Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 21

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 21

Mereka selalu tegas dan keras.

Raden Suji, contohnya.

Ada penduduk tadi malam hampir babak belur karena mencoba protes.

"Ada gadis muda nekat bunuh diri karena urusan ini," kata Ki Kuwu memelas.

"Apa?" "Bunuh diri?" "Mengapa mesti bunuh diri?" Ginggi heran.

"Dia hendak melangsungkan perkawinan. Orang tuanya sudah bertahun-tahun menabung untuk keperluan ini. Tetapi ketika dia menolak menyumbangkan kekayaan untuk urusan seba, dia dihajar oleh Raden Suji. Secara kasar pemuda ini mengambil harta orang itu lebih dari ketentuan. Mungkin, putus asa merasa perkawinannya gagal, anak gadisnya bunuh diri. Entahlah?" keluh Ki Kuwu.

Ginggi tercenung. Rasanya ganjil sekali, bunuh diri hanya karena urusan seba.

"Antarkan aku ke sana. Kalau-kalau jasad gadis itu belum dikuburkan," Ginggi setengah mengajak.

Ki Kuwu mengangguk.

Tiba di rumah itu, hanya tangis sedih yang terdengar. Jasad si gadis katanya baru saja dikuburkan.

"Betulkah anak gadismu bunuh diri?" tanya Ginggi.

Orang tua korban mengangguk sedih.

"Coba kau ceritakan, bagaimana kau temukan cara kematiannya!" kata Ginggi lagi.

Orang tua si gadis malang menerangkan bahwa pagi-pagi sekali sudah menyaksikan anak gadisnya tergantung lehernya dengan seutas angkin (ikat pinggang wanita) di kamarnya.

"Apa lagi yang kalian lihat selain tubuh tergantung itu?" "Tak ada, selain wajah anakku yang pucat pasi, rambutnya awut-awutan, dan pakaiannya tak karuan. Bahkan ada beberapa kain yang dikenakannya robek-robek," kata orang tua malang itu dengan air mata masih berlinang.

Ginggi sedikit menahan napas. Terbayang kembali pakaian Nyi Santimi yang juga robek-robek tak karuan di dalam gua.

"Aku akan mencari penyebab sesungguhnya dari kematian ini," gumam Ginggi seperti berbicara pada dirinya.

"Mari, Ki Kuwu?" kata pemuda itu meninggalkan rumah yang penghuninya tengah berduka ini.

"Engkau mencurigai sesuatu, anak muda?" tanya Ki Kuwu di tengah jalan.

Ginggi hanya mendengus kecil.

"Akan aku selesaikan segalanya, Ki Kuwu?" gumam pemuda itu akhirnya. "Kau dan penduduk di sini tak berani melawan sebab mereka orang-orang kuat. Begitukah, Ki Kuwu?" "Raden Suji sopan, tetapi memaksa. Dan dia tampaknya sakti mandraguna. Dia sanggup membengkokkan tombak berbatang baja dan mendobrak daun pintu lumbung umum dengan sebelah tangannya sambil tersenyum dikulum," kata Ki Kuwu.

"Kau bilang dia orang sopan?" "Tutur katanya memang begitu. Halus, lemah lembut, enak didengar. Tetapi entahlah, kami semua takut padanya." "Aku akan pergi, Ki Kuwu!" kata Ginggi.

"Maksudmu, akan membereskan masalah ini, anak muda?" "Syukurlah. Kalau Kandagalante Pasanggrahan mengontrol ke sini, akan aku laporkan perjuanganmu. Mudah-mudahan engkau diberi penghargaan, anak muda?" kata Ki Kuwu.

Ginggi hanya tersenyum kecil.

"Engkau harus singgah lagi ke rumahku sebelum melanjutkan perjalanan," kata Ki Kuwu.

Ginggi sedianya akan menolak permintaan ini, tetapi karena kepala desa ini begitu memaksa, terpaksa Ginggi menuruti kemauan orang tua ini.

Di rumah Ki Kuwu, Ginggi dijamu makanan-makanan enak. Ginggi tak sanggup menolaknya sebab sudah berhari-hari tak mengecap makanan enak. Sebelum berangkat, pemuda itu pun dibekali sebuah bungkusan kain. Entah apa isinya. Ginggi menolak keras, tetapi yang memberi semakin keras memohon agar pemberian ini tak ditolak.

"Kau pengembara yang banyak kebutuhan di jalan. Hanya ini yang mampu aku lakukan untuk membalas budimu," kata Ki Kuwu.

"Budi apa?" pikir Ginggi. Secuil pun dia belum berbuat kebaikan kepada Ki Kuwu, apalagi kepada seisi kampung ini.

"Aku tak punya jasa apa-apa. Yang aku janjikan tadi baru akan dilaksanakan. Itu pun kalau mampu," kata Ginggi tersenyum masam.

"Hanya sekadar janji pun sudah merupakan anugerah bagi kami rakyat kecil. Dan tak usah sungkan. Kami sudah biasa begini. Jika datang pengontrol dari kota, kami juga suka memberi kebaikan seperti ini. Orang pemerintahan mengontrol kami artinya mereka ingat kami. Dan itu anugerah," kata Ki Kuwu.

Kembali Ginggi tersenyum masam. Dan untuk tidak menyinggung perasaan Ki Kuwu, bantalan kain itu diterimanya.

Ginggi melanjutkan perjalanan, mengikuti jalan pedati ke arah barat laut. Ki Kuwu yang memberikan panduan bahwa jalan ke arah barat laut akan mengantarnya ke tempat-tempat yang dituju. "Jalan pedati ini terus berlanjut ke barat dan menyinggahi wilayah Kandagalante, baik yang di utara maupun yang ada di barat. Jalan pedati ini pula yang kelak akan mengantarmu ke Pakuan," kata Ki Kuwu.

Ginggi amat berterima kasih atas penjelasan ini, kendati tujuan yang harus didahulukan sekarang adalah membuntuti ke mana rombongan seba itu pergi. Pemuda itu pun berterima kasih kepada Ki Kuwu Wado yang telah memberinya bekal perjalanan. Buntalannya yang dibawa dari gunung tempo hari tertinggal di Desa Cae, padahal pakaian cadangan dan makanan kering seperti dendeng menjangan ada di buntalan itu.

Di tengah jalan, Ginggi memeriksa buntalan pemberian Ki Kuwu. Di dalamnya ada dua stel pakaian kampret lengkap dengan celana pangsi dan ikat kepalanya. Ada juga makanan yang siap dimakan dan yang bisa tahan lama untuk disimpan. Tetapi yang membuat Ginggi penuh perhatian, di buntalan itu terdapat kanjut kundang (pundi-pundi) yang ketika dibuka, isinya kepingan logam yang pemuda itu tidak tahu untuk apa keperluannya.

Ginggi tak berlama-lama memeriksa isi buntalan sebab dia harus bergegas mengejar rombongan seba. Tetapi karena bekas roda pedati begitu jelas ada di permukaan jalan, pemuda itu tidak mengalami kesulitan membuntutinya. Bahkan sebentar kemudian rombongan itu sudah dapat terlihat. Rombongan tampaknya tetap berjumlah dua puluh orang, semua bertugas dengan bawaannya, dan hanya lima orang yang seolah-olah bertindak sebagai pengawal atau pemimpin rombongan. Ginggi terus membuntuti rombongan itu yang berliku-liku seperti ular ketika melalui jalan dengan kelokan-kelokan tajam, atau melata seperti ulat bila tengah menaiki tanjakan perbukitan. Namun ketika tiba di sebuah jalan bercabang, rombongan berhenti.

Ki Kuwu Wado tadi mengabarkan bahwa di barat laut, jalan bercabang. Jangan salah mengambil jalan. Jika menuju jalan kanan, akan menuju wilayah Kandagalante Pasanggrahan dan kemudian ke ibu kota Sumedanglarang di Ciguling. Tetapi jika mengambil ke kiri, akan menuju hutan jati. Kata Ki Kuwu jalan hutan jati akan terus menuju barat yang kelak akan tiba juga di Pakuan. Merupakan jalan lain menuju Pakuan dari Talaga yang tidak melalui Sumedanglarang.

"Melalui hutan jati, jalan cukup memotong sebab tak perlu melambung ke utara untuk singgah di Sumedanglarang jika tujuan kita memang ke Pakuan. Tetapi kadang-kadang perjalanan lewat sini merepotkan. Selain kondisi jalan lebih berat, juga suka ada gangguan keamanan," kata Ki Kuwu.

Ginggi berusaha untuk mendekati rombongan sebab di antara sesama anggota seperti tengah merundingkan sesuatu.

"Mengapa kita memilih jalan ke kiri, Raden?" tanya Ki Ogel kepada pemuda berkuda.

"Paman Ogel, kita memilih jalan ke kiri untuk menghemat perjalanan. Jalan sini lebih singkat karena memotong dan tak begitu melambung," kata pemuda berpakaian beludru hitam itu.

"Akan tetapi, jalan ke sini lebih berat dan harus keluar masuk hutan jati," tutur Ki Ogel lagi.

"Paman Ogel, lebih baik kita berpayah-payah melakukan perjalanan, tetapi selamat di tujuan daripada memilih jalan yang enak, tetapi banyak gangguan," kata pemuda itu lagi sopan, tetapi nadanya memerintah dan menyalahkan pendapat orang lain. "Engkau mungkin tahu dari pembicaraan kita dengan Ki Kuwu Wado, Sumedanglarang kini sudah dipengaruhi Cirebon. Banyak terjadi pemberontakan dan pertentangan antara yang pro dan yang kontra. Tetapi bagi kita, kedua-duanya tak menguntungkan. Yang pro kepada Cirebon akan mengganggu perjalanan kita dalam mengirim seba ke Pakuan. Yang tidak setuju dengan kebijaksanaan Pemerintah Sumedanglarang, mereka menjadi pemberontak dan suka berbuat onar. Jika kita memilih jalan pedati, pasti harus lewat Pasanggrahan dan akhirnya mesti memasuki wilayah ibu kota Sumedanglarang, dan itu amat tak menguntungkan kita," kata pemuda itu.

Dan pemuda bercelana hitam dengan ornamen berkilat-kilat kena cahaya matahari ini rupanya amat disegani anggota rombongan. Buktinya, protes-protes kecil itu akhirnya mereda juga. Artinya, semua setuju melakukan perjalanan lewat hutan jati. Tetapi perjalanan ini memang merupakan perjalanan sulit. Kian jauh merambah, ruas jalan kian menyempit dan kondisinya amat buruk. Tanahnya lembap karena kurang tersinari cahaya matahari. Anggota rombongan mesti bekerja ganda. Selain mereka dikenai kewajiban memikul bawaan, di saat-saat tertentu mereka mesti mendorong pedati karena rodanya melesak ke tanah lembek atau masuk ke sela-sela bebatuan.

"Ayo, cepat! Kita tak boleh kesorean di tempat ini!" teriak si pemuda berkuda coklat itu.

Tetapi untuk menaati kehendak si pemuda, tak semudah seperti apa yang diucapkannya. Jangankan harus berjalan cepat, untuk sekadar menggerakkan roda pedati itu saja, sulitnya bukan main. Ki Ogel, Ki Banen beserta Seta dan Madi sekarang harus turun tangan membantu mendorong pedati yang roda-rodanya sering melesak ke tanah lembek.

Apa yang dikhawatirkan pemuda itu ternyata terbukti. Ketika cuaca di hutan semakin meremang karena cahaya matahari sudah tak sanggup lagi menembus dedaunan. Ginggi yang selalu membuntuti rombongan itu dari jarak yang tak begitu jauh bahkan bukan merasa khawatir karena hari sudah mulai senja, melainkan karena melihat gerakan-gerakan mencurigakan di semak-semak yang ada di kiri-kanan jalan.

"Ada yang tak beres," gumamnya sendirian.

Dan benar saja, dari balik semak-semak belukar kini bermunculan belasan bahkan puluhan orang, semua bersenjatakan golok, tombak, dan parang. Wajah-wajah mereka tampak garang, dipimpin oleh orang yang berpakaian hitam-hitam, bertubuh tinggi besar, dan berwajah brewok. Pemuda di atas kuda segera menghentikan gerakan kudanya. Semua rombongan juga berhenti.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment