Chapter 24
Ucapan Ki Darma itu mudah dibuktikan kebenarannya sesudah Ginggi turun gunung.
Jangan jauh-jauh, pikirnya, karakter dan isi benak pemuda Seta dan Madi begitu terkuak dan mudah diketahui Ginggi, hanya karena dia berpura-pura menjadi orang lemah.
Kedua pemuda itu mungkin beranggapan bahwa sikap dan kebiasaannya tak perlu mendapatkan penilaian dari pemuda "bodoh" macam Ginggi.
Coba kalau pemuda ini memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya, bisa-bisa Seta dan Madi membungkuk dan merunduk atau menyembah sampai wajah mereka mencium tanah saking hormat kepadanya.
Dan penampilan hormat itu hanya polesan belaka, tidak menampilkan karakter yang sesungguhnya.
Ketika Ginggi mendorong pedati dengan susah payah, Ki Banen yang selalu berjalan di muka bersama Ki Ogel, pergi ke barisan belakang dan ikut mendorong pedati.
"Kau ke mana saja, anak muda?" tanyanya. "Dari tadi aku mendorong pedati di sini, Aki!" kata Ginggi dengan napas senggal-senggal.
"Maksudku, kemarin dulu itu," kata Ki Banen.
"Malam pertama kehadiranmu di Desa Cae, kau tidur di gardu. Malam kedua, aku tahu kau menonton pertunjukan pantun. Tapi di malam ketiga, aku tak lihat kamu," katanya.
"Malam ketiga? Di mana aku, ya?" Ginggi menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Bukan apa-apa. Aku ingin memberikan beberapa penjelasan malam itu karena aku ingat kau ingin ikut menjadi pengirim barang-barang seba," kata Ki Banen.
Ginggi hanya diam saja.
"Kau harus hati-hati terhadap Raden Suji?" kata Ki Banen lagi.
"Pemuda tampan itu baik padaku," jawab Ginggi.
"Begitu, selama engkau menuruti kata-katanya. Tapi kalau kau punya pendapat yang tak berkenan di hatinya, kau bisa repot."
"Ya, akan kuusahakan saja," gumam Ginggi.
"Tapi, kau selalu sependapat dengan pemuda tampan itu, bukan?" giliran Ginggi mengajukan pertanyaan.
Tampak Ki Banen menghela napas.
Roda pedati masuk ke sela-sela batu, berhenti mendadak karena terganjal. Ginggi tersuruk ke depan dan mukanya membentur pantat pedati. Hanya saja Ki Banen sanggup menahan tubuhnya sehingga tak sampai terjerembab ke depan. Ginggi mengusap-usap jidatnya, tampak seperti kesakitan.
"Ayo dorong berdua. Satu, dua, tigaaa!!" teriak Ki Banen memberi aba-aba.
Pedati kembali berjalan.
"Kalau aku punya waktu, kapan-kapan kau kulatih ilmu penca, anak muda!" kata Ki Banen.
"Penca, apakah itu?"
"Itu ilmu untuk mempertahankan diri dari gangguan musuh. Bila kau memiliki ilmu penca, kau tidak akan dijadikan bulan-bulanan oleh Seta dan Madi."
Ginggi tersipu dan memalingkan muka.
"Aku dengar kau dianiaya oleh kedua pemuda sombong itu di tepi pancuran. Kalau kau punya kepandaian, kau tak mungkin dihina seperti itu," kata Ki Banen.
"Kalau aku punya kepandaian, giliran aku yang menghina orang lemah, ya, Aki!"
Ki Banen tersenyum. "Itulah kekeliruan hidup, anak muda. Manusia cenderung menganggap enteng orang yang dianggapnya lebih lemah dari kita. Padahal ilmu penca juga mengajarkan budi pekerti selain sebagai ilmu bela diri. Bila orang sudah belajar penca, jangan ingin dipuji karena punya kepandaian dan jangan menghina orang, juga karena kepandaian. Penca hanya akan memberikan kesadaran kepada kita bahwa sebenarnya kita ini makhluk lemah dan tak ada apa-apanya dibandingkan Sang Rumuhun," kata Ki Banen.
"Siapa Sang Rumuhun?"
"Itulah penguasa tunggal di jagat ini. Langit dan bumi beserta isinya, semua milik-Nya," kata Ki Banen.
"Kau pernah berjumpa dengan-Nya?"
"Kita bisa berjumpa dengan-Nya hanya melalui hati dan naluri. Mencari-Nya hanya menggunakan akal tak akan bisa ditemukan. Akal tidak bisa menjawabnya bila ada pertanyaan mengapa Sang Rumuhun menciptakan kita, menciptakan binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam raya. Hanya dengan naluri saja kita mengakui kekuasaan-Nya," kata Ki Banen.
"Bila hidup kita dikuasai oleh-Nya, barangkali kita tak boleh berbuat semaunya, Aki!"
"Betul."
"Tidak boleh sewenang-wenang."
"Betul?"
"Tidak boleh merampas barang orang lain walaupun apa alasannya."
"Betul?"
"Termasuk dengan alasan kepentingan seba?"
Ki Banen merunduk, kemudian tunduk dan menghela napas. "Kau pasti tahu peristiwa di Kampung Wado, anak muda," keluhnya.
"Aku singgah di sana sebelum menyusulmu, Aki," kata Ginggi menatap orang tua ini untuk mencari jawab peristiwa di Wado.
"Inilah bagian dari kemelut negara, anak muda."
"Tapi menurutmu tempo hari, pengiriman seba ke Pakuan berlangsung tanpa musyawarah. Wilayah mana yang tetap bersetia terhadap Pakuan, dia pergi mengirim seba. Tetapi yang tidak mau, biarkan punya pendirian sekehendak hatinya sendiri," tutur Ginggi menirukan apa yang telah diucapkan Ki Banen tempo hari.
"Memang begitu," jawab Ki Banen.
"Nah! Tapi mengapa kalian memaksa orang Wado untuk mengirim seba ke Pakuan padahal ratunya sudah memilih biluk ke Cirebon?"
"Memang kacau, kacau!" gumam Ki Banen.
"Raden Suji punya pendirian keras. Dia tetap bersetia kepada Pakuan, bahkan berani memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Jadi menurutnya, semua orang harus tetap mengakui Pajajaran sebagai penguasa tunggal di tanah Sunda ini," kata Ki Banen.
"Dan Aki sendiri akan bersetia ke mana?" tanya Ginggi.
"Aku ini orang Pajajaran. Sejak pemerintahan Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja lebih dari limapuluh tahun lalu, di masa remaja, aku sudah mengabdi sebagai jagabaya di beberapa kandagalante. Terakhir aku menjadi jagabaya bersama Ki Ogel di Karatuan Talaga dan baru berhenti ketika Talaga masuk wilayah Cirebon," kata Ki Banen menerawang masa-masa yang telah lalu.
"Kau terus bersetia kendati raja-raja yang memimpin Pajajaran tidak sebaik pendahulunya, Aki?" tanya Ginggi mengerutkan alisnya.
Ki Banen menghela napas. "Raja boleh berganti-ganti tetapi Pajajaran tetap sama. Dan kau harus ingat, bahwa sebetulnya kau hidup di bumi Pajajaran. Kepada Pajajaran pula kau harus mengabdi," kata Ki Banen pasti.
"Aku tidak akan ikut campur pada pendirianmu, Aki. Tapi aku ingin mengingatkanmu, hati-hatilah dalam melakukan pengabdianmu. Kau jangan keliru memilih, kepentingan lain oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab," kata Ginggi.
Ki Banen menatap sejenak, kemudian tertawa kecil. Ginggi tak paham, tawa kecilnya ini karena apa. Apakah karena ia mengerti akan peringatan pemuda itu, atau malah melecehkannya karena merasa dinasihati oleh anak muda.
"Satu lagi pertanyaanku, Aki," kata Ginggi sesudah untuk yang kesekian kalinya menjungkat roda pedati yang masuk terhimpit sela-sela batu.
Ki Banen menoleh ke arah Ginggi.
"Aku ingin tahu, siapa Ki Banaspati itu?" tanya Ginggi.
"Aku belum jumpa dengan orang ini. Tapi pasti merupakan tokoh penting di Pakuan. Suji pun nampak menyeganinya. Kata anak muda itu, Ki Banaspati petugas penting di jajaran Muhara Pakuan," jawab Ki Banen.
"Muhara?"
"Muhara adalah petugas penarik pajak. Pucukmuhara di Pakuan dipegang oleh Bangsawan Soka, masih kerabat raja juga. Kata Raden Suji, Ki Banaspati bertugas sebagai muhara di wilayah timur, wilayah paling berat dalam pemungutan pajak, sebab selain jarak jangkaunya amat jauh, juga beberapa wilayah sudah memihak Cirebon. Raden Suji Angkara, putra Ki Kuwu Suntara, merupakan tangan kanan Ki Banaspati dalam pemungutan pajak di daerah timur," kata Ki Banen.
Ginggi masih termangu-mangu di saat-saat santai bila pedati lancar berjalan.
"Tapi, tadi malam?" Ginggi tak melanjutkan kata-katanya. Sedianya teriakan perampok yang mengaku anak buah Ki Banaspati akan ditanyakan. Tapi mana mungkin dia bertanya, padahal ketika teriakan itu terdengar, dia masih sembunyi.
Ki Banen tak memperhatikan pertanyaan yang terpotong itu sebab ada suara Suji Angkara memanggil dirinya.
Ketika matahari sudah condong ke barat, rombongan tiba di dusun kecil tepi Kali Cipeles. Di dusun ini mereka bermalam agar besok bisa melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali. Tidak ada kejadian berarti di dusun kecil ini, kecuali adanya penghormatan berlebihan dari kepala dusun kepada Suji Angkara.
Kepala dusun dengan rasa takut dan segera mengatakan bahwa dusunnya tak sanggup membayar seba kekayaan hasil bumi karena panenan palawija kurang berhasil.
"Kalau bisa diterima kami akan menjalankan dasa saja, yaitu membayar pajak dengan tenaga. Semua penduduk dusun siap sedia membantu mengangkut barang pikulan yang banyak ini," kata kepala dusun.
"Baik, kalian kerjakan saja apa yang mampu kalian kerjakan. Yang penting kalian tetap mengabdi kepada Pajajaran," kata Suji Angkara.
Kepala dusun merunduk dan mengangguk sebagai tanda bersyukur bahwa dia diizinkan membayar pajak berdasarkan kemampuan yang ada.
"Ada enam orang petugas kami yang luka-luka karena gangguan orang jahat di tengah perjalanan. Kau berkewajiban merawat anggota kami di sini. Dan karena kami butuh anggota pengganti, kau harus sediakan tenaga enam atau sekurang-kurangnya lima orang pemuda bertubuh sehat dan bertenaga kuat. Mereka harus bergabung dalam pengiriman seba yang bertugas hingga Sagaraherang," kata Suji Angkara.
Kepala dusun mengangguk tanda siap melaksanakan perintah.
Besok paginya, benar saja kepala dusun sudah menyiapkan enam orang pemuda yang tegap-tegap. Kepala dusun pun sudah mengatur agar enam orang petugas pengiriman seba yang luka ditampung di rumah-rumah penduduk untuk dirawat kesehatannya.
Rombongan segera berangkat lagi. Kali ini, jalan pedati sudah tak seberat seperti di bukit-bukit hutan jati sana. Selain perjalanan tidak naik turun bukit, juga jalanan sedikit rata berdebu di saat kemarau yang tengah berlangsung ini.
Jalan pedati ini terus menyusuri Kali Cipeles dan yang kelak satunya akan menuju wilayah Kandagalante Sumedang dan satunya akan menyeberangi Kali Cipeles, terus ke utara menuju Sagaraherang, Cikao, Karawang, Tanjungpura, Warunggede, kemudian lurus ke barat menuju Cibarusa, Cileungsi, dan akan berakhir di ibukota Pajajaran, Pakuan.
"Tapi di beberapa daerah utara, bisa jadi kita tak akan melewati jalur utama sebab kekuatan Pasukan Cirebon di wilayah utara sudah nampak nyata. Kita harus menghindari percekcokan dengan mereka tentang urusan seba ini," kata Suji Angkara.