Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 20

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 20

"Sebentar dulu, Aki," cegat Ginggi ketika orang tua itu hendak cepat-cepat berlalu.

Orang tua bercaping ini seperti segan berlama-lama bicara dengan Ginggi, kendati pada akhirnya mau juga meladeni beberapa pertanyaan pemuda itu.

"Kemarin sore ada rombongan seba yang masuk kampung ini. Barangkali Aki tahu, kapan mereka akan melanjutkan perjalanan lagi?" tanya Ginggi.

Orang tua itu mengerutkan dahi mendengar pertanyaan ini.

"Tak apa bila Aki tak mengetahuinya," kata Ginggi pendek.

"Memang aku tidak tahu kapan mereka berangkat sebab tadi malam kelihatannya ada sedikit perbedaan paham dengan Ki Kuwu," kata orang tua ini.

Kini giliran Ginggi yang mengerenyitkan dahi.

"Tahun-tahun silam, kampung ini memang suka mengumpulkan hasil bumi, dibawa ke Ciguling, yaitu Ibukota Sumedanglarang, dan kemudian Sumedanglarang mengirimkannya ke Pakuan sebagai seba tahunan. Namun setelah Nyai Ratu Inten Dewata sebagai Susuhunan di Sumedanglarang menikah dengan Kangjeng Pangeran Santri dari Cirebon, seba tahunan ke Pakuan dihentikan," kata orang tua itu.

"Aku hanya ingin tanya, kapan rombongan seba dari Desa Cae akan meninggalkan kampung ini, Aki!" kata Ginggi kesal, sebab uraian berpanjang-panjang dari peladang ini seperti tak ada kaitannya dengan kepentingan pemuda itu.

"Sebetulnya oleh Ki Kuwu sudah disuruh berangkat tadi malam juga, tapi Raden Suji Angkara tak mau meninggalkan kampung kami sebelum rombongan seba dari daerah ini ikut serta mengirimkannya," kata peladang ini seperti bosan berbincang terus dengan Ginggi.

"Jangan pergi dulu, Aki!" "Ah, aku harus segera ke ladang. Kalau di sini terus, takut terlibat percekcokan. Tadi malam hampir-hampir terjadi perkelahiaan di antara mereka. Raden Suji memaksa kami mengirim seba, sedangkan Ki Kuwu tetap menolak," kata peladang itu, kemudian bergegas pergi kendati Ginggi masih penasaran menanyainya.

Tinggallah Ginggi termangu sendirian. Dia mencari tempat duduk di pinggiran jalan pedati, sambil menerka-nerka apa yang sebetulnya terjadi di dalam kampung itu. Hatinya bertanya-tanya, mengapa orang-orang Desa Cae memaksakan kehendak. Bila menurut penuturan orang bercaping itu, penduduk kampung Wado jelas sudah tak akan mengirimkan seba ke Pakuan. Dan itu sudah menjadi keputusan rajanya sendiri, Nyai Ratu Inten Dewata. Orang-orang Cae yang sebetulnya termasuk wilayah Karatuan Talaga, tak seharusnya ikut campur urusan karatuan lain, pikir pemuda itu.

Belum habis Ginggi bergelut dengan segala keheranannya, dari lawang kori yang nampak terlihat dari tempat di mana pemuda itu duduk, keluar satu rombongan besar. Ginggi segera menepi dan bersembunyi di balik rimbunan pohon. Ketika rombongan melewati jalan itu, Ginggi meneliti, bahwa itu rombongan orang-orang Cae seluruhnya. Hanya bedanya, rombongan kini dilengkapi sebuah pedati yang sarat isi. Pedati ini pasti milik Kampung Wado, pikir pemuda itu. Dengan kata lain, orang-orang Wado akhirnya bersedia juga ikut mengirimkan seba, tidak atas nama karatuan, melainkan atas nama pribadi, seperti apa yang dilakukan Desa Cae. Hanya yang menjadi heran, mengapa dalam rombongan tidak seorang pun orang Wado yang ikut. Ya, selama dua hari tinggal di Desa Cae, Ginggi sudah hafal penduduknya.

Barisan rombongan yang barusan dia teliti, semuanya memang orang-orang Desa Cae. Empat orang melangkah di depan adalah Ki Banen, Ki Ogel, Seta dan Madi. Sedangkan paling depan sekali seseorang dengan pakaian hitam-hitam nampak mencongklang di atas kuda coklat. Siapa pemuda itu, Ginggi tak kenal. Wajahnya tampan keputih-putihan kulitnya. Mulutnya selalu senyum tersungging dan matanya tajam. Yang paling mencolok dari kesemuanya, pakaian hitamnya terbuat dari kain mahal. Mungkin beludru dengan hiasan ornamen di beberapa bagiannya. Kalau Ginggi sudah tahu, mungkin beginilah jenis pakaian kaum bangsawan. Celana hitamnya berupa jenis komprang, juga berhiaskan ornamen yang cahayanya kelap-kelip bila terkena sorotan sinar matahari. Di pinggang kirinya yang dibelit ikat pinggang kulit, terselip hulu gagang senjata, melengkung seperti kepala ular. Kaki pemuda itu dihiasi terumpah kulit. Walau pun belum kenal siapa dia, tapi sedikitnya Ginggi sudah bisa menduga, mungkin inilah Raden Suji Angkara yang menurut Nyi Santimi merupakan putra Ki Kuwu Suntara.

Rombongan berlalu sudah dan menghilang di kelokan jalan. Yang tersisa adalah suara roda pedati yang ditarik kerbau itu terdengar menggilas jalan berbatu, ditambah suara gerakan orang memikul bawaan berat. Ada satu pedati penuh barang seba yang dikirimkan orang Kampung Wado tanpa dikawal mereka sendiri. Mengapa mereka mempercayakannya kepada orang-orang Cae padahal menurut lelaki bercaping, malam tadi kedua belah pihak bertengkar dahulu? Ginggi harus menelitinya lebih jauh. Oleh sebab itu, sesudah rombongan orang-orang Desa Cae berlalu agak jauh, Ginggi segera bergerak menuju Kampung Wado.

Orang-orang nampak menatap dengan penuh curiga dan memperlihatkan sikap tak senang atas kehadirannya. Seorang pemuda dengan sikap beringas segera berkata lantang menantang. "Mengapa kalian datang lagi ke sini? Bukankah hasil bumi kami sudah kalian angkut habis?" katanya berteriak. Tapi baru saja dia berkata begitu, tangannya sudah ditarik oleh lelaki lain yang usianya jauh lebih dewasa. "Sudahlah, kau jangan cari penyakit lagi. Kalau anak buah Raden Suji ini melaporkan kepada majikannya, kita pasti celaka," kata lelaki itu.

"Aku bukan anak buah orang itu. Tapi, ada kejadian apa sebenarnya dengan mereka?" tanya Ginggi semakin heran.

"Engkau bukan anak buah Raden Suji? Habis, siapakah engkau dan dari mana asalmu? Kampung kami sedang tak aman hingga kami selalu mencurigai orang asing," kata lelaki yang lebih tua.

"Coba antarkan aku menghadap Ki Kuwu. Aku ingin mendapat penjelasan lebih rinci darinya," kata Ginggi.

"Jangan ganggu Ki Kuwu. Dia baru saja dipusingkan oleh ulah Raden Suji!" kata sang pemuda. Tapi Ginggi memaksa untuk menuju kediaman kepala desa kampung ini.

"Tangkap pengacau! Tangkap pengacau!" teriak pemuda itu sambil mengambil cangkul di sudut gardu tugur. Mendengar teriakan ini, beberapa pemuda datang membantu. Mereka langsung mengambil alat-alat tugur seperti tombak atau cagak. Ginggi tak mau berurusan dengan orang-orang ini tapi juga tak ingin langkahnya diganggu. Maka begitu orang-orang menerjang, pemuda itu segera menggerak-gerakkan kedua belah tangannya menangkis semua serangan. Terdengar jerit kesakitan di sana-sini dan beberapa senjata terlempar jauh manakala tangan pengeroyok bertumbukan dengan sepasang tangan Ginggi. Semuanya meringis memijit-mijit tulang tangannya, dan tak ada yang berani mendekatinya lagi.

Ki Kuwu juga telah mendengar ribut-ribut ini, sebab nampak oleh Ginggi, ada seorang tua berpakaian solentrang, kepala memakai bendo citak dan beralas kaki terumpah kulit.

"Sudahlah! Sudahlah! Jangan diributkan benar. Kalau majikanmu memerlukan tambahan barang untuk seba, aku akan berikan semampuku tapi jangan aniaya wargaku," kata Ki Kuwu, nampak wajahnya penuh khawatir.

"Aku bukan anak buah orang-orang Cae, Ki Kuwu. Tapi aku ingin tahu, apa yang terjadi di sini," kata Ginggi tak berbasa-basi.

Sejenak nampak wajah orang tua itu lega. Namun hanya sebentar sebab wajahnya kembali keruh. "Mari ke rumahku, anak muda," ajaknya perlahan.

Di rumah kediamannya, kepala kampung ini menerangkan perkara kekacauan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Semenjak susuhunan Sumedanglarang, yaitu Nyai Ratu Inten Dewata bersuamikan Kangjeng Pangeran Santri dari Karatuan Cirebon, Nyai Ratu otomatis memihak Cirebon. Pakuan yang pengaruhnya mulai berkurang, bagi Sumedanglarang sudah bukan merupakan pusat kekuasaan yang harus disegani lagi.

"Kedudukan kami lebih dekat ke Cirebon. Pengaruh mereka lebih kuat, apalagi sesudah Susuhunan kami bersuamikan tokoh dari pusat pemerintahan agama baru itu. Sebaliknya, kedudukan Pakuan yang lebih jauh dari kami, pengaruhnya sudah tak terasa lagi. Hampir duapuluh tahun belakangan ini, kami tak merasakan adanya sebuah perlindungan dari Pakuan. Malah yang ada hanya berupa kewajiban-kewajiban saja. Bahkan berbagai kewajiban datangnya tak beraturan serta mencekik kehidupan kami. Banyak kelompok yang datang ke kampung-kampung meminta upeti ini dan itu dengan alasan menunjang keberadaan Pakuan," kata Ki Kuwu.

"Mengapa mereka kau beri? Kalau kau lebih taat kepada susuhunan di Sumedanglarang, kau dan rakyatmu bisa menolaknya karena penolakanmu itu dilindungi oleh susuhunanmu, atau juga dilindungi oleh kekuatan Cirebon," kata Ginggi.

Ki Kuwu menghela napas berat dan panjang. Nampaknya susah sekali dia, bagaimana harus berbuat. "Beginilah rakyat kecil di zaman susah. Pertikaian yang ada di atas hanya menciptakan berbagai pengorbanan rakyat di bawah," tuturnya pahit.

Kata Ki Kuwu, kendati pihak Susuhunan Sumedanglarang sudah memutuskan untuk tak mengirim seba ke Pakuan, tapi masih banyak kalangan di Sumedanglarang ini yang mengaku berdiri di belakang Pakuan. Dan apa yang menjadi keputusan di ibukota, lain yang terjadi di sini. "Buktinya kau lihat sendiri, orang-orang Cae yang masih mengaku setia kepada Pakuan, selalu memaksa kami menyerahkan seba," kata Ki Kuwu.

Kata Ki Kuwu lagi, ada kelompok-kelompok tertentu yang bertugas mengumpulkan upeti bagi kepentingan Pakuan. Mereka bekerja dan mengadakan operasi ke berbagai desa terpencil yang sekiranya jauh dari jangkauan pengawas dan perlindungan pusat pemerintahan setempat. "Beberapa tahun ini, kami terpaksa membagi kewajiban. Separoh kami abdikan kepada pemerintahan yang berpihak ke Cirebon, separo lagi kami serahkan kepada utusan-utusan yang mengaku tetap setia kepada Pakuan," kata Ki Kuwu lagi.

"Kalau begitu, kalian pasti repot, harus membagi kekayaan kesana-kemari, Ki Kuwu?" kata Ginggi.

Ki Kuwu hanya bisa menghela napas. "Ya, musti bagaimana lagi? Kami memenuhi keperluan pemerintahan di sini karena kewajiban dan peraturan, dan memberikan yang lainnya kepada utusan Pakuan karena mengharapkan keselamatan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment