Halo!

Senja Jatuh Di Pajajaran - Chapter 23

Memuat...
Senja Jatuh Di Pajajaran

Chapter 23

"Akan ada utusan Ki Banaspati di sana," kata Suji Angkara sambil menatap jauh ke kejauhan. Tangan kanannya memegang hulu senjata yang terselip di pinggang.

"Mari, kita harus segera meninggalkan tempat ini, terpaksa dilakukan malam-malam. Banyak binatang buas di sini," kata Suji Angkara lagi.

"Ada enam orang terluka, termasuk Seta. Mereka tak akan kuat melakukan perjalanan jauh, Raden," kata Ki Ogel.

"Aku kuat, Aki!" sahut Seta, padahal darah masih mengucur di bahu kirinya.

Sebelum Suji Angkara memutuskan sesuatu, dari arah belakang mereka, kira-kira belasan depa jaraknya, tampak seseorang datang tergopoh-gopoh.

"Apa yang terjadi di sini? Hah, banyak orang luka nampaknya!" teriak Ginggi. Dia memutuskan untuk bergabung dengan rombongan agar memudahkan perjalanan selanjutnya.

Mulanya semua orang merasa curiga dan kembali bersiap dengan senjata mereka. Namun, mereka mengurungkan niat setelah mengetahui siapa yang datang.

"Itu pemuda dungu di kampung kita," kata Ki Ogel sambil tertawa. "Hei, ke mana saja kau? Bukankah tempo hari kau akan ikut membantu mengangkut barang seba?" tanya Ki Ogel.

"Oh, kalian rupanya. Mengapa meninggalkanku?" tanya Ginggi pura-pura bingung.

"Ki Ogel, jangan membawa orang tolol itu. Dia telah mengacaukan acara pertunanganku dengan Nyi Santimi hingga hampir gagal," kata Seta sambil menuding hidung Ginggi.

Ginggi mundur beberapa tindak dan memperlihatkan rasa takut terhadap Seta.

"Aku... aku tak salah. Hanya menatap wajah Nyi Santimi yang cantik, dia langsung jatuh pingsan. Padahal mataku tidak setajam pedang, Kang!" jawab Ginggi ketakutan.

"Jangan sebut aku Kakang! Apa kau kira aku ini kakakmu? Sekali lagi kau sebut itu, kau akan terbaring seperti tiga perampok itu, mengerti!" bentak Seta sambil mencabut goloknya.

Ginggi kembali mundur setindak, membuat semua orang tertawa, tidak terkecuali mereka yang sedang terluka.

"Sekarang Nyi Santimi sakit karena matamu yang tolol itu!" bentak Seta lagi.

Semua orang kembali tertawa, termasuk Suji Angkara. Aneh rasanya ada orang sakit hanya karena dipandang.

"Bagaimana Raden, bolehkah aku membawa serta anak muda ini?" tanya Ki Ogel meminta pendapat.

"Betul. Kita kekurangan tenaga pikul. Lagi pula, ayahanda Raden pun sudah mengizinkan anak ini untuk ikut membantu," Ki Banen turut mengusulkan.

"Aku pandai mengobati orang sakit, orang luka, dan sebagainya, Raden," kata Ginggi mencoba menatap wajah pemuda itu. Namun, hari sudah gelap dan hanya keremangan yang tampak di wajah sang pemimpin rombongan.

"Kalau benar engkau bisa mengobati orang sakit, itu lebih baik lagi. Berarti rombonganku punya dua tenaga tambahan: satu tukang pikul dan satunya lagi juru obat," kata Suji Angkara dengan nada bicara yang enak didengar. "Sekarang, coba tanggulangi teman-teman kita yang terluka. Oh ya, siapa namamu?"

"Ginggi," jawab Ginggi, kali ini tidak mencoba menutupi identitasnya.

"Ginggi? Nama yang bagus. Kalau aku tahu lebih dahulu, saat lahir ke dunia aku ingin nama itu," kata Suji Angkara.

"Tapi, Ginggi adalah jin yang jahat, Raden!" jawab Ginggi.

Sejenak Suji Angkara tertegun dan tampak terkejut, namun akhirnya dia tertawa kecil. "Aku senang itu! Aku senang itu! Hahaha!" katanya lagi.

Kini Ginggi harus membuktikan bahwa dia ahli obat. Dia meminta izin untuk mencari dedaunan hutan yang akan digunakan sebagai obat luka. Ki Ogel membantu dengan menyalakan obor. Sebenarnya, Ginggi tidak benar-benar ahli meramu obat, tetapi selama bertahun-tahun hidup bersama Ki Darma di puncak gunung, dia mengenal berbagai jenis tanaman obat, termasuk untuk luka senjata tajam.

Ki Darma pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia dikawal oleh empat unsur bumi: angin, air, api, dan tanah. Unsur tanah mencakup segala yang tumbuh di atasnya. "Tanaman-tanaman itu sebenarnya menjaga kita, termasuk mengobati kita bila terjadi suatu penyakit. Kita hanya harus mengenal sifat dan kekuatan berbagai kekayaan bumi ini."

Ginggi dan Ki Darma selama di puncak gunung memang meneliti sifat serta kegunaan berbagai tanaman hutan. Sekarang, pengetahuan itu mulai ia praktikkan. Untuk mengobati luka senjata tajam, Ginggi mencari daun petai cina yang kelak digerus dengan garam, lalu ditempelkan dan dibalutkan ke luka.

"Sekarang aku perlu jeruk nipis, ragi tape, dan bawang merah. Tapi di mana barang-barang itu bisa ditemukan di malam begini?" gumamnya.

"Jangan khawatir, itu semua tersedia di gerobak pedati. Barang seba yang akan dikirim ke Pakuan di antaranya adalah hasil rempah-rempah, termasuk yang kau tanyakan tadi," sahut seseorang.

"Bagus. Ramuan ini diperlukan untuk mencegah demam. Orang luka biasanya diserang demam hebat," kata Ginggi.

Perjalanan yang rencananya dilakukan malam itu akhirnya dibatalkan karena enam orang yang terluka harus disembuhkan terlebih dahulu. Di pinggir jalan lembap di tengah hutan jati, orang-orang berbenah membuat lingkaran dan menyalakan api unggun. Tiap dua orang mendapat giliran jaga.

Kecuali Ginggi, sepanjang malam dia mengobati luka-luka anggota rombongan. Pekerjaan itu sangat melelahkan, apalagi sebelumnya dia ditugaskan mengurus mayat musuh. Ada lima mayat yang terbujur kaku. Tiga di antaranya dibunuh oleh Seta, tetapi tanggung jawab menguburkannya dibebankan kepada Ginggi.

"Aku tak mau menguburkan mayat musuhku!" kata Seta dan Madi ketus ketika Ginggi meminta bantuan.

"Kamu harus punya rasa kasihan. Kalau tadi kamu yang mati, mungkin dia pun akan menguburkan jasadmu!" kata Ginggi.

"Sialan kau!" bentak Madi hendak menempeleng wajah Ginggi, namun Ginggi segera menghindar.

Sesudah menguburkan kelima mayat, Ginggi sibuk mengurus yang luka sampai larut malam.

"Tinggal engkau seorang yang belum kuobati, Seta," kata Ginggi sambil mengusap keringat di dahi. Namun, Seta diam saja seolah tidak mendengar. Ginggi tidak memaksa. Dia hanya berpesan kepada lima pasien lainnya agar setiap hari rutin menggunakan obat darinya.

"Sehari saja kalian tidak memakai ramuanku, kalian bisa mati karena demam hebat atau luka yang membusuk," kata Ginggi, yang disambut anggukan patuh para pasiennya.

Ketika Ginggi hendak beristirahat, Seta datang menghampirinya. "Jangan tidur! Brengsek kau!" kata Seta.

"Ha! Sudah tak ada pekerjaan untukku!" sahut Ginggi.

"Cepat, obati aku!" perintah Seta. Sambil tersenyum dikulum, Ginggi kembali bekerja membuat ramuan sampai menjelang pagi.

Ginggi dibangunkan dari tidur lelapnya saat rombongan akan berangkat. Ki Ogel memberi tahu bahwa Suji Angkara-lah yang mengizinkan Ginggi beristirahat lebih lama. Tanpa sempat membasuh muka, rombongan segera berangkat. Suji Angkara mengabarkan bahwa perjalanan sementara ini hanya akan mencapai tepi Sungai Cipeles. Di sana terdapat gardu peristirahatan di ujung jembatan gantung, tempat utusan Ki Banaspati menunggu.

Hal ini semakin menarik bagi Ginggi. Suji Angkara yang dianggap misterius dan dicurigai oleh Rama Dongdo, kini menjadi sosok yang ia perlukan sebagai petunjuk. Ginggi ingin tahu apa hubungan Suji Angkara dengan Ki Banaspati, serta apa pula kaitan Ki Banaspati dengan komplotan perampok itu.

Tadi malam, saat pertempuran di hutan jati, perampok itu mengaku sebagai bawahan Ki Banaspati. Jika benar, itu berarti Ki Banaspati adalah pimpinan perampok. Pengakuan ini terasa gila. Padahal Ki Banaspati yang dimaksud Ki Darma adalah sosok yang menjalankan misi membela hambarayat Pajajaran. Apakah ada lebih dari satu orang bernama Ki Banaspati? Mungkinkah yang dikenal Suji Angkara berbeda dengan yang dimaksud Ki Darma?

"Aku harus terus bergabung dengan rombongan ini," batin Ginggi.

Rombongan pengirim barang seba ini berjalan lambat karena medan yang berat dan adanya anggota yang terluka. Mereka kesulitan melangkah tegap, apalagi memikul beban.

"Kalian nanti beristirahat di dusun kecil tepi Sungai Cipeles," kata Suji Angkara kepada mereka yang terluka.

"Apakah di sana kita akan mengangkut barang seba yang baru lagi, Raden?" tanya Ki Banen yang jarang bicara.

"Tahun-tahun lalu dusun itu bergabung mengirim hasil bumi kepada Umbul Cipeles untuk diteruskan ke Kandagalante yang menguasai Sumedang Selatan. Kita lihat saja nanti apakah ada barang yang perlu diangkut," jawab Suji Angkara sambil memacu kudanya perlahan di depan.

Ginggi berada di barisan paling belakang, bertugas mengawal roda pedati. Jika roda melesak ke tanah lembek atau terselip batu, Ginggi bertugas mendorongnya dibantu beberapa orang lain. Sebenarnya, dengan tenaganya sendiri, Ginggi sanggup mendorong pedati itu tanpa bantuan kerbau. Namun, dia tidak ingin memperlihatkan kekuatannya agar tidak dicurigai.

"Kalau orang tahu kita punya kekuatan, mereka akan waspada. Sebaliknya, jika kita terlihat bodoh, mereka akan menganggap enteng dan bertindak sembrono, yang dalam hal tertentu justru akan menguntungkan kita," teringat Ginggi akan pesan Ki Darma saat latihan keras dahulu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment