Chapter 22
Ki Banen, Ki Ogel, beserta Seta dan Madi serentak mencabut golok masing-masing. Yang lainnya segera menurunkan pikulannya dan juga serentak mencabut golok di pinggang.
"Siapa kalian?" tanya pemuda di atas kuda yang Ginggi duga adalah Suji Angkara.
"Tak perlu tanya kami siapa. Kalau kalian ingin pulang dengan selamat, tinggalkan barang-barang itu!" kata si tinggi besar dengan golok bersilang di dada.
"Hehehe," Suji Angkara terkekeh, nampaknya tak menganggap ini sebuah bahaya.
"Aku tak biasa bermurah hati memberi barang berharga kepada orang-orang tak dikenal," katanya.
"Kali ini kau mesti bermurah hati bila tak menganggap murah nyawamu!" kata Si Brewos.
"Ingin aku tahu, nyawa siapa yang sebenarnya murah dan tak berharga!" Suji Angkara balas mengejek, membuat Si Brewos marah.
Tanpa basa-basi lagi, dia segera menghambur mengayunkan goloknya.
Suji Angkara dengan sigap menarik kendali kuda, dan binatang itu seperti mengerti perintah tuannya.
Dia menghentak-hentakkan kaki depannya seolah-olah hendak menangkis serangan golok.
Namun kuda itu seperti memiliki akal.
Dia menghentakkan kaki depan bukan sekadar melindungi dirinya dari serangan lawan, melainkan juga sambil menyerang.
Kuda itu berputar, membuat ancang-ancang, dan meloncat ke arah si penyerang.
Si Brewos terkejut melihat tubuh kuda yang tinggi dan besar menerjang ke arahnya.
Rupanya dia tak mau diterjang kaki-kaki kuda dan segera menarik serangan goloknya sambil meloncat ke kiri.
Terjangan kuda hanya lewat di samping tubuh Si Brewos.
Namun bersamaan dengan itu, terdengar suara jerit kesakitan dan Si Brewos terlempar ke belakang.
Si Brewos berguling-guling di tanah lembap beberapa kali, baru badannya berdiri dengan cepat.
Namun ketika dia sudah berdiri, semua orang menyaksikan betapa di pipi kiri Si Brewos memanjang luka goresan.
Darah mengucur menuruni leher dan dadanya, walaupun tidak deras benar.
Suji tersenyum dengan senjata pendeknya.
"Serbu!" teriak anggota Si Brewos ketika melihat pemimpinnya terluka.
Mendengar aba-aba ini, serentak semua anak buahnya berteriak dan berlari menyerbu.
Semua anggota rombongan pemikul seba pun sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
Sais pedati melempar-lemparkan jenis senjata yang lebih besar lagi seperti trisula, pedang, bahkan busur besar.
Madi melemparkan sebilah pedang kepada Suji Angkara yang segera menangkapnya.
Pemuda itu dengan cepat mencabut pedang itu dari sarungnya dan langsung menggerakkannya untuk menangkis serangan sebuah golok.
"Ah!" teriak Ginggi yang menyaksikan dari jauh.
Golok yang ditangkis Suji Angkara ternyata terlempar jauh, dan si pemegangnya meringis sambil memegangi tangannya.
Tenaga pemuda itu besar, kata Ginggi dalam hati.
Pertempuran berlangsung cukup seru.
Sudah terdengar teriakan kesakitan dari kedua belah pihak.
Namun bila Ginggi menghitung, lebih banyak anggota rombongan seba yang terluka dibandingkan para penyerangnya.
Di pihak rombongan seba, hanya lima orang saja yang kelihatan menguasai ilmu berkelahi, yaitu Ki Ogel, Ki Banen, Seta, serta Madi, dan dipimpin oleh Suji Angkara yang memiliki kepandaian beberapa tingkat di atas keempat anak buahnya.
Namun kebanyakan dari anggota rombongan seba hanya memiliki kepandaian seadanya saja.
Mereka berani terjun ke dalam pertempuran hanya karena terpacu semangatnya oleh kegagahan Suji Angkara.
Dan memang, pemuda yang kadang-kadang perangainya tampak halus, tetapi kadang-kadang mulutnya angkuh ini melakukan perkelahian dengan semangat tinggi.
Dari atas kudanya, Suji Angkara tidak sekadar menangkis serangan lawan, bahkan lebih banyak lagi dia bersifat menyerang.
Dia memacu kudanya untuk mengejar ke sana kemari di mana lawan berada.
Pemuda itu melakukan serangan dengan ganas.
Pedangnya yang dia gerakkan, semua diarahkan hanya untuk membunuh lawan.
Ini terlihat sekali, betapa yang diburu mata pedang hanya bagian tubuh yang mematikan.
Satu-dua lawan yang mendekat, tak ayal menderita serangan yang dahsyat.
Kalau tidak segera menghindar dengan cara berguling-guling, mereka tidak sekadar luka biasa, melainkan akan tamat riwayatnya karena leher terbabat pedang atau dadanya terpanggang benda. Namun, jumlah penyerang satu setengah lebih banyak dari rombongan seba.
Apalagi, di antara mereka sudah banyak yang terluka dan jumlahnya hampir mencapai setengahnya.
Sekalipun Suji Angkara gagah berani menghadapi lawan, tetapi perhatiannya terpecah-pecah karena dia pun berusaha juga untuk melindungi keselamatan anak buahnya.
Sambil masih mengendap-endap di balik semak dan batang pohon jati, Ginggi mencoba datang lebih dekat lagi.
Melihat keadaan tak menguntungkan pihak rombongan seba, Ginggi harus segera membantunya.
Kendati pemuda itu kurang setuju dengan tindakan rombongan seba di Desa Wado, tetapi kalau harus memilih, dia akan membantu rombongan ini ketimbang memperhatikan keselamatan pihak penyerang.
Selintas pun Ginggi sudah bisa menduga bahwa pihak penyerang merupakan komplotan jahat yang mencoba merampas barang seba.
Ginggi juga punya kepentingan dalam membantu rombongan seba.
Dia ingin menyelidiki lebih jauh siapa Suji Angkara ini.
Dia ingin menggabungkan rasa curiga Rama Dongdo, Nyi Santimi, dan naluri dirinya sendiri.
Pemuda tampan berkulit putih ini sepertinya punya misteri.
Ginggi mengumpulkan butiran batu kecil yang dicongkelnya dari tanah lembek, sambil matanya terus menyaksikan jalannya pertempuran.
Di salah satu sudut pertempuran, Seta tampak dikepung tiga orang musuh, padahal bahu kirinya sudah terluka mengeluarkan darah.
Namun kendati pemuda tampan yang di bibirnya selalu mencibir ini sudah terluka, para pengeroyoknya seperti belum puas dan tampaknya ingin menamatkan riwayat pemuda itu.
Itu tampak dari berbagai serangan yang datang, kesemuanya terlihat ganas dan mengarah ke tempat-tempat berbahaya.
Suatu saat pemuda itu jatuh terjerembap karena menangkis serangan sebuah golok.
Badannya telentang tak berdaya.
Dia hanya berhasil menangkis satu serangan saja, sedangkan ada serangan lainnya mengarah ke batok kepalanya.
Namun ketika golok musuh diayun pemegangnya, tangan Ginggi pun segera bergerak menyambitkan satu kerikil.
Serbuan batu kerikil lebih cepat dari gerakan ayunan golok dan tepat mengarah ke urat nadi pergelangan tangan.
Karena urat nadi menjadi kaku dan kesemutan, gerakannya terganggu.
Ini memberikan kesempatan kepada Seta untuk melakukan serangan balasan.
Si penyerang menjerit ngeri dan tubuhnya limbung ke samping ketika babatan golok merobek perutnya.
Satu kali golok Seta berkelebat kembali, dan kali ini si penyerang yang tangannya masih kesemutan menjadi makanan empuk golok tak bermata itu.
Jeritan kedua terdengar memecah hutan jati, dan tubuh orang itu terjerembap karena luka yang sama seperti kawannya.
Adapun penyerang ketiga yang menghambur dari belakang, secara aneh badannya terjerembap ke depan.
Pemuda Seta yang posisinya masih telentang sudah barang tentu kaget bukan main.
Lawannya ini jelas melakukan serangan, tetapi amat nekat dan bodoh bila begitu saja menjatuhkan diri ke atas badan lawan, apalagi tanpa bersiap dengan goloknya.
Bluk, tubuh si penyerang menindih badan Seta tanpa bisa bergerak lagi.
Seta heran mengapa tubuh ini jatuh seperti karung goni.
Namun hal ini tak membuat bingung Seta berlama-lama, sebab goloknya segera digerakkan untuk "merangkul" tengkuk penindihnya.
Mata golok yang tajam ditekan kuat-kuat dan membenam dalam ke tengkuk lawan.
Seta menyingkirkan tubuh yang diam tak bergerak menindih badannya.
Dia segera bangun, berdiri, dan bertolak pinggang dengan gagahnya.
Matanya menyipit dan meneliti ketiga tubuh yang bergelimpangan di bawah kakinya.
Sementara di tempat lain, perkelahian juga hampir dapat diselesaikan.
Ini karena Ginggi pun melakukan hal yang sama, membantu rombongan seba secara diam-diam.
Hanya saja, bantuannya ini mengejutkan dirinya, sebab setiap musuh yang dia timpuk urat nadinya dan gerakannya menjadi terganggu, menjadi sasaran empuk pihak Suji Angkara dan dibabat habis tanpa mengenal ampun.
Ginggi tersenyum pahit dari balik pohon yang jaraknya hanya sekitar empat atau lima depa saja dari arena pertempuran.
Ini adalah pemandangan pertama baginya.
Ternyata, yang namanya perkelahian sepertinya hanya memilih dua alternatif: dibunuh atau membunuh.
Sisa-sisa musuh yang tak telanjur menjadi mayat itu hanya karena mereka melakukan langkah seribu, termasuk Si Brewos pemimpinnya.
Mereka terbirit-birit masuk ke kegelapan hutan jati, dijadikan bahan tertawaan lawannya.
Namun sebelum suara langkah kaki mereka menghilang, terdengar suara teriakan dari mereka.
Rupanya Si Brewos yang berteriak.
"Tunggulah pembalasan bagi orang-orang yang berani melawan Ki Banaspati!" teriaknya lantang.
"Apa, Ki Banaspati?!" Suara teriakan campur rasa heran ini keluar dari mulut Suji Angkara, Ki Ogel, Ki Banen, dan mulut Ginggi dari balik semak-semak.
Ginggi terkejut. Ki Banaspati adalah salah satu dari keempat orang yang tengah dicarinya atas perintah Ki Darma.
"Ki Banaspati menjadi perampok? Mustahil Ki Banaspati merampok barang yang akan diserahkan kepadanya!" teriak Seta sambil kedua tangan masih bertolak pinggang di sekeliling mayat yang bergeletakan.
"Seta, kau berhasil melumpuhkan mereka seorang diri?" teriak Madi gembira campur heran.
Keheranan serupa juga melanda semua orang, termasuk Suji Angkara.
"Kau kalahkan mereka seorang diri?" tanya Suji Angkara sambil turun dari kudanya.
"Saya juga gembira bisa mengalahkan mereka, Raden," kata Seta tersenyum cerah dan masih bertolak pinggang.
Tubuh yang bergeletakan satu per satu dia gulingkan dengan ujung kakinya, sombong sekali.
Tampak Suji Angkara tersenyum mengejek.
"Syukurlah kau bertindak gagah. Kelak aku akan mengusulkanmu jadi jagabaya di bawah kekuasaan Kandagalante Muaraberes," kata Suji Angkara.
Seta mengangguk sukacita.
"Bagaimana kita sekarang, Raden?" tanya Ki Banen.
"Kita akan melanjutkan perjalanan menuju arah hilir Cipeles dan berhenti sebelum masuk jalan pedati menuju Sumedanglarang."