanya dari keelokan wajahnya."

Ginggi hendak melorot turun dari pohon. Ia kesal sekali dengan jalan pikirannya itu. Semakin mengingat-ingat berbagai perkataan yang pernah dilontarkan Ki Darma, semakin terasa bahwa hidupnya selalu tidak selaras dengan apa yang diuraikan orang tua itu. Entahlah, Ki Darma tidak pernah bilang itu sebuah petuah. Dia tidak memaksakan kehendak agar pemuda itu bercermin pada apa-apa yang pernah dikatakan. Tetapi bila Ginggi mencoba membandingkan pengalamannya selama turun gunung, pendapat dan ucapan orang tua itu banyak memberikan contoh dalam kehidupan nyata ini.

Pemuda itu tidak jadi turun ketika pandangannya tertuju pada lawang kori. Ternyata sepagi itu di pintu masuk desa banyak orang berkerumun. Sedikit demi sedikit terlihat barisan orang dengan bawaan masing-masing. Ada sekelompok orang memikul carangka wahad yang terbuat dari anyaman bambu. Sekelompok lagi terlihat memikul dongdang atau pikulan barang.

Sesudah semuanya keluar pintu, pemuda itu mencoba menghitung. Ada sekitar lima puluh orang lebih dalam rombongan pembawa barang, dan terdapat lima orang yang berjalan di muka tanpa membawa barang apa pun. Sepertinya mereka berlima adalah pemimpinnya. Ginggi tidak memperhatikan hal ini sejak tadi karena matanya selalu mengawasi rumah Nyi Santimi. Kalau tidak terlihat orang lalu-lalang di halaman rumah itu, mungkin karena semua orang tengah menyaksikan rombongan yang baru saja meninggalkan lawang kori.

Rombongan apakah itu? Ginggi menghitung waktu dan dia baru teringat bahwa hari ini rombongan seba dari Desa Cae akan berangkat untuk mengirimkan pajak tahunan. Kalau tidak ada peristiwa menyangkut Nyi Santimi, sebetulnya Ginggi ingin ikut rombongan itu. Rama Dongdo tempo hari menawarinya untuk bekerja membantu rombongan seba. Pemuda itu amat tertarik. Bukan karena mengharapkan upah kerja mengusung dongdang, melainkan karena ingin menggunakan rombongan itu sebagai pemandu perjalanan.

Sekalipun rombongan seba dari Desa Cae ini tidak akan melakukan perjalanan panjang, barang-barang kiriman selanjutnya akan dibawa ke Pakuan, ibu kota Pajajaran. Pakuan mungkin pusat keramaian dan akan banyak orang menuju ke sana. Kalau Ginggi sudah ada di Pakuan, diharapkan dia akan mendapatkan banyak informasi perihal orang-orang yang harus ditemuinya.

Ki Darma pernah mengatakan, untuk menjalankan misi yang dibebankan kepadanya, Ginggi harus menemui empat orang murid Ki Darma lainnya, yaitu Ki Bagus Seta, Ki Banaspati, Ki Rangga Wisesa, dan Ki Rangga Guna. Sampai saat ini Ginggi belum mengetahui di mana mereka berada dan apa pekerjaannya. Dengan ikut bersama rombongan seba yang menuju Pakuan, tentu ia akan melewati beberapa daerah. Sepanjang perjalanan, Ginggi bisa mencari alamat mereka.

"Jadi kalau begitu, aku harus ikut rombongan seba ini," kata Ginggi bicara sendiri.

Ginggi melorot turun dari batang pohon, tetapi tidak perlu terburu-buru mengejar rombongan itu. Dia hanya ingin membuntutinya dari belakang. Dia tidak ingin bertemu dengan orang-orang kampung itu. Terlebih lagi, dia tidak ingin bertemu dengan pemuda Seta, calon suami Nyi Santimi. Sekarang ada perasaan malu bila harus berhadapan muka dengan pemuda itu. Ini adalah pengalaman pertama dia merasa malu kepada seseorang. Beginilah rasanya orang bersalah, keluhnya dalam hati.

Ginggi berjalan memutar arah karena tidak mau melewati batas kampung. Kendati begitu, dia tidak khawatir akan kehilangan jejak. Rombongan itu pasti akan menuju ke barat.

Rombongan seba melakukan perjalanan hampir sehari penuh. Ketika matahari hampir condong ke barat, mereka tiba di sebuah kampung yang lawang korinya hampir tertutup. Untuk menghindari pertemuan dengan orang yang dikenal atau mengenalnya, Ginggi tidak ikut memasuki kampung. Ia lebih memilih mencari "penginapan" di sebuah pohon di tepi hutan saja.

Cara tidurnya aneh; kepala di bawah dan kaki terkait ke dahan. Sebetulnya ini bukan tidur biasa, melainkan pemuda itu sedang melakukan tapa sungsang. Ki Darma kerap kali mengajarkan cara tidur ini: pertama untuk melatih pernapasan, kedua berguna untuk melancarkan peredaran darah ke otak. Tapa sungsang juga melatih Ginggi untuk bisa terjaga dalam tidur dan tidur dalam terjaga. Dia bisa mengistirahatkan segala aktivitas tubuh serta jalan pikirannya, tetapi tidak "menidurkan" nalurinya. Sehingga bila dalam keadaan tidur tapa sungsang ada marabahaya mengancam, secara otomatis nalurinya akan membangunkan tubuh dan jalan pikirannya.

Tetapi sampai matahari kembali bersinar dari ufuk timur, tidak ada gangguan berarti bagi pemuda itu selain gigitan nyamuk yang tidak dirasanya. Pemuda itu bangun oleh kicauan burung di dahan pohon lain. Ginggi segera meloncat turun agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang akan berladang. Dia mencuci muka di sebuah sungai kecil yang airnya jernih dan merapikan ikat kepalanya.

Ia berjalan menuruni jalan setapak menuju jalan pedati. Di tepi jalan itu Ginggi bersua dengan peladang yang hendak mulai bekerja. Pemuda itu bertanya tentang kampung yang ada di depannya.

"Ini Kampung Wado, termasuk Karatuan Sumedanglarang," jawab lelaki tua bercaping yang sepagi itu sudah berbekal parang dan alat-alat lainnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment