Chapter 25
Ki Banen mengatakan kepada Ginggi, perjalanan pengiriman seba ini memang tersendat-sendat, tidak seperti masa-masa Pajajaran utuh menguasai Tanah Sunda. Kata Ki Banen, jangankan melakukan perjalanan membawa seba secara terang-terangan di wilayah utara, menumpang lewat ke Sumedanglarang pun rombongan ini tidak berani melakukannya. "Selepas Wado kemarin dulu misalnya, kita tidak berani mengambil jalan bagus sebab harus melewati Pasanggrahan dan Ciguling, ibu kota Karatuan Sumedanglarang. Berani masuk ke pusat wilayah mereka, kita akan menghadapi berbagai hambatan," kata Ki Banen.
Sebelum matahari berada di atas kepala, rombongan sudah tiba di jalan bercagak tepi sungai. Satu lurus ke timur menuju wilayah Kandagalante Sumedang, satunya menyeberang Sungai Cipeles menuju utara ke Sagaraherang. Di jalan bercagak ini memang terdapat sebuah gardu tempat orang beristirahat. Tetapi tidak seperti dikatakan Suji Angkara, ternyata di sini tidak ditemukan seseorang yang mengaku utusan Ki Banaspati. Gardu itu kosong. "Kita terlambat satu hari, sebab seharusnya kita tiba di sini kemarin pagi," kata Suji Angkara kemudian.
"Jadi, kita harus bagaimana, Raden?" tanya Ki Ogel.
"Kita lanjutkan perjalanan sampai ke Sagaraherang saja," katanya.
Mereka yang mendengarkan perkataan Suji Angkara saling pandang. "Raden, orang-orang kita ini tidak dipersiapkan untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Mereka hanya bertugas sampai selepas Sumedanglarang saja," kata Ki Banen.
"Baik, siapa yang tidak siap mengikutiku?" tanya Suji Angkara sambil meneliti tiap-tiap orang.
Tetapi tidak seorang pun berani berkata tidak. Tidak pula Ki Banen.
"Saya siap mengikuti Anda ke mana saja, Raden," kata Seta bersemangat.
"Saya pun siap bersama Anda apa pun yang terjadi!" Madi tidak kalah semangatnya.
Suji Angkara menyipitkan mata dan mengamati setiap wajah anak buahnya. Semuanya tampak mengangguk-angguk tanda siap. "Hei, kamu anak bodoh, bagaimana?" Suji Angkara menatap ke arah Ginggi.
"Aku juga siap sampai mati!" teriak Ginggi bersemangat.
Suji Angkara tersenyum mendengarnya. "Ternyata tidak ada yang pengecut melakukan perjalanan jauh, Paman Banen," kata Suji Angkara tersenyum kecil.
Ki Banen menunduk.
Dan akhirnya perjalanan dilanjutkan menyeberangi jembatan gantung Sungai Cipeles. Perjalanan menuju utara juga terasa sangat berat kendati tidak seberat di hutan jati wilayah Wado. Daerah utara sebetulnya merupakan wilayah dataran rendah. Dan kian ke utara kian rendah sebab menuju pantai. Tetapi sebelum tiba di dataran rendah, perjalanan akan melewati wilayah pegunungan hutan pinus dan cemara yang amat lebat. Di beberapa tempat, jalan pedati akan melalui lembah dan ngarai di mana matahari tidak bisa menembus bumi. Rombongan harus berkejaran dengan waktu, dan Suji Angkara tidak memperkenankan matahari lebih dulu tiba di barat dibandingkan dengan rombongannya. Untuk itu, dia memerintahkan agar rombongan berjalan cepat.
Keinginan pemuda tampan ini memang bisa dilaksanakan sebab kondisi jalan di daerah ini sedikit lebih baik ketimbang tempat-tempat yang sudah dilalui. Jalan pedati di daerah ngarai, kendati berkelok-kelok dan naik turun, tetapi permukaan jalan sedikit rata dan memudahkan roda pedati untuk menggelinding dengan mudah. Hanya satu kali saja ada gangguan di perjalanan, yaitu ketika seekor ular cukup besar melintas ke tengah jalan. Oleh mereka, ular itu dibunuh ramai-ramai dan dagingnya dipanggang.
Menjelang senja hari, rombongan sudah berhasil melintasi hutan perbukitan dan mereka tengah menempuh perjalanan menurun menuju daerah dataran rendah. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, rombongan sudah tiba di wilayah Kandagalante Sagaraherang. Lawang kori yang sedianya akan segera ditutup, harus menunggu mereka masuk. Sejenak rombongan mendapatkan pemeriksaan. Dan tidak berapa lama kemudian petugas mengizinkan rombongan ini memasuki pintu gerbang.
"Ki Banaspati sudah lama menunggu kedatangan rombongan kalian," kata jagabaya.
Bergetar dada Ginggi mendengarnya. Bagaimana tidak, sebab ini adalah pertemuan pertama dengan orang yang menjadi murid Ki Darma. Melalui Ki Banaspati ini, Ginggi akan segera mendapat petunjuk dan pengarahan perihal tugas-tugas yang dibebankan Ki Darma kepadanya. Namun kendati demikian, pemuda ini tetap akan berhati-hati dan tidak akan begitu saja memperkenalkan diri. Dia tetap teringat akan teriakan pimpinan perampok di hutan jati bahwa mereka anak buah Ki Banaspati. Biarlah.
Yang disebut Ki Banaspati ini ternyata seorang lelaki setengah baya berusia kurang lebih lima puluh tahun. Lelaki ini tampak gagah dan berwibawa. Tubuhnya tinggi besar dan dadanya bidang. Dia berpakaian seperti bangsawan, mengenakan pakaian bedahan dari lima jenis beludru cokelat. Celana komprang hitam berornamen warna emas. Pinggangnya dililit ikat pinggang dari kulit rusa yang indah dan gagah. Sedangkan kepalanya ditutup bendo citak dari kain batik corak hihinggulan. Penampilan wajahnya juga membuat Ki Banaspati lebih berwibawa. Matanya tajam berkilat, sepasang alis tebal melengkung seperti golok, dan hidungnya mancung agak melengkung. Ada kumis tipis di atas bibir menambah kegagahannya.
Ki Banaspati duduk bersila di ruangan tengah yang cukup luas dengan lantai mengkilat terbuat dari papan jati. Di sampingnya duduk seorang lelaki setengah baya lainnya, tetapi dengan penampilan tak kalah gagahnya, atau malah bisa juga lebih gagah. Mungkin karena jenis pakaiannya lebih mewah, dengan baju bedahan tengah yang dikenakannya terbuat dari bahan antik yang bukan dibuat di Pajajaran. Kalau Ginggi pernah mengenalnya, jenis kain yang digunakan untuk baju bedahan tengah ini hanya dipakai oleh para saudagar yang sering berhubungan dengan saudagar asing saja, sebab jenis kain yang didapat merupakan hasil pertukaran dengan barang-barang keperluan yang mereka butuhkan dari bumi Pajajaran. Lelaki ini juga memakai tutup kepala berupa bendo citak dengan motif batik warna lain. Hanya bedanya, tepat di bagian depan bendo, dihiasi ornamen logam berwarna emas, sehingga ketika lampu minyak kelapa yang digantung di ruangan tengah menerangi, ornamen itu memantulkan warna-warna gemerlap. Wajahnya agak bulat telur, berkulit putih bersih, dan ada kumis tebal di bawah hidungnya yang sedikit mancung.
Ki Banaspati memperkenalkan lelaki ini sebagai Ki Sunda Sembawa, seorang pejabat berpangkat Kandagalante yang menguasai wilayah Sagaraherang. Hanya lima orang yang berkenan duduk di ruang tengah menghadap Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati, sebab yang lain-lainnya, termasuk Ginggi, duduk bersila ditepas saja.
"Terima kasih engkau berhasil mengawal barang seba hingga ke tujuan," kata Ki Banaspati kepada Suji Angkara.
Suji Angkara mengangguk hormat sebagai tanda terima kasih bahwa tugasnya dihargai. "Berkat doa Ki Banaspati, kami bisa selamat sampai di Sagaraherang, kendati di tengah jalan mengalami gangguan pengacau," ujar Suji Angkara.
Berkerut alis Ki Banaspati mendengar laporan ini. "Kami dihadang perampok di tengah hutan jati wilayah Wado," kata Suji Angkara lagi.
"Perampok di hutan jati?" Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa terkejut dan saling pandang.
"Benar. Tetapi yang mengagetkan kami, para perampok mengaku di bawah kendali Ki Banaspati. Kami secuil pun tidak memercayainya. Namun begitu, kami akan tetap meminta penjelasan perihal ini," kata Suji Angkara masih bernada hormat, tetapi tegas.
Untuk kedua kalinya, Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa saling pandang dengan alis berkerut. Tampak sekali kedua orang ini amat terkejut.
"Aku bersyukur kalian tiba dengan selamat dan dapat menghalau penjahat. Tetapi kalian harus percaya sepenuhnya, bahwa pengakuan orang-orang jahat itu fitnah belaka," kata Ki Banaspati dengan wajah geram.
Ki Sunda Sembawa pun menampakkan kegeraman, wajahnya yang putih bersemu merah dan bibirnya dikatupkan. "Kau harus percaya, anak muda, bahwa, baik kepada Ki Banaspati maupun kepadaku, ada kelompok-kelompok yang tidak suka. Mereka tidak suka bila kami berpengaruh di daerah sini. Mereka juga tidak suka kami masih tetap menjalankan kebijaksanaan memungut seba untuk Pajajaran. Mungkin kau tahu, di sini daerah apa dan siapa kira-kira yang tidak senang kepada kami," kata Ki Sunda Sembawa.
Suji Angkara mengiyakan. "Wilayah Kandagalante Sagaraherang memang berbatasan dengan wilayah utara yang dikuasai orang-orang Cirebon. Mereka selalu membuat hambatan agar kita tidak mengirimkan seba ke Pakuan," kata Suji Angkara.
Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa sama-sama mengangguk tanda membenarkan pendapat anak muda itu. "Tetapi, mungkinkah mereka menyamar sebagai perampok, padahal mereka mengaku sudah memercayai agama baru dan pantang melakukan kejahatan?" sambung Suji Angkara meminta pendapat.
Sejenak Ki Banaspati dan Ki Sunda Sembawa tidak bisa mengeluarkan komentar. "Sekarang mereka bukan berbicara atas nama agama, akan tetapi bergerak untuk kepentingan politik. Tahukah engkau peristiwa puluhan tahun yang lalu di mana Banten dan Cirebon mengepung serta merebut Pelabuhan Sunda Kalapa? Apakah mereka menyerang dan merampas Sunda Kalapa dari tangan Pakuan karena urusan agama? Tidak! Mereka melakukan semuanya karena kepentingan politik semata. Kalau bicara atas nama agama, mereka tidak akan menyengsarakan penduduk Sunda Kalapa dan menutup lalu lintas perdagangan antar-pulau sehingga masa depan Pajajaran terhambat karenanya," kata Ki Sunda Sembawa dengan nada tinggi.
Ki Banaspati mengangguk-angguk mengiyakan. Yang hadir juga sama mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapat itu, kecuali Ginggi yang tetap diam mematung.
"Kalau begitu, menurut Ki Banaspati, bisa juga perampok di hutan jati itu orang-orang yang sudah masuk pengaruh Cirebon," kata Suji Angkara.